Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Ajak Masyarakat Lawan Kekerasan Lewat A Story of Wounds
December 12, 2018

Tidak ada seorangpun pantas untuk disakiti. Akan tetapi kenyataannya Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih terjadi di tengah masyarakat. KDRT merupakan perbuatan yang berakibat atau dapat menyebabkan penderitaan fisik, psikis, seksual, termasuk pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, serta penelantaran ekonomi yang terjadi baik dalam di dalam maupun di luar ikatan perkawinan.

Berangkat dari rasa kepeduliannya terhadap isu kekerasan, Jessie Monika, S.S. menuliskan naskah berjudul “A Story of Wounds” yang dipentaskan dalam teater musikal di Petra Little Theatre (PLT) Universitas Kristen Petra (UK Petra). Pementasan berdurasi 105 menit ini, PLT bekerja sama dengan Christian Xenophanes sebagai komposer musik untuk lagu-lagu yang digunakan dalam pementasan. Selain itu, pementasan ini juga merupakan kolaborasi antara PLT dan kelas Stage Production Program English for Creative Industry (ECI) UK Petra.

Disutradarai Stefanny Irawan, S.S., M.A., pementasan ini juga dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP). Pementasan digelar selama empat hari mulai tanggal 21-24 November 2018 di ruang PLT UK Petra. “Isu ini sangat penting, tetapi seringkali hal ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara luas di masyarakat, bahkan dianggap sebagai aib bagi korban dan keluarganya,” ujar Jessie.

A Story of Wounds bercerita tentang kehidupan seorang pelukis muda bernama Nina yang menikah dengan Ruben, seorang lelaki dari keluarga terpandang yang dikenal baik dan kaya. Ruben memiliki kebiasaan buruk sebagai pecandu alkohol, dan menjadi seorang yang sangat kasar saat terpengaruh minuman keras. Disaat itu, seringkali Ruben menyakiti Nina dan meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya. Ruben tahu apa yang dilakukannya terhadap istrinya itu salah, oleh sebab itu ia selalu berusaha berbuat baik pada Nina sebagai permohonan maaf.

Namun hal mengerikan tersebut terus berulang, walaupun keluarga Ruben mengetahui perbuatan tersebut, tapi memilih untuk menutup mata dan berusaha “menyembunyikan” Nina dari masyarakat. Ternyata Ruben memiliki kisahnya sendiri, anak pertama yang disiapkan menjadi pemimpin perusahaan, ia mendapat banyak tekanan, sehingga ia melampiaskannya dengan minuman keras. Nina menjadikan karya dan lukisannya sebagai alat untuk mencurahkan perasaan dan keadaannya pada masyarakat luas.

Menurut Jessie, para penyintas pada umumnya merasa dirinya layak menerima perlakuan tidak manusiawi macam ini oleh karena itu tidak berani mencari pertolongan. Ini salah satunya diakibatkan oleh adanya anggapan dari masyarakat bahwa KDRT merupakan hal yang cukup wajar dilakukan oleh seorang suami terhadap istri. Sebelumnya Jessie melakukan wawancara dengan seorang penyitas, Jessie juga berkonsultasi dengan psikolog yang menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Melalui pementasan ini, Jessie ingin menekankan bahwa kekerasan terhadap siapapun, dengan dalih apapun, tidak dapat dibenarkan. “Melalui pementasan ini saya ingin menghimbau masyarakat jika melihat atau mengalami hal seperti ini, jangan hanya diam tetapi bertindaklah karena setiap manusia tidak layak diperlakukan seperti itu,” ungkap Jessie. (rut/Aj)

Kenalkan Dunia Industri Lewat Industrial Competition
December 11, 2018

Saat ini kita sedang memasuki Revolusi Industri 4.0, yang memungkinkan pekerjaan-pekerjaan manusia digantikan dengan mesin dan robot. Untuk mengenalkan hal ini kepada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar Industrial Competition (IC) 2018. Industrial Competition merupakan kegiatan rutin tahunan, tahun ini merupakan tahun ke-28 penyelenggaraan IC ini. Kali ini, tema yang dipilih yaitu Industrial Revolutionary 4.0. Lomba yang dilaksanakan pada 1-3 November 2018 di Pakuwon Trade Center ini diikuti oleh 80 kelompok siswa-siswi dari berbagai SMA di Jawa Timur. “Tema ini dipilih karena seperti yang bisa kita rasakan revolusi industri 4.0 berpengaruh di seluruh bidang kehidupan era modern ini. Generasi muda memiliki peranan penting dalam penerapan Industri 4.0 karena generasi muda yang akan melanjutkan sektor-sektor industri di masa yang akan datang,” ungkap Bertinus Enrico Rahardjo, selaku ketua panitia Industrial Competition 2018.

Kegiatan IC 2018 dibagi menjadi tiga babak, yaitu babak penyisihan, semifinal, dan final. Pada babak penyisihan, peserta berkompetisi dengan cara yang menyenangkan yaitu rally games. Terdapat 24 pos yang tersebar di penjuru Pakuwon Trade Center. Setiap permainan rally games memiliki esensi dari keilmuan Teknik Industri mulai dari tingkat dasar hingga tingkat yang lebih tinggi. Salah satu contohnya adalah Calculator, permainan ini menguji logika berpikir perserta, dan menuntut peserta untuk berpikir cepat dan tepat.

21 kelompok terbaik dari babak penyisihan, melaju ke babak semifinal pada 2 November 2018. Pada babak semifinal, peserta melakukan simulasi industri menggunakan sistem web. Setiap kelompok diibaratkan sebagai perusahaan, dari 21 kelompok dibagi menjadi tiga negara yaitu Indonesia, China, dan Singapura. Dengan menggunakan virtual money dengan tiga nilai mata uang, perusahaan dapat meminjam modal awal, menabung, dan menukarkan nilai mata uang dari bank. Selain itu perusahaan dapat membeli bahan baku dari pasar beli, bahan baku dirakit menjadi bahan jadi yang dapat dijual di pasar jual.

Perusahaan akan membuat barang sesuai permintaan dari pasar yang diwakilkan oleh panitia, setelah menjualnya perusahaan mendapatkan profit dan mengembangkan industrinya. “Melalui simulasi ini, kami ingin  mengenalkan tentang aplikasi kerja di dunia industri kepada siswa SMA, serta apa saja yang dapat dipertimbangkan dalam dunia industri seperti modal awal, produktivitas kerja, permintaan pasar, sekaligus menunjukkan bahwa realita setiap perusahaan itu berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor tersebut,” ujar Kevin Chandra Gunawan, selaku koordinator materi Industrial Competition 2018.

Di akhir, uang yang telah dikumpulkan oleh masing-masing perusahaan akan dikonversikan ke dalam satu mata uang. Lima kelompok dengan jumlah profit terbanyak terpilih menjadi pemenang dan melaju ke babak final. Pada babak final, peserta melakukan kunjungan ke PT Integra untuk permasalahan yang dihadapi dalam dunia Industri. Permasalahan yang diangkat adalah masalah penerapan Industri 4.0. Para peserta diminta mempresentasikan ide-ide kreatif untuk memecahkan masalah tersebut dan diikuti dengan sesi tanya jawab. SMAKr Petra 1 Surabaya berhasil meraih juara I dalam Industrial Competition, juara 2 diraih oleh SMAK St. Louis 1, dan juara 3 diraih oleh Charis National Academy. (rut/padi)

Optimis Menyongsong Perang Dagang
December 10, 2018

Memahami gejala dalam perekonomian dan membuat prediksi adalah hal yang penting dalam dunia usaha. Program studi International Business Accounting (IBAcc) Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengadakan acara Accounting Talk pada 7 November 2018, dengan tema “Economic Outlook 2019” di AVT 503.

Hadir sebagai narasumber Dr. Ricky, S.E., M.R.E., Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomi UK Petra serta Prof. Lee Chew Ging, Dekan Faculty of Arts and Social Sciences dari University of Nottngham Malaysia.

Ricky dalam sesinya memberikan prakiraan ekonomi Indonesia di tahun 2019 dengan memaparkan beberapa hal yang akan terjadi yaitu pemilu, pengerjaan mega proyek infrastruktur di Indonesia, dan hari raya Idul Fitri. Dipaparkan pemilu tahun depan adalah pemilu yang unik karena kali pertama pemilihan legislatif dan eksekutif di Indonesia dilaksanakan secara langsung dan bersamaan. Pemilu 2019 juga berbeda dengan pemilu 2014, dimana di pemilu 2014 tidak ada inkumben yang mengikuti pemilihan. Menurut Ricky, menjelang  pemilu para investor akan lebih banyak bersikap wait and see. Pembangunan infrastruktur yang digiatkan pemerintah sejak tahun 2014 menyisakan beberapa proyek yang sangat besar untuk dikerjakan di tahun 2019. Industri pendukung pembangunan infrastruktur bisa dipastikan memiliki peluang yang sangat besar. Mengenai Idul Fitri, Ricky mengangkat analisa bahwa penyebab demand atas barang pokok pada Lebaran 2018 cenderung lebih sedikit, dikarenakan tahun ajaran baru sekolah berdekatan dengan hari Lebaran yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat menjadi lebih terkontrol, hal yang sama bisa terjadi di tahun 2019.

Setelah memaparkan faktor besar yang akan terjadi pada 2019 di Indonesia, Ricky memaparkan kondisi global yang mempengaruhi dunia bisnis pada umumnya, yaitu  Industrial 4.0 dan disruptive innovation. Menurutnya, trend yang terjadi dalam atmosfer era disruptif ini adalah transformasi pola konsumsi dari produk yang rumit dan mahal, ke arah produk yang lebih sederhana dan murah. Hal ini dikombinasikan dengan berkembangnya kelas menengah Indonesia (rumah tangga dengan pengeluaran bulanan 2-3 juta per bulan), bisa disimpulkan pada lebih meratanya segmen konsumen Indonesia. Ricky kemudian menyimpulkan dengan paparan tentang apa yang perlu dilakukan di 2019. Menurutnya, yang terutama dalam kondisi ini adalah membangun brand dan membawa bisnis ke dunia maya. Ricky menyampaikan satu jargon, “Mayakan yang nyata, nyatakan yang maya. Disingkat MYNYM”.

Lee sebagai pembicara kedua menitikberatkan paparan pada situasi ekonomi makro ASEAN. Analisa dilakukan dengan komparasi indikator ekonomi Indonesia dengan negara-negara ASEAN. Lee melihat bahwa Indonesia beberapa tahun terakhir mendapatkan keuntungan lebih dari foreign direct investment (FDI/investasi asing langsung). Lebih lanjut, Lee membahas bahwa kekhasan perekonomian Indonesia yang cenderung tidak terlalu terpengaruh dengan sentimen ekonomi global dan lebih banyak dipengaruhi trend regional. Hal ini ditambah dengan semakin kuatnya perdagangan dalam lingkup Asia yang memberi optimis pada ketahanan ekonomi Indonesia menyongsong 2019. Di tahun 2019, faktor besar global yang terjadi adalah adanya perang dagang Amerika Serikat versus Republik Rakyat China (RRC). Dalam perang dagang ini, AS berusaha merebut kembali porsi pasar manufaktur yang direbut RRC. Lee menampilkan data yang memperlihatkan bahwa porsi AS dalam pasar barang manufaktur menurun dari 29% di tahun 1980 menjadi 18.1% di tahun 2016. RRC di sisi lain, sudah menyalip AS dengan porsi 26% sejak tahun 2014.

Bagi Indonesia, perang dagang ini perlu diantisipasi dengan pemahaman bahwa FDI dari RRC adalah cukup besar. Perang dagang perlu dipantau untuk mengantisipasi pengurangan investasi dari RRC. Lee kemudian memaparkan langkah yang bisa dilakukan di tahun 2019, yaitu menjadi penyuplai Amerika Serikat  dan RRC untuk barang yang terdampak oleh perang dagang dan membangun ekonomi yang lebih tangguh di Asia Timur yang tidak mudah dipengaruhi negara-negara dengan ekonomi raksasa. Lee mengatakan, perang dagang Amerika dan RRC berdampak minimal untuk Indonesia dikarenakan sebagian besar produk Indonesia berupa komoditas, Indonesia harus memastikan harga komoditasnya tetap stabil.  (noel/dit)

UK Petra Raih Akreditasi Institusi A dan Anugerah Kampus Unggulan
December 04, 2018

Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menuai prestasi. Kemarin (28/11) berita bahagia datang dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang mengumumkan melalui websitenya bahwa UK Petra mendapatkan Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) A. Bersamaan dengan itu, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII (LLDIKTI Wilayah VII) juga menganugrahi UK Petra sebagai Perguruan Tinggi Unggulan untuk kategori Universitas.

Legalitas akreditasi perguruan tinggi ini tertuang dalam Surat Keputusan bernomor 323/SK/BAN-PT/Akred/PT/XI/2018, menyatakan UK Petra meraih peringkat A. Sedangkan sertifikat Perguruan Tinggi Unggulan diterima langsung oleh Rektor UK Petra bersamaan dengan PT yang lain di Batu dengan nomer 145/L7/SK/KL/AKU/2018. “Puji syukur berkat penyertaan Tuhan keluarga besar UK Petra sangat bahagia mendengar kabar ini. Prestasi ini sebagai konfirmasi atas kerja keras, dedikasi dan kualitas unggul yang sudah dijaga selama ini”, ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng, selaku rektor UK Petra.

Berdasarkan data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti, saat ini di Indonesia tercatat ada 4.698 PT di Indonesia. Sedangkan sampai hari ini, yang terakreditasi baru berjumlah 1.805 dan hanya 73 Perguruan Tinggi di antaranya yang terakreditasi A. Akreditasi Perguruan Tinggi merupakan suatu proses evaluasi terhadap institusi pendidikan tinggi secara menyeluruh untuk menguji komitmen institusi tersebut terhadap penyelenggaraan akademik dan manajemennya berdasarkan standar akreditasi yang telah ditetapkan. Penilaian ini dilakukan setiap lima tahunan.

UK Petra sendiri telah melakukan persiapan cukup lama, sejak Agustus 2017. Kurang lebih selama satu tahun, tim akreditasi UK Petra telah menyiapkan borang yang dibutuhkan oleh BAN-PT. “Melaporkan apa yang sudah dikerjakan selama ini”, tambah Djwantoro.  Ada tujuh kriteria yang dinilai antara lain 1) Visi, misi, tujuan dan sasaran serta strategi pencapaian Standar, 2) Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu, 3) Mahasiswa dan lulusan, 4) Sumber Daya Manusia, 5) Kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik, 6) Pembiayaan, sarana dan prasarana serta sistem informasi, dan 7) Penelitian, Pengabdian Masyarakat serta kerjasama.   

Universitas yang berdiri sejak tahun 1961 ini terus berupaya mempertahankan prestasi bahkan telah mempersiapkan diri untuk akreditasi internasional. “Berita bahagia ini tidak berhenti sampai disini saja. Berikutnya menghadapi era disruptif kami sedang menyiapkan diri untuk memperoleh akreditasi internasional. Sebab zaman terus berubah dan kita perlu terus mengikuti perkembangan zaman, agar mahasiswa UK Petra siap menghadapi perubahan jaman ini”, urai Djwantoro saat ditemui di kantornya.

Lain halnya dengan anugerah kampus unggulan oleh LLDIKTI Wilayah VII, anugerah ini dilakukan setiap tahun. LLDIKTI setiap tahunnya mengevaluasi kinerja semua Perguruan Tinggi swasta di Jawa Timur. Sejak tahun 2009, UK Petra terus mendapatkan Anugerah Kampus Unggulan dari LLDIKTI Wilayah VII ini. Djwantoro menjelaskan, prestasi Akreditasi Perguruan Tinggi peringkat A dan Anugerah Kampus Unggulan ini merupakan hal yang amat penting. Selain sebagai tolak ukur kualitas PT dan tata kelola institusi tersebut. Bagi alumni, saat ini banyak perusahaan pencari kerja yang mencari lulusan yang berasal dari PT terakreditasi A. (Aj/dh)

Menjadi Pahlawan dengan Sadar Pajak
November 28, 2018

Peningkatan rasio pajak adalah solusi ideal untuk meningkatkan pendapatan negara. Indonesia adalah negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tergolong tinggi, akan tetapi  kurangnya kepatuhan atas pajak menyebabkan potensi pendapatan pajak kurang maksimal. Sebagai salah satu upaya meningkatkan kepatuhan pajak, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berada di bawah Kementerian Keuangan menyelenggarakan ‘Pekan Inklusi Pajak’ pada tanggal 5-8 November 2018 di seluruh Indonesia.

Pekan Inklusi Pajak yang bertema“Generasi Sadar Pajak Pahlawan Masa Kini”, di kantor wilayah Jawa Timur 1 dilaksanakan dalam bentuk acara peningkatan literasi pajak untuk siswa tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Untuk PT, rangkaian acara berupa Seminar Inklusi Kesadaran Pajak di Universitas Negeri Surabaya, Mobile Tax Unit Goes to Campus, yaitu kunjungan mobil informasi pajak ke kampus-kampus di Surabaya serta Lomba Poster Kesadaran Pajak.

UK Petra turut serta mendukung DJP dengan menyelenggarakan puncak rangkaian acara Pekan Inklusi 2018 yaitu ‘Pajak Bertutur’ di ruang AVT 502 pada 9 November 2018.

“Pajak Bertutur” dihadiri 250 mahasiswa dari 15 perguruan tinggi. Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Administrasi UK Petra, Agus Arianto Toly, SE., Ak., MSA, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar kerjasama yang sudah dijalin para mahasiswa dari 15 perguruan tinggi ini terus berkelanjutan sesuai dengan peran masing-masing. Turut hadir dan memberikan sambutan adalah Kepala Kantor Wilayah DJP Jawa Timur I Estu Budiarto Ak, MBA, yang menyampaikan pentingnya menjalin hubungan yang baik antara DJP, wajib pajak, dan perguruan tinggi. Estu kemudian mengatakan, “Arti inklusi adalah menanamkan kesadaran sejak dini, salah satunya dengan berkomunikasi dengan para mahasiswa, dalam upaya menumbuhkan pahlawan masa kini untuk meningkatkan kepatuhan sukarela pajak”.

Usai sambutan, Heru Budi Kusumo, Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Kantor Wilayah Jatim 1 DJP menyampaikan paparan. Heru menjelaskan manfaat pajak, dimana negara memerlukan pendanaan untuk melakukan semua fungsinya. DJP bertugas melaksanakan pendanaan tersebut melalui pajak. Dijelaskan sumber pendanaan secara garis besar ada 3, yaitu: pinjaman luar negeri dan dalam negeri, menjual sumber daya alam (SDA) serta pajak. Meminjam dana dari luar negeri akan membebani negara dengan bunga. Menjual sumber daya alam dalam bentuk komoditas, seperti yang dilakukan Indonesia saat ini, kurang memaksimalkan hasil dari sumber daya tidak terbarukan tersebut. Kesimpulannya, dari ketiga sumber ini, pajak adalah sumber pendanaan negara yang paling ideal. Sebagai gambaran proporsi pendanan yang ada, pada tahun 1987 sumber pendanaan terbesar adalah penjualan SDA (minyak dan gas), sedangkan pada tahun 2018 pajak menyumbang 80% dari sumber pendanaan.

Setelah memberikan pemahaman tentang pajak, Heru menjelaskan kondisi kepatuhan pajak di Indonesia. Dengan populasi Indonesia saat ini sebesar 265 juta jiwa, wajib pajak orang pribadi (WP OP) yang terdaftar adalah 35,5 juta. Dari yang terdaftar tersebut, hanya 11,1 juta yang melapor pajak dan yang membayar pajak hanya 1,3 orang. Hal ini menunjukkan kecilnya kepatuhan pajak di bidang WP OP. Gambaran yang sama juga didapati di wajib pajak (WP) badan usaha. Ada 3,1 juta badan usaha terdaftar sebagai WP, hanya 0,7 juta yang melapor dan hanya 0,32 juta WP badan usaha yang membayar pajak.

Heru mengungkapkan pentingnya meningkatkan kesadaran pajak untuk pembangunan negara, katanya “Target pajak di APBN 2018 yang berjumlah 1.408 triliun ini ditanggung oleh 2 juta WP, jika 4 juta WP membayar maka sumber pendanaan APBN akan terpenuhi dari pajak”. Diharapkan generasi muda Indonesia akan menjadi generasi sadar pajak yang merupakan pahlawan masa kini. (noel/dit)

Mahasiswa Teknik Sipil UK Petra Raih Juara 1 Kompetisi Internasional
November 27, 2018

Prestasi internasional diraih oleh tim mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Mengangkat tema “Sustainable Self Compacting Concrete”, tim ini berhasil meraih juara 1 dalam kategori Concrete Competition pada 9 November 2018 yang lalu. Beranggotakan tiga mahasiswa ialah Kent Setiono, Nico Christiono dan Ricky Surya yang merupakan mahasiswa angkatan 2015. “Kami tidak menyangka bisa mendapatkan juara, ini semua berkat bimbingan dari dosen kami yaitu pak Antoni”, ungkap Nico.

Terdapat dua babak dalam International Concrete Competition (ICC) dalam Civil Week 2018, babak penyisihan dan babak final. Pada babak penyisihan, tim ini diminta untuk membuat proposal, video berbahasa inggris berdurasi 10 menit dan hasil tes beton sebelumnya yang dikirimkan pada panitia. Video dan proposal ini menceritakan bagaimana pembuatan beton kuat yang dapat diproduksi massal dengan mempertimbangkan aspek ramah lingkungan, ekonomis, bahan yang mudah didapatkan, dan tidak menyangkal nilai sosialnya. Selain bersaing dengan mahasiswa dari Indonesia, tim UK Petra ini juga bersaing mahasiswa dari Filipina, Malaysia dan India.  

Dibawah bimbingan Antoni, Ph.D., Kent bersama tim membuat inovasi mengacu penelitian sebelumnya yang disempurnakan lagi oleh tim ini. Mereka sepakat mengurangi penggunaan semen dan mencari penggantinya sebagai bahan campuran dalam beton yang dapat memadat sendiri (self compacting concrete). Mereka menambahkan gragal batu bata dan kalsium karbonat yang sudah dihancurkan dalam bentuk butiran halus dalam adonan betonnya. “Pemanfaatan gragal batu bata ini akan dapat mengurangi buangan yang tak terpakai misalnya saat merenovasi rumah ataupun memanfaatkan bagian bangunan yang runtuh pada saat terjadi bencana alam gempa bumi, sedangkan kalsium karbonat membantu menambah kekuatan beton umur awal”, urai Ricky.

Persiapan yang mereka lakukan hanya sekitar 10 hari disela-sela skripsi. Nico menambahkan, dengan beton inovasi ini dapat menghemat hingga 42%. “Akan tetapi tergantung penggunaannya, jika dipergunakan untuk hal lainnya yang besar maka diperlukan penelitian kembali khususnya untuk komposisinya”, ungkapnya. Tak sia-sia usaha mereka, dari 33 proposal yang masuk hanya enam tim saja yang masuk babak final termasuk tim UK Petra.

Dalam babak final, mereka diminta mempraktekkan secara langsung proposal mereka  berjudul “Sustainable High Early Strenght Self Compacting Concrete (SCC) Using Clay Brick Waste and Limestone Powder”. Selama tiga hari, tim UK Petra ini membuat beton secara langsung, kemudian melakukan tes beton berumur 1 hari dan melakukan presentasi di depan para juri. Panitia telah mempersiapkan bahan dasar membuat beton, peserta hanya diminta membawa bahan inovasi tambahan yang akan digunakan.

Bukan tanpa proses, tim UK Petra telah mencoba inovasi ini di kampus terlebih dahulu hingga lebih dari 10 kali percobaan. Kesulitan terberat bagi tim UK Petra adalah mempertahankan kondisi beton untuk tetap encer namun bisa memenuhi syarat beton mudah mengalir yang ditentukan. Selain membawa pulang hadiah plakat, sertifikat dan hadiah uang sebesar 1000 USD, mereka juga mendapatkan pengalaman berharga. “Kami menambah teman dan membangun relasi antar universitas baik internasional maupun nasional dan menambah pengetahuan bagaimana membuat self compacting concrete”, tutup Kent. (Aj/dit)

 

UK Petra jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Rapat Kerja Nasional APTARI
November 22, 2018

Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) adalah asosiasi yang mewadahi Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta di seluruh Indonesia yang memiliki program studi Arsitektur untuk bersinergi dan memajukan kerjasama dan komunikasi antar institusi pendidikan tinggi arsitektur dalam upaya mewujudkan pengembangan ilmu Arsitektur.

Setiap tahun, para anggota APTARI melakukan rapat kerja rutin yang diadakan di lokasi bergantian tempat para anggota. Pada 15-16 Oktober 2018, Universitas Kristen Petra (UK Petra) terpilih menjadi tuan rumah pelaksanaan rapat kerja. “Kegiatan ini merupakan rapat kerja pertama kepengurusan yang baru, sehingga dalam pertemuan ini, banyak diskusi mengumpulkan gagasan untuk program kerja APTARI,” ujar Prof. Lilianny Sigit Arifin, Ir., M.Sc.,Ph.D., selaku Ketua Program Studi Arsitektur UK Petra.

Dari total 112 institusi yang menjadi anggota APTARI, sebanyak 193 orang dari 85 perguruan tinggi hadir dalam rapat kerja nasional ini. Pada rapat kerja ini mengundang para praktisi dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI): Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI sebagai keynote speaker mengenai Tren Pendidikan Arsitektur di Indonesia dan Ahmad Djuhara, IAI selaku Ketua IAI menyampaikan tentang perubahan undang-undang Arsitek 2017 mengenai profesi Arsitek kepada peserta.  Dalam rapat kerja ini juga digelar sesi paralel dengan empat materi bahasan yang berbeda. Peserta dapat memilih sesi yang akan diikuti dengan pembicara yang berbeda. I.G. Ngurah Antaryama, Ph.D. dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) membahas Kurikulum Pendidikan Arsitektur, Aswin Indraprastha, Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung (ITB) membahas tentang Pengembangan Keilmuan Arsitektur, Prof. Paramita Atmodiwirjo, Ph.D. dari Universitas Indonesia (UI) membahas tentang Akreditasi Pendidikan Arsitektur dan Dr.Eng. Ir. Ahmad Sarwadi, M.Eng. dari Universitas Gajah Mada (UGM) membahas tentang Pendidikan Keprofesian.

Dari hasil rapat kerja, ada beberapa kesepakatan yang dibuat, salah satunya adalah mengadakan workshop pragmatis bagi para anggota. Salah satu tujuan workshop pragmatis ini adalah.untuk memecahkan permasalahan sosial di masyarakat.

Salah satu fungsi APTARI yaitu mewakili anggotanya dalam menyampaikan aspirasi dan kepentingannya kepada pemerintah dan atau institusi yang terkait, karena  walaupun sama-sama program studi Arsitektur, tetapi masalah yang dihadapi bisa berbeda-beda. Dalam wadah ini, setiap anggota dapat membagikan dan berdiskusi mengenai masalah-masalah tersebut. Sebagai Salah satu wujud solidaritas dalam wadah ini berupa pengumpulan dana sebesar Rp. 15.000.000 untuk Universitas Tadulako Palu yang mengalami musibah tsunami menimpa Palu, ungkap Prof. Lilianny. (rut/dit)

Pustakawan UK Petra, Chandra Pratama Terpilih Ikuti Pelatihan di Hong Kong
November 21, 2018

Kita dapat menambah ilmu pengetahuan kita dengan membaca. Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Perpustakaan yang nyaman dapat mendorong mahasiswa untuk lebih banyak membaca. Namun sayangnya, perpustakaan di Indonesia belum dapat dikatakan “nyaman” untuk bisa mendorong mahasiswa datang ke sana.

Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggandeng Leadership Institute of Hong Kong University untuk melakukan pelatihan bernama Short Term Training pada 10 pustakawan Indonesia yang terpilih. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan wawasan Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) mengenai standar pengelolaan laboratorium mutakhir, serta meningkatkan kegiatan pengembangan Laboratorium di Perguruan Tinggi. Melalui proses seleksi, Chandra Pratama Setiawan, M.Sc., seorang pustakawan Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya, terpilih mengikuti kegiatan ini selama enam hari mulai 8 – 13 Oktober 2018 di Hong Kong University Libraries.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan soft-skill sumber daya manusia khususnya untuk pustakawan di Indonesia. Output yang diharapkan adalah pengembangan pustakawan dalam mengelola perpustakaan, agar dapat meningkatkan minat baca mahasiswa di Indonesia. “Kesempatan belajar di luar negeri itu tetap suatu hal yang menarik,” ujar Chandra mengenai motivasinya mengikuti pelatihan ini.

Mayoritas kegiatan harian Short Term Training adalah sesi kelas dengan Leadership Institute of Hong Kong University. Adapun pembekalan materi dilakukan selama 8 jam dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Materi yang diberikan adalah materi mengenai leadership secara umum, knowing your characters, dan how to be a good leader. Selain itu, juga ada materi mengenai perpustakaan sendiri, yaitu user experience di perpustakaan, patron survey dan cara mengevaluasinya, dan pada akhirnya para peserta akan presentasi mengenai studi kasus yang telah didapatkan mereka di awal Short Term Training. Di akhir kegiatan, para pustakawan diajak untuk mengunjungi beberapa perpustakaan di Hong Kong yaitu Hong Kong Polytechnic Libraries, dan Chinese University of Hong Kong Libraries.

Pria berkacamata ini mengaku kagum dan mendapat banyak hal dari pelatihan, seperti bagaimana zoning perpustakaan yang baik, mengikuti trend yang sesuai dengan kebutuhan user perpustakaan, bagaimana sebuah perpustakaan dapat memfasilitasi mahasiswa untuk berpikir lebih kreatif (seperti alat Virtual Reality dan 3D printer), dan bagaimana teknologi dapat memudahkan dan membantu pengguna di dalam menggunakan perpustakaan. Chandra berharap untuk dapat membawa apapun yang dapat diterapkan di Indonesia dari pelatihan yang dilakukan di Hong Kong, agar terus dapat mengembangkan perpustakaan khususnya di Universitas Kristen Petra Surabaya. “Apa yang bisa diterapkan di kita (Indonesia), maka akan kita lakukan agar bisa bermanfaat,” tutupnya. (luk/Aj)

Peringati Hangeul Day ke-572 , KSI Surabaya Gelar Lomba Menulis Cantik Hangeul
November 15, 2018

Belajar budaya Korea dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan Lomba Menulis Cantik Hangeul pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018 mulai pukul 16.00-18.00 WIB di gedung T lantai 5 ruang AVT. 502, kampus UK Petra. “Sebanyak 105 peserta telah mendaftar. Kegiatan ini dalam rangka memperingati hari Hangeul (tulisan Korea) yang ke-572. Tiap tahun kami selalu memperingatinya tetapi berbeda-beda tiap kegiatannya.” ujar Dr. Liliek Soelistyo, M.A. selaku Direktur KSI Surabaya.

Kegiatan yang merupakan event budaya ini dalam rangka untuk memperkenalkan budaya Korea melalui kesenian puisi Korea. Bahan materi yang digunakan ialah puisi berjudul 꽃 (Kkot, Bunga) ciptaan Kim Chun Su yang merupakan seorang sastrawan terkemuka asal Korea Selatan pada akhir abad 20-an. Puisi ini ditulis saat perang saudara, yang menunjukkan keinginan seseorang untuk menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain, dengan memanggil nama orang tersebut yang diibaratkan sebagai “bunga”.

Para peserta lomba diberikan waktu selama satu jam untuk menulis puisi pada kertas yang sudah disediakan. “Ada tiga kriteria pemenang dalam lomba menulis cantik ini yaitu memiliki tulisan tangan terbaik tetapi bukan kaligrafi, melainkan tulisan tangan rapi dan hiasan atau gambar di kertas yang terlihat cantik serta menarik sesuai dengan arti puisi.” ungkap Dyah Sekarini H, A,Md., salah satu staff KSI Surabaya.

Akan dipilih 10 orang pemenang yang akan mendapatkan peralatan makan Korea yang diukir huruf Hangeul yang didatangkan langsung dari Korea. Menghadirkan lima juri yang diantaranya orang Korea langsung yaitu Hong Jong Youn (pengajar bahasa Korea), Kim Yu Jeong (pengajar dan perwakilan KSI di Korea), Cha In A (pengajar KSI Surabaya), Herlinda Yuniasti (pengajar bahasa Korea) dan LLiliek Soelistyo (Direktur KSI Surabaya).

Kompetisi yang diselenggarakan oleh King Sejong Institute (KSI) Surabaya di UK Petra ini tidak hanya terbatas murid KSI saja akan tetapi juga dari masyarakat luas. Salah satunya Yoshita Elsyanti, dari Mojokerto. “Saya sangat antusias untuk mengikuti lomba ini. Ini kali pertamanya mengikuti lomba dan menang. Saya menggunakan 30 menit pertama saya pakai untuk latihan dan 30 menit selanjutnya saya pakai untuk menulis pada kertas yang telah disediakan.” ungkap Yoshita Elsyanti salah satu pemenang.

Sembari menunggu pengumuman pemenang, para peserta dapat merasakan lima kuliner asli Korea mulai dari Bulgogi (olahan daging asal Korea bagian sirloin atau daging sapi pilihan dicampur kecap asin dan gula ditambah rempah asli daerah Korea), Japchae (sohun yang dicampur dengan berbagai jenis sayuran dan daging sapi, Kimchi (asinan sayur sawi putih atau lobak hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas), Tteokbokki (terbuat dari tepung beras yang dimasak dengan bumbu gochujang yang pedas dan manis) dan ayam bumbu ala Korea. (elin/Aj)

Upacara Pembukaan Asian University President Forum 2018
November 08, 2018

Di hari kedua pelaksanaan Asian University President Forum (AUPF) ke-17, pada 7 November 2018, peserta menghadiri plenary session, talkshow, dan parallel session. Kegiatan ini dilaksanakan di auditorium kampus timur Universitas Kristen Petra (UK Petra). Suara musik tradisional mengalun mengiringi 30 penari yang melenggak-lenggok menyambut kedatangan para peserta AUPF 2018 di UK Petra. Tarian Etnik Mira Pote, yang merupakan tarian selamat datang dari wilayah Madura untuk menyambut tamu kehormatan, dengan diiringi alat musik khas madura yang bernama tong-tong. Tarian ini menceritakan tentang sopan santun rakyat Madura dalam mempersilakan tamu yang biasa disebut nyaleser.

Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., menyambut hangat kedatangan 122 delegasi yang berasal dari 62 perguruan tinggi Asia ke kampus UK Petra. Tahun ini, tema yang dipilih adalah “Disruption at The Cross Roads : Innovative Enggagement and Future Challenges for Higher Education”. Tema ini dipilih karena saat ini dunia telah berubah sedemikian pesat, bahkan sering kali perubahan itu mengejutkan. Era perubahan ini sering kali dikenal sebagai era “Disruption”, dimana banyak sektor dan bidang yang terpengaruh, tidak terkecuali pendidikan. Isu tentang perubahan (disruption) ini menjadi tantangan tersendiri yang tepat untuk dibahas dan dipecahkan bersama, khususnya di wilayah Asia yang makin berkembang.

“Kami mengharapkan konferensi ini dapat menjadi sarana bagi para peserta, terutama pemimpin pendidikan tinggi di Asia untuk saling bertukar pikiran, mendapatkan masukan, dan membangun relasi,” ungkap Djwantoro Hardjito

Dr. Jiao Fangtai, mewakili sekretariat tetap AUPF mengungkapkan, pada awalnya, AUPF berasal dari kerjasama antara empat universitas di China dan Thailand. Saat ini AUPF telah menjadi forum dan sarana untuk meningkatkan kerja sama diantara universitas-universitas di Asia. “Salah satu hasil kerja sama antar anggota AUPF adalah Asian Summer Program (ASP) yang diajukan oleh Dongseo University pada tahun 2012. Sejak saat itu, ASP telah menjadi kegiatan tahunan, dan lebih dari 200 mahasiswa berpartisipasi dalam kegiatan ini,” ungkap Jiao Fangtai yang juga Wakil Rektor Guangdong University of Foreign Studies ini.

Dalam kesempatan ini, Prof. Ainun Na’im, Ph.D., selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi hadir sebagai keynote speaker. Negara-negara di Asia sedang bertumbuh, jika berbicara mengenai pertumbuhan termasuk kualitas kehidupan, pendidikan menjadi faktor yang paling penting, tidak terkecuali pendidikan tinggi. “Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sangat mendukung terselenggaranya Asian University President Forum, termasuk kegiatan-kegiatan lain yang serupa yang diatur oleh forum ini,” ujar  Ainun Na’im.

Pendidikan Tinggi di Indonesia memiliki hak bebas untuk membuka program-program baru yang relevan dengan komunitas dan industri. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi juga memfasilitasi dan mendukung universitas-universitas untuk memiliki cara baru dalam melakukan penelitian, mengembangkan teknologi baru dan memperbaiki kualitas pendidikan. Selain itu, pemerintah mendukung dan memfasilitasi perguruan tinggi untuk bekerja sama dengan industri, salah satu caranya adalah mahasiswa melakukan magang supaya siap memasuki dunia kerja. Kedepan pemerintah Indonesia akan terus mendukung universitas-universitas untuk memasuki globalisasi, meningkatkan kerja sama internasional dalam upaya untuk meningkatkan kualitas publikasi bagi dosen dan mahasiswa. (rut/dit)

Surabaya Menyambut Hangat Peserta Asian University Presidents Forum 2018
November 08, 2018

Asian University Presidents Forum (AUPF) ke-17 diselenggarakan di Surabaya, Indonesia. Kali ini Universitas Kristen Petra (UK Petra) berkesempatan menjadi tuan rumah dalam forum yang menghimpun berbagai institusi pendidikan tinggi di berbagai wilayah Asia ini. Selama tiga hari, pada 6-8 November, sebanyak 122 peserta yang terdiri atas 62 perguruan tinggi dari 14 negara Asia mengikuti serangkaian kegiatan AUPF 2018. Pemerintah Kota Surabaya mendukung penuh kegiatan AUPF, hal ini diwujudkan dengan kegiatan city tour dan welcome dinner yang dilaksanakan pada hari pertama.

Dr. (H.C.) Ir. Tri Rismaharini, M.T, selaku Walikota Surabaya secara langsung memilih lokasi-lokasi yang dikunjungi. Selama city tour, para peserta dipandu oleh tim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya. Destinasi pertama adalah Taman Harmoni, sebelum menjadi salah satu taman terindah di Surabaya, Taman Harmoni merupakan tempat pembuangan akhir sampah. Taman kota ini dilengkapi fasilitas seperti Ruang Publik Kreatif (RPF), serta tempat olahraga dan refleksi.

Lokasi kedua yang dikunjungi yaitu House of Sampoerna. Sebagai salah satu tempat bersejarah di Surabaya, House of Sampoerna menyuguhkan memori masa lalu dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. “Ini adalah kali kedua saya ke Indonesia, sebelumnya saya mengunjungi Bali dan Yogyakarta. Menurut saya, Surabaya merupakan kota yang unik, pemimpinnya juga merupakan seorang wanita yang hebat,” ungkap Fernold Guadilla Denna, President of Saint Louis College of Cebu, Filipina.

Perhentian berikutnya adalah Command Center Surabaya yang terletak di Gedung Siola. Diresmikan 26 Juli 2018 oleh Dr. (H.C.). Ir. Tri Rismaharini, M.T., Command Center merupakan ruang kendali untuk kondisi darurat kota Surabaya, yang melayani pengaduan yang bersifat darurat dengan cepat selama 24 jam dalam sehari. Saat ini terdapat 600 closed circuit television (CCTV) yang tersebar diseluruh wilayah Surabaya. “Kami ingin menunjukkan kepada peserta, bahwa Surabaya adalah kota yang aman dan diawasi penuh oleh pemerintah kota Surabaya, sehingga pengunjung yang bukan warga Surabaya tidak perlu merasa kuatir untuk berkunjung,” ujar Luqman Yusuf Ramadhan atau yang dikenal dengan nama Cak Man, salah satu pemimpin perjalanan wisata rombongan ini.

Malam harinya, peserta menghadiri undangan welcome dinner walikota Surabaya yang dilaksanakan di halaman rumah dinasnya. Tarian Reog Ponorogo lengkap dengan iringan musik tradisional menyambut kedatangan para delegasi AUPF dan seluruh jajaran kepemimpinan UK Petra. Sayangnya Walikota Surabaya berhalangan hadir dalam kesempatan ini dikarenakan menghadiri pertemuan di Spanyol. “Kami senang dapat menyambut bapak dan ibu sebagai keluarga besar di kota Surabaya. Semoga selama di Surabaya, bapak dan ibu sekalian dapat merasa aman, nyaman, dan dapat menikmati segala keramah-taman kota Surabaya,” ujar Dr. (H.C.). Ir. Tri Rismaharini, M.T.dalam sambutannya yang diwakilkan oleh  M. Taswin, S.E., M.M., selaku Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Surabaya.

Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., mengungkapkan rasa terima kasih kepada pemerintah kota Surabaya atas dukungan yang sangat besar kepada UK Petra. “Kami sangat berterima kasih atas segala dukungan yang diberikan oleh Ibu Tri Rismaharini dalam penyelenggaraan AUPF 2018 ini. Sungguh sebuah kehormatan bagi kami,” ungkapnya.

Peserta disuguhi berbagai pertunjukan menarik, salah satunya pertunjukan tari Remo yang dibawakan oleh sanggar Putra Bima Respati. Selain itu juga  penampilan angklung dari anak-anak Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB). “Saya berharap dengan adanya kegiatan ini dapat mempererat hubungan antar anggotanya, dan terus berlanjut menghasilkan kegiatan-kegiatan yang positif dan memberdayakan institusi dan komunitas,” ujar Dr. Venus Grace Kanongkong Fagyan, Wakil Rektor Mountain Province State Polytechnic College Filipina. (rut/dit)

Profesor dari Auburn University Bahas Energi Terbarukan di UK Petra
October 31, 2018

Listrik merupakan elemen penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan energi listrik sangat besar. Di Indonesia, sebagian besar penyediaannya masih bergantung pada energi fosil yang jumlahnya sudah semakin menipis. Maka dari itu, energi terbarukan juga menjadi salah satu agenda penting dan mulai banyak diterapkan di Indonesia.

Program Studi Teknik Elektro Universitas Kristen Petra (UK Petra) bekerja sama dengan Auburn University, Amerika menggelar kuliah umum bertajuk Renewable Energy Generation Challenges and Opportunity. Pembicara pada kuliah umum ini merupakan Profesor yang berasal dari Auburn University bernama Prof. Eduard Muljadi, Ph.D. Kuliah umum ini dilaksanakan pada 24 Oktober 2018 di Ruang Konferensi IV, Gedung Radius Prawiro, UK Petra.

Sekitar 100 peserta mengikuti perkuliahan ini, tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Teknik Elektro UK Petra akan tetapi juga diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari beberapa universitas di Jawa Timur. Kegiatan kuliah umum merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh Program Studi Teknik Elektro UK Petra untuk lebih mengenalkan kondisi terkini dalam bidang teknologi elektro kepada dosen, mahasiswa, dan praktisi. “Kali ini tujuan dari kuliah umum ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang kebutuhan energi terbaharukan dalam menghadapi fenomena pemanasan global,” ujar Iwan Handoyo Putro, S.T., M.Dig.Comm., selaku Ketua Program Studi Teknik Elektro UK Petra.

Prof. Eduard Muljadi, Ph.D. memberikan wawasan tentang jenis-jenis energi terbarukan, seperti air, surya, angin, serta metode pembangkitan energi tersebut. Dosen asal Sumenep, Madura yang telah lama hidup di Amerika ini menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segala bidang, tidak terkecuali isu energi terbarukan ini. Beliau mengungkapkan fakta bahwa internasional mengakui perkembangan Indonesia beberapa tahun terakhir ini sangat pesat sekali. Internasional juga memprediksi bahwa 30-40 tahun yang akan datang, Indonesia akan menduduki peringkat empat dunia, mengalahkan Jerman dan Perancis. Indonesia merupakan negara yang besar dan memiliki potensi tinggi, hal ini dikarenakan Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah. “Harapan saya adalah agar teman-teman sadar bahwa the future is bright, maka dari itu kalian harus mempersiapkan diri dengan baik,” ungkapnya.

Dari gambaran total primary energy supply secara garis besar di seluruh dunia, untuk energi terbarukan hanya sebesar 14%, hal ini menunjukkan ada banyak sekali kesempatan yang dapat dikembangkan. Modal atau aspek finansial untuk mengembangkan energi terbarukan di negara-negara Asean ini sangat tinggi, tetapi pada kenyataannya belum dikembangkan. Masuknya energi terbarukan tentunya menimbulkan tantangan tersendiri, tetapi ada teknologi dan manusia yang menguasainya dapat mengatasi masalah tersebut. “Nantinya, kalian mungkin akan terjun dalam dunia ini, seorang engineer merupakan seorang problem solver, tenaga kerja yang bekerja untuk memecahkan masalah,” jelas Prof. Eduard. (rut/Aj)

Dua Mahasiswa Sastra Tionghoa Torehkan Prestasi Cipta Puisi Bahasa Mandarin
October 31, 2018

Tanggal 8 Oktober yang lalu dua mahasiswi Program Studi Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra (UK Petra) menyabet dua predikat kejuaraan dalam ajang lomba Karya Puisi Berbahasa Mandarin yang diadakan oleh Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta. Temanya adalah Kontribusi Generasi Z Menuju Indonesia Emas. Bagaimana kisah mereka? Simak kisahnya berikut.

Febe Leonora Agung

Gegap gempita Asian Games 2018 yang baru saja berakhir menjadi inspirasi Febe Leonora Agung dalam membuat puisinya. “Emas Indonesia” itulah judul puisi berbahasa Mandarin karya mahasiswi angkatan 2017 ini dan berhasil menghantarkannya memperoleh prestasi juara 1. “Saya sama sekali tidak menyangka akan memenangkan perlombaan ini apalagi mendapat juara pertama, sebab saya merasa puisi ini masih banyak kekurangannya”, urai gadis yang baru pertama kali mengikuti kompetisi cipta puisi ini.

Proses yang dilakukan Febe cukup lama, sekitar 3 hari ia baru bisa menyelesaikan karyanya sejumlah enam paragraf. Melalui puisi ini, Febe ingin mengajak anak muda lebih semangat untuk membawa perubahan. Kata-kata “emas” dianalogikan oleh Febe sebagai sekumpulan generasi Z yang mempunyai segudang prestasi. Mereka bersatu mengharumkan nama Indonesia, meskipun dari suku dan agama yang berbeda-beda.

“Setelah membaca puisi ini, saya harap anak-anak muda Indonesia mampu membawa perubahan dengan bertanding di bidang akademik maupun non akademik untuk bersatu membawa nama Indonesia ke kancah internasional”, urai gadis yang hobi baca buku ini. Prestasi nasional ini semakin memacu Febe yang lahir 16 Agustus 1999 ini, untuk tidak ragu-ragu mencoba  berbagai kompetisi.

Kurniawati Adirahsetio

Lain halnya dengan gadis yang akrab dipanggil Nia ini, ia sering membuat puisi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) meski dalam bahasa Indonesia. Hanya dalam sehari saja, puisinya berjudul “Bangunlah!” sudah jadi dalam bahasa Indonesia dan berhasil menghantarkannya menjadi pemenang juara 2.

“Meski sudah biasa membuat puisi, akan tetapi saya melakukan pencarian data terlebih dahulu. Saya menemukan fakta bahwa anak muda generasi Z ini suka sekali bermain telepon genggam dengan gaya menunduk. Dari sinilah akhirnya saya mendapat ide bahwa judulnya “Bangunlah” yang maksudnya tegakkan kepalamu dan mulailah buat sesuatu untuk Indonesia”, urai mahasiswi yang mempunyai hobi membaca buku novel.

Mahasiswi angkatan 2016 ini sempat berdiskusi dengan dosennya mengenai hasil karya puisinya tersebut. Puisi yang singkat dan sarat dengan makna ini, khusus ditujukan pada generasi muda yang gemar bermain gawai. “Saya ingin agar anak muda yang membaca puisi saya menjadi sadar dengan lingkungannya sendiri sebab masa depan ini milik anak muda itu sendiri, dan generasi muda harus berbuat sesuatu”, ungkap gadis kelahiran Sidoarjo 11 April 1998 silam. (Aj/dit)

Kampanyekan Bahaya Cyberbullying Lewat E-Poster
October 30, 2018

Kabar baik dan membanggakan kembali hadir dari mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra). Kali ini, empat mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam dua tim meraih juara I dan III dalam kompetisi Communication in Action (COMIC) 2018 untuk cabang lomba E-Poster. Tim Faire beranggotakan Sarah Azaliah Karsa dan Lofina Junita, sedangkan tim Rinchel beranggotakan Sherin Fongana dan Natasya Rachel, keempatnya merupakan mahasiswa semester 5.

COMIC 2018 merupakan kompetisi tahunan yang diadakan oleh universitas Binus pada 6 Oktober 2018. COMIC 2018 terdiri dari tiga cabang lomba yaitu E-Poster, Video Campaign, dan Public Speaking. Tahun ini, tema yang diangkat adalah Stop Cyberbullying, isu yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Cyberbullying yaitu suatu bentuk dari kekerasan non fisik yang dilakukan oleh orang – orang di dunia maya. Bentuk cyberbullying dapat berbagai macam, seperti ujaran kebencian di internet, unggahan foto yang mempermalukan orang lain, serta hinaan fisik, gender dan SARA di media sosial. Cyberbullying dapat menimbulkan banyak sekali akibat, mulai dari minder, depresi, bahkan bunuh diri. Dalam cabang lomba E-Poster, mereka dituntut untuk mendesain poster sebagai bentuk kepedulian dan menyebarkan bahaya tentang cyberbullying.

Sebelumnya, pada 18-30 September 2018, peserta diminta mengumpulkan karyanya. Dari 36 kelompok yang mendaftar, sebanyak lima kelompok masuk ke babak final dan mempresentasikan karya mereka di hadapan para juri. Tim Faire membuat poster bergambarkan lemari terbuka yang berisi sepatu balet berdarah yang tergantung pada sebuah telepon genggam Sepatu balet melambangkan cita-cita atau impian dari seseorang. Sepatu balet dipilih karena identik dengan perempuan. Berdasarkan hasil riset, perempuan lebih rentan menjadi korban cyberbullying. Telepon genggam dipilih karena merupakan salah satu media yang digunakan untuk mengakses dunia maya, tempat terjadinya cyberbullying. Di dalam poster juga bertuliskan kata-kata “I Finally Stopped. #cyberbullykills”. Poster ini ditujukan bagi para pelaku cyberbullying agar lebih berhati-hati dalam berucap. “Pesan yang ingin kami sampaikan adalah cyberbullying memiliki dampak yang besar, bisa menghentikan impian seseorang, bahkan nyawa seseorang bisa hilang,” ujar Lofina Junita.

Tim Rinchel terinspirasi dari beberapa teman mereka yang suka menyakiti diri dengan menyayat tangannya saat menghadapi tekanan. Pada posternya, mereka menggambarkan tangan seseorang yang penuh dengan luka sayat sedang menggenggam sebuah telepon genggam bertuliskan kata-kata cacian. Di poster juga tertulis kalimat “To you, those are just words. To them, it’s their whole life”. Poster ini ditujukan bagi anak-anak berusia 9-17 tahun yang merupakan usia sekolah, oleh sebab itu latar posternya diberi motif kayu sebagai simbol bangku sekolah. “Melalui poster ini kami ingin memperingatkan pelaku cyberbullying bahwa kata-kata yang kita ucapkan kepada orang lain itu sangat penting. Bagi kita mungkin itu hanya kata-kata biasa dan tidak berarti, tapi bagi orang lain bisa menjadi pencitraan,” jelas Natasya Rachel.

Awalnya mereka mengaku mengikuti kompetisi ini karena merupakan kewajiban dari mata kuliah advertising production, hasil karya mereka juga menjadi penilaian ujian tengah semester. Setelah mengikuti kompetisi ini, mereka berharap karya mereka dapat menumbuhkan kepedulian pada tindakan cyberbullying. “Sebelumnya saya belum pernah mengikuti kompetisi seperti ini, sehingga merasa tertantang untuk mencoba. Kami berharap melalui kompetisi ini, dapat membantu pemerintah melalui kementerian komunikasi dan informasi untuk mengkampanyekan bahaya cyberbullying,” ungkap Sarah Azaliah Karsa. (rut/dit)

Tetap Berbuah Walaupun Sudah Tua
October 29, 2018

Pada hari Selasa, 16 Oktober 2018 dilaksanakan ibadah syukur Purna Tugas Bapak Munar. Ibadah ini dihadiri sekitar 40 rekan kerabat kerja dari berbagai unit dan dosen di UK Petra. Bapak Munar bertugas di Unit Pelayanan dan Pemeliharaan Kampus (UPPK) dan sudah berkarya di UK Petra sejak tahun 1979. Pada tanggal 13 Agustus 2018, Munar menginjak usia 60 tahun dan mencapai masa purna tugas.

Renungan dalam ibadah ini disampaikan oleh Drs. Saptana Hadi dengan tema “Tetap Berbuah Walaupun Sudah Tua”. Hadi mengambil ayat Firman Tuhan dari Mazmur 92: 14-15, “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya”. Ayat ini menyampaikan pemahaman bahwa Tuhan menghendaki manusia untuk semakin tua semakin berbuah. Buah yang diharapkan ini berbentuk buah Roh, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.

Hadi juga kemudian memaparkan tentang kondisi yang dihadapi ketika orang pensiun. Menurutnya, sindrom yang dihadapi dikenal dengan 5B yang menggambarkan kondisi umum orang yang telah berusia lanjut. 5B merupakan singkatan dari budeg (pendengaran kurang jelas), blawur (pandangan kurang jelas), beser (sering buang air kecil), bingung, lalu bablas (dipanggil Tuhan). Cara untuk menepis sindrom tersebut adalah dengan DUIT, yaitu singkatan dari: Doa, Usaha, Iman, Taat. Hadi menyampaikan saran dalam memasuki pensiun, “Selalu ingat bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk melayani”. Hadi memberikan bentuk aplikasi dengan pentingnya menyadari bahwa hidup ini adalah milik Tuhan; pentingnya menjalani hidup dengan sukacita; dan selalu bersyukur dalam segala hal.

Seusai khotbah, rekan-rekan kerja Munar diberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan dan kesan yang dipunyai. Purtoyo, rekan Munar di UPPK menyampaikan kisah pengalaman kerja yang dirasakan bersama Munar. Kondisi UK Petra saat ini menurutnya sudah enak, berbeda dengan masa-masa lalu saat universitas ini baru saja dirintis. Purtoyo menyampaikan ikut serta berbahagia karena melihat bahwa Munar di saat menjelang pensiunnya sudah siap. Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum & Keuangan Agus Arianto Toly, S.E., Ak., M.S.A., menyampaikan berita gembira bahwa Munar apabila masih berkenan untuk berkarya di Petra tetap dibutuhkan untuk bekerja.

Munar dan istrinya, Ibu Tukinah menyampaikan kesan dan pesannya. Munar mengatakan bahwa karirnya yang panjang di UK Petra bukanlah suatu kebetulan, melainkan adalah suatu karunia Tuhan. Katanya, “Ini adalah karunia. Kalau bukan, tidak mungkin saya sampai 39 tahun di sini”. Hal yang membuatnya mendedikasikan seluruh karir adalah untuk menjamin kehidupan dan pendidikan anak-anaknya serta cucunya. Dengan bersyukur, Munar mengatakan bahwa ketiga anaknya lulus dari UK Petra dan sejak SMP bersekolah di SMPKr Petra 5. Mengingat hal ini Tukinah turut mengucapkan syukurnya, “Saya senang anak-anak saya bisa berprestasi bersama di UK Petra semua”. Ketiga anak Munar dan Tukinah ketika berkuliah kesemuanya mendapatkan beasiswa.

Munar menyampaikan pesan harapannya atas rekan-rekan yang bekerja di UK Petra, “Bekerjalah dengan senyum dan ucapkan selamat pagi pada setiap orang”. Munar selalu mengucapkan selamat pagi kepada siapa pun yang dikenalnya di setiap saat. Hal ini dimaksudkannnya untuk menularkan semangat dan keceriaan, sehingga meskipun bertemu di sore hari rasanya tetap seperti di pagi hari sehingga suasana bekerja bisa selalu menyenangkan. (noel/padi)

Kemas Sejarah dengan Nilai Kekinian
October 26, 2018

Pengalaman merupakan pelajaran yang berharga, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bisa menjadi pelajaran bagi orang lain jika dibagikan pada orang lain. Para mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) yang tergabung dalam kelas Sejarah Budaya Indonesia (SBI) berkesempatan untuk mendengarkan pengalaman dari para pelaku industri kreatif yang ada di Surabaya. Kuliah tamu ini dilaksanakan pada 3 Oktober 2018 di ruang AVT 502.

Sebanyak 212 mahasiswa semester satu yang berasal dari tiga kelas mendengarkan sharing dari dua komikus dan animator terkenal di Surabaya yaitu Cak Waw dan Cak Ikin. Mata kuliah SBI adalah mata kuliah dasar, hal ini merupakan tantangan tersendiri, belajar sejarah yang tidak membosankan. Kuliah tamu ini bertujuan untuk menunjukkan pada mahasiswa bahwa inspirasi untuk berkarya itu tidak perlu jauh-jauh, sebenarnya inspirasinya dari budaya lokal kita sendiri juga bisa.  “Bagaimana mengangkat sejarah, budaya, kearifan lokal tetapi menggunakan nilai-nilai kekinian, kebetulan kali ini medianya animasi dan komik,” ujar Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom., selaku dosen pengampu Sejarah Budaya Indonesia.

Cak Waw bernama asli Wiryadi Dharmawan memulai karirnya sebagai animator serial kartun TV Hela Heli Helo yang tayang di TPI. Cak Waw juga kerap mendapat penghargaan nasional maupun internasional. Salah satunya adalah Piala Citra Festival Film Indonesia. Saat ini ia menekuni perannya sebagai komikus 101 Hantu Nusantara. Pada komik 101 Hantu Nusantara ini, Cak Waw ingin menunjukkan keragaman dan keunikan hantu di Indonesia. Menurut Cak Waw ada beberapa langkah awal bagi seseorang yang ingin berkarya yaitu bakat, keajaiban, mendobrak kondisi, dan aktivasi.

Mohammad Sholikin atau yang dikenal dengan nama Cak Ikin merupakan Animator Culo & Boyo. Sejak kecil, Cak Ikin telah dikenalkan dengan budaya Indonesia yaitu wayang, hal ini menjadi salah satu dasar kecintaannya terhadap budaya lokal Indonesia. Dalam berkarya bermuatan konten lokal, ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan yaitu cerita rakyat, karakter ikonik, bahasa, dan beda. Dalam karyanya, Cak Ikin mengangkat konten lokal yaitu Suro dan Boyo menjadi karakter utamanya. Selain itu karyanya juga menggunakan bahasa suroboyoan yang khas, membuatnya memiliki daya tarik tersendiri. Masyarakat menyukai hal-hal yang unik dan dekat dengan mereka. Karya Cak Ikin juga telah mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya dalam South East Asian Games & Animaton Festival 2010. Sejak tahun 2015, Cak Ikin membuat webseries di youtube bertajuk Culo & Boyo. Jika dikemas dengan hal menarik seperti ini, mahasiswa akan lebih mudah memahami.

Pada semester-semester sebelumnya kuliah tamu SBI, mendatangkan penulis buku sejarah, dan itu kurang menarik bagi generasi sekarang. Jika dikemas dengan hal menarik seperti ini, mahasiswa akan lebih mudah memahami. “Ide itu ada dimana-mana dan dapat datang dari mana saja. Jangan terus berada di zona nyaman dan kita harus terus mencarinya,” tutup Aniendya. (rut/padi)

Mengenal Keunikan Keruangan di Asia Lewat PAAU 2018
October 24, 2018

Program studi arsitektur Universitas Kristen Petra (UK Petra) berkesempatan menjadi tuan rumah acara Platform for Asian Architecture and Urbanism (PAAU) pada 11-15 Oktober 2018. PAAU merupakan workshop tahunan internasional yang diikuti beberapa universitas dan tahun ini menginjak penyelenggaraan yang ke-6. Pada acara kali ini, para peserta diajak berkunjung ke kampung-kampung di Surabaya dan Gresik. “Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen program studi Arsitektur, Urban Design, dan Planologi dari tujuh universitas di Asia,” ujar Rully Damayanti, S.T., M.Art., Ph.D, selaku koordinator kegiatan PAAU.

PAAU 2018 mengangkat tema “Embedding Fluidity”, dimana para peserta diajak memahami ruang kampung yang berbeda dengan ruang perkotaan yang modern. Memahami ruang kampung itu adalah sesuatu yang sangat dinamis dan mudah berubah-ubah dimana hampir semua negara Asia memiliki isu serupa. Melalui kegiatan ini Rully ingin mengajak sesama warga Asia untuk mengenal keunikan ruang kampung tersebut. Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan ini adalah supaya mahasiswa dapat menghasilkan suatu karya arsitektur yang menjawab kebutuhan warga sedangkan untuk dosen supaya mendapatkan pemahaman tentang filosofi ruang yang berbeda dari teori barat.

Sebanyak 98 peserta berasal dari beberapa universitas ternama, diantaranya Silpakorn University Thailand, Kunmig University China, KRVIA Mumbai India, Tunghai University Taiwan, Taylors University Malaysia, UTAR Malaysia, dan  UK Petra. Peserta dibagi dalam lima kelompok besar yang didampingi oleh dosen supaya dapat berdiskusi untuk menghasilkan ide desain dan produk arsitektural dari berbagai kampung yang dikunjungi.

Pada hari pertama peserta diajak mengunjungi kampung Ketandan dan Kampung Kebangsren, Tunjungan Surabaya untuk melakukan identifikasi fenomena fisik atau sosial kampung tersebut. Dengan berjalan kaki menyusuri kampung, peserta diajak mengamati keunikan arsitektur di kampung ini. Setelah berkeliling, peserta berkumpul di pendopo untuk mendengarkan penjelasan dan berdiskusi mengenai kampung tersebut “Kita ingin menunjukkan bahwa kampung di Indonesia punya keunikan, kehidupan sosial yang ramah, bersih, dan teratur,” lanjut Rully.

Jason Yap, mahasiswa UTAR Malaysia menyatakan bahwa ia baru pertama kali berkunjung ke Indonesia. Setelah mengunjungi kampung Ketandan, ia menyatakan bahwa kampung ini sangat rapi dan bersih. “Kampung disini hampir sama dengan kampung di Malaysia, hanya saja disini lebih rapi dan bersih,” ujar Jason.

Pada hari kedua, peserta diajak ke Gresik mengunjungi Kampung Kemasan dan Omah Damar. Mereka belajar mengenai Damar Kurung dan produk kemasan. Hari ketiga peserta diajak mengunjungi kampung Ampel di Surabaya. Kampung Kemasan dan Omah Damar di Gresik serta kampung Ampel di Surabaya dipilih karena kuat dalam budaya dan religi, serta memiliki nilai jual. Keesokan harinya, peserta diajak berjalan di Car Free Day di Surabaya. Hal ini unik karena tidak semua negara memiliki Car Free Day, sehingga akan menjadi pengalaman unik bagi peserta. Pada hari terakhir, para peserta melakukan presentasi dan pameran karya yang telah mereka selesaikan selama workshop. (rut/dit)

Belajar Bahasa dan Budaya Korea Lewat Film
October 18, 2018

Pengaruh budaya Korea di kalangan anak muda sangat besar, tidak terkecuali di Indonesia. Belajar budaya Korea dapat dilakukan melalui berbagai cara, King Sejong Institute (KSI) Surabaya punya berbagai cara menarik untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Korea kepada masyarakat, salah satunya dengan nobar (nonton bareng). Kegiatan ini dikemas dalam gelaran Korean Movie Day 2, yang diadakan pada 21 September 2018 di CGV Marvell City Mall Surabaya.

Dalam kegiatan ini, KSI menggandeng CGV Cinema Marvell City dalam pelaksanaannya. Sebelumnya, pada Maret 2018, KSI telah mengadakan kegiatan serupa dengan film The Princess and the Matchmaker. “Antusiasme peserta pada Korean Movie Day yang lalu cukup tinggi, hal ini yang membuat kita memutuskan untuk melaksanakan Korean Movie Day yang kedua,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA selaku Direktur KSI Surabaya.

Kali ini, film yang dipilih adalah Midnight Runners yang dibintangi oleh beberapa aktor Korea papan atas yaitu Park Seo Joon dan Kang Ha Neul. “Film ini dipilih untuk ditayangkan pada Korean Movie Day 2 karena para aktornya merupakan aktor-aktor yang sedang naik daun dan diminati oleh masyarakat,” ungkap Dyah Sekarini H, A.Md., salah satu staff KSI Surabaya. Midnight Runners bercerita tentang dua orang pemuda yang menempuh pendidikan di Universitas Kepolisian. Keduanya memiliki mimpi serupa yaitu menjadi petugas kepolisian, namun memiliki latar belakang dan sifat yang sangat berbeda. Mereka dipertemukan saat masa orientasi sebelum resmi masuk Universitas Kepolisian.

Keduanya menjadi sahabat, hingga suatu malam, mereka terjebak dalam peristiwa yang dilematis saat mereka jadi saksi kasus penculikan remaja perempuan. Di satu sisi, keduanya memiliki semangat berapi-api untuk membongkar kasus sesuai teknik dan pengetahuan yang mereka dapat di kampus. Sementara di sisi lain, ada urusan birokrasi yang rumit yang menghalangi mereka menguak kasus penculikan remaja-remaja wanita. Keduanya berjuang hingga akhirnya berhasil memecahkan kasus tersebut. Dibalut dengan unsur komedi dan action, para peserta begitu antusias selama film diputar. Suasana studio sangat meriah dengan kekompakan 325 peserta menanggapi adegan-adegan laga yang menantang maupun adegan lucu dalam film berdurasi sekitar 110 menit ini.

Peserta berasal dari berbagai kalangan, baik murid KSI, mahasiswa, alumni, dosen, bahkan orang tua. Salah satunya Fenny Anggraini yang mengaku mengikuti Korean Movie Day setelah diajak oleh salah seorang temannya. “Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena saya suka Korea dan suka dengan pemain-pemainnya karena sebelumnya saya telah menonton beberapa drama yang diperankan oleh Park Seo Joon dan Kang Ha Neul,” ungkap alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra ini. Selesai menonton, sebanyak 50 peserta beruntung mendapatkan doorprize dari CGV. (rut/padi)

Rayakan 20 Tahun Bersama Alumni
October 18, 2018

Sejak tahun 1998, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra telah banyak menghasilkan orang-orang hebat yang memiliki kontribusi positif bagi masyarakat bahkan bagi bangsa dan negara Indonesia. Dalam rangka merayakan usia ke-20 tahunnya, DKV UK Petra bekerjasama dengan alumni mengadakan Festival Temu Alumni DKV UK Petra. “Ilmu desain sangat bergantung pada kreativitas dan imajinasi, Liar Imaji adalah gambaran ide-ide yang berbeda, unik, dan imajinatif. Selama 20 tahun kita memiliki ide-ide yang sangat brilian dan “liar” itu,” ungkap Deddi Duto Hartanto, S.Sn., M.Si., selaku ketua panitia Festival Alumni Rongpuluhan.  

Festival Alumni dilaksanakan pada 29 September 2018 di selasar gedung P UK Petra. Berbagai rangkaian kegiatan menarik dilaksanakan, yaitu zumba massal, bazaar dan pameran, workshop, community talk show, dan juga alumni berbagi. Tidak hanya melibatkan alumni, tetapi warga Siwalankerto dan civitas UK Petra diajak untuk terlibat dalam gelaran bertajuk Rongpuluhan Liar Imaji ini sebagai wujud terima kasih atas penerimaan warga kepada alumni saat aktif menjadi mahasiswa dulu. Acara resmi dibuka dengan pemotongan tumpeng dan pemotongan pita.

Sebagai perwujudan dari tema “Liar Imaji”, DKV UK Petra menggandeng para pemain Persebaya untuk membuat mural. Tiga pemain Persebaya yaitu Miswar Saputra, Ruben Sanadi, dan juga Osvaldo Haay membuat mural dari hasil tendangan mereka. Pemain persebaya secara bergantian menendang bola ke arah cat yang telah disusun di depan bidang putih. Cipratan cat ini menghasilkan karya mural yang unik. “Hasil tendangan dari para pemain persebaya ini menghasilkan karya seni yang indah, inilah salah satu perwujudan kata Liar Imaji. Seni dapat dipadukan dengan bidang apapun, termasuk sepak bola,” ujar Deddi.

Tidak hanya itu, berbagai workshop menarik dilaksanakan, di antaranya Color Latte Art yaitu seni menggambar diatas kopi yang bekerja sama dengan Kudos Cafe, Fashion Illustration oleh Agnes Olivia Go, Watercolor Lettering oleh Vallery Darmadji, dan juga Copperplate Calligraphy oleh Melli_fluous. Para pecinta motor juga dapat mengikuti Community Talk Show bersama alumni DKV angkatan 1999, David Hutani yang juga merupakan pemilik Im Garage dan juga Adrianka Anka, alumni DKV angkatan  2002, pemilik Elders Garage.

Sesi yang sangat dinanti adalah Alumni Berbagi, dimana alumni-alumni yang telah berkarya bagi masyarakat dan negara membagikan pengalaman mereka sejak lulus dari DKV UK Petra. Beberapa alumni yang hadir dan menjadi narasumber yaitu Adrianka Anka, angkatan 2002, founder Tandaseru Detailed Imaging dan pembuat motor Chopper Jokowi. Hadir pula Fonny Tunggal angkatan 2000 yang menjadi fashion designer sekaligus pemilik dari Fonny Tunggal Couture, rancangannya telah dipamerkan diberbagai fashion show seperti Indonesia Fashion Week dan pemilihan kontes kecantikan di Malaysia.

Alumni angkatan 2002, Arghubi Utama yang merupakan founder Aiola Group dan KUMI Home Décor, serta Ellen Anatashia, angkatan 1999, seorang artistic event stylist dan art director Eden Design juga turut membagikan kisah mereka. Hadir pula Astri Kunto, angkatan 1998 yang merupakan Co-Founder Seruni Creative Bandung, Bertono Adi, angkatan 2000, yang merupakan Creator Kudos Cafe. Selain itu, Flo Hadjon, angkatan 1999, seorang graphic designer dan sutradara film, serta Deni Lie, founder Dream entertainment, Edustory & Orleeozora juga turut hadir dalam sesi ini. Tidak hanya alumni, dalam sesi ini, Freddy H. Istanto selaku Kaprodi Pertama DKV UK Petra juga membagikan pengalamannya saat awal berdirinya program studi ini. (rut/Aj)

Charaqua Vania Rawoadji, Mahasiswi dengan Segudang Prestasi
October 15, 2018

Meraih prestasi di usia muda merupakan cita-cita dari semua orang di dunia. Namun untuk merealisasikan hal itu, banyak hal yang harus dilewati dan dikorbankan. Apalagi usia muda adalah masa dimana kebanyakan anak muda habiskan untuk bersenang-senang. Berbeda dengan anak muda pada umumnya, Charaqua Vania Rawiadji, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya, ia berhasil untuk meraih berbagai prestasi di usia mudanya.

Mahasiswi yang sering dipanggil Caca ini, merupakan mahasiswi Program English for Creative Industry (ECI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) angkatan 2018. Semenjak berkuliah di UK Petra, Caca telah mengikuti delapan perlombaan tingkat perkotaan hingga nasional. Salah satu lomba paling bergengsi yang pernah diikuti Caca adalah National University Debate Championship (NUDC) yang diselenggarakan oleh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah VII April-Mei 2018 lalu. Caca diberi kesempatan untuk dapat memenangi kompetisi tersebut dan meraih juara pertama di tingkat regional universitas.

Gadis asal Bojonegoro ini mengawali perjalanan prestasinya sejak SMA. Berawal dari ekstrakurikuler English Debate, Caca diperkenalkan ke dalam dunia debat. Dunia debat memang terbilang sulit untuk dimasuki oleh pemula. Namun, dengan tekad dan rasa pantang menyerah, Cac akhirnya dapat beradaptasi dan malah jatuh cinta dengan dunia debat. “Debat memaksa saya untuk dapat melihat berbagai sisi dari sebuah fakta, dan mengajari saya untuk dapat lebih toleransi lagi.”

Selain berkompetisi dan mengkoleksi prestasi, Caca juga aktif dalam berbagai kepanitiaan dan organisasi di UK Petra. Tahun ini, Caca menjabat sebagai Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Debate UK Petra yang sekaligus menjadikannya anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UK Petra. Dengan segala kesibukannya, Caca tetap mampu memertahankan nilai perkuliahannya dengan baik, terbukti dengan Indeks Prestasi Kumulatifnya yang mencapai nilai sempurna 4.0. Yang terpenting adalah tidak suka menunda pekerjaan, itulah rahasia Caca dalam membagi waktu dan menyelesaikan segala tugasnya dengan tepat waktu.

Memenangi National University Debate Championship merupakan salah satu momen paling membanggakan Caca maupun kampus UK Petra. Segala jenis persiapan Caca lakukan demi mengikuti perlombaan bergengsi ini. Kampus pun turut membantu dalam hal administrasi dan transportasi Caca selama persiapan dan saat hari pelaksanaan kompetisi ini. Bercerita mengenai pengalamannya, pressure yang tinggi pun juga dialami Caca, namun ia tak gentar.  “Pokoknya jangan punya mentalitas mengasihani diri, harus terus fokus dan maju dan tetap berdoa.” ungkap mahasiswi kelahiran 27 September 1999 ini.

Untuk kedepannya, Caca ingin lebih fokus kuliah, BEM, UKM ED, dan Petra Little Theatre. Namun, tidak berarti bahwa Caca akan berhenti untuk berkompetisi dan meraih prestasi. Caca masih ingin terus mengikuti berbagai lomba yang ada, menjadi juri hingga menjadi seorang pelatih English Debate. Caca terus beraharap agar ia dapat membawa dampak dan terus menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya. (luk/Aj)