Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Berita

Belajar Bahasa dan Budaya Korea Lewat Film
October 18, 2018

Pengaruh budaya Korea di kalangan anak muda sangat besar, tidak terkecuali di Indonesia. Belajar budaya Korea dapat dilakukan melalui berbagai cara, King Sejong Institute (KSI) Surabaya punya berbagai cara menarik untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Korea kepada masyarakat, salah satunya dengan nobar (nonton bareng). Kegiatan ini dikemas dalam gelaran Korean Movie Day 2, yang diadakan pada 21 September 2018 di CGV Marvell City Mall Surabaya.

Dalam kegiatan ini, KSI menggandeng CGV Cinema Marvell City dalam pelaksanaannya. Sebelumnya, pada Maret 2018, KSI telah mengadakan kegiatan serupa dengan film The Princess and the Matchmaker. “Antusiasme peserta pada Korean Movie Day yang lalu cukup tinggi, hal ini yang membuat kita memutuskan untuk melaksanakan Korean Movie Day yang kedua,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA selaku Direktur KSI Surabaya.

Kali ini, film yang dipilih adalah Midnight Runners yang dibintangi oleh beberapa aktor Korea papan atas yaitu Park Seo Joon dan Kang Ha Neul. “Film ini dipilih untuk ditayangkan pada Korean Movie Day 2 karena para aktornya merupakan aktor-aktor yang sedang naik daun dan diminati oleh masyarakat,” ungkap Dyah Sekarini H, A.Md., salah satu staff KSI Surabaya. Midnight Runners bercerita tentang dua orang pemuda yang menempuh pendidikan di Universitas Kepolisian. Keduanya memiliki mimpi serupa yaitu menjadi petugas kepolisian, namun memiliki latar belakang dan sifat yang sangat berbeda. Mereka dipertemukan saat masa orientasi sebelum resmi masuk Universitas Kepolisian.

Keduanya menjadi sahabat, hingga suatu malam, mereka terjebak dalam peristiwa yang dilematis saat mereka jadi saksi kasus penculikan remaja perempuan. Di satu sisi, keduanya memiliki semangat berapi-api untuk membongkar kasus sesuai teknik dan pengetahuan yang mereka dapat di kampus. Sementara di sisi lain, ada urusan birokrasi yang rumit yang menghalangi mereka menguak kasus penculikan remaja-remaja wanita. Keduanya berjuang hingga akhirnya berhasil memecahkan kasus tersebut. Dibalut dengan unsur komedi dan action, para peserta begitu antusias selama film diputar. Suasana studio sangat meriah dengan kekompakan 325 peserta menanggapi adegan-adegan laga yang menantang maupun adegan lucu dalam film berdurasi sekitar 110 menit ini.

Peserta berasal dari berbagai kalangan, baik murid KSI, mahasiswa, alumni, dosen, bahkan orang tua. Salah satunya Fenny Anggraini yang mengaku mengikuti Korean Movie Day setelah diajak oleh salah seorang temannya. “Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena saya suka Korea dan suka dengan pemain-pemainnya karena sebelumnya saya telah menonton beberapa drama yang diperankan oleh Park Seo Joon dan Kang Ha Neul,” ungkap alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra ini. Selesai menonton, sebanyak 50 peserta beruntung mendapatkan doorprize dari CGV. (rut/padi)

Rayakan 20 Tahun Bersama Alumni
October 18, 2018

Sejak tahun 1998, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra telah banyak menghasilkan orang-orang hebat yang memiliki kontribusi positif bagi masyarakat bahkan bagi bangsa dan negara Indonesia. Dalam rangka merayakan usia ke-20 tahunnya, DKV UK Petra bekerjasama dengan alumni mengadakan Festival Temu Alumni DKV UK Petra. “Ilmu desain sangat bergantung pada kreativitas dan imajinasi, Liar Imaji adalah gambaran ide-ide yang berbeda, unik, dan imajinatif. Selama 20 tahun kita memiliki ide-ide yang sangat brilian dan “liar” itu,” ungkap Deddi Duto Hartanto, S.Sn., M.Si., selaku ketua panitia Festival Alumni Rongpuluhan.  

Festival Alumni dilaksanakan pada 29 September 2018 di selasar gedung P UK Petra. Berbagai rangkaian kegiatan menarik dilaksanakan, yaitu zumba massal, bazaar dan pameran, workshop, community talk show, dan juga alumni berbagi. Tidak hanya melibatkan alumni, tetapi warga Siwalankerto dan civitas UK Petra diajak untuk terlibat dalam gelaran bertajuk Rongpuluhan Liar Imaji ini sebagai wujud terima kasih atas penerimaan warga kepada alumni saat aktif menjadi mahasiswa dulu. Acara resmi dibuka dengan pemotongan tumpeng dan pemotongan pita.

Sebagai perwujudan dari tema “Liar Imaji”, DKV UK Petra menggandeng para pemain Persebaya untuk membuat mural. Tiga pemain Persebaya yaitu Miswar Saputra, Ruben Sanadi, dan juga Osvaldo Haay membuat mural dari hasil tendangan mereka. Pemain persebaya secara bergantian menendang bola ke arah cat yang telah disusun di depan bidang putih. Cipratan cat ini menghasilkan karya mural yang unik. “Hasil tendangan dari para pemain persebaya ini menghasilkan karya seni yang indah, inilah salah satu perwujudan kata Liar Imaji. Seni dapat dipadukan dengan bidang apapun, termasuk sepak bola,” ujar Deddi.

Tidak hanya itu, berbagai workshop menarik dilaksanakan, di antaranya Color Latte Art yaitu seni menggambar diatas kopi yang bekerja sama dengan Kudos Cafe, Fashion Illustration oleh Agnes Olivia Go, Watercolor Lettering oleh Vallery Darmadji, dan juga Copperplate Calligraphy oleh Melli_fluous. Para pecinta motor juga dapat mengikuti Community Talk Show bersama alumni DKV angkatan 1999, David Hutani yang juga merupakan pemilik Im Garage dan juga Adrianka Anka, alumni DKV angkatan  2002, pemilik Elders Garage.

Sesi yang sangat dinanti adalah Alumni Berbagi, dimana alumni-alumni yang telah berkarya bagi masyarakat dan negara membagikan pengalaman mereka sejak lulus dari DKV UK Petra. Beberapa alumni yang hadir dan menjadi narasumber yaitu Adrianka Anka, angkatan 2002, founder Tandaseru Detailed Imaging dan pembuat motor Chopper Jokowi. Hadir pula Fonny Tunggal angkatan 2000 yang menjadi fashion designer sekaligus pemilik dari Fonny Tunggal Couture, rancangannya telah dipamerkan diberbagai fashion show seperti Indonesia Fashion Week dan pemilihan kontes kecantikan di Malaysia.

Alumni angkatan 2002, Arghubi Utama yang merupakan founder Aiola Group dan KUMI Home Décor, serta Ellen Anatashia, angkatan 1999, seorang artistic event stylist dan art director Eden Design juga turut membagikan kisah mereka. Hadir pula Astri Kunto, angkatan 1998 yang merupakan Co-Founder Seruni Creative Bandung, Bertono Adi, angkatan 2000, yang merupakan Creator Kudos Cafe. Selain itu, Flo Hadjon, angkatan 1999, seorang graphic designer dan sutradara film, serta Deni Lie, founder Dream entertainment, Edustory & Orleeozora juga turut hadir dalam sesi ini. Tidak hanya alumni, dalam sesi ini, Freddy H. Istanto selaku Kaprodi Pertama DKV UK Petra juga membagikan pengalamannya saat awal berdirinya program studi ini. (rut/Aj)

Charaqua Vania Rawoadji, Mahasiswi dengan Segudang Prestasi
October 15, 2018

Meraih prestasi di usia muda merupakan cita-cita dari semua orang di dunia. Namun untuk merealisasikan hal itu, banyak hal yang harus dilewati dan dikorbankan. Apalagi usia muda adalah masa dimana kebanyakan anak muda habiskan untuk bersenang-senang. Berbeda dengan anak muda pada umumnya, Charaqua Vania Rawiadji, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya, ia berhasil untuk meraih berbagai prestasi di usia mudanya.

Mahasiswi yang sering dipanggil Caca ini, merupakan mahasiswi Program English for Creative Industry (ECI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) angkatan 2018. Semenjak berkuliah di UK Petra, Caca telah mengikuti delapan perlombaan tingkat perkotaan hingga nasional. Salah satu lomba paling bergengsi yang pernah diikuti Caca adalah National University Debate Championship (NUDC) yang diselenggarakan oleh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah VII April-Mei 2018 lalu. Caca diberi kesempatan untuk dapat memenangi kompetisi tersebut dan meraih juara pertama di tingkat regional universitas.

Gadis asal Bojonegoro ini mengawali perjalanan prestasinya sejak SMA. Berawal dari ekstrakurikuler English Debate, Caca diperkenalkan ke dalam dunia debat. Dunia debat memang terbilang sulit untuk dimasuki oleh pemula. Namun, dengan tekad dan rasa pantang menyerah, Cac akhirnya dapat beradaptasi dan malah jatuh cinta dengan dunia debat. “Debat memaksa saya untuk dapat melihat berbagai sisi dari sebuah fakta, dan mengajari saya untuk dapat lebih toleransi lagi.”

Selain berkompetisi dan mengkoleksi prestasi, Caca juga aktif dalam berbagai kepanitiaan dan organisasi di UK Petra. Tahun ini, Caca menjabat sebagai Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Debate UK Petra yang sekaligus menjadikannya anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UK Petra. Dengan segala kesibukannya, Caca tetap mampu memertahankan nilai perkuliahannya dengan baik, terbukti dengan Indeks Prestasi Kumulatifnya yang mencapai nilai sempurna 4.0. Yang terpenting adalah tidak suka menunda pekerjaan, itulah rahasia Caca dalam membagi waktu dan menyelesaikan segala tugasnya dengan tepat waktu.

Memenangi National University Debate Championship merupakan salah satu momen paling membanggakan Caca maupun kampus UK Petra. Segala jenis persiapan Caca lakukan demi mengikuti perlombaan bergengsi ini. Kampus pun turut membantu dalam hal administrasi dan transportasi Caca selama persiapan dan saat hari pelaksanaan kompetisi ini. Bercerita mengenai pengalamannya, pressure yang tinggi pun juga dialami Caca, namun ia tak gentar.  “Pokoknya jangan punya mentalitas mengasihani diri, harus terus fokus dan maju dan tetap berdoa.” ungkap mahasiswi kelahiran 27 September 1999 ini.

Untuk kedepannya, Caca ingin lebih fokus kuliah, BEM, UKM ED, dan Petra Little Theatre. Namun, tidak berarti bahwa Caca akan berhenti untuk berkompetisi dan meraih prestasi. Caca masih ingin terus mengikuti berbagai lomba yang ada, menjadi juri hingga menjadi seorang pelatih English Debate. Caca terus beraharap agar ia dapat membawa dampak dan terus menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya. (luk/Aj)

 

Lokakarya Audit Mutu Internal (AMI) 2018, Pembelajaran Bersama untuk Meningkatkan Mutu
October 12, 2018

Selama dua hari, 10-11 Oktober 2018 UK Petra menyelenggarakan proses terakhir Program Asuh Perguruan Tinggi Unggul dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Kegiatan ini bernama Lokakarya Audit Mutu Internal (AMI) di ruang Sriwijaya Hotel Sheraton, Surabaya. “UK Petra juga mendapatkan pembelajaran dari kegiatan bersama ini. Kami senang bermitra dengan tiga universitas yang ada dan berharap akan ada kegiatan bersama diluar program hibah ini”, ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. selaku rektor UK Petra,Surabaya.

Tahun ini (2018), UK Petra mengasuh Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu), Jombang; Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina), Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur; serta Institut Teknologi Del (IT Del), Toba Samosir, Sumatra Utara. Dalam sambutannya, Rektor Unipdu, Prof. Dr. Kiai H. Ahmad Zahro, MA., menyampaikan harapannya yaitu prospek peningkatan status akreditasi institusinya, katanya “Kami berharap agar tidak lama lagi mendapatkan Akreditasi A, karena saat ini sudah ada gurunya. Kami juga berharap kerjasama yang sudah ada akan tetap terjalin”.

Kegiatan lokakarya sebagai penutup program asuh ini dihadiri 24 peserta, 8 orang dari masing-masing PT Asuh. Mereka disambut oleh Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.; Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum & Keuangan, Agus Arianto Toly, S.E.,Ak.,M.S.A.; serta Kepala Lembaga Penjaminan Mutu, Dr. Gan Shu San, M.Sc. beserta jajarannya.

Lokakarya dimulai dengan paparan “SPMI dan Pengertian AMI” serta “Perencanaan dan Pelaksanaan AMI” yang difasilitasi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UK Petra, Dr. Jenny Mochtar, MA dan Ir. Emmy Hosea, M.Eng.Sc., dari Lembaga Penjaminan Mutu UK Petra. Dalam memahami hubungan antara SPMI dan AMI, perlu diingat bahwa tujuan suatu audit dilaksanakan adalah 1) Memastikan sistem manajemen memenuhi standar/regulasi; 2) Memastikan implementasi sistem manajemen sesuai dengan sasaran/tujuan; 3) Mengidentifikasi peluang perbaikan sistem manajemen mutu; dan 4) Mengevaluasi efektivitas penerapan sistem manajemen mutu. Kondisi SPMI bisa terlihat dari kegiatan AMI yang baik. Begitu juga dengan adanya audit yang baik, SPMI bisa lebih lanjut lagi dikembangkan secara berkesinambungan. Siklus pengembangan ini dikenal dengan PPEPP, yang merupakan singkatan dari: Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, serta Peningkatan.

Selain mendapatkan pemaparan materi tersebut, para peserta mendapatkan pelatihan dalam bentuk simulasi. Simulasi yang diadakan adalah simulasi: Audit Sistem (Desk Evaluation); Audit Kepatuhan (Site Visit); Permintaan Tindakan Koreksi; serta Laporan Audit Internal. Para peserta dibagi menjadi 6 kelompok dengan 4 anggota. Satu anggota berperan sebagai auditee (pihak yang diaudit), 3 anggota lainnya yang berasal dari PT berbeda dari auditee berperan sebagai auditor (pihak yang mengaudit). Untuk memberikan efek yang aktual dan faktual, maka data sistem penjaminan mutu yang dipakai simulasi adalah benar-benar data yang ada di PT auditee. Selain itu, para auditee diberikan tugas untuk merespon para auditor dengan sikap yang tidak kooperatif. Dr. Merry Meryam Martgrita, Dekan Fakultas Bioteknologi IT Del, mendapatkan peran sebagai auditee. Merry menyampaikan pengalamannya, “Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu cara yang benar dalam melakukan SPMI dan AMI yang memang diwajibkan oleh Kemenristekdikti”. (noel/Aj)

Aspiring to Expand Your Network? AUPF 2018 is the Answer!
October 12, 2018

Originating from the collaboration among several higher education institutions in Asia, the Asian University Presidents Forum (AUPF) was officially founded in 2002. Since then, AUPF members have routinely met every year, with the opportunity to host the meeting rotated among participating universities. In 2018, the 17th AUPF meeting will take place in Indonesia, particularly at Petra Christian University (PCU), in Surabaya. In the previous year, the 16th AUPF meeting was held in the Philippines Normal University, the Philippines. The 17th meeting this year will highlight the theme of “Disruption at the Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education.”

Joining AUPF has brought numerous benefits for its participants, one of them being the opportunity to build a network with higher education institutions across Asia. This is of course in line with AUPF’s mission, which is to “increase communication, exchange information, share experience, and seek common development.” In the 17th AUPF Meeting at PCU, the cooperation among members will be formalized with the signing of Memorandum of Understanding (MoU), which is scheduled on the last day of the meeting. Participating institutions will have a vast opportunity to cooperate with other institutions, such as through co-organizing conferences, student exchange programs, faculty research programs, summer programs, and many more.

To facilitate this, the AUPF Committee will share the list of participating institutions with all participants who attend the meeting so that they can start exploring the possibilities for establishing cooperation with the other institutions. For PCU, joining AUPF has brought significant impact, particularly in terms of international cooperation. “AUPF members include many universities which means a bigger network. Networking and cooperating with international universities become easier for us because we have known each other as AUPF members,” Monika Kristanti, S.E., M.A., the Head of the Bureau for Cooperation and Institutional Development, said.

PCU has been an AUPF member since 2012, and since then it has worked together with numerous international institutions. Some of PCU’s major programs are the outcome of its collaboration with other AUPF members. Asian Summer Program (ASP), for example, is a collaborative effort between PCU and four other universities, namely Dongseo University, Korea, Bangkok University, Thailand, Josai University, Japan, and Universiti Malaysia Perlis, Malaysia. Today, ASP has also included other AUPF members. “This is a positive thing for PCU, since PCU students who join the ASP program have more opportunities to meet and interact with students from many different countries,” Meilinda, S.S., M.A., AUPF 2018’s Steering Committee, mentioned. 

This year, PCU initiated the publication of Asian Higher Education Chronicles, AUPF’s first publication. This bulletin will feature ideas from the Rectors or Presidents of higher education institutions from all over Asia to develop the higher education field in Asia. “As the host for the 17th AUPF meeting, PCU also becomes the member of AUPF Standing Committee, and this will enable PCU to contribute strategic thoughts and ideas for AUPF in its effort to develop higher education institutions in Asia,” Meilinda, S.S., M.A., said.

Moving forward, AUPF members can work together to seek international funding and grants for development purposes. At the moment, there are many international grants which make consortium as one of their requirements. Therefore, AUPF is definitely the right place for higher education institutions in Asia to start seeking partners to work together for the betterment of education in Asia.

Pelatihan ISO 28000: Standarisasi Internasional untuk Menghadapi Perubahan
October 03, 2018

Globalisasi adalah era keterbukaan yang menyebabkan akses interaksi pelaku industri dan bisnis melintasi berbagai batasan. Proses ini terus terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam atmosfir ini, kesempatan dan tantangan muncul secara bersamaan dihadapan pelaku industri. Kesempatan muncul dalam terbukanya pasar baru dan peluang kerjasama baru karena terbukanya akses antar negara. Tantangan hadir juga dalam hadirnya pelaku industri dari berbagai negara lain yang hendak ikut bermain di pasar yang sebelumnya tidak terbuka untuk mereka.

Contoh nyata yang terjadi di Indonesia adalah datangnya merk dagang besar sekaligus peritel perabot rumah tangga internasional dari Swedia. Brand internasional ini selain menjadi kompetitor bagi peritel dalam negeri juga memberikan kesempatan bisnis baru bagi produsen mebel untuk menjadi pemasok. Untuk mempertahankan pasar yang sudah ada dan memanfaatkan kesempatan besar ini industri mebel perlu mengkomunikasikan jaminan atas standar tinggi yang dimilikinya. Hal ini bisa didapatkan melalui sertifikasi standar yang diakui secara internasional. Untuk memberikan pemahaman atas standarisasi internasional ini, Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Kristen (UK) Petra bidang Process Development menyelenggarakan seminar dengan tajuk “Security Supply Chain Management, ISO 28000 Awareness and Documentation” pada tanggal 29-30 Agustus 2018 di ruang Konferensi 3 gedung Radius Prawiro lantai 10. Drs. Jani Rahardjo, Ph.D., dosen pengajar di Prodi Teknik Industri menyampaikan urgensi standarisasi ISO yang belum merata dimiliki industri, katanya “Di dunia yang serba berubah harus dihadapi dengan perubahan”.

Seminar yang dihadiri 18 pelaku industri ini menghadirkan Antonius Widiarso, ST., Freelance Auditor dari Sucofindo serta Konsultan Penerapan ISO 28000. Antonius membuka sesi pertama dengan memperkenalkan tentang ISO yaitu sertifikasi standarisasi internasional yang diterbitkan oleh International Organization for Standardization. ISO ini sendiri bukanlah singkatan dari organisasi yang menerbitkannya, melainkan penyerapan kata ‘isos’ dari bahasa Yunani yang artinya adalah ‘sama’. Ada berbagai macam standarisasi ISO, fokus di seminar kali ini adalah ISO 28000: 2007 Spesifikasi untuk Sistem Manajemen Keamanan pada Rantai Pasokan. Menurut Antonius, batasan lingkup yang jelas dapat membantu memahami konsep yang ada dalam ISO. Pengertian dari Manajemen Keamanan di lingkup ini adalah kegiatan sistematis dan terkoordinasi dan praktek-praktek di mana organisasi mengelola risiko, potensi ancaman, serta dampak-dampaknya secara optimal. Dengan batasan itu, maka ISO 28000 sebagai standarisasi Manajemen Keamanan pada Rantai Pasok bisa diidentifikasi manfaatnya dan langkah-langkah implementasinya. Terkait dengan manajemen keamanan ini, Antonius menyampaikan mentalitas yang perlu dikembangkan, yaitu risk based thinking, katanya “Idealnya adalah organisasi, industri, atau jasa konsultan menyadari risk based thinking dan berpatokan pada itu dalam manajemen risiko”. Hasil dari sesi di hari pertama seminar ini adalah peserta memahami klausul-klausul yang ada di ISO 28000.

Di hari kedua, sesi seminar berkisar pada pelatihan pembuatan dokumen untuk ISO 28000. Hadir sebagai fasilitator di sesi ini dua dosen pengajar di Prodi Teknik Industri UK Petra, yaitu Jani serta Dr. Drs. I Nyoman Sutapa, M.Sc.Nat. Sesi hari kedua ini secara khusus memberikan pada para peserta pelatihan mengidentifikasi risiko-risiko yang dapat terjadi di proses rantai pasok. Alat bantu yang dapat dipakai untuk meningkatkan kesadaran dalam identifikasi risiko dengan adalah peta manajemen risiko. (noel/padi)

57 Tahun UK Petra Berkarya Bagi Bangsa
September 27, 2018

Rapat Terbuka Senat Universitas Kristen Petra dan Kebaktian Ucapan Syukur dalam rangka Dies Natalis ke-57 bersama sivitas akademika diadakan di Auditorium UK Petra kampus Timur pada 24 September 2018. Dalam sambutannya, Rektor UK Petra Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. menyatakan bahwa “walaupun penuh warna dan dihadapkan pada berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal, kita dapat menjalani Tahun Akademik 2017/2018 dengan amat baik. Semuanya itu bisa terjadi hanya karena perkenan, pimpinan, pemeliharaan, kemurahan dan berkat dari Allah Tritunggal.”

Segenap keluarga besar UK Petra, Pembina, Pengawas dan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) Petra, serta para wakil gereja pendukung turut hadir. Mengutip Roma 8:28, Pdt. Andreas Catur Wismantono, M.Min. menyampaikan bahwa UK Petra bisa sampai saat ini, adalah karena Kasih Karunia Tuhan Yesus. Allah turut bekerja sama di dalam segala hal, termasuk dalam perjalanan UK Petra selama ini. Ada rencana Tuhan yang telah Tuhan sediakan dalam segala hal dan kita semua disiapkan untuk penggenapan rencana Allah. “Bukan karena kebetulan Tuhan tempatkan rekan-rekan yang ada di UK Petra, tetapi Tuhan ingin membentuk setiap pribadi untuk kemuliaan nama-Nya,” ujar Pdt. Andreas Catur Wismantono, M.Min.

Melalui kegiatan ini, Rektor UK Petra juga berkesempatan menyampaikan Laporan Rektor tahun 2017-2018 di hadapan seluruh hadirin. Sesuai dengan visinya “to be a caring and global university with commitment to Christian values”, memasuki usia ke-57 UK Petra terus menggalakkan berbagai program dan kegiatan internasional dalam rangka mempersiapkan para lulusan untuk mampu berperan aktif dalam dunia global. Dalam tahun akademik 2017/2018 telah diselenggarakan beberapa program internasional non-degree yang bersifat short term, antara lain COP (Community Outreach Program), Indonesian Spectrum, Petra Summer Program, International Community Service Program, Work Camp, dan International Day 2018. Dengan semakin banyaknya program internasional di UK Petra, semakin terbuka peluang untuk menarik minat mahasiswa asing datang ke UK Petra, sehingga membuka kesempatan terjadinya internasionalisasi secara inbound di dalam kampus.

Selain itu banyak prestasi-prestasi yang telah dicapai UK Petra selama tahun akademik 2017/2018, diantaranya adalah di tahun 2018 ini, kembali UK Petra mendapatkan kepercayaan dari Kemenristekdikti untuk menjadi Perguruan Tinggi Asuh (PT Asuh) bagi 3 perguruan tinggi lain. Acara juga dimeriahkan dengan penyerahan beasiswa, penghargaan mahasiswa berprestasi, pegawai berprestasi, penghargaan Petra Kencana Karya dan penghargaan Petra Kencana Bhakti. Penghargaan Petra Kencana Karya diberikan kepada dosen dan pegawai UK Petra yang telah mengabdi selama 20 tahun, sedangkan penghargaan Petra Kencana Bhakti diberikan kepada dosen dan pegawai UK Petra yang telah mengabdi selama 30 tahun.

Pada semester gasal tahun ajaran 2018-2019 ini, beasiswa diberikan kepada 346 mahasiswa, dengan jumlah total Rp 3.037.165.000. Di sepanjang tahun 2017-2018 juga telah terukir 80 prestasi ekstrakulikuler yang diraih oleh 134 mahasiswa UK Petra, 15 prestasi tingkat regional, 50 prestasi tingkat nasional, dan 15 prestasi tingkat internasional. Pada kesempatan ini pula, UK Petra memberikan penghargaan kepada empat dosen dan tenaga kependidikan yang berprestasi di tingkat Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII.

UK Petra juga memberi penghargaan bagi program studi yang memiliki kinerja terbanyak dalam internasionalisasi, diantaranya adalah Program Studi Sastra Inggris dengan jumlah kegiatan internasionalisasi terbanyak, Program Studi International Business Management (IBM) dengan mahasiswa outbound terbanyak, serta Program Studi Desain Interior dengan mahasiswa inbound terbanyak.

Selanjutnya penghargaan diberikan kepada para dosen, program studi, dan fakultas yang memiliki kinerja penelitian dan pengabdian masyarakat terbaik tahun 2018. Dosen dengan kinerja terbaik diraih oleh Antoni, S.T., M.Eng., Ph.D., dari Program Studi Teknik Sipil. Dosen sebagai peneliti pemula terbaik diraih oleh Yopi Yusuf Tanoto, S.T., M.T. dari Program Studi Teknik Mesin. Dosen dengan kinerja pengabdian kepada masyarakat terbaik diraih oleh Lily Puspa Dewi, S.T., M.Kom. dari Program Studi Teknik Informatika. Sedangkan program studi dengan kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terbaik diraih oleh Program Studi Teknik Sipil. Fakultas dengan kinerja penelitian dan pengabdian kepada masyarakat terbaik diraih oleh Fakultas Teknologi Industri.

"Dalam kesempatan amat baik ini, saya mengajak kita semua mengingat kebaikan dan berkat Tuhan yang luar biasa untuk UK Petra dan untuk kita semua, sejak UK Petra didirikan tanggal 22 September 1961 hingga saat ini. Hanya berkat dan kemurahanNya yang mengijinkan UK Petra berkembang menjadi sebagaimana adanya sekarang ini. Ehen-haezer, sampai di sini Tuhan sudah menolong kita," tutup Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.  (rut/Aj)

Sharing Knowledge in Facing the Era of Disruption in the Meeting for Asian University Presidents
September 27, 2018

Today, we are currently facing the era of “Disruption.” In line with this development, the 2018 Asian University Presidents Forum (AUPF) which will be held on 6-8 November 2018 chooses to highlight the phenomenon of “Disruption” in its main theme. “Leaders in education need to identify the potentials of disruptive technologies for their benefit in order to avert the disruptive powers of these technologies,” the Rector of Petra Christian University, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., emphasized.

 

Petra Christian University (PCU) will host the forum that brings together the leaders of higher education institutions from all over Asia. This forum will be attended by approximately 200 delegations consisting of university presidents and accompanying officials from more than 100 higher education institutions in Asia. With the theme “Disruption at the Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education,” Petra Christian University has prepared a series of events during the forum that are not only interesting, but will also generate thoughtful and fruitful discussions as well as networking opportunities for the participants.  

 

In fact, the 2018 AUPF meeting also receives full support from the Government of Surabaya for the City Tour and Welcome Dinner. The Mayor of Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T. herself, has sponsored the city tour, allowing participants to visit some important and historical venues in Surabaya, some of which are not usually open for public. Among others, some of the locations that will be visited are the Jalesveva Jayamahe Monument, which is 30.6 meters tall and is located at the end of the pier facing towards the Island of Madura. Not only that, participants will also visit the Harmoni Keputih Park, which was once the site for Surabaya’s biggest landfills, and has now become one of the greenest and the most beautiful parks in Surabaya.

 

Participants will also be able to visit Koridor Co-Working Space which was created by the government of Surabaya as a part of their commitment to create conducive environment that allows creators, innovators, and local entrepreneurs to take part in the global market place. Afterwards, the participants will also have a sneak peek of the Command Center 112, which is a special emergency call center serving Surabaya citizens much like the 911 service in the United States. In the evening, the Mayor of Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T., will host the guests in a welcome dinner sponsored by the Government of Surabaya.

 

While the rest of the participants are joining the city tour, members of the AUPF Standing Committee will meet in the Standing Committee Meeting. They will join the rest of the participants for the Welcome Dinner.

 

The 2018 AUPF Meeting will be held in two locations, namely Petra Christian University campus and Sheraton Surabaya Hotel and Towers. The Opening Ceremony, Plenary Session, Talk Show, and the Parallel Sessions will take place at Petra Christian University campus. Afterwards, the Gala Dinner and Token Exchange, MoU Signing, and Closing & Hand-Over Ceremony will be at Sheraton Surabaya Hotel and Towers.

 

During the session at Petra Christian University campus, participants will be able to get insights from five prominent speakers who will each address different aspects of the forum’s theme. The keynote speech will be delivered by Prof. Ainun Na’im, Ph.D., The Secretary General of the Ministry of Research, Technology and Higher Education of Indonesia.

 

Following the keynote session, four distinguished international speakers will present in the Talk Show session, namely Prof. Dr. Jekuk Chang, the President of Dongseo University, South Korea, Brig. Jen. Datuk Prof. Emeritus Dr. Kamarudin bin Hussin, the Board of Directors Chairman from Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia, Prof. Dr. (H.C.). Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr. Eng., the Rector of Petra Christian University in 2009–2017, Indonesia, and Prof. Dr. hab. C. Eng. Janusz Szpytko - AGH University of Science and Technology, Krakow, Poland.

 

Furthermore, during the parallel sessions, there will be three separate sessions featuring the accepted papers which will discuss each of the subthemes of the forum, namely “Navigating online courses at the age of disruptions,” “Disruptive innovations: Shifting the way of learning,” and “Disruption, globalization, and the changing context of education.”

 

After sharing thoughts and ideas during the day, participants are then invited to attend the Gala Dinner which will be held in Sheraton Surabaya Hotel and Towers, which will be an excellent opportunity to network with other higher education institutions all over Asia. There will also be an opportunity to exchange tokens formally with partner universities. On the last day of the forum, participants will have an opportunity to formalize partnerships and cooperation with partner institutions during the MoU signing ceremony.

 

Finally, at the end of the whole event, Petra Christian University also offers an optional tour package for guests who are interested in exploring one of East Java’s most famous tourist destinations, Mount Bromo, which is scheduled on 8-9 November 2018. For more information, please visit our website, aupf2018.petra.ac.id

Kesetaraan Kualitas Pendidikan Internasional
September 19, 2018

Pada 12 Juli 2018, Universitas Kristen (UK) Petra menerima kunjungan delegasi dari I-Shou University (ISU), Taiwan, yang terdiri atas Prof. Dr. Roger C. Y. Chen, President ISU; dan Prof. Dr. Taichi Wu, Kepala International College ISU. Delegasi ISU disambut oleh Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., Dekan Fakultas Ekonomi (FE), Ricky, S.E., MRE., Ed.D., Ketua program Manajemen Perhotelan periode 2013-2017, Endo Wijaya Kartika, S.E., M.M., Ketua program Manajemen Kepariwisataan, Yudianto Oentario SE., MM., Ketua program International Business Management, Ruth Srininta Tarigan, S.Kom., MBA., Ketua program Manajemen Keuangan, Mariana Ing Malelak, S.E., M.SM., M.Rech., CFP., Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Dr. Ido Prijana Hadi, M.Si., Ketua program studi Ilmu Komunikasi, Daniel Budiana, S.Sos., MA., Dekan Fakultas Teknologi Industri, Dr. Juliana Anggono, S.T., M.Sc., Ketua program studi Teknik Elektro, Iwan Handoyo Putro, S.T., M.Dig.Comm. serta Foedjiawati, S.S.,M.A., Ph.D., mewakili Magister Manajemen. Pertemuan ini dimaksudkan untuk memperbarui kesepakatan kerjasama yang sudah terjalin diantara kedua universitas dan juga berdiskusi untuk kesempatan kerjasama baru.

Acara dimulai dengan perkenalan UK Petra yang disampaikan oleh Dekan FE, menyambung perkenalan ini, Prof. Taichi memperkenalkan ISU yang dikatakannya dimiliki oleh grup perusahaan internasional E United. Universitas ini didirikan pada tahun 1986 dengan nama awal Kaohsiung Polytechnic Institute. Pada tahun 1997, universitas yang mendapatkan pengakuan Times Higher Education Young University Rangkings ini menyandang nama ISU. Taichi memaparkan keberadaan international college dalam ISU yang memiliki 6 program berbahasa Inggris, yaitu: International Business Administrational, International Finance, International Hospitality & Tourism, Entertainment Management, Intelligent Systems & Automation Engineering, dan Communication Production. Kerjasama yang telah dilakukan Petra dengan ISU melalui program bisnis, keuangan, dan kepariwisataan. Dengan adanya program internasional di bidang automasi, sistem cerdas, serta komunikasi, maka bentuk kerjasama baru dimungkinkan. Taichi juga memaparkan keberadaan program Pascasarjana Magister Manajemen (MBA.) dan Doktor Manajemen (Ph.D.).

Dalam diskusi ini diinformasikan bahwa pemerintah Taiwan menerapkan regulasi melarang kerjasama gelar ganda (double degree) untuk jenjang sarjana dengan masa studi 3+1 (3 tahun di Indonesia dan 1 tahun di Taiwan). Adanya program pascasarjana memungkinkan kerjasama double degree dengan bentuk 3+1+1, yaitu 3 tahun perkuliahan di Indonesia, satu tahun menyelesaikan jenjang sarjana di Taiwan, dan satu tahun tambahan di Taiwan untuk mendapatkan gelar magister, dalam arti  dalam waktu 5 tahun, mahasiswa mendapatkan dua gelar sarjana dan satu gelar magister. Taichi juga mengajukan kemungkinan kerjasama dalam bentuk 3+1+1+1 di mana satu tahun tambahannya adalah kerja magang di Inggris. Taichi mengatakan bahwa kesempatan kerja dan menetap di Taiwan sangat terbuka untuk peserta program pendidikan kerjasama ini, “Sangat mudah untuk mendapatkan 60 poin ijin menetap setelah mengikuti program ini. Poin sudah didapatkan dari perolehan gelar akademik, penguasaan bahasa asing termasuk Inggris dan Indonesia”, katanya. Seusai diskusi, acara dilanjutkan dengan penandatanganan Memo Kesepakatan oleh kedua pimpinan universitas. (noel/dit)

Tumbuhkan Kesadaran Bhinneka Tunggal Ika Lewat Seni
September 19, 2018

Suksesnya gelaran wayang modern dengan menggunakan overhead projector (OHP) yang telah dilakukan oleh Petra Little Theatre (PLT) Universitas Kristen Petra  (UK Petra) dijadikan motivasi untuk mengajak anak-anak muda berkreasi dengan medium yang sama. “Dengan membawa Overhead Projectplay ke dalam format festival, PLT berniat melibatkan lebih banyak anak muda berkreasi menggunakan bentuk kesenian ini,” ujar Stefanny Irawan, S.S., M.A., selaku Managing Director PLT.

PLT mengadakan Onstage Festival 2018 bagi para pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Surabaya dan sekitarnya, yang sebelumnya telah mengikuti Overhead Projectplay Workshop pada 2 Agustus 2018. Dari 11 kelompok yang mengikuti workshop, sebanyak empat kelompok berhasil mengikuti Onstage Festival. “Kami mengajarkan apa saja yang perlu diperhatikan dalam pertunjukan, kemudian mereka mulai membuat cerita mereka sendiri. Mereka juga mengirimkan video latihan mereka, sehingga kami dapat memberikan masukkan untuk perbaikan,” jelas Sheena Sugiarto, Ketua Onstage Festival 2018.

Onstage Festival dilaksanakan pada 27 Agustus 2018 di Amphitheater gedung P2 UK Petra. Tema yang dipilih dalam Onstage Festival adalah “Diversty in Harmony” karena melihat realita kebangsaan Indonesia dalam dua tahun terakhir ini, diperlukan ruang untuk mendiskusikan tema yang amat penting ini. Para siswa SMP dan SMA nantinya akan menjadi penerus dan pemimpin bangsa di masa depan, maka festival ini merupakan salah satu usaha untuk memahami perbedaan yang ada dan mengupayakan persatuan bangsa. Tujuan dari acara ini adalah mengajak anak-anak muda untuk aktif memaknai Bhinneka Tunggal Ika di dalam kehidupan mereka dan menuangkannya dalam bentuk pertunjukan. “Kami percaya, seni juga bisa berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran dan kepedulian di dalam diri para penampil dan penonton atas keberagaman yang harmonis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ungkap Stefanny.

Empat sekolah yang tampil dalam Onstage Festival yaitu SMP Muhammadiyah 3, SMP Muhammadiyah 2, SMA Gloria 1, dan SMA Gloria 2. SMP Muhammadiyah 3 membawakan cerita berjudul “Being Different is so Wonderful”, SMP Muhammadiyah 2 membawakan cerita berjudul “Bhinneka Birds”, SMA Gloria 1 membawakan cerita berjudul “Toy-Verse Story”, serta SMA Gloria 2 yang membawakan cerita berjudul “The Four Animal Kingdom”. Selain penampilan dari para finalis, terdapat pertunjukkan dari kelas Theatrical Design yang membawakan legenda tentang “Keong Mas”. Tim PLT juga mempersembahkan penampilan tentang keberagaman yang dikemas dalam gelaran berjudul “Pujasera Bhinneka”. SMA Gloria 1 berhasil memperoleh juara 3, juara 2 diraih oleh SMP Muhammadiyah 2, sedangkan SMA Gloria 2 berhasil meraih gelar juara 1. (rut/dit)

Life Long Learning untuk Melayani
September 14, 2018

Pembelajaran merupakan proses yang dilakukan seumur hidup seperti yang dilakukan oleh Serli Wijaya, S.E., M.Bus., Ph.D., seorang dosen pengajar di Fakultas Ekonomi dan Kepala Program Studi Magister Manajemen Universitas Kristen (UK) Petra. Serli berkesempatan mengikuti program pendidikan United Boards Fellows Leadership Program di Harvard University, Amerika. Program pendidikan ini diprakarsai oleh United Board for Christian Higher Education Association (UBCHEA). “Selama kurang lebih tiga minggu saya belajar mengenai menjadi pemimpin yang ideal. Ini merupakan pengalaman seumur hidup, saya berkesempatan belajar langsung dari sang ahli di universitas terbaik di dunia”, ungkap Serli Wijaya, S.E., M.Bus., Ph.D.

UK Petra telah beberapa kali bekerja sama dengan UBCHEA dalam hal program pendidikan dan penelitian, program kali ini ditujukan untuk para pimpinan di universitas anggota UBCHEA. Serli mengikuti program ini bersama dengan 19 orang pimpinan universitas lain, diantaranya enam orang rektor serta 13 orang pimpinan program atau biro. Rangkaian yang diikuti oleh Serli dalam program ini adalah: Harvard Summer Leadership Course selama 3 minggu di Harvard Graduate School for Education; Asian Placement selama 2-4 bulan di universitas yang tergabung dalam UBCHEA di Asia; dan terakhir adalah Leadership Seminar selama satu minggu yang rencananya dilakukan pada bulan Juni 2019.

Summer Leadership Course dilaksanakan pada tanggal 9-28 Juli 2018. Sebelum para peserta berada di Harvard, mereka difasilitasi dengan uji mandiri untuk mengidentifikasi tipe kepemimpinan yang mereka miliki. Dengan mengetahui sifat dan kecenderungan diri sendiri, maka masing-masing peserta mendapatkan kemampuan untuk memahami model kepemimpinan yang ideal mereka terapkan di lingkungan masing-masing. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, begitu pula situasi dan kondisi perguruan tinggi masing-masing berbeda maka gaya kepemimpinan yang cocok pun berbeda-beda.

Serli menuturkan bahwa dalam program ini proses mengidentifikasi diri dirancang dengan sangat baik, teliti dan mendalam. Dalam kepemimpinan terdapat permasalahan big assumption, yaitu kecenderungan untuk dihantui asumsi-asumsi yang belum tentu benar. Asumsi-asumsi ini menghambat seorang pemimpin dalam berfungsi dan mengambil keputusan. Identifikasi diri yang baik adalah salah satu metode untuk menghindari asumsi-asumsi tersebut. Seorang pemimpin yang baik perlu melakukan refleksi diri untuk mencapai pemahaman atas diri sendiri agar bisa mempraktekkan authentic leadership, kepemimpinan otentik yang selaras dengan keunikan diri dan lingkungan.

Mengenai titik berat proses ini, Serli mengatakan, “Yang penting adalah self-awareness, kemudian self-acceptance. Lalu seorang pemimpin perlu memiliki growth mindset”. Pembelajaran yang didapatkan peserta program ini dikenal sebagai transformational learning. Dimana peserta didik tidak mendapatkan pengetahuan saja, tetapi mendapatkan pembelajaran untuk mengubah diri menjadi lebih baik.

Setelah kursus di Harvard, selama 2 Sampai 4 bulan para peserta mengikuti proses Asia Placement. Masing-masing peserta mendapatkan mentoring dari pemimpin-pemimpin universitas-universitas terkemuka di Asia untuk belajar Strategic Planning (perencanaan strategis). Hasil rangkaian kegiatan sepanjang setahun ini, yaitu pembelajaran dan pengembangan diri mereka, kemudian dipaparkan dalam satu Leadership Seminar.

Serli yang sudah mendapatkan gelar doktor tetap senantiasa terus belajar. Alasannya terus belajar, menurut Serli adalah karena komitmen agar senantiasa bisa melayani dengan semakin baik. Diungkapkan bahwa salah satu nilai UK Petra, humility, adalah kompatibel dengan proses pembelajaran seumur hidup. Menurutnya dibutuhkan kerendah hatian untuk bisa benar-benar belajar. Dan dengan pola pandang rendah hati ini, Serli sampai pada pemikiran “The more we know, the more we don’t know”. Hal ini menggambarkan suatu siklus dimana pembelajaran selalu disusul dengan kebutuhan untuk selalu belajar. Sejurus dengan transformational learning yang didapatkan, Serli menyampaikan pesan dan harapan kepada mahasiswa UK Petra, katanya “Semoga transform menjadi good citizens yang menjadi berkat bagi sekelilingnya”. (noel/Aj)

UK Petra jadi Tuan Rumah Peksimida Jawa Timur 2018, Tangkai Lomba Komik Strip
September 14, 2018

Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia Jawa Timur (BPSMI Jatim) menggandeng Universitas Kristen Petra (UK Petra) dalam penyelenggaraan Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur 2018 untuk tangkai lomba Komik  Strip. Pada lomba ini, peserta yang meraih juara 1 akan otomatis terpilih mewakili Jawa Timur pada Peksiminas, Oktober mendatang. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan UK Petra, R. Arja Sadjiarto, SE., M.Ak., Ak. Dalam sambutannya, Arja mengungkapkan, “kami menyambut saudara sekalian untuk terus berprestasi. Di tempat ini kita boleh bersaing, tetapi nanti saat di nasional kita adalah teman yang akan berjuang bersama membela Jawa Timur”.  

Peksimida merupakan babak seleksi tingkat provinsi untuk memperoleh kandidat yang akan mewakili provinsi pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas). Peksiminas merupakan kompetisi di bidang seni bagi mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud dengan menunjuk salah satu pengurus BPSMI sebagai panitia penyelenggara kegiatan. Peksiminas terdiri dari berbagai macam tangkai lomba, salah satunya adalah komik strip.

Lomba komik strip Peksimida Jawa Timur dilaksanakan pada 28 Agustus 2018 di Gedung P kampus UK Petra yang diikuti sebanyak 26 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Jawa Timur. UK Petra sendiri mengirimkan lima orang perwakilannya untuk berjuang di lomba komik strip ini. Tema Peksiminas 2018 adalah “Merajut Budaya Nusantara”. Untuk Peksimida tangkai lomba komik strip, peserta baru mendapatkan tema saat hari pelaksanaan lomba. Tema yang dipilih yaitu isu terkini nasional, peserta diberi waktu empat jam untuk menyelesaikan komik strip mereka. Peserta diharuskan menggambar minimal dua panel dan maksimal lima panel pada selembar kertas berukuran A3. Peserta juga dibebaskan memilih alat dan bahan yang digunakan.

Juri pada perlombaan ini merupakan praktisi dan dosen yang sudah tidak asing lagi dalam dunia komik. Mereka adalah Siswoyo, komikus dari harian Jawa Pos, Dra. indah Chrysanti Angge, M.Sn., dosen Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Hangga Gunadi, S.Sn yang merupakan seorang komikus. Aspek yang dinilai oleh tim juri mencakup kesesuaian karya dengan tema, penguasaan teknik, karya yang komunikatif, dan juga originalitas atau kebaruan karakter visual.

Pengumuman pemenang dilaksanakan pada hari yang sama. Juara 1 diraih oleh Muchammad Irsyadul Masluchi dari Unesa, juara 2 diraih oleh Regina Nathalia Elyzabeth Pandjaitan dari UK Petra, juara 3 diraih oleh Muhammad Reynald dari Unesa, juara harapan 1 diraih oleh Anisa Nada Suksmono dari UK Petra, sedangkan juara harapan 2 diraih oleh Shalsabila Nurul Lisa dari Universitas Airlangga.

Muchammad Irsyadul Masluchi mengaku tidak menyangka akan terpilih menjadi wakil dari Provinsi Jawa Timur di Peksiminas di Yogyakarta. Ia menceritakan bahwa ia telah mempersiapkan beberapa kemungkinan cerita dengan tema berbeda, dan secara kebetulan salah satunya sama dengan tema lomba. “Isu yang saya angkat adalah tentang Asian Games, tetapi saya tidak mengambil dari segi olah raga. Saya memilih isu tentang calo tiket Asian Games yang belakangan menjadi pembicaraan hangat di masyarakat,” pungkasnya. (rut/Aj)

Wadah Pelayanan dan Pembelajaran
September 13, 2018

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar Community Outreach Program (COP). "COP ini merupakan wadah pelayanan, pembelajaran, interaksi multikultural, ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni mahasiswa dari berbagai negara," ujar Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., selaku Rektor UK Petra.

Kegiatan ini dilaksanakan di Mojokerto pada 17 Juli-9 Agustus 2018 dan di Kupang pada  26 Juli-9 Agustus 2018. Temanya adalah Keep Blessing The Nations, para peserta diharapkan dapat terus menjadi berkat bagi masyarakat bahkan Negara Indonesia melalui apa yang telah dilakukan. Sebanyak 211 mahasiswa yang berasal dari tujuh negara turut serta dalam COP 2018 di Kabupaten Mojokerto.

Mereka diantaranya 98 mahasiswa UK Petra, Surabaya-Indonesia, 10 mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang-Indonesia, 27 mahasiswa Dong Seo University-Korea Selatan, 15 mahasiswa International Christian University-Jepang, 10 mahasiswa Hong Kong Baptist University-Hong Kong, tiga mahasiswa Hong Kong Institute of Education-Hong Kong, satu mahasiswa Hong Kong University of Science and Technology-Hong Kong, 27 mahasiswa InHoland University-Belanda, satu mahasiswa Mamoyama Gakuin University-Jepang, satu mahasiswa Lignan University- Hong Kong, 11 mahasiswa Guangxi Normal University-China, tiga mahasiswa Fu Jen Chatolic University-Taiwan dan empat mahasiswa National Taiwan University of Science and Technology-Taiwan.

Pembukaan COP Mojokerto 2018 dilaksanakan pada 17 Juli 2018 lalu di Auditorium UK Petra, para peserta secara bergantian menampilkan pertunjukan untuk memperkenalkan negara mereka. Keesokan harinya, seluruh peserta ditempatkan di delapan lokasi, yaitu di delapan dusun pada tujuh desa di Mojokerto. Diantaranya adalah Dusun Lebaksari dan Dusun Siman di Desa Rejosari,  Desa Jembul, Dusun Gumeng di Desa Gumeng, Dusun Seketi di Desa Jatidukuh, Desa Dilem, Dusun Begagan di Desa Begagan Limo, serta Dusun Blentreng di Desa Ngembat. “Selamat datang di UK Petra. Selama beberapa minggu kedepan, kalian akan bekerja bersama, tinggal bersama dan akan mencoba memecahkan masalah bersama. Ini semua akan menjadi pengalaman yang berharga,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. dalam sambutannya.

Para peserta COP 2018 akan mengerjakan proyek fisik dan non fisik. Pembangunan fisik seperti membangun gapura, poskamling, toilet, mural, membangun taman bermain dan sebagainya. Sedangkan pembangunan non fisik seperti mengajar Bahasa Inggris, penyuluhan, mengajarkan keterampilan, budidaya anggrek, dan sebagainya. Peserta melakukan semua proyek ini bersama dengan warga, sehingga dapat terjalin interaksi.  

“Saya suka mengajar anak-anak, karena jurusan saya di Belanda adalah pendidikan guru sekolah dasar. Kami mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak-anak dengan menggunakan lagu berbahasa Inggris," ujar Daniël Prinsen, mahasiswa Inholland University Belanda. (rut/Aj)

 

Sejong Culture Academy, Kenal Lebih Jauh Tentang Kebudayaan Korea
September 13, 2018

King Sejong Institute (KSI) Surabaya kembali menggelar kegiatan belajar kebudayaan Korea. Rangkaian acara dikemas dalam gelaran bertajuk Sejong Culture Academy, meliputi K-beauty class, hanbok, korean food, K-pop dance, dan juga completion ceremony. “Sejong Culture Academy merupakan acara jangka pendek dari KSI Surabaya, banyak sekali yang mendaftar, tetapi hanya 30 peserta yang terpilih dan akan mendapatkan sertifikat,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA., selaku Direktur KSI Surabaya.

    KSI mendatangkan pembicara asli Korea yang ahli di bidangnya. “Dalam acara ini peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai kebudayaan Korea, oleh sebab itu kami mendatangkan expert dari Korea,” ungkap Dr. Liliek Soelistyo, MA. Korea Sejong Culture Academy dilaksanakan pada 3-13 Agustus 2018, salah satu kegiatan terbuka untuk umum adalah K-beauty class. Para peserta diperkenalkan dengan make up ala idol K-pop pada 6 Agustus 2018. KSI menghadirkan seorang youtuber kecantikan dari Korea, Jina Kim, untuk memberikan tips make up ala idol K-pop. Jina memberikan penjelasan mengenai trend make up di Korea saat ini dan mempraktekkan make up kepada salah satu peserta.

Tak hanya itu, pada 7 Agustus 2018, peserta diperkenalkan mengenai pakaian tradisional Korea yaitu Hanbok serta pernikahan tradisional Korea. Pembicara dari Hanbok Advancement Center Korea memimpin jalannya acara. Para peserta mengikuti sesi dengan menggunakan Hanbok lengkap. Dalam pernikahan tradisional Korea, terdapat beberapa peran yang membantu proses pernikahan, diantaranya adalah su-mo yaitu perwakilan dari kedua mempelai yang membantu selama proses pernikahan berlangsung, chong-sa-cho-rong deun sa-ram yaitu pembawa lentera, dan juga gi-reok-a-beom yaitu pembawa hiasan berbentuk angsa, yang merupakan simbol kesetiaan.

Koki dan dosen memasak dari Korean Food Promotion Institute, Lee Jin Tack dan Kim Mi Sook hadir untuk memperkenalkan dan mengajarkan cara membuat makanan dan minuman tradisional Korea yaitu dasik dan omija tea pada 11 Agustus 2018. Omija tea adalah teh yang terbuat dari buah-buahan berry yang direndam dengan madu, uniknya omija tea ini memiliki lima rasa yaitu manis, asam, pahit, pedas, dan asin. Sedangkan dasik merupakan makanan berbahan dasar tepung kacang dan madu yang ditekan dengan cetakan berpola. Pola-pola ini dianggap melambangkan kesehatan dan kemakmuran.

Pada acara penutupan, peserta menampilkan K-pop dance yang telah dipelajari sebelumnya. Dalam acara ini juga dibagikan sertifikat bagi para peserta yang telah mengikuti rangkaian acara dari Sejong Culture Academy 2018. Penampilan dari Korea National University of Arts yang menampilkan Samulnori (musik tradisional Korea) dan Bona performance menambah kemeriahan puncak acara ini. (rut/Aj)

Memahami Pendidikan dalam Perkembangan Jaman
September 12, 2018

Pemeran utama dalam pendidikan generasi baru adalah para orangtua. Memberdayakan orangtua agar bisa menjadi pendidik yang baik adalah penting. Diperlukan upaya untuk memberikan pada orangtua wawasan pendidikan yang relevan atas tantangan yang dihadapi generasi baru. Dalam rangka memperlengkapi dosen dan karyawan dengan wawasan pendidikan yang baik, Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan Sarasehan Topik Aktual “Parenting in the Era of Disruption” pada tanggal 27 Juli 2018 di Ruang Konferensi 3 Gedung Radius Prawiro Lantai 10. Prof. Dr.(HC). Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr. Eng., sebagai narasumber tunggal seminar ini menyampaikan materi bertajuk Pendidikan Abad 21 dalam Era Digital Native.

Sarasehan dimulai dengan pembahasan tentang perkembangan fisik otak anak. Rolly mengumpamakan otak sebagai hardware (perangkat keras) suatu komputer yang menentukan kerumitan program yang bisa dijalankan suatu komputer. Untuk membantu anak dalam pertumbuhan fisik otak, dipaparkan wawasan mengenai tahap-tahap perkembangan otak yaitu: tahap I, 0-10 bulan janin; tahap II, kelahiran s/d usia 6 tahun; dan tahap III, usia 7 tahun s/d 12 tahun. Saran yang penting yang bisa diterapkan adalah di tahap I, Ibu hamil sebaiknya menjauhi rokok, alkohol, obat-obatan, dan logam berat; berusaha relaks; dan merangsang pembentukan otak janin dengan berbagai sensasi sentuh dan suara. Pada tahap II, adalah penting untuk memberikan pengalaman sehari-hari yang membentuk kenyamanan emosional. Pada tahap III adalah penting bagi orangtua untuk memahami perbedaan antara otak anak perempuan dan laki-laki sehingga bisa memberikan interaksi dan pendidikan yang sesuai. Otak wanita lebih berkembang ke arah komunikasi, sedangkan otak laki-laki ke arah persepsi dan pengambilan keputusan.

Bahasan selanjutnya membuka wawasan terkait dengan perkembangan jaman, tentang balita dan komputer/gawai. Sekitar 31% anak berusia 3 tahun ke bawah sudah mulai kecanduan komputer/gawai. Hal ini mengkhawatirkan karena ditemukan bahwa penggunaan layar sentuh pada anak di bawah usia tiga tahun dapat merusak peluang tumbuh kembang anak dari keterampilan yang dibutuhkan untuk matematika dan ilmu pengetahuan. Bayi dan balita belajar lebih baik dengan materi yang bisa mereka sentuh, raba, dan genggam, dibandingkan apa yang mereka lihat di sebuah layar. Pemakaian gawai mengurangi kesempatan anak dalam interaksi tatap muka yang membangun keterampilan sosial dan membuat mereka tidak peka atas emosi orang lain. Menurut Rolly, “Yang perlu disiapkan (di masa balita) adalah Emotional Quotient (EQ). Melatih EQ tidak bisa memakai gadget”.

Bahasan terakhir dalam sarasehan ini adalah tentang pendidikan di abad 21. Era saat ini dikenal dengan era Industry 4.0. Dalam era ini, kehidupan manusia banyak dibantu oleh mesin, bahkan ada kecenderungan tenaga manusia digantikan oleh mesin. Perkembangan ini menyebabkan pesatnya perubahan di dunia pekerjaan. Sebagai ilustrasi, diperkirakan bahwa 85% pekerjaan di tahun 2030 kelak adalah pekerjaan baru yang tidak ada di tahun 2017. Pesatnya perubahan ini menuntut pekerja untuk bisa selalu belajar dan memakai teknologi baru. Permasalahan di dunia pendidikan saat ini adalah hasil utama dari pendidikan yang diberikan adalah pengetahuan (knowledge). Mengenai apa yang perlu disiapkan perguruan tinggi terkait problematika ini Rolly mengatakan, “Universitas sebaiknya memberikan meta-knowledge, yaitu knowledge behind knowledge”. Kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan baru menjadi lebih berharga daripada pengetahuan itu sendiri. (noel/padi)

Mendesain dengan Kesadaran atas Lingkungan
September 07, 2018

Kegiatan dalam lingkup internasional merupakan indikator kualitas suatu institusi pendidikan tinggi. Begitu juga dengan UK Petra yang menggelar Joint International Workshop 2018 mulai tanggal 28-29 Agustus 2018 yang diusung Program Studi (Prodi) Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra bekerjasama dengan The University of Hong Kong (HKU). Timoticin Kwanda, B.Sc., Mrp., Ph.D., dosen pengajar Prodi Arsitektur UK Petra sekaligus koordinator acara menyampaikan harapannya. “Semoga mahasiswa menjadi lebih sadar tentang bagaimana memelihara lingkungan alam. Agar ketika mendesain bangunan tidak berdampak negatif atau merusak atau menyebabkan polusi udara, suara pada lingkungan sekitar”.

Mengambil tema “Surabaya Sustainable Development: Architecture, Environment, and Green Open Space”, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan program “2018 Asia Pacific Rim University (APRU) Sustainable Cities and Landscape – Design Field School” yang diselenggarakan oleh Divisi Arsitektur Lanskap, Fakultas Arsitektur, HKU. Surabaya sengaja dipilih agar memberi kesempatan bagi mahasiswa akademisi dari berbagai disiplin ilmu dan dari beberapa universitas di kawasan Asia Pasifik untuk mempelajari isu-isu lingkungan dan pembangunan keberlanjutan.

Peserta kegiatan ini tak hanya berasal dari Prodi Studi Arsitektur UK Petra saja namun juga berasal dari beberapa universitas luar negeri seperti Zhejiang University di Cina, University of Oregon di Amerika Serikat, Korea University di Seoul Korea, University of Sydney dan University of New South Wales di Australia, dan University of the Philippines Diliman di Quezon City, Filipina.

Hari pertama (28/8), para peserta mendapatkan pembelajaran mengenai “Urban Design and Landscape in Hongkong” dari Prof. Matthew Pryor, seorang dosen pengajar di HKU. Acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk mengetahui rencana pengembangan Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Kemudian, para peserta mendapatkan penjelasan mengenai “The Green Building P1-P2 UK Petra” oleh Ivan Priatman, dari Archimetric, studio arsitek yang mendesain gedung baru UK Petra.

Gedung P1-P2 yang unik tersebut merupakan karya dari Ir. Jimmy Priatman, M.Arch., salah seorang dosen pengajar Prodi Arsitektur UK Petra. Dalam mendesain gedung tersebut, hal pertama yang dipertimbangkan adalah meneruskan kekhasan yang dimiliki gedung-gedung UK Petra, “Lantai dasar setiap gedung di kampus ini memiliki fungsi sebagai ruang publik. Termasuk mendesain gedung yang ramah pejalan kaki”, rinci Ivan.

Ivan juga mengungkapkan mengungkapkan bahwa bentuk gedung menyerupai huruf V, digunakan untuk meminimalisir paparan matahari di sepanjang tahun dan memberikan ruang terbuka di tengah bangunan. Dengan demikian energi yang diperlukan untuk pendinginan ruangan bisa diperkecil. Hemat energi menjadi komponen utamanya. Setelah puas berkeliling di Gedung P1-P2, para peserta melanjutkan kunjungan ke Wonorejo Mangrove Ecotourism, Pasar Burung Bratang, dan ruang terbuka hijau Taman Flora.

Studi lapangan hari kedua (29/8) akan diawali dengan kunjungan ke lokasi Lumpur Lapindo, kawasan perumahan Citraland, kampung “Green and Clean” Gundih yang dikenal sebagai penghasil produk herbal dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Kawasan Ampel yang merupakan area pemukiman yang sarat potensi wisata religi, serta Pelabuhan tradisional Tanjung Perak. Mengenai kunjungan ke hutan mangrove  Wonorejo, Timoticin menyampaikan tujuan pembelajaran peserta disana, katanya “Manfaat mangrove adalah mencegah abrasi pantai, sebagai sumber makanan ikan, dan juga sumber oksigen. Perlu pelestarian kawasan hijau seperti mangrove di kota Surabaya. Artinya pembangunan fisik kota harus terkontrol atau dibatasi sesuai kapasitasnya”.(noel/Aj)

Petra Summer Program kembali hadir Mengisi Liburan Semester
September 06, 2018

Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menggelar Petra Summer Program (PSP) 2018. Kali ini ada tiga program yang di buka yaitu Indonesian Culinary Art (ICA), Indonesian Tourism Campaign (ITC), dan Special Program for Industrial Challenge and Exposure (SPICE). PSP merupakan sebuah international summer program selama tiga minggu penuh untuk mengisi liburan dalam rangka meningkatkan kemampuan global agar siap terjun dalam dunia kerja yang sesungguhnya dengan cara yang menyenangkan. PSP 2018 dilaksanakan pada 9-28 Juli 2018 dan dilaksanakan di berbagai lokasi mulai di kampus UK Petra, industri-industri di Surabaya serta Bali. “Selain di lingkungan kampus dan beberapa perusahaan di Surabaya, para peserta juga mengunjungi Pulau Bali pada 18-20 Juli 2018. Bali dipilih karena sudah sangat internasional untuk fokus ke pariwisata dan dunia kulinernya,” ujar Yopi Yusuf Tanoto, S.T., M.T., selaku Ketua PSP 2018.

Seluruh kegiatan PSP menggunakan pengantar bahasa Inggris. Peserta PSP 2018 berjumlah 46 peserta yang terdiri dari 41 mahasiswa UK Petra, satu mahasiswa Hong Kong Baptist University Hong Kong dan empat mahasiswa International Christian University Jepang. Salah satu program PSP adalah ICA, yang merupakan program dari Manajemen Perhotelan UK Petra. ICA bertujuan memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya kuliner kepada mahasiswa asing yang tertarik dengan seni kuliner dan bumbu-bumbu serta rempah-rempah tradisional khas Indonesia.

Peserta diperkenalkan dan memasak dengan tiga bumbu utama Indonesia yaitu bumbu kuning, putih, dan merah. Selain itu, peserta juga diajarkan masakan peranakan Tionghoa seperti lumpia, siomay, dan lontong cap gomeh. Masakan peranakan ini dipilih karena hanya ada di Indonesia, sedangkan di negara China sendiri tidak terdapat masakan-masakan tersebut. “Pada saat midterm, peserta diminta menciptakan kreasi baru makanan yang merupakan kolaborasi antara menu tradisional dan internasional. Hasil akhir dari program ini adalah buku resep yang berisikan kumpulan kreasi masakan dari para peserta lengkap dengan visualnya yang menarik,” ungkap Hanjaya Siaputra, S.E., MA., selaku koordinator ICA.

Sedangkan untuk program ITC yang merupakan kolaborasi antara Program Studi Ilmu Komunikasi dan Manajemen Pariwisata. Program ini berfokus pada pembuatan kampanye sederhana untuk beberapa tujuan wisata di Indonesia. Pada tahun ini, peserta diajak ke desa Pinge-Bali untuk mengumpulkan data. Saat midterm, peserta mempresentasikan konsep video yang akan dibuat, sedangkan hasil akhir dari program ini adalah video kampanye wisata berdurasi kurang lebih 5 menit. “Desa Pinge kami pilih karena merupakan desa yang menerapkan Sustainability Tourism (Desa Wisata). Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok dengan angle yang berbeda yaitu overview Desa Pinge, Kegiatan sehari-hari masyarakat, dan kepercayaan masyarakat disana,” ungkap Daniel Budiana, S.Sos., MA., selaku koordinator ITC.

Program ketiga adalah SPICE yang digelar oleh Program Studi Teknik Industri. Program ini terbuka hanya untuk peserta dengan latar belakang bisnis teknik atau internasional. Peserta SPICE di bagi dalam kelompok, setiap kelompok melakukan studi kasus yang merupakan masalah nyata dalam sebuah perusahaan. Mereka diminta memberikan usulan perbaikan ke perusahaan. Para peserta mengunjungi dua perusahaan yaitu PT. E-T-A dan PT. HAPETE. Peserta dapat belajar dari industri secara langsung sehingga siap dalam dunia kerja. Pada final test, peserta mempresentasikan temuan dan usulan pada perusahaan di PT. HAPETE. (rut/padi)

 

Bekerja Bersama untuk UK Petra Lebih Baik
August 30, 2018

Universitas Kristen (UK) Petra telah melantik pejabat-pejabat struktural pada Jumat, 24 Agustus 2018. Pelantikan 41 pejabat dilaksanakan di auditorium UK Petra, meliputi kepala program profesi, kepala program, sekretaris program studi dan program, serta kepala pusat, program dan unit. Setelah pelantikan, acara dilanjutkan doa peneguhan untuk seluruh pejabat struktural, baik yang baru dilantik, maupun 45 pejabat yang telah dilantik beberapa waktu sebelumnya. “Selamat kepada rekan-rekan yang hari ini dilantik dan juga kepada seluruh pejabat periode 2017-2021. Penghargaan dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk rekan-rekan yang mengakhiri pelayanannya sebagai pejabat struktural periode sebelumnya, yang telah berkontribusi dan memberikan yang terbaik,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. selaku rektor dalam sambutannya.

Firman yang dibawakan oleh Pendeta Sandi Nugroho, S.Th. mengingatkan bahwa selama kita hidup di dunia ini, kita berada dalam kontes atau ajang dalam memperebutkan sesuatu. UK Petra pun sedang berjuang memperebutkan sesuatu, yaitu kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai Kristus di tengah-tengah dunia ini. Kita harus berlomba-lomba untuk menebarkan damai, kasih, sukacita, dan integritas kita untuk sekeliling kita. Mengutip dari Yosua 1:7-9, Pendeta Sandi mengutarakan ada empat tahap pada masa transisi pemindahan kepemimpinan antara Musa kepada Yosua yaitu pelantikan, pemaparan tugas-tugas, peneguhan, dan berkat. “Ada tiga hal penting tentang peneguhan, yaitu kita harus percaya bahwa hati kita memiliki komitmen pada kebenaran Kristus, kita harus menetapkan hati untuk taat pada Firman Tuhan, dan kita harus serta dengan Kristus,” ujar Pendeta Sandi.

Setelah Firman Tuhan, para pejabat menandatanganani berita acara pelantikan. Dalam kesempatan ini Rektor UK Petra mengungkapkan tantangan yang dihadapi dan agenda yang harus dikerjakan bersama untuk UK Petra yang lebih baik. Beberapa hal yang akan dilakukan adalah re-akreditasi Magister Sastra, melakukan      akreditasi internasional untuk beberapa program studi (prodi), peningkatan kerjasama internasional, serta peningkatan jumlah publikasi internasional dan jumlah dosen yang terlibat. “Di depan kita terbentang begitu banyak tantangan, kita perlu bekerja keras dan cerdas, berupaya terus meningkatkan kualitas dan kinerja kita. Saya mengajak kita semua, khususnya kepada para pejabat struktural periode 2017-2021, untuk rela bekerja keras dengan tulus hati dan sukacita, memberikan yang terbaik, saling bekerjasama, untuk UK Petra yang lebih baik, dan untuk kemuliaan Tuhan,” urai Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.

Mewakili yayasan, Henky Philinius Palit, S.H., M.H. menyampaikan harapan yayasan bagi seluruh pejabat struktural UK Petra. Pengawasan merupakan faktor paling penting dalam sebuah organisasi, oleh sebab itu para pejabat struktural diharapkan untuk melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. “Kepemimpinan di UK Petra adalah kepemimpinan yang melayani, dan diharapkan dapat mengembangkan UK Petra dalam hal sumber daya manusia, administrasi, dan keuangan,” tutup Sekretaris Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra ini. (rut/dit)

Mayor of Surabaya Extends Invitation to University Leaders in Asia
August 29, 2018

The Mayor of Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T., invites all Rectors and Presidents of higher education institutions from all over Asia to join the 17th Asian University Presidents Forum (AUPF) 2018 in Surabaya. The forum will take place at Petra Christian University campus and Sheraton Surabaya Hotel and Towers for three days, starting from 6-8 November 2018.

As the second largest city in Indonesia, Surabaya is a warm, welcoming, and beautiful city to visit. “On the behalf of the government, the citizens of Surabaya, and the academic community at Petra Christian University, we proudly invite all of you, the honored participants of Asian University Presidents Forum, which will be held on 6-8 November 2018, at our beloved campus, Petra Christian University, Surabaya,” the Mayor said. As a form of support from the city of Surabaya, the mayor extends her warm welcome by inviting all of the participants to a complimentary city tour and welcome dinner.

The city tour guests will have the opportunity to visit the Jalesveva Jayamahe monument, which is located at Surabaya’s Naval Base that is not usually open for public. Guests will also visit the Harmoni Keputih Park which was transformed from the biggest landfill in Surabaya to a beautiful and functional green space. Guests will also have a glimpse at Koridor co-working Space, a space created to support creative cooperation that will benefit Surabaya, and the Command Center for 112, which is a special emergency call center serving Surabaya citizens, similar to the 911 emergency phone number in the United States.

During the city tour, participants will take a ride on the “Suroboyo Bus,” the Mayor’s latest initiative to preserve the environment. In order to take a ride, passengers need to pay the fare with plastic bottles or cups. The bus is both safe and comfortable with wide and clear windows; moreover, it is equipped with 12 CCTV cameras inside the bus, and three outside of it.

At the end of the tour, the Mayor of Surabaya herself, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T., will entertain the guests in a welcome dinner at her official residence.

The theme of the 17th AUPF meeting is “Disruptions at the Crossroads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education.” Petra Christian University hopes that this forum will act as a platform for rectors and presidents of higher education institution in Asia to exchange ideas, broaden insights and network with each other while anticipating the implications and challenges of the era of disruption.

Come, and be a part of the 17th AUPF 2018 meeting in Surabaya. Together with Petra Christian University, the Mayor of Surabaya, Dr. (H.C) Ir. Tri Rismaharini, M.T., warmly invite you to take part in advancing education for our future generation in Asia while creating cherished memories and valuable networks in our beloved city.

https://www.youtube.com/watch?v=Fo4e61B0aHE

WGG 2018: Sambut Mahasiswa Baru dengan Kegiatan Bermakna
August 28, 2018

Tahun ajaran baru telah berganti, Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menyambut calon anggota keluarga baru dalam kegiatan Welcome Grateful Generation (WGG) 2018. Pada tahun ini, WGG diikuti oleh sekitar 2.400 mahasiswa baru dari tujuh fakultas di UK Petra. Rangkaian kegiatan WGG 2018 dilaksanakan pada tanggal 23 Juli – 6 Agustus 2018. Tema yang dipilih untuk WGG 2018 adalah “Longing to Love, Longing to Serve”.

Kegiatan WGG dimulai dengan kegiatan Pra-WGG yaitu pengenalan fasilitas kampus seperti perpustakaan dan pusat komputer. Selain itu, pada masa Pra-WGG, calon mahasiswa juga mengikuti tes kepribadian dan tes karir. Selama mengikuti kegiatan WGG, mahasiswa baru tidak hanya dikenalkan dengan kehidupan kampus yang berbeda dengan masa SMA, tetapi juga diajak untuk melayani sesama. Kegiatan melayani sesama ini dikemas dalam kegiatan kepedulian di sekolah-sekolah dasar di Surabaya. Beberapa SD yang dikunjungi antara lain SDN Siwalankerto 1, SDN Kutisari 2, SDN Jepara, SD Kristen Aletheia, SD YPPI, SDN Bubutan 2, SDN Kapasan 9, SDN Kutisari 1, dan SDN Kapasari 5. “Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa baru dapat berinteraksi langsung dengan siswa-siswi SDN. Nantinya, diharapkan mahasiswa baru akan memiliki hati yang mengasihi sesama dan melayani sesama dengan apa yang mereka punya,” ujar Hans Christian, selaku Ketua WGG 2018.

Sebelumnya, panitia melakukan survey pada masing-masing sekolah untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dari masing-masing sekolah. Salah satunya adalah kegiatan kepedulian yang diadakan di SDN Jepara, para mahasiswa baru dari Program Studi Teknik Sipil berkesempatan untuk mengajarkan membuat tanaman hidroponik kepada siswa kelas lima. “Saya sangat senang karena anak-anak sangat semangat dan antusias mempelajari hal-hal baru. Saya harap kegiatan ini tidak hanya berhenti sampai disini, tetapi akan ada kelanjutannya, sehingga kita bisa mengajarkan kepada anak-anak kelas lainnya,” ujar Dian Susilorini, S.Pd., M.Si., selaku Kepala Sekolah SDN Jepara.

Selain itu, sebagai generasi muda yang memiliki peran besar bagi perubahan-perubahan sosial di lingkungan serta keberhasilan negara, mahasiswa baru UK Petra diharapkan mampu melahirkan karya, inovasi, dan dampak positif untuk memajukan bangsa. WGG 2018 ingin membuka wawasan mahasiswa baru dengan mengadakan Seminar Wawasan Kebangsaan yang berjudul “Lentera Negeriku”. Pembicara yang dihadirkan dalam seminar dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2018 ini adalah Hermann Josis Mokalu, atau yang biasa dikenal dengan Yosi Project Pop. Yosi yang juga merupakan salah satu penggagas chanel youtube Cameo Project ini menyatakan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, seharusnya bangsa ini bisa hidup dengan harmonis. Media sosial harusnya digunakan sebagai sarana mencari wawasan, tetapi justru digunakan sebagai alat penyebar kebencian. “Sebagai anak muda, hal yang paling sederhana yang dapat kita lakukan untuk Indonesia ini adalah positif thinking. Dengan hanya berpikiran positif saja, kita sudah memberikan kontribusi bagi negara ini,” imbau aktor kelahiran Jakarta, 47 tahun silam ini.

Pada penutupan, mahasiswa baru mengikuti tes WGG dan juga mengikuti closing ceremony yang menghadirkan beberapa pengisi acara. Salah satu pengisi acara yang turut memeriahkan penutupan rangkaian acara WGG 2018 adalah Billy Simpson. (rut/Aj)