Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


AUPF 2018
November 06, 2018
i-Come 2018
July 13, 2018

Berita terakhir



Juara 2 Accounting Fair 2k18
June 12, 2018

Masa perkuliahan merupakan kesempatan bagi seorang mahasiswa akuntansi untuk memperkaya pengetahuan dan keahlian di bidangnya yang spesifik. Ikut serta dalam ajang kompetisi yang spesifik akuntansi adalah kesempatan baik untuk berlatih dan mendapatkan pengalaman tersebut. Dosen pengajar di Program Akuntansi Pajak UK Petra mendorong mahasiswa-mahasiswa yang berpotensi untuk mengikuti kegiatan kompetisi yang ada. Menurut Tonny Stephanus Eoh, SE., MA., Ak., “Potensi pada mahasiswa dapat dilihat selain dari prestasi akademik adalah dari sikap mau belajar dan terbuka pada kompetisi”. Ajang kompetisi yang terdekat adalah Olimpiade Akuntansi dalam gelaran Accounting Fair 2k18 Universitas Pembangunan Nasional Veteran (UPN Veteran) Jawa Timur. Aturan khusus di ajang ini adalah peserta merupakan mahasiswa jurusan akuntansi dan maksimal semester 4. Graciella Tanaya, Jessica Theresia, dan Brigita Evelyn adalah tiga mahasiswa berpotensi serta memenuhi syarat tersebut dan mewakili jurusan di kompetisi tersebut. Tonny menambahkan bahwa kompetisi yang diikuti mahasiswa di dua tahun pertama ini bisa menjadi tolok ukur untuk membina mahasiswa di kompetisi-kompetisi yang lebih lanjut.

Sebelum mengikuti kompetisi tersebut, para mahasiswa ini mempersiapkan diri dengan mempelajari materi akuntansi yang seharusnya dipelajari oleh mahasiswa tingkatan lebih tinggi. Lomba dimulai tanggal 2 Mei 2018 dan berakhir pada tanggal 4 Mei 2018 dan diikuti puluhan kelompok dari 8 Universitas di Surabaya. Di hari pertama para peserta mengerjakan soal pilihan ganda dan esai dalam waktu 90 menit. Soal-soal di babak ini dikerjakan bersama-sama dalam 1 tim. Dari babak penyisihan ini didapatkan 10 tim yang lolos ke babak semifinal esok harinya. Pada babak semifinal pengetahuan dan penguasaan materi masing-masing anggota tim diuji dengan soal estafet yang dikerjakan individual secara bergiliran. 4 Tim terbaik disaring untuk mengikuti babak final di hari terakhir kompetisi.

Babak final Olimpiade Akuntansi Accounting Fair 2k18 dilaksanakan dalam bentuk debat isu-isu akuntansi. Debat dilakukan 2 kali, pertama untuk menyisihkan 2 kelompok yang lolos ke debat grand final. Keempat tim peserta diundi untuk mengambil peran sebagai Tim Pemerintah serta Tim Oposisi. Debat keempat tim ini dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi akuntansi dengan anggota: Rika Puspita Sari, SE., MA., Dekan FE Universitas Dr. Soetomo; Prinintha Nanda Soemarsono, SE., MA., Dekan Vokasi Unair; dan Rida Perwita Sari, SE., M.Aks., Ak. CA, Dosen UPN “Veteran” Jawa Timur. Penilaian yang dipakai adalah parameter penilaian yang akrab dipakai di lomba debat, yaitu: masalah, cara, dan metode (matter, manner, and method). Tim UK Petra mencapai grand final dan keluar sebagai juara 2. Hasil yang cukup menggembirakan dengan melihat bahwa cukup lama mahasiswa UK Petra vakum dari kegiatan kompetisi ini. Tonny melihat ini sebagai permulaan dan melihat adanya potensi untuk dikembangkan, “Harapannya, gelar-gelar juara yang dulu sering diraih bisa dipertahankan di masa depan” katanya. (noel/padi)

Baca berita
Picknique: Memilih Menjadi Unik
June 11, 2018

Dalam dunia desain, bekal keilmuan dan akademik perlu dilengkapi dengan pengalaman berkarya dan berkolaborasi. Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra menyediakan wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman tersebut dalam bentuk gelaran Prime Time DKV yang digelar setiap tahuni. Pada tahun 2018, Prime Time DKV dilaksanakan pada tanggal 23-25 Mei 2018 dan mengangkat tema Picknique. Dalam gelaran ini, mahasiswa dipertemukan dengan komunitas-komunitas kreatif yang ada di Surabaya, selain itu mahasiswa juga berkesempatan mengikuti workshop dan diskusi yang relevan dengan ilmu dan dunia desain, dan bertemu dengan fotografer muda unggul Leovir.

Rangkaian acara Picknique dimulai dengan pembukaan oleh Obed Bima Wicandra, S.Sn., M.A., Sekretaris Program Studi DKV. Dalam pembukaannya, beliau menghimbau mahasiswa untuk mengembangkan kolaborasi yang dimulai dari acara ini ke lingkup yang lebih luas. Obed juga mengingatkan pentingnya berkolaborasi, “Berkolaborasi adalah sangat penting, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk membangun lingkungan”, katanya. Pada kesempatan yang sama Ketua Panitia Prime Time 2018, Clarence Adiputra, menerangkan makna tema yang diambil, yaitu ajakan bagi mahasiswa untuk memilih (to pick) menjadi unik (unique).

Sepanjang tiga hari acara ini, enam komunitas hadir di selasar lantai 2 Gedung P UK Petra. Keenam komunitas ini adalah: 1) Papan Dolanan Arek Suroboyo (PADAS), komunitas boardgame (permainan dalam bentuk papan); 2) Portraitmeetsub, komunitas foto portrait; 3) Komunitas Seni Clay Indonesia, (KSCI); 4) Doodleartsurabaya, komunitas doodle (suatu genre seni menggambar modern yang populer); 5) Kolcai, komunitas watercolor (cat air); dan 6) Kreasidoarjo, komunitas lettering (tulisan hias). Mahasiswa bisa berinteraksi, bertukar pendapat serta pengalaman, serta menjalin relasi dengan komunitas-komunitas ini. Lebih istimewa lagi, setiap komunitas memberikan demo keahlian masing-masing, seperti: membuat gambar doodle ukuran 3 kertas A2 langsung di tempat; membuat kerajinan dari malam; membuat tulisan dekoratif dan kaligrafi; bermain dan diskusi boardgame; melukis dengan cat air; serta berbagai macam kegiatan kreatif lainnya. Di hari pertama dan kedua, digelar workshop Tata Rupa bersama Kreavi, situs kolaborasi kreatif desainer. Untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi mahasiswa calon pelaku kreatif, alumni dan mahasiswa yang sudah terlebih dahulu menjalani kegiatan tersebut memberikan sesi sharing di hari kedua.

Di hari terakhir, Prime Time DKV menghadirkan fotografer kreatif muda, Leovir, yang berhasil menggagas genre fotografi baru dan karyanya sudah diakui secara nasional. Genre fotografi yang diangkat adalah penggabungan antara fotografi dan lukisan tradisional Tionghoa. Sederet selebritas Indonesia, telah meminta dibuatkan karya fotografi, contohnya: Chelsea Olivia bersama bayinya; Giselle Marthen bersama Gempi anaknya; serta Raisa dan Hamish. Leovir membagikan pengalamannya berkecimpung di dunia desain sejak kuliah. Di masa awal kuliahnya, Leovir merasa fotografi bukan passion-nya. Saat itu mata kuliah fotografi dinilainya paling gampang. Hal ini berubah ketika Leovir lebih dalam mengikuti fotografi dan mengetahui lebih banyak, “(Mengetahui itu) Akhirnya membuat ingin berstatus jadi fotografer. Dan akhirnya fotografi menjadi passion” katanya. Dengan mengerjakan sesuatu yang merupakan passion ini, Leovir mengembangkan keahlian teknis, menemukan selera khas dan mempopulerkan gaya khasnya itu. (noel/padi)

Baca berita
Budaya yang Membuat Jatuh Hati
June 11, 2018

Bahasa Korea saat ini menjadi menjadi salah satu bahasa asing yang diminati kaum muda. King Sejong Institute (KSI) di Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya sebagai lembaga yang menyediakan pendidikan bahasa dan budaya Korea,  menyelenggarakan kompetisi tahunan Korean Speech Contest. Kompetisi yang diselenggarakan Sabtu 26 Mei 2018 di auditorium UK Petra ini mengangkat topik “Kebudayaan Korea yang Unik dan Membuat Hati Bergetar/Jatuh Cinta“.

17 Murid KSI yang berusia minimal 18 tahun mengikuti kompetisi ini. Mereka menyampaikan pidato sepanjang 5 menit dalam bahasa Korea tentang hal menarik dari negara Korea. Pidato yang dibawakan dinilai berdasarkan kemampuan berbicara (pelafalan, intonasi, kelancaran dan tata bahasa), penampilan (ekspresi, kepercayaan diri), respons (gerak tubuh dan reaksi penonton), dan sikap (tabiat panggung dan ketepatan waktu). Dewan juri yang memberikan penilaian terdiri dari: Lee Gyeong Youn, Vice President of Korean Community, Lee Sang Jae, pemilik kursus bahasa Korea ‘Jalan Korea’; dan Yoon Hwa Jeong, pendidik bahasa Korea.

Lee Gyeong Youn mengapresiasi pidato para murid KSI, “Siswa KSI mampu berbahasa Korea dengan lancar, saya berharap mereka dapat mewujudkan apa yang dicita-citakan”. Katanya. Juara dari kompetisi ini berhak mengikuti acara kebudayaan selama 1 minggu di Korea Selatan dan berkompetisi dengan pemenang kontes pidato dari KSI seluruh dunia di September 2018.

Pada kompetisi tahun ini pemerintah kota Busan di Korea Selatan, menyediakan kategori penghargaan spesial berupa beasiswa studi di Universitas Dong-A, Busan selama 10 minggu. Keluar sebagai 6 peserta terbaik adalah: Devy Wulandari Wijaya sebagai peraih Special Mentioned Award, Meilisa Dewi dan Jihan Fakhrin Rizkillah sebagai peraih Excellence Award, Stella Vianita sebagai peraih Top Excellence Award (Juara 3), Gabriella Christina Listiono sebagai peraih Special Award (Juara 2), dan Emily Abigail sebagai peraih Daesang Grand Prize (Juara 1).

Stella menyabet juara ketiga dengan membawakan pidato tentang semangat Korea. Inspirasi pidato ini muncul dari warga Korea Selatan yang mampu membangun negaranya dari keterpurukan pasca peperangan. Peraih juara kedua, Gabriella, membawakan pidato tentang musik Korea. Musik Korea baginya adalah bagian dari kegiatannya sehari-hari sebagai pengajar vokal. Emily sebagai juara kompetisi ini, membawakan pidato tentang beragam festival tradisional yang ada di Korea. “Saya ingin pergi ke semua festival tradisional di Korea. Korea memiliki ragam festival tradisional yang sangat menarik untuk pendidikan dan pariwisata”.  (Noel/dit)

Baca berita
Memasuki Era Keterbukaan Informasi dengan Berwawasan
June 10, 2018

Pajak adalah salah satu penerimaan terbesar negara, maka dari itu kondisi perpajakan adalah kepentingan semua bagian dari negara kita. Beberapa tahun belakangan ini, realisasi penerimaan pajak tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah, tercatat pada tahun 2017 pemasukan dari pajak adalah sebesar Rp. 1.151,1 triliun atau 89,7% dari target tahun itu. Oleh karena itu, penting sekali meningkatkan kesadaran pajak bagi masyarakat Indonesia. Sebagai upaya membekali mahasiswa jurusan akuntansi dan perpajakan mengenai peraturan-peraturan perpajakan agar nantinya dapat menjadi konsultan pajak yang andal dan profesional, maka Program Akuntansi Pajak UK Petra menyelenggarakan lomba di bidang perpajakan Petra Tax Competition (PTC). PTC pada tahun 2018 bertajuk “The Real Tax Agents” pada tanggal 11-12 Mei 2018 dan mengangkat tema Automatic Exchange of Information.

Hari pertama lomba diisi dengan seminar nasional “Embracing Changes Within Automatic Exchange of Information” yang dihadiri sekitar 300 orang. Narasumber seminar ini adalah B. Bawono Kristiaji, SE., MSE., MSc. IBT., ADIT., dari Danny Darussalam Tax Center. Bawono mengawali dengan paparan data performa pajak Indonesia yang pada tahun 2017 tercatat rasio pajak Indonesia adalah 10,64 persen. Prosentase ini cukup mengkhawatirkan karena International Monetary Fund (IMF) menetapkan titik aman performa pajak suatu negara adalah pada rasio 12,5%. Rendahnya rasio pajak Indonesia, menurut Bawono disebabkan oleh 5 faktor, yaitu: 1) rendahnya kepatuhan pajak; 2) shadow economy, yaitu kegiatan perekonomian di sektor yang sukar pajak (bisnis informal); 3) penghindaran pajak; 4) struktur perpajakan tidak imbang, yaitu Pajak Penghasilan (PPh) Badan lebih kecil dari PPh Perorangan di mana idealnya adalah sebaliknya; dan 5) lemahnya kinerja petugas perpajakan. Dari kelima faktor tersebut di atas sudah terlihat langkah dan pembaruan pemerintah untuk memperbaikinya dan hasilnya sejak 2013 sudah mulai terlihat. Tax Amnesty (TA) adalah salah satu langkah tersebut, dan TA berhasil menambahkan pelaporan harta sebesar Rp4.855 triliun. Penambahan pengakuan harta bukanlah tujuan akhir dari TA, menurut Bawono “Tax amnesty adalah jembatan ke sistem pajak baru yang berkeadilan dan memiliki kepastian hukum dengan keterbukaan informasi”. Babak baru ini adalah era Automatic Exchange of Information (AEoI) dimana semua pihak yang terkait dengan pajak di dalam dan luar negeri berbagi data informasi secara otomatis. AEoI memungkinkan pemantauan keuangan yang lebih baik karena negara-negara saling berbagi informasi keuangan secara automatis dan tidak ditutup-tutupi. Bawono menyampaikan beberapa akibat yang menyusul setelah AEoI diberlakukan, yaitu: aliran dana gelap ke luar negeri seperti yang terjadi dalam kasus Paradise Papers menjadi lebih terkontrol karena adanya transparansi keuangan di dalam negeri dan antar negara; serta kemungkinan beneficial owner(orang yang menghindari pajak dengan cara mengatasnamakan harta dengan nama orang lain) dalam mengelabuhi sistem menjadi lebih kecil.

Kegiatan kompetisi dilaksanakan di hari kedua dan diikuti oleh 102 mahasiswa dalam 34 tim dari berbagai perguruan tinggi di 5 propinsi ini. Para peserta disisihkan dengan ujian tertulis dan serangkaian rally games dengan materi yang sejurus dengan seminar di hari sebelumnya. Dalam babak final, 5 tim terunggul diberi tugas untuk mempresentasikan pandangan mereka atas pro dan kontra AEoI serta memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Muncul sebagai juara 1 kompetisi ini adalah peserta dari Politeknik Keuangan STAN, mereka pro pada AEoI dan melihatnya sebagai titik mula yang baik untuk perpajakan Indonesia. Kelompok juara ini mengidentifikasi masalah yang ada adalah kurang adanya kepercayaan wajib pajak pada badan administrasi pajak, dan solusi yang diajukan adalah mengatasi keraguan ini dengan memberikan fakta yang melawan keraguan tersebut. Juara kedua dan ketiga adalah secara berurut kelompok dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya. (noel/padi)

Baca berita
Dee Lestari Bagikan Teknik-teknik Menulis di UK Petra
June 10, 2018

Selama ini minat menulis di kalangan mahasiswa bisa dikatakan kurang, salah satu penyebabnya adalah adanya pemahaman bahwa kemampuan menulis hanya milik mereka yang berbakat di bidang tersebut saja. Lalu bagaimana dengan mahasiswa yang memiliki keinginan kuat untuk menjadi penulis tetapi belum memahami teknik-teknik penulisan dengan baik? Dee Lestari, seorang penulis sekaligus penyanyi terkenal di Indonesia hadir di Universitas Kristen Petra (UK Petra) untuk membagikan ilmu dan teknik menulis dalam kegiatan Creative Writing Weekend with Dee Lestari. Kegiatan yang diusung oleh Pusat Karir UK Petra ini dilaksanakan pada Sabtu, 26 Mei 2018 di Ruang Konferensi IV Gedung Radius Prawiro lantai 10 kampus UK Petra.

Workshop menulis ini diikuti oleh 37 peserta yang terdiri oleh mahasiswa UK Petra dan juga mahasiswa dari luar UK Petra. Melalui workshop ini, peserta diharapkan dapat memahami teknik-teknik menulis kreatif dalam bentuk cerita pendek, teknik-teknik melakukan riset untuk keperluan menulis, pemetaan ide dasar, pembuatan plot, serta membuat karakter yang kuat. Sebelumnya, peserta diminta membuat cerita pendek 400-500 kata, dengan memilih salah satu topik dari tiga topik yaitu korupsi di tempat kerja, diskriminasi di tempat kerja, dan kejahatan seksual di tempat kerja. Dengan bimbingan Dee Lestari pada saat workshop, peserta diminta mengembangkan ide konsep cerpen yang telah dikumpulkan sebelumnya dan membuat outline lanjutan untuk dikumpulkan dan dinilai saat workshop menulis ini.

Menurut Dee, jangkar cerita menjadi hal yang terpenting untuk diperhatikan oleh penulis sebelum memulai menulis. Jangkar cerita atau cerita adalah konflik, saat ada konflik, maka pasti ada sebuah cerita. Konflik yang dipilih lebih baik jika menggunakan hal-hal yang sangat kontras, misalnya kesendirian vs kebersamaan atau harapan vs kematian. Peserta mendapatkan kesempatan untuk mengikuti beberapa macam latihan. Latihan pertama, peserta disuguhkan gambar lima manusia yang sedang berjalan di pinggir perairan. Dari gambar tersebut, peserta diminta menemukan konsep cerita berkaitan dengan gambar tersebut.

Menentukan deadline juga menjadi unsur penting keberhasilan menulis. Latihan kedua yaitu lima menit menulis mengalir, peserta diminta menulis bebas selama lima menit. “Jika saya minta untuk menulis bebas selama lima menit, rata-rata akan menuliskan sekitar 150 kata, jadi jika kita menyisihkan waktu 30 menit saja untuk fokus menulis, sudah berapa kata yang bisa kita hasilkan. Jangan pernah memulai sesuatu jika belum menentukan deadline agar tepat waktu dalam penulisannya.” ujar penulis novel Supernova ini.

Riset merupakan bagian penting dalam menulis, karena riset dapat meningkatkan derajat keyakinan penulis atas tulisannya. Saat melakukan riset, selalu cari data yang bersifat panca indra dan akan lebih baik jika riset ini disampaikan kepada pembaca melalui dialog dari karakter atau tokoh. “Saya dikenal sebagai penulis yang selalu mengawali cerita dengan riset. Riset merupakan bagian penting dalam menulis, tetapi hati-hati, riset juga merupakan alasan paling seksi untuk menunda tulisan,” ungkap wanita bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong ini.

Peserta diminta melakukan evaluasi cerita yang sudah dibuat sebelumnya dan menambahkan detail seperti ciri karakter, nama karakter, serta identifikasi kekuatan dan kelemahan karakter. Di akhir acara, dipilih 10 peserta dengan konsep cerpen terbaik dan peserta diminta menandatangani surat pernyataan akan menyelesaikan cerita pendek tersebut dalam waktu empat minggu. (rut/Aj)

Baca berita
Mengasah Ketrampilan PFA
June 10, 2018

Peristiwa pengeboman tiga gereja dan kantor kepolisian beberapa waktu yang lalu membuat warga kota Surabaya cemas. Pasca kejadian luar biasa ini jika dicermati suasana jalanan Surabaya menjadi lebih lengang dari biasanya, bahkan Dinas Pendidikan Kota Surabaya meliburkan anak-anak siswa jenjang Kelompok Bermain hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ada beberapa himbauan juga untuk masyarakat Surabaya menghindari keramaian. Dengan adanya kejadian ini, tidak dipungkiri jika masyarakat dapat mengalami trauma akibat aksi terorisme itu. Maka dari itu, Ikatan Psikologi Klinis (IPK) dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengundang Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi (PKPP) Universitas Kristen Petra (UK Petra) untuk terlibat dalam pendampingan pasca Trauma. Menyadari kebutuhan ini maka PKPP menggelar seminar dan training Psychological First Aid (PFA) pada hari Senin, 21 Mei 2018 mulai pukul 09.00 di Ruang Konferensi IV gedung Radius Prawiro lantai 10 kampus UK Petra, Surabaya, yang ditujukan kepada Psikolog/ Konselor sekolah Kristen dan atau hamba Tuhan Gereja

Kegiatan ini mendatangkan pembicara Aileen P. Mamahit,Ph.D yaitu seorang dosen konseling dari Seminari Alkitab Asia Tenggara yang memiliki pengalaman menangani trauma (PFA) di Filipina. “Kami diminta oleh IPK dan HIMPSI untuk mendukung layanan pendampingan trauma pada korban, tetapi karena jumlah kami sedikit maka dirasa perlu menggandeng teman-teman lain, untuk itu kami menggelar penyegaran kembali mengenai ketrampilan pendampingan pasca trauma. Kita akan belajar bersama pendekatan dasar secara psikologi bagaimana menangani trauma”, urai Dra. Lanny Herawati selaku Kepala PKPP UK Petra. Tercatat 81 orang yang menghadiri kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini.

Apa itu Psycological First Aid (PFA)? PFA merupakan respon yang manusiawi dan sportif kepada sesama manusia yang sedang menderita dan membutuhkan dukungan. PFA ini dirancang untuk mengurangi distress awal yang disebabkan oleh kejadian traumatis sekaligus mengembangkan ketrampilan adaptif yang bersifat jangka panjang. “Akan tetapi tidak semua musibah akan menimbulkan trauma, jadi kita harus melihat kondisinya dulu. Pelatihan PFA ini dapat digunakan untuk kejadian di masa yang akan datang, jadi PFA ini tidak sama dengan konseling krisis”, urai Aileen.

Lalu siapa yang dapat memberikan PFA ini? Relawan, guru, rohaniawan, relawan Palang Merah, organisasi kemanusiaan hingga responden lain yang terlatih. “Jadi siapa saja dapat melakukan PFA asal mempunyai hati yang tulus untuk menolong dan siap sedia membantu. Akan tetapi perlu diingat untuk seorang yang memberikan PFA selain mempunyai kemampuan komunikasi yang baik juga harus mampu mengelola metabolisme tubuh diri sendiri. Jangan sampai si PFA malah mendapatkan trauma sekunder”, urai Aileen yang asal Filipina namun fasih berbahasa Indonesia tersebut. Menjadi PFA haruslah jeli, sebab tidak semua orang yang membutuhkan PFA mau ditolong. Kuncinya, tidak boleh memaksa individu yang tidak ingin ditolong, tetapi sediakanlah diri bagi mereka yang membutuhkan dukungan. Individu yang membutuhkan bantuan diantaranya bisa dilihat dari fisik, emosi, perilaku dan respon kognitifnya. Misalnya seperti menangis, tatapan kosong, menarik diri, selalu waspada dan lain-lain. Yang paling penting saat melakukan PFA bagi individu yang membutuhkan ini adalah mengembalikan rasa aman yang terhubung dengan orang lain, memiliki akses terhadap dukungan kelompok sosial serta mengembalikan kemampuan untuk mengontrol diri.

“Kami berharap dengan adanya pelatihan ini, maka semua orang yang terpanggil hatinya dapat turut serta membantu para korban trauma dengan pengetahuan dan ketrampilan yang tepat. Pelatihan ini juga dapat berguna untuk hal-hal lain dimasa yang akan datang”, tutup Dra. Lanny Herawati. (Aj/dit)

Baca berita
Berita lainnya