Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


AUPF 2018
November 06, 2018
IC-AMME 2018
September 26, 2018
IC-LBI 2018
September 26, 2018

Berita terakhir



Belajar Bahasa dan Budaya Korea Lewat Film
October 18, 2018

Pengaruh budaya Korea di kalangan anak muda sangat besar, tidak terkecuali di Indonesia. Belajar budaya Korea dapat dilakukan melalui berbagai cara, King Sejong Institute (KSI) Surabaya punya berbagai cara menarik untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Korea kepada masyarakat, salah satunya dengan nobar (nonton bareng). Kegiatan ini dikemas dalam gelaran Korean Movie Day 2, yang diadakan pada 21 September 2018 di CGV Marvell City Mall Surabaya.

Dalam kegiatan ini, KSI menggandeng CGV Cinema Marvell City dalam pelaksanaannya. Sebelumnya, pada Maret 2018, KSI telah mengadakan kegiatan serupa dengan film The Princess and the Matchmaker. “Antusiasme peserta pada Korean Movie Day yang lalu cukup tinggi, hal ini yang membuat kita memutuskan untuk melaksanakan Korean Movie Day yang kedua,” ujar Dr. Liliek Soelistyo, MA selaku Direktur KSI Surabaya.

Kali ini, film yang dipilih adalah Midnight Runners yang dibintangi oleh beberapa aktor Korea papan atas yaitu Park Seo Joon dan Kang Ha Neul. “Film ini dipilih untuk ditayangkan pada Korean Movie Day 2 karena para aktornya merupakan aktor-aktor yang sedang naik daun dan diminati oleh masyarakat,” ungkap Dyah Sekarini H, A.Md., salah satu staff KSI Surabaya. Midnight Runners bercerita tentang dua orang pemuda yang menempuh pendidikan di Universitas Kepolisian. Keduanya memiliki mimpi serupa yaitu menjadi petugas kepolisian, namun memiliki latar belakang dan sifat yang sangat berbeda. Mereka dipertemukan saat masa orientasi sebelum resmi masuk Universitas Kepolisian.

Keduanya menjadi sahabat, hingga suatu malam, mereka terjebak dalam peristiwa yang dilematis saat mereka jadi saksi kasus penculikan remaja perempuan. Di satu sisi, keduanya memiliki semangat berapi-api untuk membongkar kasus sesuai teknik dan pengetahuan yang mereka dapat di kampus. Sementara di sisi lain, ada urusan birokrasi yang rumit yang menghalangi mereka menguak kasus penculikan remaja-remaja wanita. Keduanya berjuang hingga akhirnya berhasil memecahkan kasus tersebut. Dibalut dengan unsur komedi dan action, para peserta begitu antusias selama film diputar. Suasana studio sangat meriah dengan kekompakan 325 peserta menanggapi adegan-adegan laga yang menantang maupun adegan lucu dalam film berdurasi sekitar 110 menit ini.

Peserta berasal dari berbagai kalangan, baik murid KSI, mahasiswa, alumni, dosen, bahkan orang tua. Salah satunya Fenny Anggraini yang mengaku mengikuti Korean Movie Day setelah diajak oleh salah seorang temannya. “Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena saya suka Korea dan suka dengan pemain-pemainnya karena sebelumnya saya telah menonton beberapa drama yang diperankan oleh Park Seo Joon dan Kang Ha Neul,” ungkap alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra ini. Selesai menonton, sebanyak 50 peserta beruntung mendapatkan doorprize dari CGV. (rut/padi)

Baca berita
Rayakan 20 Tahun Bersama Alumni
October 18, 2018

Sejak tahun 1998, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra telah banyak menghasilkan orang-orang hebat yang memiliki kontribusi positif bagi masyarakat bahkan bagi bangsa dan negara Indonesia. Dalam rangka merayakan usia ke-20 tahunnya, DKV UK Petra bekerjasama dengan alumni mengadakan Festival Temu Alumni DKV UK Petra. “Ilmu desain sangat bergantung pada kreativitas dan imajinasi, Liar Imaji adalah gambaran ide-ide yang berbeda, unik, dan imajinatif. Selama 20 tahun kita memiliki ide-ide yang sangat brilian dan “liar” itu,” ungkap Deddi Duto Hartanto, S.Sn., M.Si., selaku ketua panitia Festival Alumni Rongpuluhan.  

Festival Alumni dilaksanakan pada 29 September 2018 di selasar gedung P UK Petra. Berbagai rangkaian kegiatan menarik dilaksanakan, yaitu zumba massal, bazaar dan pameran, workshop, community talk show, dan juga alumni berbagi. Tidak hanya melibatkan alumni, tetapi warga Siwalankerto dan civitas UK Petra diajak untuk terlibat dalam gelaran bertajuk Rongpuluhan Liar Imaji ini sebagai wujud terima kasih atas penerimaan warga kepada alumni saat aktif menjadi mahasiswa dulu. Acara resmi dibuka dengan pemotongan tumpeng dan pemotongan pita.

Sebagai perwujudan dari tema “Liar Imaji”, DKV UK Petra menggandeng para pemain Persebaya untuk membuat mural. Tiga pemain Persebaya yaitu Miswar Saputra, Ruben Sanadi, dan juga Osvaldo Haay membuat mural dari hasil tendangan mereka. Pemain persebaya secara bergantian menendang bola ke arah cat yang telah disusun di depan bidang putih. Cipratan cat ini menghasilkan karya mural yang unik. “Hasil tendangan dari para pemain persebaya ini menghasilkan karya seni yang indah, inilah salah satu perwujudan kata Liar Imaji. Seni dapat dipadukan dengan bidang apapun, termasuk sepak bola,” ujar Deddi.

Tidak hanya itu, berbagai workshop menarik dilaksanakan, di antaranya Color Latte Art yaitu seni menggambar diatas kopi yang bekerja sama dengan Kudos Cafe, Fashion Illustration oleh Agnes Olivia Go, Watercolor Lettering oleh Vallery Darmadji, dan juga Copperplate Calligraphy oleh Melli_fluous. Para pecinta motor juga dapat mengikuti Community Talk Show bersama alumni DKV angkatan 1999, David Hutani yang juga merupakan pemilik Im Garage dan juga Adrianka Anka, alumni DKV angkatan  2002, pemilik Elders Garage.

Sesi yang sangat dinanti adalah Alumni Berbagi, dimana alumni-alumni yang telah berkarya bagi masyarakat dan negara membagikan pengalaman mereka sejak lulus dari DKV UK Petra. Beberapa alumni yang hadir dan menjadi narasumber yaitu Adrianka Anka, angkatan 2002, founder Tandaseru Detailed Imaging dan pembuat motor Chopper Jokowi. Hadir pula Fonny Tunggal angkatan 2000 yang menjadi fashion designer sekaligus pemilik dari Fonny Tunggal Couture, rancangannya telah dipamerkan diberbagai fashion show seperti Indonesia Fashion Week dan pemilihan kontes kecantikan di Malaysia.

Alumni angkatan 2002, Arghubi Utama yang merupakan founder Aiola Group dan KUMI Home Décor, serta Ellen Anatashia, angkatan 1999, seorang artistic event stylist dan art director Eden Design juga turut membagikan kisah mereka. Hadir pula Astri Kunto, angkatan 1998 yang merupakan Co-Founder Seruni Creative Bandung, Bertono Adi, angkatan 2000, yang merupakan Creator Kudos Cafe. Selain itu, Flo Hadjon, angkatan 1999, seorang graphic designer dan sutradara film, serta Deni Lie, founder Dream entertainment, Edustory & Orleeozora juga turut hadir dalam sesi ini. Tidak hanya alumni, dalam sesi ini, Freddy H. Istanto selaku Kaprodi Pertama DKV UK Petra juga membagikan pengalamannya saat awal berdirinya program studi ini. (rut/Aj)

Baca berita
Charaqua Vania Rawoadji, Mahasiswi dengan Segudang Prestasi
October 15, 2018

Meraih prestasi di usia muda merupakan cita-cita dari semua orang di dunia. Namun untuk merealisasikan hal itu, banyak hal yang harus dilewati dan dikorbankan. Apalagi usia muda adalah masa dimana kebanyakan anak muda habiskan untuk bersenang-senang. Berbeda dengan anak muda pada umumnya, Charaqua Vania Rawiadji, mahasiswi Universitas Kristen Petra Surabaya, ia berhasil untuk meraih berbagai prestasi di usia mudanya.

Mahasiswi yang sering dipanggil Caca ini, merupakan mahasiswi Program English for Creative Industry (ECI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) angkatan 2018. Semenjak berkuliah di UK Petra, Caca telah mengikuti delapan perlombaan tingkat perkotaan hingga nasional. Salah satu lomba paling bergengsi yang pernah diikuti Caca adalah National University Debate Championship (NUDC) yang diselenggarakan oleh Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah VII April-Mei 2018 lalu. Caca diberi kesempatan untuk dapat memenangi kompetisi tersebut dan meraih juara pertama di tingkat regional universitas.

Gadis asal Bojonegoro ini mengawali perjalanan prestasinya sejak SMA. Berawal dari ekstrakurikuler English Debate, Caca diperkenalkan ke dalam dunia debat. Dunia debat memang terbilang sulit untuk dimasuki oleh pemula. Namun, dengan tekad dan rasa pantang menyerah, Cac akhirnya dapat beradaptasi dan malah jatuh cinta dengan dunia debat. “Debat memaksa saya untuk dapat melihat berbagai sisi dari sebuah fakta, dan mengajari saya untuk dapat lebih toleransi lagi.”

Selain berkompetisi dan mengkoleksi prestasi, Caca juga aktif dalam berbagai kepanitiaan dan organisasi di UK Petra. Tahun ini, Caca menjabat sebagai Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) English Debate UK Petra yang sekaligus menjadikannya anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UK Petra. Dengan segala kesibukannya, Caca tetap mampu memertahankan nilai perkuliahannya dengan baik, terbukti dengan Indeks Prestasi Kumulatifnya yang mencapai nilai sempurna 4.0. Yang terpenting adalah tidak suka menunda pekerjaan, itulah rahasia Caca dalam membagi waktu dan menyelesaikan segala tugasnya dengan tepat waktu.

Memenangi National University Debate Championship merupakan salah satu momen paling membanggakan Caca maupun kampus UK Petra. Segala jenis persiapan Caca lakukan demi mengikuti perlombaan bergengsi ini. Kampus pun turut membantu dalam hal administrasi dan transportasi Caca selama persiapan dan saat hari pelaksanaan kompetisi ini. Bercerita mengenai pengalamannya, pressure yang tinggi pun juga dialami Caca, namun ia tak gentar.  “Pokoknya jangan punya mentalitas mengasihani diri, harus terus fokus dan maju dan tetap berdoa.” ungkap mahasiswi kelahiran 27 September 1999 ini.

Untuk kedepannya, Caca ingin lebih fokus kuliah, BEM, UKM ED, dan Petra Little Theatre. Namun, tidak berarti bahwa Caca akan berhenti untuk berkompetisi dan meraih prestasi. Caca masih ingin terus mengikuti berbagai lomba yang ada, menjadi juri hingga menjadi seorang pelatih English Debate. Caca terus beraharap agar ia dapat membawa dampak dan terus menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya. (luk/Aj)

 

Baca berita
Lokakarya Audit Mutu Internal (AMI) 2018, Pembelajaran Bersama untuk Meningkatkan Mutu
October 12, 2018

Selama dua hari, 10-11 Oktober 2018 UK Petra menyelenggarakan proses terakhir Program Asuh Perguruan Tinggi Unggul dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Kegiatan ini bernama Lokakarya Audit Mutu Internal (AMI) di ruang Sriwijaya Hotel Sheraton, Surabaya. “UK Petra juga mendapatkan pembelajaran dari kegiatan bersama ini. Kami senang bermitra dengan tiga universitas yang ada dan berharap akan ada kegiatan bersama diluar program hibah ini”, ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. selaku rektor UK Petra,Surabaya.

Tahun ini (2018), UK Petra mengasuh Universitas Pesantren Darul Ulum (Unipdu), Jombang; Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina), Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur; serta Institut Teknologi Del (IT Del), Toba Samosir, Sumatra Utara. Dalam sambutannya, Rektor Unipdu, Prof. Dr. Kiai H. Ahmad Zahro, MA., menyampaikan harapannya yaitu prospek peningkatan status akreditasi institusinya, katanya “Kami berharap agar tidak lama lagi mendapatkan Akreditasi A, karena saat ini sudah ada gurunya. Kami juga berharap kerjasama yang sudah ada akan tetap terjalin”.

Kegiatan lokakarya sebagai penutup program asuh ini dihadiri 24 peserta, 8 orang dari masing-masing PT Asuh. Mereka disambut oleh Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.; Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum & Keuangan, Agus Arianto Toly, S.E.,Ak.,M.S.A.; serta Kepala Lembaga Penjaminan Mutu, Dr. Gan Shu San, M.Sc. beserta jajarannya.

Lokakarya dimulai dengan paparan “SPMI dan Pengertian AMI” serta “Perencanaan dan Pelaksanaan AMI” yang difasilitasi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UK Petra, Dr. Jenny Mochtar, MA dan Ir. Emmy Hosea, M.Eng.Sc., dari Lembaga Penjaminan Mutu UK Petra. Dalam memahami hubungan antara SPMI dan AMI, perlu diingat bahwa tujuan suatu audit dilaksanakan adalah 1) Memastikan sistem manajemen memenuhi standar/regulasi; 2) Memastikan implementasi sistem manajemen sesuai dengan sasaran/tujuan; 3) Mengidentifikasi peluang perbaikan sistem manajemen mutu; dan 4) Mengevaluasi efektivitas penerapan sistem manajemen mutu. Kondisi SPMI bisa terlihat dari kegiatan AMI yang baik. Begitu juga dengan adanya audit yang baik, SPMI bisa lebih lanjut lagi dikembangkan secara berkesinambungan. Siklus pengembangan ini dikenal dengan PPEPP, yang merupakan singkatan dari: Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, serta Peningkatan.

Selain mendapatkan pemaparan materi tersebut, para peserta mendapatkan pelatihan dalam bentuk simulasi. Simulasi yang diadakan adalah simulasi: Audit Sistem (Desk Evaluation); Audit Kepatuhan (Site Visit); Permintaan Tindakan Koreksi; serta Laporan Audit Internal. Para peserta dibagi menjadi 6 kelompok dengan 4 anggota. Satu anggota berperan sebagai auditee (pihak yang diaudit), 3 anggota lainnya yang berasal dari PT berbeda dari auditee berperan sebagai auditor (pihak yang mengaudit). Untuk memberikan efek yang aktual dan faktual, maka data sistem penjaminan mutu yang dipakai simulasi adalah benar-benar data yang ada di PT auditee. Selain itu, para auditee diberikan tugas untuk merespon para auditor dengan sikap yang tidak kooperatif. Dr. Merry Meryam Martgrita, Dekan Fakultas Bioteknologi IT Del, mendapatkan peran sebagai auditee. Merry menyampaikan pengalamannya, “Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu cara yang benar dalam melakukan SPMI dan AMI yang memang diwajibkan oleh Kemenristekdikti”. (noel/Aj)

Baca berita
Aspiring to Expand Your Network? AUPF 2018 is the Answer!
October 12, 2018

Originating from the collaboration among several higher education institutions in Asia, the Asian University Presidents Forum (AUPF) was officially founded in 2002. Since then, AUPF members have routinely met every year, with the opportunity to host the meeting rotated among participating universities. In 2018, the 17th AUPF meeting will take place in Indonesia, particularly at Petra Christian University (PCU), in Surabaya. In the previous year, the 16th AUPF meeting was held in the Philippines Normal University, the Philippines. The 17th meeting this year will highlight the theme of “Disruption at the Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education.”

Joining AUPF has brought numerous benefits for its participants, one of them being the opportunity to build a network with higher education institutions across Asia. This is of course in line with AUPF’s mission, which is to “increase communication, exchange information, share experience, and seek common development.” In the 17th AUPF Meeting at PCU, the cooperation among members will be formalized with the signing of Memorandum of Understanding (MoU), which is scheduled on the last day of the meeting. Participating institutions will have a vast opportunity to cooperate with other institutions, such as through co-organizing conferences, student exchange programs, faculty research programs, summer programs, and many more.

To facilitate this, the AUPF Committee will share the list of participating institutions with all participants who attend the meeting so that they can start exploring the possibilities for establishing cooperation with the other institutions. For PCU, joining AUPF has brought significant impact, particularly in terms of international cooperation. “AUPF members include many universities which means a bigger network. Networking and cooperating with international universities become easier for us because we have known each other as AUPF members,” Monika Kristanti, S.E., M.A., the Head of the Bureau for Cooperation and Institutional Development, said.

PCU has been an AUPF member since 2012, and since then it has worked together with numerous international institutions. Some of PCU’s major programs are the outcome of its collaboration with other AUPF members. Asian Summer Program (ASP), for example, is a collaborative effort between PCU and four other universities, namely Dongseo University, Korea, Bangkok University, Thailand, Josai University, Japan, and Universiti Malaysia Perlis, Malaysia. Today, ASP has also included other AUPF members. “This is a positive thing for PCU, since PCU students who join the ASP program have more opportunities to meet and interact with students from many different countries,” Meilinda, S.S., M.A., AUPF 2018’s Steering Committee, mentioned. 

This year, PCU initiated the publication of Asian Higher Education Chronicles, AUPF’s first publication. This bulletin will feature ideas from the Rectors or Presidents of higher education institutions from all over Asia to develop the higher education field in Asia. “As the host for the 17th AUPF meeting, PCU also becomes the member of AUPF Standing Committee, and this will enable PCU to contribute strategic thoughts and ideas for AUPF in its effort to develop higher education institutions in Asia,” Meilinda, S.S., M.A., said.

Moving forward, AUPF members can work together to seek international funding and grants for development purposes. At the moment, there are many international grants which make consortium as one of their requirements. Therefore, AUPF is definitely the right place for higher education institutions in Asia to start seeking partners to work together for the betterment of education in Asia.

Baca berita
Pelatihan ISO 28000: Standarisasi Internasional untuk Menghadapi Perubahan
October 03, 2018

Globalisasi adalah era keterbukaan yang menyebabkan akses interaksi pelaku industri dan bisnis melintasi berbagai batasan. Proses ini terus terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dalam atmosfir ini, kesempatan dan tantangan muncul secara bersamaan dihadapan pelaku industri. Kesempatan muncul dalam terbukanya pasar baru dan peluang kerjasama baru karena terbukanya akses antar negara. Tantangan hadir juga dalam hadirnya pelaku industri dari berbagai negara lain yang hendak ikut bermain di pasar yang sebelumnya tidak terbuka untuk mereka.

Contoh nyata yang terjadi di Indonesia adalah datangnya merk dagang besar sekaligus peritel perabot rumah tangga internasional dari Swedia. Brand internasional ini selain menjadi kompetitor bagi peritel dalam negeri juga memberikan kesempatan bisnis baru bagi produsen mebel untuk menjadi pemasok. Untuk mempertahankan pasar yang sudah ada dan memanfaatkan kesempatan besar ini industri mebel perlu mengkomunikasikan jaminan atas standar tinggi yang dimilikinya. Hal ini bisa didapatkan melalui sertifikasi standar yang diakui secara internasional. Untuk memberikan pemahaman atas standarisasi internasional ini, Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas Kristen (UK) Petra bidang Process Development menyelenggarakan seminar dengan tajuk “Security Supply Chain Management, ISO 28000 Awareness and Documentation” pada tanggal 29-30 Agustus 2018 di ruang Konferensi 3 gedung Radius Prawiro lantai 10. Drs. Jani Rahardjo, Ph.D., dosen pengajar di Prodi Teknik Industri menyampaikan urgensi standarisasi ISO yang belum merata dimiliki industri, katanya “Di dunia yang serba berubah harus dihadapi dengan perubahan”.

Seminar yang dihadiri 18 pelaku industri ini menghadirkan Antonius Widiarso, ST., Freelance Auditor dari Sucofindo serta Konsultan Penerapan ISO 28000. Antonius membuka sesi pertama dengan memperkenalkan tentang ISO yaitu sertifikasi standarisasi internasional yang diterbitkan oleh International Organization for Standardization. ISO ini sendiri bukanlah singkatan dari organisasi yang menerbitkannya, melainkan penyerapan kata ‘isos’ dari bahasa Yunani yang artinya adalah ‘sama’. Ada berbagai macam standarisasi ISO, fokus di seminar kali ini adalah ISO 28000: 2007 Spesifikasi untuk Sistem Manajemen Keamanan pada Rantai Pasokan. Menurut Antonius, batasan lingkup yang jelas dapat membantu memahami konsep yang ada dalam ISO. Pengertian dari Manajemen Keamanan di lingkup ini adalah kegiatan sistematis dan terkoordinasi dan praktek-praktek di mana organisasi mengelola risiko, potensi ancaman, serta dampak-dampaknya secara optimal. Dengan batasan itu, maka ISO 28000 sebagai standarisasi Manajemen Keamanan pada Rantai Pasok bisa diidentifikasi manfaatnya dan langkah-langkah implementasinya. Terkait dengan manajemen keamanan ini, Antonius menyampaikan mentalitas yang perlu dikembangkan, yaitu risk based thinking, katanya “Idealnya adalah organisasi, industri, atau jasa konsultan menyadari risk based thinking dan berpatokan pada itu dalam manajemen risiko”. Hasil dari sesi di hari pertama seminar ini adalah peserta memahami klausul-klausul yang ada di ISO 28000.

Di hari kedua, sesi seminar berkisar pada pelatihan pembuatan dokumen untuk ISO 28000. Hadir sebagai fasilitator di sesi ini dua dosen pengajar di Prodi Teknik Industri UK Petra, yaitu Jani serta Dr. Drs. I Nyoman Sutapa, M.Sc.Nat. Sesi hari kedua ini secara khusus memberikan pada para peserta pelatihan mengidentifikasi risiko-risiko yang dapat terjadi di proses rantai pasok. Alat bantu yang dapat dipakai untuk meningkatkan kesadaran dalam identifikasi risiko dengan adalah peta manajemen risiko. (noel/padi)

Baca berita
Berita lainnya