Tiga mahasiswa Desain Komunikasi Visual UK Petra mendapat kepercayaan dari World Wildlife Fund (WWF) untuk menyumbangkan keahliannya dalam sebuah karya lukis di sebuah kapal. Lalu bagaimana pengalaman ketiganya saat melukis di atas sekoci dan di tengah deburan ombak? Tim DP sajikan kisah unik ketiganya saat menjadi relawan WWF dalam edisi kali ini.
Mereka yang merasakan pengalaman seru dan menarik ini adalah Celcea Tifany, Debby Natalia dan Elang Cakra. Selama enam hari mereka menyelesaikan lukisannya di tengah pantai mata dermaga dua dekat Teluk Kendari pada media “kapal perpustakaan” bernama Gurano Bintang. Kapal berbahan kayu yang memiliki panjang 23 meter dengan lebar 5,25 meter ini bernama asli Koteklema, sebutan masyarakat Papua terhadap spesies Hiu Paus (Rhincodon typus) atau jenis ikan hiu terbesar di dunia yang sering terlihat di Teluk Cenderewasih.
“Kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Medan yang kami hadapi tidak mudah, harus menyiapkan stamina ekstra di tengah guncangan ombak yang datangnya tak terduga itu”, urai Celcea yang didampingi dua rekannya. Ketiga mahasiswa DKV UK Petra ini terpaksa menggunakan sekoci agar dapat menyelesaikan lukisannya. Celcea menceritakan, mereka menggunakan spidol untuk membuat sketsanya terlebih dahulu, tidak langsung menggunakan cat seperti pada media umumnya. Mereka harus saling menahan sekoci agar cat yang basah tidak menjadi rusak karena benturan ombak. Aulia Rahman, juru kampanye program kelautan WWF Indonesia ini mengatakan “WWF memang sengaja menggandeng mahasiswa DKV karena sudah terdengar keahliannya dalam bidang seni mural. Pada awalnya saya sempat ragu karena medannya berbeda dengan mural pada umumnya; akan tetapi, hasilnya sungguh luar biasa. Gurano Bintang ini akan digunakan sebagai media edukasi bagi anak-anak di kampung pesisir Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua Barat, khususnya mengenai pelestarian alam dan perlindungan satwa; dan sekaligus digunakan sebagai kapal untuk pemantauan dan penelitian keanekaragaman hayati di Taman Nasional Cenderawasih dengan luas 1.4 juta hektar”.
WWF sebelumnya telah memberikan briefing tentang gambar apa saja yang harus terkandung dalam kapal; gambar tersebut harus berhubungan dengan konservasi alam dan hewan. Mereka bertiga sepakat menggambarkan kehidupan bawah laut yang berisikan mulai hewan, tumbuhan hingga alat musik tifa yang ada di Papua. “Konsep warna lucu dan cerah inilah yang coba ditampilkan. Mereka total menggunakan 31 kaleng cat khusus kapal yang tahan cuaca dengan seri coastal,” tutup Obed Bima Wicandra, S. Sn, M.A. selaku dosen pembimbing. (Aj)


Siwalankerto 121-131 Surabaya