BAB III. KELENGKAPAN
BUSANA PENGANTIN
LORO PANGKON DI MOJOKERTO
Kelengkapan Busana Pengantin Loro Pangkon di Mojokerto
Pakaian adat pengantin daerah Mojokerto, bisa
dibedakan menjadi dua: pertama busana yang masih asli dan kedua busana yang sudah
dimodifikasi. Khusus untuk busana yang kedua ini bahkan sudah diakui oleh Gubenur Jawa
Timur sebagai pakaian khas pengantin Mojokerto. Upaya melestarikan pakaian pengantin
tradisional dari masyarakat Mojokerto dilakukan dengan mengarahkan pada modifikasi, yakni
merubah beberapa bagian untuk menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Upaya ini ternyata
mendapat tanggapan positif berbagai kalangan baik dari pemerintah daerah setempat maupun
masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu tidak mengherankan dalam waktu relatif singkat,
pakaian tradisional modifikasi dari Mojokerto cukup terkenal.
Menurut informasi dari beberapa nara sumber
yang berhasil dihubungi, diperoleh suatu gambaran bahwa upaya memodifikasi pakaian adat
pengantin tradisional masyarakat Mojokerto tersebut dilakukan setelah sebagian masyarakat
Mojokerto mulai meninggalkan pakaian tradisional dan mengganti dengan pakaian pengantin
gaya Yogyakarta atau Surakarta bahkan ada beberapa yang memilih pakaian Eropa, sehingga
dikhawatirkan apabila tidak segera disesuaikan dengan perkembangan jaman, maka pakaian
khas adat Mojokerto ini akan hilang sama sekali. Walaupun begitu untuk melacak pakaian
adat yang asli sangat sulit, kendala yang ditemui antara lain, pakaiannya sangat
sederhana, selain itu kebanyakan yang memiliki pakaian tersebut hanya seorang patah (juru
rias pengantin), bahkan menurut beberapa orang patah (juru rias pengantin), bahkan menurut
beberapa informasi, pakaian yang benar-benar asli ditampilkan terakhir sudah sekitar tahun
1950 an yang lalu, setelah itu pakaian ini berangsur-angsur menghilang. Kecenderungan dan
perkembangan selera masyarakat sangat berpengaruh terhadap jenis pakaian pengantin yang
dipilih, karena sebagian besar masyarakat memilih pakaian pengantin dari daerah Jawa
Tengah dan Yogjakarta bahkan Eropa maka para perias pcngantin di daerah Mojokerto lebih
banyak menyowakan pakaian adat pcngantin daerah-daerah tersebut. Untuk lebih jelasnya,
dibawah ini akan diuraikan pakaian pengantin asli Mojokerto dan pakaian pengantin Mojokeno
yang sudah dimodifikasi.
Busana Pengantin Asli Mojokerto
Sebagaimana diketahui bahwa untuk melakukan
survai pakaian pengantin harus dilakukan pada bulan-bulan tertentu, dimana pada waktu itu
banyak dilakukan upacara perkawinan. Namun karena waktu yang mendesak maka survai terpaksa
dilakukan tanpa menyesuaikan dengan bulan-bulan tersebut, bahkan walaupun ada beberapa
yang melaksanakan hajat perkawinan pakaian yang dipilihpun bukan pakaian asli melainkan
pakaian yang dimodifikasi.
Pelacakan lebih lanjut dtujukan kepada patah
(juru rias pengantin) di desa Watesnegoro, Kec. Ngoro, yaitu Mbah Tun. Mbah Tun adalah
mantan perias yang termasuk angkatan tua mulai merias pengantin sekitar tahun 1970 an, dan
sekarang sudah berusia sekitar 70 tahun. Menurut cerita Mbah Tun, pada sekitar pertengahan
tahun 1960 banyak calon pengantin yang menolak mengenakan pakaian asli daerah Mojokerto,
karena dianggap sudah kuno atau ketinggalan jaman.
Ada bcberapa hal yang masih diingat beliau
mengenai pakaian adat pengantin Mojokerto asli, ada dua (2) jenis pakaian yaitu pakaian
yang dipergunakan oleh para Bangsawan dan pakaian yang dipergunakan oleh orang kebanyakan.
Berikut ini gambaran pakaian yang dikenakan oleh Kalangan Bangsawan.
Pakaian Pengantin Wanita
Hiasan Kepala :
Bagian Muka :
Keningnya dipaes (digambar) dengan langes
(arang) berwarna hitam hingga godheg yang dibentuk lekuk menyerupai bentuk lekuk telinga.
Bagian wajah hingga tubuhnya dipoles dengan
atal, agar tubuhnya berwarna kuning dan terkesan bersih dan menambah kecantikan.
Alisnya dilukis dengan arang yang
diruncingkan agar nampak seperti bulan sabit.
Bibirnya dipoles dengan sumba atau zat
pewarna makanan yang berwarna merah dengan menggunakan lidi yang telah dipipihkan.
Bagian Badan:
- Mengenakan kain panjang motif kawung, grinsing, atau sido
mukti.
- Kemben untuk penutup dada.
- Sabuk/pending sebagai pengikat perut.
- Kelat bahu pada kedua lengan.
- Gelang tangan sepasang.
- Cincin bermata berlian I buah.
Bagian Kaki: Mengenakan kelompen atau terompah sebagai alas
kaki.
Pakaian Pengantin Pria
Hiasan kepala : Blangkon khas Mojokerto.
Bagian Muka :
- Bagian alis dan kumis dilukis dengan arang.
- Bagian muka dipoles dengan atal.
Bagian Badan :
- Mengenakan kain panjang yang motifnya disesuaikan dengan
pengantin wanita.
- Sabuk pengikat kain panjang.
- Kelat bahu di kedua lengan.
Bagian Kaki : Mengenakan kelompen atau terompah sebagai alas
kaki.
Pakaian pengantin yang dikenakan oleh masyarakat
kebanyakan adalah sebagai berikut:
Pengantin Wanita
Hiasan Kepala: Mengenakan sanggul Jawa lalu ditutup dengan
kerudung panjang.
Bagian Muka:
- Wajahnya dipoles dengan atal hingga tubuh.
- Alisnya dilukiskan dengan arang agar nampak bagaikan bulan
sabit.
- Bibirnya dipoles dengan sumba berwarna merah.
- Sepasang Subang.
- Kalung.
Bagian Badan:
- Mengenakan kebaya berwarna putih atau merah.
- Kain panjang motif kawung, grinsing atau sidomukti.
- Setagen sebagai pengikat kain panjang.
- Sepasang gelang.
Bagian Kaki: Sepasang terompah atau sandal hitam dari karet
sebagai alas kaki.
Pengantin Pria:
Bagian Kepala : Menggunakan blangkon khas Mojokerto.
Bagian Muka :
- Alis dan kumis dilukis dengan arang.
- Muka dipoles dengan atal.
Bagian Badan :
- Mengenakan kemeja putih (baju taqwa).
- Celana panjang.
- Sabuk yang biasa digunakan kaum lelaki.
Bagian Kaki :Terompah atau sandal hitam dari karet sebagai
alas kaki.
Busana Pengantin Yang Sudah Dimodifikasi
Pada dewasa ini, sudah dilakukan upaya
memodifikasi pakaian pengantin tradisional Mojokerto mempunyai ciri khas yang tidak sama
dengan pakaian pengantin dari daerah lain. Pakaian dari Mojokerto ini menonjolkan beberapa
aspek kebudayaan daerah Mojokerto terutama peninggalan masa lalu yang banyak dipengaruhi
oleh kebudayaan pada masa Majapahit.
Sebelum menentukan bentuk dan gaya pakaian
khas pengantin dari daerah Mojokerto, berbagai macam rembug untuk tukar pendapat dan
mencari titik temu dilakukan baik dalam bentuk rapat, sarasehan dan sebagainya. Berbagai
pejabat-pejabat dari instansi terkait maupun ahli-ahli kecantikan serta budayawan dan
sejarawan dari daerah Mojokerto ikut dilibatkan dalam penetapan ini. Hingga akhirnya, dari
berbagai hasil pertemuan tersebut membuahkan pakaian pengantin khas daerah Mojokerto yang
sudah dikukuhkan di Pendapa Kabupaten Mojokerto dan dilaksanakan tepat pada HUT Kota
Mojokerto ke 703 pada hari Kamis malam tanggal 30 Mei 1996. Hasil modifikasi pakaian
pengantin tersebut merupakan pencerminan Tata Busana Kerajaan Majapahit. Berdasarkan data
arkeologis dapat dilihat bahwa pusat kerajaan Majapahit di sekitar daerah Mojokerto,
sehingga tata busana pengantin daerah ini sekarang juga mengacu pada pakaian adat pada
waktu masa kejayaan Majapahit dulu. Data untuk ini diambil dari beberapa patung terakota,
maupun relief-relief candi peninggalan masa Majapahit. Dengan acuan pada busana masa
Majapahit ini, diharapkan busana pengantin "Loro Pangkon" khas Mojokerto
benar-benar lain dari pada yang lain, tidak terpengaruh oleh busana pengantin dari daerah
lain. Selain berusaha untuk mempekenalkan busana khas, pemerintah daerah Mojokerto juga
berupaya untuk memasyarakatkan kain panjang yang diberi nama "Grinsing
Mojokerto". Grinsing Mojokerto adalah kain batik khas Mojokerto berupa kain
grinsing yang diisi dengan motif gapura bentar, buah mangga, itik, dan mente. Motif-motif
ini didasarkan pada hasil dan ciri khas daerah Mojokerto. Demikian pula hiasan kepala,
bentuk sanggul yang dikenakan, dinamakan "Sanggul Keling". Ide sanggul
ini didasarkan pada pengamatan data di lapangan berdasarkan patung tarakota maupun relief
candi, dari situ terlihat bahwa model sanggul para wanita pada masa Majapahit, bertumpu di
samping kanan (selintas seperti sanggul wanita Bali). Disamping data dari patung dan
relief tersebut, bentuk sanggul juga diilhami dengan bentuk sanka (kerang) yang merupakan
atribut dewa Visnu. Bentuk sankha pada masa Majapahit sangat populer sebagai lambang
kehidupan yang terus berlangsung (regenerasi). Nampaknya bentuk inilah yang dipakai
sebagai prototype sanggul pengantin wanita khas Mojokerto yang kemudian diberi nama
sanggul keling tersebut. Sedangkan untuk pengantin laki-laki rambutnya juga digelung ke
atas, sebagai gambaran tatanan rambut patih Gajah Mada.
Selain itu pakaian yang dikenakan oleh 20
orang pengiring wanita disebut Pager Ayu, juga berupa kain panjang motif Grinsing
Mojokerto yang dilengkapi dengan kebaya warna kuning dengan hiasan bordir motif candi
bentar pada bagian bawah depan kebaya mereka. Demikian pula Pager Bagus yang berjumiah 20
orang juga mengenakan pakaian taqwa (busana muslim) warna kuning serta kain panjang motif
gerinsing Mojokerto yang dikenakan dengan cara dilipat miring, sehingga hanya menutupi
bagian paha. Bagian bawah masih mengenakan celana panjang sewarna dengan bajunya. Para
Pager Bagus ini juga mengenakan ikat kepala khas Mojokerto.
Warna yang menonjol pada seluruh pakaian adat
Mojokerto ini adalah kuning dan kuning keemasan. Warna ini melambangkan keagungan dan
kemegahan untuk mengenang masa kejayaan Kerajaan Majapahit dulu.
Adapun bentuk pakaian pengantin Mojokerto (Loro Pangkon)
sebagai berikut:
A. Busana Pengantin Wanita ( Paes Mojoputri)
Hiasan Kepala:
Sanggul Keling (tata rambut model
sankha/kerang)
Rambut panjang (cemara=Jawa) diletakkan di
bawah sanggul keling, diuraikan ke bawah dililit bunga melati yang telah dirangkai.
Hiasan sanggul untaian melati motif
olan-olan (untaian melati dililit dari pangkal sanggul keling hingga ke ujung sanggul)
Kembang goyang (cundhuk mentul) sebanyak 7
buah dari bahan logam motif bunga cempaka warna kuning emas. Tangkai bunganya terdiri dari
2 bagian, bagian bawah berbentuk mirip kawat dengan ujung agak runcing untuk memudahkan
saat menancapkan di rambut. Bagian atas terbuat dari kawat kecil yang berbentuk spiral,
sehingga dapat mentul-mentul bila kepala pengantin bergerak.
Mahkotanya adalah jamang keputren yang
diukir mirip motif hiasan pada masa kerajaan Majapahit, mengikuti jaman yang dulu
dikenakan Ratu Kenconowungu.
Sumping kundhup permata atau hiasan atas
telinga terbuat dari logam warna kuning keemasan, yang menarik cara pemakaian sumping ini
menghadap kebelakang (pada umumnya sumping yang dipakai oleh pengantin Jawa tidak seperti
ini).
Giwang ronyok (permata), yaitu hiasan
telinga bisa emas asli atau imitasi.
Kalung permata bermotif kebon raja (kalung
yang terdiri dari untaian permata yang berbentuk bunga tanjung).
Rangkaian bunga melati dan bunga kantil
untuk hiasan rambut yang terurai ke depan dada bagian kanan dan kiri.
Kalung yang terbuat dari untaian bunga
melati yang panjang dikenakan hingga sebatas perut.
Hiasan Tangan:
Hiasan Bagian Badan
Destar warna kuning (pakaian bagian dalam
sebelum mengenakan baju kebaya)
Baju Surya Majapahit warna hitam dari
beludru yang dihiasi sulaman benang emas motif Surya Majapahit.
Sabuk atau pending yang terbuat dari kain
beludru hitam dengan hiasan sulaman gim emas. Sabuk ini selain sebagai hiasan juga
berfungsi sebagai pengikat destar, dodot, kain panjang serta ilat-ilatan.
Hiasan Pinggul
Kain panjang batik tulis prada motif
Grinsing Mojokerto, yang dikenakan dibagian paling bawah (paling dalam).
Kain dodot (biasanya berwarna hijau dengan
motif prada berupa candi bentar) dikenakan sesudah kain Grinsing. Kain ini dikenakan hanya
sebatas bawah lutut.
Ilat-ilatan (bara - bara samir) sepasang
berwarna hitam yang terbuat dari kain beludru bersulamkan benang emas. Ada pula yang
dihiasi dengan 9 buah permata. Dipakai di sebelah kanan dan kiri di atas kain dodot.
Randi (sampur warna kuning emas atau hijau)
dikenakan sebelum ilat-ilatan, dengan kedua ujungnya menjuntai ke kanan kiri bawah.
Bagian kaki
B. Busana Pengantin Pria (Surya Majapahit)
Hiasan Kepala
Sanggul keling ( tata rambut mode I Maha
Patih Gajah Mada)
Mahkota dilengkapi dengan jamang Kasatriyan
berhias motif geomatris yang terbuat dari bahan swasa warna kuning emas pada bagian
tengahnya dihiasi dengan batu permata warna hijau.
Sumping kudhup bertahtakan berlian atau
permata yang dikenakan hingga di bawah telinga hingga selintas mirip anting-anting.
Kalung permata.
Kalung yang terbuat dari untaian bunga
melati hingga sebatas pinggang.
Hiasan Tangan
Hiasan Bagian Badan
- Destar warna kuning podang (untuk baju dalam).
Baju Kasatriyan warna hitam dari beludru
bersulamkan benang emas motif Surya Majapait.
Sabuk atau pending warna hitam bersulamkan
benang emas, bahan beludru. Fungsinya destar, kain dodot, sampur, ilat-ilatan, kain
panjang motif grinsing serta keris.
Kalung dengan liontin berbentuk bulan
sabit, motifsulur-suluran yang bersusun tiga.
Keris yang dihiasi untaian bunga melati
anggrek, dan kantil, untaian bunga ini diikatkan pada ujung pegangan keris. Keris ini
disematkan di depan perut sisi kanan. Makna dari penempatan keris depan ini adalah apabila
sewaktu waktu ada musuh pengantin pria ini sudah siap siaga menghadapi.
Hiasan Bagian Pinggul
- Celana panjang batik tulis prada motif grinsing Mojokerto.
Kain dodot warna hijau prada dihiasi motif
candi bentar. Dikenakan sesudah celana panjang, kain ini dikenakan hanya sebatas bawah
lutut.
Ilat-ilatan/bara-bara samir sepasang,
berwarna hitam dari kain beludru dihiasi dengan benang emas. Kadang-kadang dihiasi pula
dengan 9 permata. Dikenakan di sebelah kanan dan kiri.
Randi ( sampur warna kuning emas dan hijau
) dipakai di belakang ilat-ilatan seperti layaknya penari mengenakan sampur.
Hiasan Bagian Kaki
- Alas kaki, beerupa selop warna hitam berhiaskan benang emas.
Pada masa kemudian busana pengantin dari
Mojokerto ini sudah tidak dibedakan lagi menjadi dua, yang busana yang dikenakan oleh kaum
bangsawan dan rakyat kebanyakan sama. Bahkan kemudian dengan masuknya busana model Eropa (
rok panjang ), busana khas Mojokerto yang asli semakin tersingkir. Sehingga semakin sulit
untuk rnencari kebenaran dari busana asli khas Mojokerto.
Tata rias Pengantin Tradisional Mojokerto
Masalah yang tidak dapat dihindarkan dari pengaruh modernisasi di segala bidang adalah
tata rias wajah, terutama dalam teknologi pembuatan make up. Alat-alat make-up jaman
sekarang sudah sangat modern dan bervariasi, baik dalam bentuk, warna maupun kemasan.
Untuk memanfaatkan alat make up seseorang hanya tinggal memilih yang disenangi, sebab
variasi harganyapun sangat variatif. Dari yang paling baik dengan harga mahal hingga yang
paling sederhana dengan harga mahal hingga yang relatif murah. Penggunaan alat-alat make
up tradisional semakin tergeser, sebab selain cara pemanfaatannya lebih sulit, bahan yang
dibutuhkan kadang-kadang juga tidak mudah didapat. Selain itu make up yang diolah dengan
cara sederhana ini mudah luntur, dan dianggap tidak praktis lagi.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, pada
awalnya make up yang dipergunakan untuk merias pengantin pada masa lalu masih sangat
sederhana sebagai contoh:
Atal : dipergunakan sebagi bedak, terbuat
dari beras dan kunyit yang dihaluskan kemudian dilumatkan dengan air. Kemudian digunakan
sebagai lulur yang dioleskan ke seluruh tubuh terutama pengantin wanita.
Pacar: Sejenis tumbuhan yang daunnya
kecil-kecil bila ditumbuk dan dicampur gamping, gambir dan semut hitam dipergunakan untuk
mewarnai kuku tangan dan kaki bahkan terkadang dioleskan juga pada bagian pinggir kaki.
Menurut adat yang berlaku pada masa lalu,
biasanya beberapa hari sebelum acara temu, calon pengantin wanita tidak diprebolehkan
keluar rumah atau dipingit ( Jawa ). Tujuannya agar kesehatan dan keselamatan calon
pengantin wanita terjaga. Dalam masa-masa dipingit, calon pengantin wanita biasanya
merawat diri, dengan memoleskan lulur yang terbuat dari atal pada seluruh badannya
sehingga pada hari "H" nya nanti badannya akan nampak kuning dan bersinar.
Semakin lama dan teratur menggunakan lulur hasilnya juga akan semakin baik.Selain lulur,
calon pengantin juga diharuskan memoleskan daun pacar jauh hari sebelum hari
"H", sehingga nantinya ketika duduk di pelaminan kukunya akan nampak cemerlang
dengan warna merah yang alami. Kebiasaan ini bahkan masih banyak dilakukan oleh calon
pengantin masa kini.
Selain itu pada umumnya calon pengantin pria
maupun wanita juga diharuskan melalui upacara " mengasap gigi " atau pangur (
Jawa ). Tujuannya agar gigi tampak rata, rapi dan bersih apalagi ketika tersenyum. Namun
kebiasaan pangur ini sekarang nampaknya sudah tidak diminati lagi, karena selain sudah
tidak menjadi mode, juga terbukti bahwa pangur gigi menyebabkan kerusakan gigi.
Selain perawatan pra pernikahan, calon
pengantin perempuan juga mengalami berbagai pementasan, seperti misalnya pemotongan rambut
disekitar dahi/kening/sinom, sehingga bagian keningnya benar-benar halus dan rapi bila
dipasangi jamang. Demikian juga rambut-rambut lembut di sekitar telinga ( godeg=Jawa)
harus dihilangkan, supaya nantinya akan menghasilkan bentuk sempurna setelah dipasangi
sumping. Pada umumnya pemotongan rambut di kening dan di sekitar telinga ini akan tetap
nampak hingga satu bulan kemudian.
Disaat temu pengantin, tentu saja kedua
mempelai dirias walau dengan peralatan dan make up yang sangat sederhana. Karena hari itu
adalah hari istimewa bagi mempelai berdua. Make up yang digunakan oleh pengantin wanita
antara lain:
Alis dipertebal dan dibentuk kembali,
biasanya model yang disukai pada waktu itu adalah bentuk seperti bulan sabit. Mempertebal
alis ini dengan menggunakan arang ( sebatang kayu yang dihanguskan ujungnya)
Bibir dipoles dengan sumba (pewarna
makanan) yang berwarna merah dengan menggunakan lidi yang sudah dipipihkan (dianggap
sebagai kwasnya).
Bagian wajan sudah hingga seluruh badan,
terutama bagian - bagian yang kelihatan seperti tangan dan kaki, dilumuri dengan atal
supaya nampak lebih bersih dan cemerlang (Jawa-manglingi)
Seluruh kuku tangan dan kaki diberi ramuan
daun pacar, supaya berwarna kemerahan.
Sedangkan untuk pengantin pria juga diberi
sedikit make up, terutama pada bagian: - Alis, biasanya disempurnakan bentuknya dengan
arang - Kumis, biasanya juga diempurnakan dengan membuat gambaran dari arang - Bibir juga
demikian, ditambah tipis-tipis dengan pewarna makanan. Pada masa kemudian penggunaan make
up baik untuk pengantin wanita maupun pengantin pria sudah menggunakan make up yang
modern, karena selain lebih praktis juga lebih mudah menggunakannya. Hanya tetap ada
beberapa ramuan tertentu yang tidak dapat diganti, misalnya atal hingga sekarang masih
banyak diminati hanya ditambah beberapa ramuan tertentu yang menimbulkan aroma harum dan
segar. Kalau sekarang sepasang pengantin duduk dikursi yang khusus disediakan untuk
pengantin (kwade), pada masa itu pengantin hanya duduk di kursi sederhana.
|
|
|
|