map_ejv.GIF (7964 bytes)

ON EAST JAVA

ART and CULTURE

BAB III. KELENGKAPAN BUSANA PENGANTIN
LORO PANGKON DI MOJOKERTO

Kelengkapan Busana Pengantin Loro Pangkon di Mojokerto

Pakaian adat pengantin daerah Mojokerto, bisa dibedakan menjadi dua: pertama busana yang masih asli dan kedua busana yang sudah dimodifikasi. Khusus untuk busana yang kedua ini bahkan sudah diakui oleh Gubenur Jawa Timur sebagai pakaian khas pengantin Mojokerto. Upaya melestarikan pakaian pengantin tradisional dari masyarakat Mojokerto dilakukan dengan mengarahkan pada modifikasi, yakni merubah beberapa bagian untuk menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Upaya ini ternyata mendapat tanggapan positif berbagai kalangan baik dari pemerintah daerah setempat maupun masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu tidak mengherankan dalam waktu relatif singkat, pakaian tradisional modifikasi dari Mojokerto cukup terkenal.

Menurut informasi dari beberapa nara sumber yang berhasil dihubungi, diperoleh suatu gambaran bahwa upaya memodifikasi pakaian adat pengantin tradisional masyarakat Mojokerto tersebut dilakukan setelah sebagian masyarakat Mojokerto mulai meninggalkan pakaian tradisional dan mengganti dengan pakaian pengantin gaya Yogyakarta atau Surakarta bahkan ada beberapa yang memilih pakaian Eropa, sehingga dikhawatirkan apabila tidak segera disesuaikan dengan perkembangan jaman, maka pakaian khas adat Mojokerto ini akan hilang sama sekali. Walaupun begitu untuk melacak pakaian adat yang asli sangat sulit, kendala yang ditemui antara lain, pakaiannya sangat sederhana, selain itu kebanyakan yang memiliki pakaian tersebut hanya seorang patah (juru rias pengantin), bahkan menurut beberapa orang patah (juru rias pengantin), bahkan menurut beberapa informasi, pakaian yang benar-benar asli ditampilkan terakhir sudah sekitar tahun 1950 an yang lalu, setelah itu pakaian ini berangsur-angsur menghilang. Kecenderungan dan perkembangan selera masyarakat sangat berpengaruh terhadap jenis pakaian pengantin yang dipilih, karena sebagian besar masyarakat memilih pakaian pengantin dari daerah Jawa Tengah dan Yogjakarta bahkan Eropa maka para perias pcngantin di daerah Mojokerto lebih banyak menyowakan pakaian adat pcngantin daerah-daerah tersebut. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini akan diuraikan pakaian pengantin asli Mojokerto dan pakaian pengantin Mojokeno yang sudah dimodifikasi.

Busana Pengantin Asli Mojokerto

Sebagaimana diketahui bahwa untuk melakukan survai pakaian pengantin harus dilakukan pada bulan-bulan tertentu, dimana pada waktu itu banyak dilakukan upacara perkawinan. Namun karena waktu yang mendesak maka survai terpaksa dilakukan tanpa menyesuaikan dengan bulan-bulan tersebut, bahkan walaupun ada beberapa yang melaksanakan hajat perkawinan pakaian yang dipilihpun bukan pakaian asli melainkan pakaian yang dimodifikasi.

Pelacakan lebih lanjut dtujukan kepada patah (juru rias pengantin) di desa Watesnegoro, Kec. Ngoro, yaitu Mbah Tun. Mbah Tun adalah mantan perias yang termasuk angkatan tua mulai merias pengantin sekitar tahun 1970 an, dan sekarang sudah berusia sekitar 70 tahun. Menurut cerita Mbah Tun, pada sekitar pertengahan tahun 1960 banyak calon pengantin yang menolak mengenakan pakaian asli daerah Mojokerto, karena dianggap sudah kuno atau ketinggalan jaman.

Ada bcberapa hal yang masih diingat beliau mengenai pakaian adat pengantin Mojokerto asli, ada dua (2) jenis pakaian yaitu pakaian yang dipergunakan oleh para Bangsawan dan pakaian yang dipergunakan oleh orang kebanyakan. Berikut ini gambaran pakaian yang dikenakan oleh Kalangan Bangsawan.

Pakaian Pengantin Wanita

Hiasan Kepala :

  • Sanggul Jawa vang dipenuhi dengan kembang goyang (cunduk mentul) yang terbuat dari kertas.

  • Jamang sebagai penutup kepala.
  • Sepasang subang emas.
  • Kalung emas.

Bagian Muka :

  • Keningnya dipaes (digambar) dengan langes (arang) berwarna hitam hingga godheg yang dibentuk lekuk menyerupai bentuk lekuk telinga.

  • Bagian wajah hingga tubuhnya dipoles dengan atal, agar tubuhnya berwarna kuning dan terkesan bersih dan menambah kecantikan.

  • Alisnya dilukis dengan arang yang diruncingkan agar nampak seperti bulan sabit.

  • Bibirnya dipoles dengan sumba atau zat pewarna makanan yang berwarna merah dengan menggunakan lidi yang telah dipipihkan.

Bagian Badan:

  • Mengenakan kain panjang motif kawung, grinsing, atau sido mukti.
  • Kemben untuk penutup dada.
  • Sabuk/pending sebagai pengikat perut.
  • Kelat bahu pada kedua lengan.
  • Gelang tangan sepasang.
  • Cincin bermata berlian I buah.

Bagian Kaki: Mengenakan kelompen atau terompah sebagai alas kaki.

Pakaian Pengantin Pria

Hiasan kepala : Blangkon khas Mojokerto.
Bagian Muka :

  • Bagian alis dan kumis dilukis dengan arang.
  • Bagian muka dipoles dengan atal.

Bagian Badan :

  • Mengenakan kain panjang yang motifnya disesuaikan dengan pengantin wanita.
  • Sabuk pengikat kain panjang.
  • Kelat bahu di kedua lengan.

Bagian Kaki : Mengenakan kelompen atau terompah sebagai alas kaki.

Pakaian pengantin yang dikenakan oleh masyarakat kebanyakan adalah sebagai berikut:

Pengantin Wanita

Hiasan Kepala: Mengenakan sanggul Jawa lalu ditutup dengan kerudung panjang.

Bagian Muka:

  • Wajahnya dipoles dengan atal hingga tubuh.
  • Alisnya dilukiskan dengan arang agar nampak bagaikan bulan sabit.
  • Bibirnya dipoles dengan sumba berwarna merah.
  • Sepasang Subang.
  • Kalung.

Bagian Badan:

  • Mengenakan kebaya berwarna putih atau merah.
  • Kain panjang motif kawung, grinsing atau sidomukti.
  • Setagen sebagai pengikat kain panjang.
  • Sepasang gelang.

Bagian Kaki: Sepasang terompah atau sandal hitam dari karet sebagai alas kaki.

Pengantin Pria:

Bagian Kepala : Menggunakan blangkon khas Mojokerto.

Bagian Muka :

  • Alis dan kumis dilukis dengan arang.
  • Muka dipoles dengan atal.

Bagian Badan :

  • Mengenakan kemeja putih (baju taqwa).
  • Celana panjang.
  • Sabuk yang biasa digunakan kaum lelaki.

Bagian Kaki :Terompah atau sandal hitam dari karet sebagai alas kaki.

Busana Pengantin Yang Sudah Dimodifikasi

Pada dewasa ini, sudah dilakukan upaya memodifikasi pakaian pengantin tradisional Mojokerto mempunyai ciri khas yang tidak sama dengan pakaian pengantin dari daerah lain. Pakaian dari Mojokerto ini menonjolkan beberapa aspek kebudayaan daerah Mojokerto terutama peninggalan masa lalu yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan pada masa Majapahit.

Sebelum menentukan bentuk dan gaya pakaian khas pengantin dari daerah Mojokerto, berbagai macam rembug untuk tukar pendapat dan mencari titik temu dilakukan baik dalam bentuk rapat, sarasehan dan sebagainya. Berbagai pejabat-pejabat dari instansi terkait maupun ahli-ahli kecantikan serta budayawan dan sejarawan dari daerah Mojokerto ikut dilibatkan dalam penetapan ini. Hingga akhirnya, dari berbagai hasil pertemuan tersebut membuahkan pakaian pengantin khas daerah Mojokerto yang sudah dikukuhkan di Pendapa Kabupaten Mojokerto dan dilaksanakan tepat pada HUT Kota Mojokerto ke 703 pada hari Kamis malam tanggal 30 Mei 1996. Hasil modifikasi pakaian pengantin tersebut merupakan pencerminan Tata Busana Kerajaan Majapahit. Berdasarkan data arkeologis dapat dilihat bahwa pusat kerajaan Majapahit di sekitar daerah Mojokerto, sehingga tata busana pengantin daerah ini sekarang juga mengacu pada pakaian adat pada waktu masa kejayaan Majapahit dulu. Data untuk ini diambil dari beberapa patung terakota, maupun relief-relief candi peninggalan masa Majapahit. Dengan acuan pada busana masa Majapahit ini, diharapkan busana pengantin "Loro Pangkon" khas Mojokerto benar-benar lain dari pada yang lain, tidak terpengaruh oleh busana pengantin dari daerah lain. Selain berusaha untuk mempekenalkan busana khas, pemerintah daerah Mojokerto juga berupaya untuk memasyarakatkan kain panjang yang diberi nama "Grinsing Mojokerto". Grinsing Mojokerto adalah kain batik khas Mojokerto berupa kain grinsing yang diisi dengan motif gapura bentar, buah mangga, itik, dan mente. Motif-motif ini didasarkan pada hasil dan ciri khas daerah Mojokerto. Demikian pula hiasan kepala, bentuk sanggul yang dikenakan, dinamakan "Sanggul Keling". Ide sanggul ini didasarkan pada pengamatan data di lapangan berdasarkan patung tarakota maupun relief candi, dari situ terlihat bahwa model sanggul para wanita pada masa Majapahit, bertumpu di samping kanan (selintas seperti sanggul wanita Bali). Disamping data dari patung dan relief tersebut, bentuk sanggul juga diilhami dengan bentuk sanka (kerang) yang merupakan atribut dewa Visnu. Bentuk sankha pada masa Majapahit sangat populer sebagai lambang kehidupan yang terus berlangsung (regenerasi). Nampaknya bentuk inilah yang dipakai sebagai prototype sanggul pengantin wanita khas Mojokerto yang kemudian diberi nama sanggul keling tersebut. Sedangkan untuk pengantin laki-laki rambutnya juga digelung ke atas, sebagai gambaran tatanan rambut patih Gajah Mada.

Selain itu pakaian yang dikenakan oleh 20 orang pengiring wanita disebut Pager Ayu, juga berupa kain panjang motif Grinsing Mojokerto yang dilengkapi dengan kebaya warna kuning dengan hiasan bordir motif candi bentar pada bagian bawah depan kebaya mereka. Demikian pula Pager Bagus yang berjumiah 20 orang juga mengenakan pakaian taqwa (busana muslim) warna kuning serta kain panjang motif gerinsing Mojokerto yang dikenakan dengan cara dilipat miring, sehingga hanya menutupi bagian paha. Bagian bawah masih mengenakan celana panjang sewarna dengan bajunya. Para Pager Bagus ini juga mengenakan ikat kepala khas Mojokerto.

Warna yang menonjol pada seluruh pakaian adat Mojokerto ini adalah kuning dan kuning keemasan. Warna ini melambangkan keagungan dan kemegahan untuk mengenang masa kejayaan Kerajaan Majapahit dulu.

Adapun bentuk pakaian pengantin Mojokerto (Loro Pangkon) sebagai berikut:

A. Busana Pengantin Wanita ( Paes Mojoputri)

Hiasan Kepala:

  • Sanggul Keling (tata rambut model sankha/kerang)

  • Rambut panjang (cemara=Jawa) diletakkan di bawah sanggul keling, diuraikan ke bawah dililit bunga melati yang telah dirangkai.

  • Hiasan sanggul untaian melati motif olan-olan (untaian melati dililit dari pangkal sanggul keling hingga ke ujung sanggul)

  • Kembang goyang (cundhuk mentul) sebanyak 7 buah dari bahan logam motif bunga cempaka warna kuning emas. Tangkai bunganya terdiri dari 2 bagian, bagian bawah berbentuk mirip kawat dengan ujung agak runcing untuk memudahkan saat menancapkan di rambut. Bagian atas terbuat dari kawat kecil yang berbentuk spiral, sehingga dapat mentul-mentul bila kepala pengantin bergerak.

  • Mahkotanya adalah jamang keputren yang diukir mirip motif hiasan pada masa kerajaan Majapahit, mengikuti jaman yang dulu dikenakan Ratu Kenconowungu.

  • Sumping kundhup permata atau hiasan atas telinga terbuat dari logam warna kuning keemasan, yang menarik cara pemakaian sumping ini menghadap kebelakang (pada umumnya sumping yang dipakai oleh pengantin Jawa tidak seperti ini).

  • Giwang ronyok (permata), yaitu hiasan telinga bisa emas asli atau imitasi.

  • Kalung permata bermotif kebon raja (kalung yang terdiri dari untaian permata yang berbentuk bunga tanjung).

  • Rangkaian bunga melati dan bunga kantil untuk hiasan rambut yang terurai ke depan dada bagian kanan dan kiri.

  • Kalung yang terbuat dari untaian bunga melati yang panjang dikenakan hingga sebatas perut.

Hiasan Tangan:

  • Gelang tangan yang terbuat dari emas permata (bisa juga imitasi)

  • Cincin permata bisa emas asli atau imitasi

Hiasan Bagian Badan

  • Destar warna kuning (pakaian bagian dalam sebelum mengenakan baju kebaya)

  • Baju Surya Majapahit warna hitam dari beludru yang dihiasi sulaman benang emas motif Surya Majapahit.

  • Sabuk atau pending yang terbuat dari kain beludru hitam dengan hiasan sulaman gim emas. Sabuk ini selain sebagai hiasan juga berfungsi sebagai pengikat destar, dodot, kain panjang serta ilat-ilatan.

Hiasan Pinggul

  • Kain panjang batik tulis prada motif Grinsing Mojokerto, yang dikenakan dibagian paling bawah (paling dalam).

  • Kain dodot (biasanya berwarna hijau dengan motif prada berupa candi bentar) dikenakan sesudah kain Grinsing. Kain ini dikenakan hanya sebatas bawah lutut.

  • Ilat-ilatan (bara - bara samir) sepasang berwarna hitam yang terbuat dari kain beludru bersulamkan benang emas. Ada pula yang dihiasi dengan 9 buah permata. Dipakai di sebelah kanan dan kiri di atas kain dodot.

  • Randi (sampur warna kuning emas atau hijau) dikenakan sebelum ilat-ilatan, dengan kedua ujungnya menjuntai ke kanan kiri bawah.

Bagian kaki

  • Alas kaki berupa selop warna hitam bersulam benang emas

B. Busana Pengantin Pria (Surya Majapahit)

Hiasan Kepala

  • Sanggul keling ( tata rambut mode I Maha Patih Gajah Mada)

  • Mahkota dilengkapi dengan jamang Kasatriyan berhias motif geomatris yang terbuat dari bahan swasa warna kuning emas pada bagian tengahnya dihiasi dengan batu permata warna hijau.

  • Sumping kudhup bertahtakan berlian atau permata yang dikenakan hingga di bawah telinga hingga selintas mirip anting-anting.

  • Kalung permata.

  • Kalung yang terbuat dari untaian bunga melati hingga sebatas pinggang.

Hiasan Tangan

  • Sepasang gelang kana (tangan) bisa terbuat dari emas asli atau imitasi (modelnya seperti sigar kangkung)

  • Cincin permata.

Hiasan Bagian Badan

  • Destar warna kuning podang (untuk baju dalam).
  • Baju Kasatriyan warna hitam dari beludru bersulamkan benang emas motif Surya Majapait.

  • Sabuk atau pending warna hitam bersulamkan benang emas, bahan beludru. Fungsinya destar, kain dodot, sampur, ilat-ilatan, kain panjang motif grinsing serta keris.

  • Kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit, motifsulur-suluran yang bersusun tiga.

  • Keris yang dihiasi untaian bunga melati anggrek, dan kantil, untaian bunga ini diikatkan pada ujung pegangan keris. Keris ini disematkan di depan perut sisi kanan. Makna dari penempatan keris depan ini adalah apabila sewaktu waktu ada musuh pengantin pria ini sudah siap siaga menghadapi.

Hiasan Bagian Pinggul

  • Celana panjang batik tulis prada motif grinsing Mojokerto.
  • Kain dodot warna hijau prada dihiasi motif candi bentar. Dikenakan sesudah celana panjang, kain ini dikenakan hanya sebatas bawah lutut.

  • Ilat-ilatan/bara-bara samir sepasang, berwarna hitam dari kain beludru dihiasi dengan benang emas. Kadang-kadang dihiasi pula dengan 9 permata. Dikenakan di sebelah kanan dan kiri.

  • Randi ( sampur warna kuning emas dan hijau ) dipakai di belakang ilat-ilatan seperti layaknya penari mengenakan sampur.

Hiasan Bagian Kaki

  • Alas kaki, beerupa selop warna hitam berhiaskan benang emas.

Pada masa kemudian busana pengantin dari Mojokerto ini sudah tidak dibedakan lagi menjadi dua, yang busana yang dikenakan oleh kaum bangsawan dan rakyat kebanyakan sama. Bahkan kemudian dengan masuknya busana model Eropa ( rok panjang ), busana khas Mojokerto yang asli semakin tersingkir. Sehingga semakin sulit untuk rnencari kebenaran dari busana asli khas Mojokerto.

Tata rias Pengantin Tradisional Mojokerto Masalah yang tidak dapat dihindarkan dari pengaruh modernisasi di segala bidang adalah tata rias wajah, terutama dalam teknologi pembuatan make up. Alat-alat make-up jaman sekarang sudah sangat modern dan bervariasi, baik dalam bentuk, warna maupun kemasan. Untuk memanfaatkan alat make up seseorang hanya tinggal memilih yang disenangi, sebab variasi harganyapun sangat variatif. Dari yang paling baik dengan harga mahal hingga yang paling sederhana dengan harga mahal hingga yang relatif murah. Penggunaan alat-alat make up tradisional semakin tergeser, sebab selain cara pemanfaatannya lebih sulit, bahan yang dibutuhkan kadang-kadang juga tidak mudah didapat. Selain itu make up yang diolah dengan cara sederhana ini mudah luntur, dan dianggap tidak praktis lagi.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, pada awalnya make up yang dipergunakan untuk merias pengantin pada masa lalu masih sangat sederhana sebagai contoh:

  • Atal : dipergunakan sebagi bedak, terbuat dari beras dan kunyit yang dihaluskan kemudian dilumatkan dengan air. Kemudian digunakan sebagai lulur yang dioleskan ke seluruh tubuh terutama pengantin wanita.

  • Pacar: Sejenis tumbuhan yang daunnya kecil-kecil bila ditumbuk dan dicampur gamping, gambir dan semut hitam dipergunakan untuk mewarnai kuku tangan dan kaki bahkan terkadang dioleskan juga pada bagian pinggir kaki.

Menurut adat yang berlaku pada masa lalu, biasanya beberapa hari sebelum acara temu, calon pengantin wanita tidak diprebolehkan keluar rumah atau dipingit ( Jawa ). Tujuannya agar kesehatan dan keselamatan calon pengantin wanita terjaga. Dalam masa-masa dipingit, calon pengantin wanita biasanya merawat diri, dengan memoleskan lulur yang terbuat dari atal pada seluruh badannya sehingga pada hari "H" nya nanti badannya akan nampak kuning dan bersinar. Semakin lama dan teratur menggunakan lulur hasilnya juga akan semakin baik.Selain lulur, calon pengantin juga diharuskan memoleskan daun pacar jauh hari sebelum hari "H", sehingga nantinya ketika duduk di pelaminan kukunya akan nampak cemerlang dengan warna merah yang alami. Kebiasaan ini bahkan masih banyak dilakukan oleh calon pengantin masa kini.

Selain itu pada umumnya calon pengantin pria maupun wanita juga diharuskan melalui upacara " mengasap gigi " atau pangur ( Jawa ). Tujuannya agar gigi tampak rata, rapi dan bersih apalagi ketika tersenyum. Namun kebiasaan pangur ini sekarang nampaknya sudah tidak diminati lagi, karena selain sudah tidak menjadi mode, juga terbukti bahwa pangur gigi menyebabkan kerusakan gigi.

Selain perawatan pra pernikahan, calon pengantin perempuan juga mengalami berbagai pementasan, seperti misalnya pemotongan rambut disekitar dahi/kening/sinom, sehingga bagian keningnya benar-benar halus dan rapi bila dipasangi jamang. Demikian juga rambut-rambut lembut di sekitar telinga ( godeg=Jawa) harus dihilangkan, supaya nantinya akan menghasilkan bentuk sempurna setelah dipasangi sumping. Pada umumnya pemotongan rambut di kening dan di sekitar telinga ini akan tetap nampak hingga satu bulan kemudian.

Disaat temu pengantin, tentu saja kedua mempelai dirias walau dengan peralatan dan make up yang sangat sederhana. Karena hari itu adalah hari istimewa bagi mempelai berdua. Make up yang digunakan oleh pengantin wanita antara lain:

  • Alis dipertebal dan dibentuk kembali, biasanya model yang disukai pada waktu itu adalah bentuk seperti bulan sabit. Mempertebal alis ini dengan menggunakan arang ( sebatang kayu yang dihanguskan ujungnya)

  • Bibir dipoles dengan sumba (pewarna makanan) yang berwarna merah dengan menggunakan lidi yang sudah dipipihkan (dianggap sebagai kwasnya).

  • Bagian wajan sudah hingga seluruh badan, terutama bagian - bagian yang kelihatan seperti tangan dan kaki, dilumuri dengan atal supaya nampak lebih bersih dan cemerlang (Jawa-manglingi)

  • Seluruh kuku tangan dan kaki diberi ramuan daun pacar, supaya berwarna kemerahan.

Sedangkan untuk pengantin pria juga diberi sedikit make up, terutama pada bagian: - Alis, biasanya disempurnakan bentuknya dengan arang - Kumis, biasanya juga diempurnakan dengan membuat gambaran dari arang - Bibir juga demikian, ditambah tipis-tipis dengan pewarna makanan. Pada masa kemudian penggunaan make up baik untuk pengantin wanita maupun pengantin pria sudah menggunakan make up yang modern, karena selain lebih praktis juga lebih mudah menggunakannya. Hanya tetap ada beberapa ramuan tertentu yang tidak dapat diganti, misalnya atal hingga sekarang masih banyak diminati hanya ditambah beberapa ramuan tertentu yang menimbulkan aroma harum dan segar. Kalau sekarang sepasang pengantin duduk dikursi yang khusus disediakan untuk pengantin (kwade), pada masa itu pengantin hanya duduk di kursi sederhana.

Further information will be provided as soon as possible.
Any comments can be directed to webmaster@petra.ac.id

top.gif (1945 bytes)