BAB II.
IDENTIFIKASI DAERAH
Identifikasi Daerah :
Letak
Letak astronomi, desa Watesnegoro berada di kecamatan Ngoro yang terletak pada garis
lintang 112° . 35" BT dan sekitar 7° 48" LS. Letak admisnistrasinya merupakan
bagian dari wilayah kecamatan Ngoro, kabupaten Mojokerto. Secara geografis/geologis desa
Wates-Negoro, merupakan daerah dataran rendah yang masih termasuk daerah aliran sungai
Brantas. Disebelah tenggara berbatasan dengan desa Kunjarawesi yang terletak pada Gunung
Pananggungan .
Iklim
Mengingat letak astronomis dan letak geografisnya, maka desa Watesnegoro sebagaimana
daerah kabupaten lainnya termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi angin laut. Suhu
rata-rata berkisar antara 21" C sampai 33" C dengan suhu rata-rata tahunan
27" C. Berdasar data dari Dinas Pertanian Rakyat Jawa Timur untuk daerah Mojokerto
dan sekitarnya pada dekade terakhir ini mendapatkan curah hujan tahunan rata-rata 1937 mm.
Hari hujan rata-rata 103,67 hari. Bulan basah terjadi pada Januari dan Februari. Sedangkan
bulan terkering terjadi pada bulan Agustus dan September sebesar 52,33 mm. Keadaan iklim
yang demikian sangat cocok untuk pertanian persawahan.
Jenis Tanah dan Batuan
Daerah kecamatan Ngoro sebagaimana halnya daerah dataran rendah dari lembah sungai Brantas
mengandung batuan yang terdiri dari era Kwarter tua. Batuan ini terjadi pada era kwarter
dan biasa terjadi pada lembah-lembah synklinal dan merupakan produk periode Glasial.
Batuan ini merupakan batuan induk yang diatasnya ditutupi oleh endapan vulkanik berupa
kerikil dan pasir, tanahnya termasuk tipe tanah Organosal. Tanah tipe ini tidak begitu
baik untuk usaha pertanian. Kemampuan tanah untuk menyimpan air dari permukaan tanah baik.
Karena itu sumur-sumur yang letaknya datar bagian bawah mempunyai sumber yang besar.
Tetapi untuk daerah yang mempunyai letak dilereng-lereng bukit sumber air sulit didapat.
Kesulitan air sangat terasa pada musim-musim kemarau yaitu di bulan-bulan Agustus,
September, Oktober. Pemukiman penduduk yang menempati lereng-lereng bukit terpaksa mencari
air agak jauh ke arah bawah.
Penduduk
Penduduk desa Wates Negara termasuk etnis Jawa, ada beberapa dusun yang didiami oleh
orang-orang Madura. Orang-orang Madura ini merupakan pendatang (migran) dari pulau Madura
pada jaman pembukaan perkebunan tebu (sekitar tahun 1920), bahkan jauh sebelumnya sudah
ada migrasi dari Madura tetapi dalam jumlah yang kecil. Mengalirnya migrasi dari Madura ke
daerah Ngoro disebabkan adanya pembukaan pabrik gula dan perkebunan tebu, mereka merupakan
pekerja yang ulet dan dapat digaji murah. Tetapi setelah perkebunan-perkebunan tersebut
rusak karena Perang Dunia II maka orang-orang Madura ini menetap sebagai petani. Mereka
bermukim di daerah pertanian pinggiran yang seringkali tanahnya sulit air. Sedangkan
orang-orang Jawa menetap di daerah Ngoro sudah ratusan tahun, yang sudah sulit untuk
ditelusuri dari mana asal usulnya. Namun apabila dilihat dari aksen bahasa, ada
kemungkinan orang Jawa tersebut merupakan campuran dari Jawa dan Madura. Bahasa yang
digunakan dalam percakapan sehari-hari merupakan bahasa Jawa Timuran dengan dialek
Mojokerto-Sidoarjo.
Pola Pemukiman
Apabila dilihat dari letak rumah pemukiman dengan memperhatikan posisi letak jalan, baik
jalan raya maupun jalan kampung, maka bisa dilihat bahwa kebanyakan letak rumah tersebut
berderet sepanjang kiri kanan jalan. Pola pemukiman yang seperti ini disebut pemukimam
linier. Pola pemukiman linier merupakan pola pemukiman masyarakat yang berasal dari
para pendatang.
Mereka menempati rumah-rumah berderet untuk memudahkan komunikasi antara satu dengan yang
lainnya. Salah satu kelebihan dari pola pemukiman linier adalah kemudahan untuk
berkomunikasi, selain itu pemukiman yang berpola demikian akan mudah mengalami kemajuan.
Karena pola letaknya (setlement) memungkinkan untuk cepatnya arus informasi.
Keberadaan pusat-pusat kegiatan ekonomi seperti pasar, toko dan terminal lebih mudah
berkembang sebab mudah terjangkau. Namun kelemahannya dari aspek keamanan, karena pola
pemukiman seperti ini bersifat terbuka. Dari segala jurusan bisa dicapai, sehingga apabila
ada tindak kejahatan dari luar, pelakunya akan bisa cepat melarikan diri dan sulit untuk
diatasi. Untuk mencegah hal tersebut diatas biasanya pada ujung jalan, diberi gang atau
pada perempatan jalan didirikan pos-pos penjagaan. Pos penjagaan tersebut dilengkapi
dengan kenthongan sebagai alat komunikasi.
Mata pencaharian
Watesnegoro merupakan desa pertanian, hampir 90 % penduduknya hidup dari mengolah lahan
pertanian. Lahan pertanian yang berupa sawah merupakan sawah teknis dapat ditanami pada
sepanJang tahun. Pada musim penghujan air sawah berasal dari curahan hujan Tanamannya
berupa padi, umur padi rata-rata 100 hari, sehingga dalam I tahun dapat menanam padi 3
kali dan satu kali tanaman palawija. Jenis padi yang ditanam adalah IR *, Bengawan dan
varitas unggul lainnya. Produksi padi untuk sekali tanam perhektar, dapat mencapai 8-10
ton. Karena itu produksi padi sudah dapat mencukupi kebutuhan desa, bahkan berlebihan
sehingga sehagian di jual ke daerah lain.
Selain padi desa Watesnegoro juga menghasilkan tanaman palawila misalnya kacang, jagung,
dan kedelai. Tanaman palawija biasanya ditanam pada musim kemarau. Apabila pada musim
penghujan volume air untuk pengairan sawah sangat besar. Tetapi pada musim kemarau
persediaan air irigasi harus dihemat. Untuk mcngatasi kekurangan air dimusim kemarau
irigasi diatur secara teknis. Agar air sungai dapat mencukupi kebutuhan di sawah maka
pengaturan air dilakukan oleh aparat pemerintah desa yang disebut Ulu - Ulu. Selain
dari bertani mata pencaharian yang lain ialah berdagang, namun jumlahnya sangat sedikit.
Umumnya mereka berdagang barang kebutuhan rumah tangga. Beternak merupakan mata
pencaharian sambilan. Ternak sapi dahulu digunakan sebagai tenaga pembantu untuk menggarap
sawah. Tetapi sejak digunakan hand traktor, tenaga sapi mulai ditingalkan orang. Ternak
sapi diarahkan pada kosumsi dagang, dan berfungsi sebagai simpanan. Apabila mereka
membutuhkan uang untuk suatu keperluan, misalnya punya hajat, memperbaiki rumah atau
mensekolahkan anak, maka sapi tersebut dijual.
Selain ternak sapi terdapat pula ternak kambing dan ayam. Jenis ternak ini merupakan
ternak sambilan. Pada musim kemarau sebagian penduduk mempergunakan lahan pertanian atau
pekarangan untuk membuat batu bata. Batu bata dari daerah Ngoro dikenal bermutu baik.
Dengan adanya proyek pembangunan yang berupa pendirian pabrik atau industri di daerah
Ngoro, maka banyak pula angkatan kerja di desa Watesnegoro menjadi pekerja pabrik.
Banyaknya angkatan kerja yang diserap di sektor industri menyebabkan berkurangnya tenaga
kerja muda di sektor pertanian. Sehingga orang yang bekerja di sawah umumnya orang yang
usia sudah separo baya atau bahkan sudah lanjut usia.
Salah satu penyebab mereka tertarik pada sektor pabrik atau industri adalah dapatnya
mereka menerima uang setiap minggu, sehingga kehidupan di masa muda mereka dapat
dinikmati. Pola konsumtif dan pola budaya modern sudah memasuki alam kehidupan generasi
muda. Profesi lain yang menjadi mata pencaharian penduduk Watesnegoro adalah menjadi pegawai
negeri, sebagai Guru atau pegawai Instansi Pemerintah, tetapi jumlahnya amat sedikit.
Pendidikan
Lembaga Pendidikan formal yang ada ialah Sekolah Dasar (SD) Negeri. Apabila mereka ingin
meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi mereka harus pergi ke kecamatan Ngoro, Mojosari,
atau Kejapanan. Lembaga non formal berupa pendidikan agama umumnya dikelola oleh masjid
dan perorangan.
Religi
Penduduk Watesnegoro pada umumnya beragama Islam. Bentuk religi yang dapat dijumpai ialah
pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Pemujaan arwah nenek moyang nampak sebagai bentuk
adanya danyang, punden, papan arwah yang dapat dimintai pertolongan oleh warga desa.
Pemujaan arwah nenek moyang merupakan tradisi religi pada jaman prasejarah, yaitu
kepercayaan bahwa orang yang sudah meninggal arwahnya tidak akan pergi jauh dari tempat
pemukimannya sewaktu hidup di dunia (rumah). Roh ini bersemayam di pohon-pohon besar,
batu, goa, atau daerah perbukitan dan dapat akan melindungi anak cucu dan seluruh
keturanannya yang masih hidup serta dapat dimintai perolongan. Sebaliknya roh ini harus
dihormati, dipuja dan diberi sesajen (makanan khusus). Menurut kepercayaan, apabila
upacara pemujaan arwah leluhur ini dilalaikan, maka akan timbul kutukan yang berupa
malapetaka, misalnya panen gagal karena diserang hama, adanya wabah penyakit, paceklik,
serta kemarau panjang. Oleh karena itu upacara untuk menghormati arwah/roh nenek moyang
tetap diadakan. Upacara tersebut berupa sedekah bumi, nyadran ke makam keramat (punden).
Apabila ada warga masyarakat yang akan mengadakan hajatan (pesta) misalnya pesta
perkawinan terlebih dahulu akan pergi ke punden untuk mempersembahkan sesaji dan
mengadakan selamatan. Dengan melakukan rangkaian upacara tersebut bertujuan agar Danyang
penguasa desa (Yang Mbau Reksa) mau melindungi dan memudahkan jalan, sehingga pada
saat melaksanakan hajat tidak ada aral melintang. Tradisi ini masih hidup dan tetap ada
hingga sekarang sekalipun mereka sudah memeluk agama monotheisme.
Kesenian
Lingkungan alam dan kondisi sosial yang ada pada masyarakat sangat berkaitan dengan bentuk
dan jenis kesenian yang ada. Bentuk kesenian ini nampak pada wujud pertunjukan/pementasan
seni. Pementasan/pertunjukan seni yang ada antara lain:
Seni Ludruk
Seni ludruk merupakan seni rakyat tradisional yang banyak digemari masyarakat. Pertunjukan
ini merupakan semacam teater rakyat yang membawa cerita-cerita: Balada kepahlawanan
misalnya Sawunggaling, Trunodjojo, Tragedi yang berupa persitiwa yang menyedihkan misalnya
cerita: Branjang Kawat, Sarip Tambakyoso, atau cerita yang bersifat komedi. Pada dasarnya
pertunjukan ludruk merupakan perpaduan dari seni panggung dengan operette (sandiwara yang
sebagian besar dialognya dilagukan). Dalam ludruk nyanyian yang didendangkan disebut Gendingan
Jula-juli. Bentuknya menyerupai pantun yang biasa disebut parikan. Isinya berupa
nasehat, sindiran atau sketsa masyarakat yang berbau kritik (biasanya kritik sosial).
Dibawakan oleh pelawak yang dinyanyikan atau didendangkan secara humoris, diiringi oleh
gamelan.
Wayang Kulit
Wayang kulit merupakan pertunjukan yang penggemarnya orang tua. Generasi muda pada umumnya
kurang berminat, karena pertunjukan ini dianggap terlalu sulit untuk dinikmati.
Pertunjukan wayang kulit di desa Watesnegoro berbeda dengan daerah Jawa Tengah. Wayang
tersebut terrnasuk jenis Wayang Pesisiran (Jawa Timuran). Ukirannya agak kasar dibanding
dengan Wayang Kulit versi Jawa Tengah. Sedangkan pewarnaan cenderung menggunakan warna
kuat. Peraga panakawan berbeda dengan Jawa Tengahan. Wayang Jawa Tengahan peraga panakawan
terdiri dari Ki Lurah Semar dengan tiga (3) anaknya Gareng, Petruk, Bagong. Sedangkan di
Jawa Timur tidak mengenal peraga Petruk, Gareng, yang ada hanya Semar dan Bagong. Dimana
kedudukan Bagong bukan sebagai anak melainkan menantunya Ki Lurah Semar. Dialog yang
digunakan ialah bahasa Jawa Timuran, namun pada dewasa ini wayang Jawa Timuran sudah agak
tergusur dengan wayang Jawa Tengahan, karena dalang wayang Jawa Timuran statis dan tidak
menggunakan improvisasi. Begitu pula dengan cerita-cerita yang dibawakan dan gendingnya
kurang ada kreativitas.
Kuda Kencak
Pertunjukan kuda kencak atau kuda tari biasanya dipakai untuk mengiringi pengantin, atau
anak yang dikhitan. Seekor kuda yang sudah dilatih dan diberi pakaian semacam tenun yang
dihiasi dengan berwarna-warni benang. Dengan iringan gamelan kuda ini akan menari-nari.
Dengan jalan menggerak-gerakkan kaki bersamaan dengan menggeleng-gelengkan dan
mengangguk-anggukkan kepala. Pada saat tertentu kedua kaki depan diangkat ke atas
bersamaan dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Seni Hadra
Seni Hadra atau biasa disebut terbangan merupakan salah satu jenis kesenian yang
bernafaskan agama Islam. Beberapa orang yang dengan lincahnya memukul terbang dengan
diiringi gerakan-gerakan kepala menyanyikan lagu-lagu pujian, (hymne). Lagu-lagu tersebut
ada yang berbahasa Arab tetapi ada pula yang berbahasa Jawa. Seni Hadra bisanya dilakukan
oleh para santri.
Orkes
Kesenian orkes yang paling banyak digemari adalah orkes Dangdut. Orkes dangdut merupakan
kelanjutan pengembangan dari orkes Melayu. Biasanya kalau ada pertunjukan orkes dangdut,
khalayak penonton terutama, kaum remaja naik ke panggung atau berada di sekitar panggung
untuk berjoged mengikuti irama musik. Dengan adanya kemajuan di dunia elektronik terutama
di bidang sound system maka pertunjukan dangdut agak berkurang diganti dengan rekaman
tape. Pementasan karaoke lebih sering dilakukan karena lebih praktis dan biayanya lebih
ringan (ekonomis).
next |
|
|
|