map_ejv.GIF (7964 bytes)

ON EAST JAVA

ART and CULTURE

BAB II. IDENTIFIKASI DAERAH

Identifikasi Daerah :

  • Letak
    Letak astronomi, desa Watesnegoro berada di kecamatan Ngoro yang terletak pada garis lintang 112° . 35" BT dan sekitar 7° 48" LS. Letak admisnistrasinya merupakan bagian dari wilayah kecamatan Ngoro, kabupaten Mojokerto. Secara geografis/geologis desa Wates-Negoro, merupakan daerah dataran rendah yang masih termasuk daerah aliran sungai Brantas. Disebelah tenggara berbatasan dengan desa Kunjarawesi yang terletak pada Gunung Pananggungan .

  • Iklim
    Mengingat letak astronomis dan letak geografisnya, maka desa Watesnegoro sebagaimana daerah kabupaten lainnya termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi angin laut. Suhu rata-rata berkisar antara 21" C sampai 33" C dengan suhu rata-rata tahunan 27" C. Berdasar data dari Dinas Pertanian Rakyat Jawa Timur untuk daerah Mojokerto dan sekitarnya pada dekade terakhir ini mendapatkan curah hujan tahunan rata-rata 1937 mm. Hari hujan rata-rata 103,67 hari. Bulan basah terjadi pada Januari dan Februari. Sedangkan bulan terkering terjadi pada bulan Agustus dan September sebesar 52,33 mm. Keadaan iklim yang demikian sangat cocok untuk pertanian persawahan.

  • Jenis Tanah dan Batuan
    Daerah kecamatan Ngoro sebagaimana halnya daerah dataran rendah dari lembah sungai Brantas mengandung batuan yang terdiri dari era Kwarter tua. Batuan ini terjadi pada era kwarter dan biasa terjadi pada lembah-lembah synklinal dan merupakan produk periode Glasial. Batuan ini merupakan batuan induk yang diatasnya ditutupi oleh endapan vulkanik berupa kerikil dan pasir, tanahnya termasuk tipe tanah Organosal. Tanah tipe ini tidak begitu baik untuk usaha pertanian. Kemampuan tanah untuk menyimpan air dari permukaan tanah baik. Karena itu sumur-sumur yang letaknya datar bagian bawah mempunyai sumber yang besar. Tetapi untuk daerah yang mempunyai letak dilereng-lereng bukit sumber air sulit didapat. Kesulitan air sangat terasa pada musim-musim kemarau yaitu di bulan-bulan Agustus, September, Oktober. Pemukiman penduduk yang menempati lereng-lereng bukit terpaksa mencari air agak jauh ke arah bawah.

  • Penduduk
    Penduduk desa Wates Negara termasuk etnis Jawa, ada beberapa dusun yang didiami oleh orang-orang Madura. Orang-orang Madura ini merupakan pendatang (migran) dari pulau Madura pada jaman pembukaan perkebunan tebu (sekitar tahun 1920), bahkan jauh sebelumnya sudah ada migrasi dari Madura tetapi dalam jumlah yang kecil. Mengalirnya migrasi dari Madura ke daerah Ngoro disebabkan adanya pembukaan pabrik gula dan perkebunan tebu, mereka merupakan pekerja yang ulet dan dapat digaji murah. Tetapi setelah perkebunan-perkebunan tersebut rusak karena Perang Dunia II maka orang-orang Madura ini menetap sebagai petani. Mereka bermukim di daerah pertanian pinggiran yang seringkali tanahnya sulit air. Sedangkan orang-orang Jawa menetap di daerah Ngoro sudah ratusan tahun, yang sudah sulit untuk ditelusuri dari mana asal usulnya. Namun apabila dilihat dari aksen bahasa, ada kemungkinan orang Jawa tersebut merupakan campuran dari Jawa dan Madura. Bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari merupakan bahasa Jawa Timuran dengan dialek Mojokerto-Sidoarjo.

  • Pola Pemukiman
    Apabila dilihat dari letak rumah pemukiman dengan memperhatikan posisi letak jalan, baik jalan raya maupun jalan kampung, maka bisa dilihat bahwa kebanyakan letak rumah tersebut berderet sepanjang kiri kanan jalan. Pola pemukiman yang seperti ini disebut pemukimam linier. Pola pemukiman linier merupakan pola pemukiman masyarakat yang berasal dari para pendatang.
    Mereka menempati rumah-rumah berderet untuk memudahkan komunikasi antara satu dengan yang lainnya. Salah satu kelebihan dari pola pemukiman linier adalah kemudahan untuk berkomunikasi, selain itu pemukiman yang berpola demikian akan mudah mengalami kemajuan. Karena pola letaknya (setlement) memungkinkan untuk cepatnya arus informasi.
    Keberadaan pusat-pusat kegiatan ekonomi seperti pasar, toko dan terminal lebih mudah berkembang sebab mudah terjangkau. Namun kelemahannya dari aspek keamanan, karena pola pemukiman seperti ini bersifat terbuka. Dari segala jurusan bisa dicapai, sehingga apabila ada tindak kejahatan dari luar, pelakunya akan bisa cepat melarikan diri dan sulit untuk diatasi. Untuk mencegah hal tersebut diatas biasanya pada ujung jalan, diberi gang atau pada perempatan jalan didirikan pos-pos penjagaan. Pos penjagaan tersebut dilengkapi dengan kenthongan sebagai alat komunikasi.

  • Mata pencaharian
    Watesnegoro merupakan desa pertanian, hampir 90 % penduduknya hidup dari mengolah lahan pertanian. Lahan pertanian yang berupa sawah merupakan sawah teknis dapat ditanami pada sepanJang tahun. Pada musim penghujan air sawah berasal dari curahan hujan Tanamannya berupa padi, umur padi rata-rata 100 hari, sehingga dalam I tahun dapat menanam padi 3 kali dan satu kali tanaman palawija. Jenis padi yang ditanam adalah IR *, Bengawan dan varitas unggul lainnya. Produksi padi untuk sekali tanam perhektar, dapat mencapai 8-10 ton. Karena itu produksi padi sudah dapat mencukupi kebutuhan desa, bahkan berlebihan sehingga sehagian di jual ke daerah lain.
    Selain padi desa Watesnegoro juga menghasilkan tanaman palawila misalnya kacang, jagung, dan kedelai. Tanaman palawija biasanya ditanam pada musim kemarau. Apabila pada musim penghujan volume air untuk pengairan sawah sangat besar. Tetapi pada musim kemarau persediaan air irigasi harus dihemat. Untuk mcngatasi kekurangan air dimusim kemarau irigasi diatur secara teknis. Agar air sungai dapat mencukupi kebutuhan di sawah maka pengaturan air dilakukan oleh aparat pemerintah desa yang disebut Ulu - Ulu. Selain dari bertani mata pencaharian yang lain ialah berdagang, namun jumlahnya sangat sedikit. Umumnya mereka berdagang barang kebutuhan rumah tangga. Beternak merupakan mata pencaharian sambilan. Ternak sapi dahulu digunakan sebagai tenaga pembantu untuk menggarap sawah. Tetapi sejak digunakan hand traktor, tenaga sapi mulai ditingalkan orang. Ternak sapi diarahkan pada kosumsi dagang, dan berfungsi sebagai simpanan. Apabila mereka membutuhkan uang untuk suatu keperluan, misalnya punya hajat, memperbaiki rumah atau mensekolahkan anak, maka sapi tersebut dijual.
    Selain ternak sapi terdapat pula ternak kambing dan ayam. Jenis ternak ini merupakan ternak sambilan. Pada musim kemarau sebagian penduduk mempergunakan lahan pertanian atau pekarangan untuk membuat batu bata. Batu bata dari daerah Ngoro dikenal bermutu baik. Dengan adanya proyek pembangunan yang berupa pendirian pabrik atau industri di daerah Ngoro, maka banyak pula angkatan kerja di desa Watesnegoro menjadi pekerja pabrik. Banyaknya angkatan kerja yang diserap di sektor industri menyebabkan berkurangnya tenaga kerja muda di sektor pertanian. Sehingga orang yang bekerja di sawah umumnya orang yang usia sudah separo baya atau bahkan sudah lanjut usia.
    Salah satu penyebab mereka tertarik pada sektor pabrik atau industri adalah dapatnya mereka menerima uang setiap minggu, sehingga kehidupan di masa muda mereka dapat dinikmati. Pola konsumtif dan pola budaya modern sudah memasuki alam kehidupan generasi muda. Profesi lain yang menjadi mata pencaharian penduduk Watesnegoro adalah menjadi pegawai negeri, sebagai Guru atau pegawai Instansi Pemerintah, tetapi jumlahnya amat sedikit.

  • Pendidikan
    Lembaga Pendidikan formal yang ada ialah Sekolah Dasar (SD) Negeri. Apabila mereka ingin meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi mereka harus pergi ke kecamatan Ngoro, Mojosari, atau Kejapanan. Lembaga non formal berupa pendidikan agama umumnya dikelola oleh masjid dan perorangan.

  • Religi
    Penduduk Watesnegoro pada umumnya beragama Islam. Bentuk religi yang dapat dijumpai ialah pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Pemujaan arwah nenek moyang nampak sebagai bentuk adanya danyang, punden, papan arwah yang dapat dimintai pertolongan oleh warga desa. Pemujaan arwah nenek moyang merupakan tradisi religi pada jaman prasejarah, yaitu kepercayaan bahwa orang yang sudah meninggal arwahnya tidak akan pergi jauh dari tempat pemukimannya sewaktu hidup di dunia (rumah). Roh ini bersemayam di pohon-pohon besar, batu, goa, atau daerah perbukitan dan dapat akan melindungi anak cucu dan seluruh keturanannya yang masih hidup serta dapat dimintai perolongan. Sebaliknya roh ini harus dihormati, dipuja dan diberi sesajen (makanan khusus). Menurut kepercayaan, apabila upacara pemujaan arwah leluhur ini dilalaikan, maka akan timbul kutukan yang berupa malapetaka, misalnya panen gagal karena diserang hama, adanya wabah penyakit, paceklik, serta kemarau panjang. Oleh karena itu upacara untuk menghormati arwah/roh nenek moyang tetap diadakan. Upacara tersebut berupa sedekah bumi, nyadran ke makam keramat (punden). Apabila ada warga masyarakat yang akan mengadakan hajatan (pesta) misalnya pesta perkawinan terlebih dahulu akan pergi ke punden untuk mempersembahkan sesaji dan mengadakan selamatan. Dengan melakukan rangkaian upacara tersebut bertujuan agar Danyang penguasa desa (Yang Mbau Reksa) mau melindungi dan memudahkan jalan, sehingga pada saat melaksanakan hajat tidak ada aral melintang. Tradisi ini masih hidup dan tetap ada hingga sekarang sekalipun mereka sudah memeluk agama monotheisme.

  • Kesenian
    Lingkungan alam dan kondisi sosial yang ada pada masyarakat sangat berkaitan dengan bentuk dan jenis kesenian yang ada. Bentuk kesenian ini nampak pada wujud pertunjukan/pementasan seni. Pementasan/pertunjukan seni yang ada antara lain:

    • Seni Ludruk
      Seni ludruk merupakan seni rakyat tradisional yang banyak digemari masyarakat. Pertunjukan ini merupakan semacam teater rakyat yang membawa cerita-cerita: Balada kepahlawanan misalnya Sawunggaling, Trunodjojo, Tragedi yang berupa persitiwa yang menyedihkan misalnya cerita: Branjang Kawat, Sarip Tambakyoso, atau cerita yang bersifat komedi. Pada dasarnya pertunjukan ludruk merupakan perpaduan dari seni panggung dengan operette (sandiwara yang sebagian besar dialognya dilagukan). Dalam ludruk nyanyian yang didendangkan disebut Gendingan Jula-juli. Bentuknya menyerupai pantun yang biasa disebut parikan. Isinya berupa nasehat, sindiran atau sketsa masyarakat yang berbau kritik (biasanya kritik sosial). Dibawakan oleh pelawak yang dinyanyikan atau didendangkan secara humoris, diiringi oleh gamelan.

    • Wayang Kulit
      Wayang kulit merupakan pertunjukan yang penggemarnya orang tua. Generasi muda pada umumnya kurang berminat, karena pertunjukan ini dianggap terlalu sulit untuk dinikmati. Pertunjukan wayang kulit di desa Watesnegoro berbeda dengan daerah Jawa Tengah. Wayang tersebut terrnasuk jenis Wayang Pesisiran (Jawa Timuran). Ukirannya agak kasar dibanding dengan Wayang Kulit versi Jawa Tengah. Sedangkan pewarnaan cenderung menggunakan warna kuat. Peraga panakawan berbeda dengan Jawa Tengahan. Wayang Jawa Tengahan peraga panakawan terdiri dari Ki Lurah Semar dengan tiga (3) anaknya Gareng, Petruk, Bagong. Sedangkan di Jawa Timur tidak mengenal peraga Petruk, Gareng, yang ada hanya Semar dan Bagong. Dimana kedudukan Bagong bukan sebagai anak melainkan menantunya Ki Lurah Semar. Dialog yang digunakan ialah bahasa Jawa Timuran, namun pada dewasa ini wayang Jawa Timuran sudah agak tergusur dengan wayang Jawa Tengahan, karena dalang wayang Jawa Timuran statis dan tidak menggunakan improvisasi. Begitu pula dengan cerita-cerita yang dibawakan dan gendingnya kurang ada kreativitas.

    • Kuda Kencak
      Pertunjukan kuda kencak atau kuda tari biasanya dipakai untuk mengiringi pengantin, atau anak yang dikhitan. Seekor kuda yang sudah dilatih dan diberi pakaian semacam tenun yang dihiasi dengan berwarna-warni benang. Dengan iringan gamelan kuda ini akan menari-nari. Dengan jalan menggerak-gerakkan kaki bersamaan dengan menggeleng-gelengkan dan mengangguk-anggukkan kepala. Pada saat tertentu kedua kaki depan diangkat ke atas bersamaan dengan menggeleng-gelengkan kepala.

    • Seni Hadra
      Seni Hadra atau biasa disebut terbangan merupakan salah satu jenis kesenian yang bernafaskan agama Islam. Beberapa orang yang dengan lincahnya memukul terbang dengan diiringi gerakan-gerakan kepala menyanyikan lagu-lagu pujian, (hymne). Lagu-lagu tersebut ada yang berbahasa Arab tetapi ada pula yang berbahasa Jawa. Seni Hadra bisanya dilakukan oleh para santri.

    • Orkes
      Kesenian orkes yang paling banyak digemari adalah orkes Dangdut. Orkes dangdut merupakan kelanjutan pengembangan dari orkes Melayu. Biasanya kalau ada pertunjukan orkes dangdut, khalayak penonton terutama, kaum remaja naik ke panggung atau berada di sekitar panggung untuk berjoged mengikuti irama musik. Dengan adanya kemajuan di dunia elektronik terutama di bidang sound system maka pertunjukan dangdut agak berkurang diganti dengan rekaman tape. Pementasan karaoke lebih sering dilakukan karena lebih praktis dan biayanya lebih ringan (ekonomis).

next

Further information will be provided as soon as possible.
Any comments can be directed to webmaster@petra.ac.id

top.gif (1945 bytes)