Telisik COP UK Petra di Lereng Gunung Wilis
23/09/11

Aksi pembangunan baik non-fisik maupun fisik menjadi aktifitas yang bisa dijumpai dalam Community Outreach Program (COP) yang digelar oleh Universitas Kristen Petra beberapa waktu lalu. Selama kurang lebih satu bulan (7/7 – 1/8) para mahasiswa dari lima negara live-in di tengah-tengah masyarakat untuk membangun kabupaten Kediri dan mengecap pengalaman team work bagaimana menangani proyek bersama.

Tangan Suryani Giyem Thalib (20) tampak sibuk memberikan sentuhan terakhir warna pada panggung boneka yang telah dibuatnya bersama teman-teman yang lain di TK Kusuma Mulia, Dusun Jeruk, Desa Pamongan, Kecamatan Mojo, Kediri. Gadis keturunan Indonesi-Belanda yang tidak bisa berbahasa Indonesia dan mahasiswa di Inholland University ini merupakan salah satu dari 131 mahasiswa peserta COP 2011. ”Peserta dari luar Indonesia pada COP kali ini lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun lalu,” urai Herri Christian Palit, S.T., M.T. selaku kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UK Petra. COP 2011 kali ini terdiri dari: 54 mahasiswa UK Petra; masing-masing 29 mahasiswa dari Dongseo University, Korea Selatan dan Inholland University, Belanda; 10 mahasiswa dari Hong Kong Baptist University, Hong kong; 4 (empat) mahasiswa dari International Christian University, Jepang; 1 (satu) mahasiswa dari St. Andrew’s University, Jepang ; dan 4 (empat) mahasiswa dari  Chinese University of Hongkong.

Banyak hal yang mereka lakukan selain membuat panggung boneka. Dengan didampingi dosen yang telah ditunjuk, para mahasiswa mencoba membantu kehidupan masyarakat sekitar. Contohnya, di dusun Jatiwekas, Desa Kedawung, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, para peserta COP dengan dibantu warga sekitar bergotong-royong membangun pondasi untuk Taman Kanak-Kanak (TK) mulai dari awal. “Kami sangat dibantu dengan adanya acara seperti ini, kami sekarang jadi punya gedung TK; dari yang sebelumnya kami harus menumpang di rumah kepala dusun setempat,” ungkap Suyitno dengan gembira selaku salah satu tokoh masyarakat.

Tak hanya itu saja, mahasiswa dari Dong Seo University, Korea Selatan bahkan membantu Solar Cell atau listrik bertenaga matahari lengkap dengan lampunya untuk menerangi jalan desa dan mushalla yang gelap di saat malam hari. Tak berhenti sampai disitu saja; proyek pembangunan jembatan dan gorong-gorong yang didanai langsung oleh Pemerintah Kabupaten Kediri inipun dikerjakan para peserta COP. Edukasi pun coba dibagikan kepada masyarakat dengan mengajarkan ketrampilan yang dimiliki seperti bahasa Inggris, memasak makanan mulai dari ote-ote berbahan dasar kemchi (asinan korea) hingga nasi campur ala Korea, menyanyi hingga bermain roket air. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat, dan ini membuktikan bahwa kegiatan service learning seperti ini bisa dijadikan alternatif pilihan. (Aj)

Galeri