29/03/11Berawal dari isenglah yang akhirnya membuat Kevin terbang hingga ke kota Tainan, Taiwan. Bagaimana ceritanya? Simak penuturannya saat mampir ke redaksi Dwi Pekan beberapa saat yang lalu.
Awalnya pria asal Banyuwangi bersama dengan temannya mengumpulkan portfolio untuk dinilai dan dijadikan acuan mengikuti workshop dan lomba yang diadakan oleh Cheng-Kung University-Taiwan. Akhirnya terpilihlah empat perwakilan dan dengan ditemani oleh Aristarchus Pranayama, B.A., M.A., mereka berlima mewakili UK Petra dalam Southeast Asia International Design Workshop tanggal 21-28 November 2010 yang lalu.
“Selama satu minggu kami berada di National Cheng Kung University (NCKU), Taiwan bersama dengan 40 mahasiswa desain dari National Institute of Design-India, Bangalore, Chulalongkorn University-Thailand, Nanyang Technological University-Singapura, dan Industrial Design Southern Collage-Malaysia; dan hanya UK Petra yang mewakili dari Indonesia,” urai Aris.
Selain workshop, mereka ditantang untuk mengikuti perlombaan baik perorangan maupun beregu. “Saya tidak tahu jika diminta untuk mempresentasikan desain produknya tapi karena saya anak film, yang saya presentasikan adalah desain filmnya,” ujar Kevin. Dari karya iseng berupa Stopmotion video berjudul Valentine inilah dia berhasil menyabet Silver Awards dalam kategori Individual Desain Work. “Karya ini spesial karena merupakan karya inovasi yang dihasilkan dari foto yang disusun untuk membentuk animasi,” ujar pria bernama lengkap Kevin Reinaldo Arffandy ini.
Sedangkan dalam babak beregu Kevin mendapat tantangan untuk membuat inovasi baru tentang smart living yaitu membuat produk inovasi yang ramah lingkungan untuk memberikan kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kerja lembur pun dilakukan oleh Kevin (Indonesia-UKP), Panisa Khunpasert (Thailand), Min Ciao Wu (Taiwan), dan Wen Tling Huang (Taiwan) untuk menghasilkan karya inovasi berupa pot bunga yang mengajak orang untuk menanam tetapi terhubung secara online sehingga status tanaman terus ter-update dengan orang di seluruh dunia.
Kevin mengajak mahasiswa UK Petra lainnya untuk mengikuti ajang internasional meski beberapa kendala yang utama adalah masalah bahasa. “Saya itu tidak yakin dan tidak seberapa lancar ber-Bahasa Inggris; akan tetapi, di sana ada teman dari Thailand mengatakan bahwa Bahasa Inggris saya lancar dan sepertinya sudah terbiasa menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari di kampus,” ungkapnya sambil tertawa. “Ya sampai sekarang pun, masih contact dengan teman lewat grup di sebuah jejaring social,” tambahnya. Dari kompetisi ini Kevin tidak hanya mendapatkan sertifikat saja, akan tetapi juga mendapatkan pengalaman sekaligus menambah teman dari negeri seberang.(Rosa/Aj)



Siwalankerto 121-131 Surabaya