Seminar The Wingless Angel : Memulihkan Sayap Patah Penderita AIDS
26/11/10

Dua buah simbol AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merekat di dinding, dengan hiasan berupa sebuah sayap di setiap simbolnya.  AIDS memang tak asing lagi di kepala kita namun adakah hati yang peduli untuk menanggulanginya ? The Wingless Angel,  sebuah seminar AIDS yang diadakan Jumat (26/11) pukul 12.00 WIB oleh Korp Sukarela (KSR) mengingatkan kembali bahwa AIDS jangan sekedar ditanggapi sambil lalu. Seminar yang dimoderatori oleh Linda Bustan, S. Th., M. Div. ini mengundang Esthi Susanti Hudiono, M. Si, Direktur Eksekutif Yayasan HOTLINE sebagai pembicara.

                “Seminar ini diadakan karena adanya stigma pada masyarakat, bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang sangat mudah menular. Stigma ini mengakibatkan masyarakat cenderung mengucilkan para penderita HIV dan AIDS, padahal penderita HIV/AIDS adalah orang – orang yang justru membutuhkan perhatian dari kita”, demikian papar Esthi Susanti membuka seminar.

                Anak – anak muda, menurut Esthi, adalah kelompok masyarakat yang sangat rentan tertular virus HIV. Adanya seminar ini diharapkan pula untuk memberikan pengetahuan dan pendidikan tentang HIV AIDS kepada anak – anak muda. Melalui seminar ini, pembicara mengatakan bahwa terdapat beberapa cara untuk mencegah virus HIV, yaitu untuk tidak melakukan seks bebas, setia pada pasangan, mencegah penularan dengan menggunakan alat kontrasepsi, tidak menggunakan Narkoba, serta mendekatkan diri dengan Tuhan dan edukasi.

“Pendidikan membuat kita dapat menjadi manusia, sebab pendidikan membentuk perilaku. Meskipun memang susah sekali pada prakteknya, tetapi dengan adanya pendidikan ini membuat anak – anak muda untuk dapat berpikir jauh ke depan lagi. Lebih baik pahit di depan daripada sengsara di belakang.” lanjut pembicara.

                Tak tanggung-tanggung, seminar ini juga mendatangkan seorang penderita HIV untuk memberikan testimoni. Ia mengisahkan bahwa ia tidak pernah tahu kalau dirinya tertular virus HIV tersebut.  Ironisnya, informasi tersebut baru diketahuinya pada saat ia melakukan tes HIV yang diwajibkan saat mendaftar menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri.  “Saya sangat kaget dan tertekan saat mengetahui bahwa saya tertular virus ini. Saya ingin bunuh diri saja, ingin melompat dari lantai dua saat di penampungan TKW. Tetapi tidak jadi karena saya teringat anak – anak saya  karena itu saya termotivasi untuk terus berjuang hidup. Saya ingin melihat perkembangan anak – anak saya”, jelasnya. (Indra)

Galeri