Seminar dan Peluncuran CCIS
18/02/11

Pada hari Jumat 18 Februari 2011, CCIS mengadakan acara seminar bertema ”Chinese Indonesians in Modern Indonesia” di AV-503 gedung T, Kampus UK Petra. Seminar ini sekaligus menandai peluncuran resmi Center for Chinese Indonesian Studies (CCIS) di Universitas Kristen Petra.

Seminar ini dimulai dengan kata sambutan dari ketua LPPM yang juga membawahi CCIS yaitu Profesor Liliany Sigit Arifin dan ketua CCIS sendiri yaitu Profesor Esther H. Kuntjara. Selanjutnya rektor UK Petra, Profesor Rolly Intan meresmikan berdirinya CCIS dengan memukulkan palu sebagai tanda peresmian Pusat Studi Tionghoa Indonesia.

Memasuki sesi seminar, pembicara pertama yaitu Profesor Leo Suryadinata yang juga direktur Chinese Heritage Center, Singapura menjelaskan bahwa peran bangsa Tionghoa di Indonesia sangat besar, terutama ketika masa perjuangan melawan kolonialisme.  “Pada tahun 1932, bangsa Tionghoa Indonesia membentuk partai politik Tionghoa Indonesia yang melawan penjajah Belanda meskipun saat itu mereka dibedakan dari masyarakat pribumi. Hal itu menandakan mereka sudah memiliki kesadaran bahwa Indonesia adalah tanah air mereka,” ujar Guru Besar National University of Singapore ini. Profesor yang datang memakai jas dengan baju bermotif batik ini juga mengatakan bahwa bangsa Tionghoa memberikan sumbangsih besar dalam perkembangan bangsa Indonesia. “Makanan, arsitektur, pers, sastra, maupun perfilman Indonesia semuanya memiliki jejak orang Tionghoa.”

Pembicara kedua yaitu Dr. Priyanto Wibowo, SS selaku Ketua Departemen Sejarah, Universitas Indonesia menjelaskan bahwa peran bangsa Tionghoa penting dalam pembentukan budaya nusantara. “Bangsa Tionghoa bukan hanya bagian dari kebudayaan nusantara namun merupakan pembentuk dari kebudayaan nusantara itu sendiri,” ujarnya sambil mengutip pernyataan Denys Lombard. Pria yang memakai jas hitam ini juga menganalisa kegiatan politik orang Tionghoa di Indonesia pada masa modern. ”Setelah tahun 1998, muncul keinginan masyarakat Tionghoa untuk aktif berpolitik. Ada yang menginginkan pembentukan parpol berbasis etnis, ada pula yang tidak setuju dan bergabung dengan partai yang telah mapan,” ujarnya. Menurutnya, antusiasme warga Tionghoa dalam kegiatan politik tersebut merupakan bentuk positioning yang menunjukkan mereka adalah bangsa yang bebas dan merdeka dari segala tekanan penguasa.

Pembicara ketiga adalah Setefanus Suprajitno, dosen jurusan Sastra Inggris UK Petra yang sedang menyelesaikan studi S-3 di Cornell University, Ithaca, New York, USA. Menurut pria lulusan National University of Singapore (Master of Arts in English Studies) dan Cornell University (Master of Arts in Anthropology), gejala esensialisme (bahwa identitas budaya itu tidak pernah berubah) sekarang sedang banyak terlihat di Indonesia, khususnya dalam perayaan budaya Tionghoa. Gejala ini menunjukkan bahwa budaya Tionghoa semakin diterima di masyarakat Indonesia.

Acara seminar yang dimoderatori oleh Sally Azaria, S.Sos ini juga mendapat  kehormatan dengan kedatangan seorang tamu istimewa yaitu Alim Markus, CEO dari Maspion Group yang sosoknya tertangkap kamera sedang bercengkrama dengan tamu-tamu lain dan turut mengikuti sebagian dari rangkaian acara seminar ini.(Chriz)

Galeri