11/10/11IKP2M (Indeks Kinerja Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) telah diumumkan beberapa saat lalu. Pada edisi ini tim DP berhasil memotret dosen peraih abdimas dan penulis terbaik. Seperti apakahnya mereka melaluinya ? Simak penuturan mereka.
Arlinah Imam Rahardjo, SIP, MLIS
“Tak menyangka saya yang ditetapkan menjadi Pelaku Abdimas Terbaik 2011. Buat saya, tanpa penghargaanpun saya akan menjalankan visi caring di kampus UK Petra sebagai universitas Kristen”, ungkap dosen berkaca mata ini. Arlinah Imam Rahardjo, SIP, MLIS ini berhasil mengungguli empat nominator yang lain dengan berhasil mengumpulkan angka tinggi di point penilaian abdimas. Prof. Liliany S. Arifin, Ph. D selaku Ketua Dewan Juri mengungkapkan bahwa kriteria penilian meliputi lingkup kegiatan abdimas dan sumber pendanaan kegiatan Abdimas. “Pastinya, kegiatan abdimas ini harus mampu memberikan dampak serta manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.” Ujar Lili.
Sejak tahun 2005, Arlinah ini sudah giat menerapkan metode Service Learning khususnya pada tiga mata kuliah yang diasuhnya yaitu Sistem Informasi Perpustakaan, Manajemen Proyek Teknologi Informasi dan Komunikasi Interpersonal. Contohnya dalam mata kuliah Sistem Informasi Perpustakaan (SIP), para mahasiswa diajak untuk terjun langsung ke masyarakat, membenahi sekaligus mengembangkan sistem informasi perpustakaan berbasis teknologi informasi di perpustakaan sekolah-sekolah terutama yang ada di sekitar kampus UK Petra. Di tahun 2011 metode Service Learning inipun menjadi berkembang dengan didampingi oleh dosen informatika yang lainnya sebagai mentor dan mahasiswa senior sebagai co-mentor yaitu misalnya dengan melakukan pemberdayaan masyarakat seperti pemanfaatan IT, budaya peduli lingkungan atau pengembangan karakter. Semuanya bukan berarti dilalui Arlinah dengan mudah, beberapa kendala yang dihadapinya, “Misalnya seperti kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perpustakaan dan padatnya jadwal tugas dari para mahasiswa” rinci Arlinah.
Dr. Augustinus Simanjuntak, SH., MH.
Berawal dari hobinya menulis sejak kuliah di tahun 1994, inilah yang menghantarkannya meraih penghargaan sebagai Penulis Produktif tahun 2011. Dosen kelahiran Tapanuli Utara ini berhasil menerbitkan 31 publikasi di media cetak. “Ilmu itu harus dibagikan dan saya ingin berperan di masyarakat. Saya melakukan yang saya bisa lakukan dengan membuat tulisan di kolom opini karena dengan tulisan yang dibaca banyak orang maka secara tidak langsung kita sudah mengedukasi masyarakat dan mengoreksi kebijakan pemerintah” ungkap dosen yang sudah mengajar 12 tahun ini.
“Harus pintar-pintar membaca kebutuhan medianya, tak selalu berita yang menjadi headline yang diulas kembali dalam opini. Bisa dari berita dengan space kolom yang kecil tapi sering dimuat” rincinya. Ditolak, itulah yang sering dihadapinya ketika mengirimkan tulisannya yang sampai saat ini sudah berjumlah ratusan itu. Belum lagi harus menyesuaikan antara bahasa koran yang biasanya menggunakan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti jika dibandingkan dengan bahasa literatur yang cenderung formal. “Punyailah idealisme karena dengan idealisme maka akan mempunyai prinsip-prinsip dasar yang dipegang. Mulailah menulis dan jangan mudah menyerah dan tanggap melihat situasi yang jadi perhatian media cetak” tipsnya menutup pembicaraan.(Aj)



Siwalankerto 121-131 Surabaya