05/07/11Sosok ini begitu mencintai dunia pertanian dan kehutanan. Bidang yang ditekuni sejak mudanya itu telah menghantarkannya ke pelbagai belahan dunia untuk menghadiri pertemuan-pertemuan guna mengembangkan pertanian dan kehutanan Indonesia. Tidak itu saja, dia juga aktif mengadakan penelitian mengenai tembakau Indonesia dan menghasilkan ragam tulisan antara lain mengenai pertanian, bioteknologi serta pemberdayaan pangan. Dialah Prof. Dr. Ir. Widoyo Totosucipto, yang pada Selasa, 21 Juni lalu, berita mengenai kepergiannya menghadap Sang Khalik menghentakkan semua orang yang mengasihinya, termasuk sivitas UK Petra. Dwi Pekan secara khusus menurunkan tulisan ini untuk mengenang kisah hidup beliau.
Tak salah kalau orang berpikir bahwa Widoyo Totosucipto, pria kelahiran 9 Mei 1931 ini begitu mencintai dunia akademik. Bisa dikatakan bahwa Widoyo adalah seorang dari sekian akademisi sejati yang begitu tekun melakukan penelitian dan produktif, menghasilkan banyak karya mengenai bidang yang digelutinya, pertanian dan kehutanan. Doktor lulusan UGM ini juga aktif bergabung dalam asosiasi profesi maupun organisasi semacam Perhimpunan Pemuliaan Indonesia (Perhipi), SABRAO (The Society for the Advancement of Breeding Researches in Asia and Oceania), Kelompok Ilmu Pemulia Tanaman LBN/LIPI, Himpunan Fitapatologi Indonesia, Perhimpunan Ahli Agronomi Indonesia (Peragi) serta CORESTA (Centre de Cooperation pour les Researches Scientifiques Relatives au Tabac).
Widoyo kecil yang banyak mengalami terpaan hidup membuatnya menjadi pribadi yang berdisiplin tinggi dan pekerja keras. Walau lahir dari seorang ayah yang menjadi Lurah di Baluwarti, Solo, kehidupan Widoyo kecil jauh dari kemewahan. Sikap ini begitu kental dengannya, begitu pula ketika ia menjadi kepala keluarga dan pimpinan universitas (periode 1984-1988). Almarhum memulai pengabdiannya di UK Petra sejak Agustus 1984 sebagai dosen tetap di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Tak lama kemudian, pada bulan November 1984 beliau resmi dilantik menjadi Rektor ke-5 UK Petra.
“Kami merasakan duka yang mendalam, kehilangan seorang pribadi yang sederhana, ramah, peduli pada lingkungan dan bersahaja. Beliau tidak hanya aktif di gereja saja akan tetapi juga aktivis di dunia pendidikan, sangat peduli pada perkembangan UK Petra” urai Ir. Arthur Rinold Joseph, M.M.T, pengurus yayasan UK Petra. Sebagai ayah dari lima anak, almarhum termasuk sosok yang tak banyak bicara. “Bapak selalu menunjukkan keteladanan, pesannya “Wong iku kudu pinter urip”. Harus pintar menjalani hidup di segala keadaan” kenang Ir. Ishak Widoyo, putra almarhum.
Sebelum disemayamkan ke Solo, UK Petra berkesempatan mengadakan kebaktian perkabungan sebagai tanda penghormatan terakhir. Alunan lagu “Suara Yesus Kudengar” mengiringi awal perkabungan Prof. Dr. Ir. Widoyo Totosucipto pada Rabu pagi (22/06) bertempat di Auditorium. Di usianya yang ke-80, dia telah pergi untuk selamanya.
Selamat jalan Prof, semangat hidupmu tetap bersemi di hati kami. (Aj/Inggrit)




Siwalankerto 121-131 Surabaya