Seminar Nasional Arsitektur
Kota itu semula dikenal dengan sebutan Hujunggaluh. Dalam perkembangannya berubah menjadi Churabhaya. Kota ini mencatat sejarah panjang bahkan sejak kerajaan Hindu Mataram, Kerajaan Demak dan Kerajaan Mataram.Itulah kota yang saat ini disebut dengan Surabaya.
”Salah satu faktor penting dalam mengembangkan daya saing kota dilihat dari kemandirian kultural dari kota itu sendiri”, itulah yang diungkapkan oleh Dr. Ing. Jo Santoso dalam seminar nasional yang digelar dalam rangka dies natalis ke-43 Jurusan Arsitektur pada Kamis pekan lalu (27/05/10). Dalam seminar yang bertajuk Hidup dan Berkehidupan di Surabaya itu, pria yang kerab dipanggil Jo ini menguraikan tentang proses urbanisasi dalam konteks globalisasi di Surabaya. Jo mengkritisi pentingnya kemandirian dan keberagaman kultural sebagai faktor yang relevan guna menghalau degradasi budaya.
Mengutip Aristoteles, ”A city composed of different kinds of men, similiar people can’t bring a city in to existence”, Jo menerangkan setiap kota memiliki ciri lokal yang menggambarkan identitas kulturalnya. ”Jadi walaupun kesamaan latar belakang kultural merupakan faktor pendukung penting dalam pembentukan sistem urban-kultural yang baru, tetapi yang sebenarnya paling berperan adalah adanya sebuah keinginan dari berbagai kelompok untuk menjadikan kota itu sebagai sebuah habitat bersama”, papar Jo.
Pada kesempatan yang sama, Ir. Tri Risma Harini, MT mantan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya menjelaskan, ”Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, yang mempunyai banyak daya tarik. Selain sebagai pusat perbelanjaan, kuliner begitu juga pesona lingkungannya hanya kurang penanganannya saja”. Pentingnya ruang publik sebagai media sosial dirasakan menjadi kebutuhan warga kota. Kota yang sehat, lanjut Risma, memfasilitasi masyarakatnya untuk hidup bersahabat dengan lingkungannya.
Dalam materinya, kandidat Pilkada 2010 ini juga melihat perlunya upaya untuk melakukan revitalisasi kota lama sebagai wujud penghargaan terhadap historis kota. Misalnya saja sungai Kalimas sebagai salah satu denyut nadi kehidupan Surabaya. Selain menyimpan sejarah ekonomi, Kalimas menyimpan nilai historis yang tinggi. (Aj/Inggrit)


Siwalankerto 121-131 Surabaya