12/04/11Tanggal 21 April mendatang, menjadi moment istimewa bagi perempuan. Moment itulah yang menginspirasi perempuan Indonesia untuk memperjuangkan masa depannya. Raden Adjeng Kartini, dialah perempuan yang penuh keberanian mengungkapkan keterpurukkan perempuan melalui kumpulan tulisannya, bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang. Menjelang Hari Kartini ini, tim Dwi Pekan menyajikan wawancara dengan Prof. Esther Harijanti Kuntjara sebagai refleksi bagi perempuan.
Bangsa Indonesia patut berbangga hati sebab memiliki pejuang wanita yang pada zaman itu berani mendobrak pemikiran-pemikiran tradisional sehingga membuat perempuan saat ini bebas untuk berpikir dan bertindak. Dulu, perempuan Indonesia dilarang menentukan jalan hidupnya sendiri semuanya serba terkekang dan tidak bebas. Tidak boleh ada seorang perempuan yang bisa menikmati bangku pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi apalagi bekerja di sebuah perusahaan karena budaya saat itu menganggap kedudukan perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Fenomena ini memang sudah mulai memudar, saat ini sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin. Perjuangan membuat mereka sadar bahwa perempuan juga mampu berkarya dan berkontribusi secara luar biasa bagi bangsanya. Misalnya saja Megawati, Hilarry Clinton termasuk Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.
“Yang membuat berbeda, saat ini perempuan Indonesia mempunyai hak untuk memilih jalan hidupnya dan masyarakat sudah mampu memberikan apresiasi terhadap pilihan itu. Semuanya berdasarkan saya suka maka saya pilih itu” ujar Esther. Perubahan ini dicermati oleh Esther bermuara ketika mulai banyak perempuan yang karena keadaan maka mengharuskan dirinya keluar rumah. Mereka bekerja untuk mencari penghasilan untuk kelangsungan hidupnya maupun keluarganya. Ada pula yang memilih untuk kembali lagi menuntut ilmu.
Saat itulah, banyak perempuan mulai berpikir bahwa ia ternyata mampu seperti layaknya laki-laki. “Pendidikan memang mampu mempengaruhi pola pikir seseorang. Akan tetapi ilmu pengetahuan itu bagai pedang bermata dua yaitu mencelikkan sekaligus membutakan” urai guru besar yang concern terhadap masalah perempuan ini. Salah satu contohnya, Esther menyebutkan dengan pendidikan yang tinggi seorang perempuan bisa saja menjadi pribadi yang superior dan melupakan kodratnya.
“Pilihlah karya yang sesuai dengan keinginan hati serta bertanggung jawablah akan pilihan itu dengan tidak meninggalakan perannya sebagai seorang perempuan” tutup ibu dari dua orang putra itu. (Aj/Inggrit)


Siwalankerto 121-131 Surabaya