Meneropong Workshop Service Learning Bangun Jejaring Kepedulian dan Pelayanan Antar Universitas
22/11/11

Service learning bukan hanya melatih kepandaian mahasiswa namun juga hati nurani dan kepedulian terhadap masyarakat sekitar”, demikian ujar salah satu peserta workshop service learning. Pendapat itupun diamini oleh semua peserta yang mendukung pelaksanaan metode Service Learning di kampus mereka masing-masing. Beginilah gambaran antusiasme peserta workshopThe Implementation of International Service Learning  : Challenge and Solution” yang digelar di Hotel Santika, Kamis (17/11) lalu.

Workshop yang diadakan oleh LPPM UK Petra ini mengundang 43 peserta dari 10 Universitas yang tergabung dalam BK-PTKI ( Badan Koordinasi Perguruan Kristen Se Indonesia) dan APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik se Indonesia). Workshop ini juga mengundang Wakil Presiden United Board (UB) yaitu Betty Cernol-Mc Cann, Ph.D. Dalam seminar ini Betty memberikan penjelasan mengenai dasar-dasar dan pengaplikasian service learning di Universitas.

 Menurut Profesor Liliany Sigit selaku kepala LPPM, workshop ini memiliki tiga tujuan. Salah satunya adalah untuk membentuk jaringan service learning antar universitas Kristen. “ Tujuannya adalah untuk membagikan pengalaman pelaksanaan  International Service Learning atau kalau di UKP dimanifestasikan dalam program COP. Kegiatan ini juga diharapkan bisa menyegarkan ingatan dosen akan metode service learning yang sudah harus diterapkan di jurusan masing-masing serta membentuk rantai jejaring service learning antar universitas agar kegiatan ini lebih sustainable”, papar  dosen  Arsitektur ini. Selain itu, dia juga menambahkan ajang ini sebagai presentasi kegiatan service learning yang sudah dilakukan masing-masing universitas.

Mengenai pembentukan jejaring service learning ini, Liliany ingin supaya melalui jejaring tersebut kegiatan service learning untuk universitas-universitas Kristen di Indonesia dikelola  dengan manajemen yang professional seperti di Lingnan University, Hongkong. “ Service learning di Lingnan, Hongkong sudah dikelola dengan professional bahkan memiliki biro sendiri. Saya lalu berpikir, apabila Hongkong bisa mengapa di Indonesia tidak. Apalagi sebagai universitas Kristen kami memiliki spirit untuk melayani sekitar kita”, ungkap Liliany. Untuk melaksanakannya memang tidak mudah namun menurut Liliany jika para dosen memiliki niat dan komitmen, hal ini pasti terlaksana.

Dalam  workshop ini juga telah ditentukan koordinator kegiatan kampanye service learning berikutnya yaitu Universitas Duta Wacana, Yogyakarta. Tugas dari koordinator ini menurut Liliany adalah bertanggung jawab mengadakan acara-acara yang berhubungan dengan service learning serta menjaga silaturahmi  antar jejaring universitas yang mengadakan service Learning (Chriz).

 

Galeri