Meneropong Kebudayaan Tionghoa Saat Ini
03/12/10

Masyarakat Tionghoa yang berasal dari dataran Cina datang ke Indonesia tentu saja juga membawaserta kebudayaan Tionghoa, yang sampai saat ini masih dilestarikan di Indonesia meskipun mulai memudar seiring berjalannya waktu. Acara Cangkruk’an Jumat siang yang bertemakan “Mencari identitas ke-Tionghoa-an” diadakan pada Jumat (3/12) di lantai 5 gedung W Universitas Kristen Petra. Pembicaraanya adalah Prof. Dr. Thomas Santoso dan Sally Azaria, S.Sos yang membahas keberadaan kebudayaan Tionghoa pada masyarakat saat ini.

                “Penelitian dilakukan untuk mencari tahu seberapa besar tingkat kebudayaan masyarakat Tionghoa yang masih ada di masyarakat saat ini. Besar tingkat kebudayaan masyarakat Tionghoa ini dapat dilihat dari nama, budaya, alat sehari-hari, dan sebagainya. Namun komunitas masyarakat Tionghoa inipun masih terbagi -bagi menjadi banyak bagian,” papar Thomas. Beragamnya komunitas masyarakat Tionghoa tersebut dapat ditemukan di sekitar kita. Sebanyak sembilan komunitas akhirnya dipilih mewakili untuk menjadi bahan referensi penelitian yang diadakan oleh Sally Azaria.

                “Kebudayaan Tionghoa ini sendiri pun telah mulai memudar dengan cepat, terutama sejak mulainya Orde Baru yang telah diadakannya Ethnic Cleansing, munculnya kebijakan-kebijakan yang dapat memudarkan kebudayaan Tionghoa ini, seperti diharuskannya mengganti nama Chinese menjadi nama Indonesia, pembatasan jumlah penerimaan untuk masyarakat Tionghoa di sekolah negeri, dan masih banyak kebijakan tidak adil lainnya,” lanjut Thomas. Menurut Sally, “Being A Chinese, menjadi masyarakat Tionghoa di tengah-tengah masyarakat Indonesia, harus tetap menjaga kebudayaan Tionghoa itu sendiri, namun juga harus memiliki jiwa Nasionalisme. Nasionalisme diukur dari memberikan yang terbaik bagi bangsa ini”. Sally ingin menjadikan penelitian tersebut sebagai thesis ini berharap bahwa masyarakat Tionghoa akan dapat tetap melestarikan kebudayaan Tionghoa ini, bukan justru memudar atau bahkan hilang lenyap karena banyaknya kebudayaan Indonesia lainnya. (Indra)

Galeri