26/11/10Bagaimana rasanya menjadi 'mayat hidup' yang harus menjalani hidup keseharian di tengah manusia hidup lainnya? Kisah inilah yang diangkat oleh Soe Tjen Marching, seorang penulis, komponis dan feminis asal kota Pahlawan. Novel fiksi bertajuk “Mati, Bertahun yang Lalu” ini hadir dengan satirnya yang menggelitik tentang konsep kematian dan kehidupan. Launching sekaligus diskusi novel fiksi ini digagas oleh jurusan Sastra Inggris pada Jumat lalu (26/11) di ruang Petra Little Theatre (PLT), gedung B lantai 2.
Novel setebal 153 halaman ini menceritakan tentang seorang karyawan klinik bedah plastik yang rajin tiba-tiba mati di meja kerjanya. Namun energi jiwanya tidak padam sehingga ia bangkit kembali dan berusaha menjalani hidup seperti manusia normal. Ternyata sulit sekali berpura-pura menjadi hidup. Ia tidak boleh lupa bernafas dan mengedip-ngendipkan mata agar orang-orang yang berada di dekatnya tidak curiga. Dalam keletihan menjadi mayat hidup, ia memutuskan untuk meninggal saja dengan cara bunuh diri. Tapi sayangnya, rencana tak berjalan lancar. Saat berusaha mencari mati yang sesungguhnya, ia kemudian dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang mengejutkan dan anehnya menghidupkan. “Satir yang disajikan begitu dinamis dan lincah, menyentil berbagai aspek kehidupan, khususnya kehidupan orang Indonesia. Ia mampu menghadirkan satir yang segar, tepat sasaran namun tidak menggurui”, urai Stefanny Irawan, S.S, moderator dalam acara tersebut.
Soe Tjen yang pernah bermukim di London selama lima tahun ini menyelesaikan karyanya tersebut selama empat tahun. Novel ini diambil dari cerita pendek yang dibuatnya ketika ia harus berobat, keluar masuk rumah sakit. “Surabaya sengaja dijadikan latar dalam novel ini. Alasannya simple, yakni rasa kangen dan ingin memberi sesuatu yang berbeda. Itulah, akhirnya Surabaya menjadi pilihan setting cerita ini” ujar Soe Tjen yang juga alumni jurusan Sastra Inggris UK Petra ini. (Aj)




Siwalankerto 121-131 Surabaya