“Strong and beautiful”. Dua kata ini menggambarkan paper brick hasil temuan Andereas Pandu Setiawan,S.sn.,M.sn., dosen Jurusan Desain Interior yang menjadi inventor sekaligus pioneer bahan bangunan yang ramah lingkungan dan dapat didaur-ulang.
Paper brick ini sendiri diperkenalkan saat workshop “Brick Painting” yang diselenggarakan di Grand City Mall, Jumat, 29 Juli 2011. Paper brick adalah temuan dari Andereas yang menggunakan bahan utama kertas sebagai bahan pengganti tanah liat yang biasanya digunakan untuk pembuatan batu bata. Ada beberapa keunggalan dari paper brick ini. Pertama paper brick ini menggunakan kertas yang mudah diperoleh di sekitar kita. Paper Brick ini dapat dibuat dari semua jenis kertas; oleh karena itu dapat mengurangi limbah kertas di sekitar kita. Keunggulan yang kedua adalah Paper Brick ini sangatlah ringan dikarenakan berbahan dasar kertas.
Andereas sendiri ingin membuat bahan bangunan yang ringan karena terinspirasi dari gempa bumi. ”Pada saat gempa bumi banyak orang mati karena tertimpa material bangunan seperti batu bata; oleh karena itu, saya membuat bata yang ringan supaya bila terjadi gempa, bata ini tidak bisa melukai orang,” ungkapnya.
Keunggulan yang ketiga dan yang paling penting bagi material banggunan adalah kekuatan. Paper brick ini memiliki kekuatan yang tidak dimiliki bata biasa. Paper brick ini dapat bertahan utuh ketika dilempar dari lantai 10. Selain itu, bata ini juga tahan terhadap api kurang lebih selama 8 jam dan juga tahan air kurang lebih selama seminggu. Keunggulan yang keempat adalah bata ini sangatlah ekonomis dikarenakan proses pembuatannya yang murah. Proses pembuatan paper brick ini dimulai dari pembuatan bubur kertas dari kertas bekas yang kemudian diberi perekat lalu dicetak dan dipadatkan yang kemudian dikeringkan. “Proses pemadatan tidak makan waktu lama, mungkin hanya 5 menit ;yang lama adalah proses pengeringan bisa sampai 2 hari itu sebab pengeringan ini hanya bisa dilakukan secara alami; bila di-oven, hasil akhirnya nanti akan melengkung,” ungkap bapak dua anak ini.
Keunggulan yang terakhir adalah dari segi estetika. “Bata biasa tidak dapat dilukis sedangkan temuan saya ini dapat dilukis,” ungkap pria yang hobi menggambar ini. Praktek melukis ini direalisasikan saat workshop brick painting hari jumat lalu. Para peserta workshop yang sebagian besar adalah mahasiswa UK Petra Jurusan Desain Interior inilah yang pertama kali mencoba paper brick ini. Mereka melukis menggunakan media paper brick dan hanya menggunakan lima warna yaitu hitam, putih, biru, merah, dan kuning.”Dalam workshop ini, peserta hanya diperbolehkan lima warna bertujuan untuk melatih kreatifitas dalam hal pencampuran warna; dalam dunia desain, kreatifitas merupakan segalanya,” ungkap Andereas mengakhiri pembicaraan. (Ardy)


Siwalankerto 121-131 Surabaya