Berbingkai Lumpur merupakan pameran foto yang digelar di perpustakaan UK Petra mulai tanggal 25 Mei hingga 11 Juni 2011. Pameran yang dibuka oleh Rektor UK Petra dan Sholahuddin Wahid ini adalah hasil kerja sama Perpustakaan UK Petra dengan Lafadl Intiatives, Hivos, dan Posko Advokasi & Kampanye untuk korban lumpur lapindo.
Pameran foto ini diadakan dalam rangka memperingati lima tahun tragedi lumpur lapindo. Fotografernya adalah anak-anak korban lumpur lapindo; mereka ingin menunjukkan potret kehidupan mereka sehari-hari kepada kita semua. “Awalnya kita sebagai warga tidak mengerti cara menggunakan kamera, apalagi menghasilkan foto yang bagus. Kita pun mengikuti pelatihan dan diajarkan bagaimana memotret kehidupan sehari-hari,” tutur Lilik Kaminah, salah seorang fotografer. Berikut foto karya Dyah Anggraeni, yang menunjukkan bagaimana kondisi sungai di desa yang terkena imbas lumpur. “Air dalam sungai tersebut tercampur minyak,” tukasnya.
Sebagian besar masyarakat mengira permasalahan lumpur lapindo sudah selesai, ternyata hingga saat ini permasalahan tersebut tak kunjung usai. “Pameran serupa pernah digelar di Jakarta dan Jogjakarta. Kami mengadakan pameran ini untuk membuktikan bahwa lumpur lapindo adalah tragedi kemanusiaan bukan bencana alam,” ungkap Gus Sholah. Peristiwa ini sudah berlangsung selama lima tahun, tapi Pemerintah belum menindaklanjuti. Belum lagi bencana lumpur Lapindo ini sempat memakan 13 korban yang meninggal dunia. “It’s really a human disaster. Lumpur Lapindo ini merupakan tragedi kemanusiaan terbesar, tetapi pemerintah malah tidak menggubris dan mengesampingkan permasalahan ini,” tambah Heru dari Lafadl Initiatives.
Dengan adanya pameran foto ini, diharapkan semua masyarakat dapat melihat lebih lanjut kehidupan mereka sehari-hari yang tidak pernah ditampilkan oleh media. Foto-foto tersebut mewakili isi hati mereka karena bencana lumpur Lapindo tidak pernah selesai. Mereka menampilkan pula bagaimana fakta yang terjadi di lumpur Lapindo, mulai dari lumpur yang terbakar, kondisi air yang buruk, pekerjaan mereka yang menurun drastis, dan sekitar 45 foto yang mereka potret.
Setelah para undangan menikmati pameran foto dan melakukan perbincangan dengan Gus Sholah, mereka pun menyaksikan pemutaran film Waiting for Nothing. Dalam film tersebut, kita diajak untuk melihat kisah perjuangan dan penderitaan dalam menghadapi bencana lumpur lapindo. (Rosa)



Siwalankerto 121-131 Surabaya