Berbekal Artikel, Jelajahi Seattle
07/06/11

Jalan-jalan ke Seattle gratis ? Terbayangkah ? Pengalaman istimewa inilah yang dialami oleh Paulina Sigit, mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi yang beberapa pekan lalu berkesempatan mengunjungi sister city kota Surabaya ini. Lewat kemampuannya menulis, ia lolos dalam lomba artikel yang digelar oleh Harian Jawa Pos sebagai peringkat ke-6. Lomba ini menantang para pesertanya untuk menuangkan pikirannya dalam tulisan yang terdiri tak lebih dari 500 kata. Hadiahnya tak tanggung-tanggung memang, uang saku, pengurusan visa plus tiket gratis menuju Seattle-Amerika Serikat.

”Tak menyangka, pada tanggal 12 April tepatnya hari selasa jam 6 sore saya  ditelpon oleh Jawa Pos. Saya ditawari untuk mengantikan posisi ke-5 yang tidak bersedia mengikuti program ini. Saya pun kaget banget dan waktu itu, saya pun langsung mengatakan mau”, ungkapnya sambil tersenyum. Akhirnya, pada Sabtu tanggal 7 Mei, Paulina bersama empat pemenang lainnya berangkat dari kota Surabaya menuju Seattle dengan melalui Singapura dan Jepang.

Sepekan di sana menjadi hari-hari yang menyenangkan baginya. Beberapa tempat yang ia kunjungi antara lain Disneyland, Sea World, Universal Studio, Hollywood Walk of Fame, Mann’s Chinese Theater. Apa lagi yang menarik dari wajah Seattle ? ”Terpesona dengan kurang lebih 600 ribu penduduk yang teratur dan disiplin”, ujar perempuan kelahiran 1990 yang hobby nonton ini. Selama di sana, para pemenang juga dapat melihat komitmen pemerintah terhadap keindahan, kebersihan dan kesehatan kota. Belum lagi sistem pendidikan yang bagus, didukung dengan fasilitas yang mewah seperti di Seattle Public Library yang merupakan salah satu perpustakaan terbesar di Amerika.

Menyinggung karyanya yang mengangkat judul Stereotip Dunia Profesional, dimuat di Jawa Pos pada Maret lalu, Paulina mengkritisi bagaimana jender menjadi standpoint yang memisahkan pria dan wanita dalam dunia kerja. Paulina juga mengungkapkan masyarakat dan dunia profesi masih terjebak dalam stereotipe ketika menentukan jenis kelamin bagi pekerjaan tertentu. Dengan lugas, ia juga menulis bahwa masyarakat patriarkhis memberikan posisi penting bagi pria daripada perempuan walaupun mereka memiliki kualifikasi yang sama. Ketika ditanya mengenai mimpinya kelak, Paulina berharap bisa bergerak di bidang pendidikan dan membantu anak muda agar punya semangat berkarya bagi masyarakat. (Stefan)

Galeri