Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


I-COME 2019
July 25, 2019

Berita terakhir



Fresh Graduate Academy, Program Kominfo RI untuk Hadapi Industri 4.0
July 18, 2019

Hari Senin, 1 Juli 2019, merupakan hari pembukaan program Fresh Graduate Academy Digital Talent Scholarship (FGA DTS) di Universitas Kristen Petra (UK Petra). Program inisiasi Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI) ini merangkul UK Petra sebagai salah satu penyelenggara dengan topik pelatihan di bidang Machine Learning

Kegiatan ini merupakan pelatihan peningkatan kompetensi bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan fokus utama tema yang sesuai perkembangan dan tuntutan IPTEK di era revolusi Industri 4.0. Pembukaan yang dilaksanakan di Ruang Konferensi IV Gedung Radius Prawiro akan dijalankan selama 36 hari lamanya. 

“Program ini diikuti oleh 55 peserta. Pesertanya merupakan mahasiswa yang tengah mengerjakan skripsi dan fresh graduate yang belum menjadi profesional.”, terang Silvia Rostianingsih, S.Kom., M.MT., ketua pelaksana program. Kegiatan pembukaan diawali dengan peresmian oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum & Keuangan, Agus Arianto Toly, S.E.,Ak.,M.S.A., dan pengenalan laboratorium Sistem Informasi Gedung P sebagai sarana pembelajaran dan dosen-dosen pengajarnya.  

“Program ini menjadi kesempatan buat kita semua, para pengajar belajar agar dapat menghadapi tantangan revolusi Industri 4.0.”, ujar Henry Novianus Palit, S.Kom., M.Kom., Ph.D., Ketua Program Studi Informatika dalam sambutannya. Para peserta sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan selama pelatihan. Mereka mempelajari hal-hal baru seperti penggunaan Amazon Web Service (AWS), Python, Deep Learning dengan TensorFlow, dan sebagainya. 

“Seru sekali. Saya tidak sabar menunggu sampai pembahasan machine learning.”, kata Eveline, salah satu peserta yang merupakan mahasiswa Sistem Informasi Bisnis UK Petra. (stf/Aj).

Baca berita
Memberikan Kualitas Pendidikan Terbaik
July 16, 2019

Untuk memberikan kualitas pengajaran yang prima Universitas Kristen (UK) Petra mendirikan Excellence in Learning and Teaching Center (ELTC). Inaugurasi ELTC diadakan pada tanggal 26 Juni 2019 bersamaan dengan digelarnya Seminar Whole Person Education (WPE) pada tanggal 26-28 Juni 2019 di Ruang Konferensi 4 Gedung Radius Prawiro lantai 10.

Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., dalam sambutan membuka seminar ini menyampaikan urgensi ELTC dan pemahaman atas WPE bagi para pengajar. Di era yang berubah dengan cepat ini, pemutakhiran cara belajar mengajar menjadi sangat penting. Kehadiran ELTC diharapkan meningkatkan kemampuan pengajar untuk bisa memberikan pendidikan berkualitas tinggi. Djwantoro mengatakan, “Our students are changing fast. So, we as teachers should also change fast”.

Aditya Nugraha, Ph.D., selaku Kepala ELTC menyampaikan bahwa hasil yang diharapkan adalah semakin banyak yang memahami tentang Whole Person Education. Menurut Aditya, dari Tri Dharma Pendidikan, yang menjadi perhatian ELTC adalah Pendidikan dan Pengajaran. Aditya mengatakan “Nanti audiensnya adalah para dosen. Kami memfasilitasi sehingga para dosen bisa ditingkatkan proses pembelajarannya. Mulai dari pembuatan kurikulum, pedagogi di kelas, class management, sampai dengan penggunaan media dan teknologi di kelas”

Seminar di hari pertama yang diikuti oleh dosen-dosen dan pejabat struktural dari berbagai instansi pendidikan tinggi di dalam negeri menghadirkan narasumber Roberto Conrado O. Guevara, Ph.D., dan Karen Diane Natera, MS., dari Ateneo de Manila University, Filipina. Roberto membawakan materi bertajuk “The Ministry of Education”. Sesi ini mengajak para peserta yang merupakan pendidik untuk merefleksi diri mengenai posisi sebagai pengajar. Menurut Roberto, pengajaran adalah sebuah perjalanan menuju wholeness (keutuhan).

Karen membawakan materi bertajuk “Foundations of Education”. Ia memaparkan bahwa ada tiga falsafah dasar edukasi, yaitu: esensialisme, progresivisme, serta social reconstructivism. Menurutnya untuk bisa menyelenggarakan WPE, maka para pengajar perlu memahami dan memakai pendekatan falsafah untuk secara utuh pengembangan para peserta didik. Sebagai penutup, Karen berpesan, “We should ask questions that students cannot google. If we present questions that they can google, they don’t need us”. (noel/padi)

Baca berita
Tim IBAcc UK Petra Raih Dua Gelar Juara dalam kompetisi paper Akuntansi
July 16, 2019

Adelina Lionivia, Ericka Tanoyo dan Mikhael Eliezer itulah ketiga mahasiswa Program International Business Accounting (IBAcc) UK Petra yang berhasil memboyong dua gelar sekaligus dalam kompetisi bertajuk Widya Mandala Speaks on Accounting (WIMASING) di Surabaya tanggal 2-4 Mei 2019 yang lalu. “Saya mengajak Alin dan Ericka untuk menjajal kemampuan diri. Persiapan yang kami lakukan sangat mepet tapi yang penting kita semua sudah melakukan yang terbaik”, ungkap Mikhael angkatan 2015 IBAcc UK Petra.

Tim ini berhasil menyabet dua gelar, Juara 2 dan Best Paper 1 dalam kompetisi paper akuntansi tingkat nasional. Mereka membawa paper berjudul “Analisa Manfaat XBRL dan Dampaknya Bagi Akuntan Muda Dalam Era Digitalisasi”. XBRL atau kepanjangan dari Extensible Business Reporting Languange ini sudah ada sejak tahun 2012 di Indonesia. “Sebenarnya metode ini sudah ada akan tetapi jarang dipakai di Indonesia. Menurut kami metode ini malah akan membantu kinerja akuntan makin optimal sebab laporannya sudah terstandarisasi dan akan menambah peluang kerja baru bagi Akuntan.”, urai Alin. 

Kompetisi ini terdiri dua tahapan yaitu babak preliminary berupa seleksi paper dan babak main event berupa presentasi. Tim mahasiswa IBAcc UK Petra harus bersaing dengan 14 tim lainnya dari 12 universitas yang berbeda. Pada saat tahap presentasi di hadapan tiga juri hanya diberikan waktu 15 menit saja. “Awalnya saya pribadi sangat tidak percaya diri mengikuti perlombaan ini tapi berkat dorongan Alin dan Mikhael saya menjadi lebih yakin menjalani kompetisi ini. Yang penting mencari pengalaman terlebih dahulu. Merasakan bagaimana tegangnya bersaing dengan kampus lain dan bagaimana mengatur waktu saat menyiapkan materi presentasi.”, ungkap Ericka. 

Tim ini berhasil membawa pulang hadiah totalnya sebesar Rp 5.500.000, Trophy, dan sertifikat. Keberhasilan tim mahasiswa IBAcc UK Petra ini juga tak lepas dari dukungan para dosen IBAcc. Semoga berita baik ini akan mendorong mahasiswa UK Petra untuk terus berprestasi. (Aj/padi)

Baca berita
Inspirasi Dari 11 Komunitas di Surabaya, Mahasiswa Desain Interior Rancang Ruang Budaya
July 15, 2019

Sejumlah 99 mahasiswa program studi Desain Interior Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar pameran ‘Interior Design for Creative Community’ selama tiga hari berturut-turut pada 19 - 21 Juni 2019 di Gedung P lantai 1. Pameran ini menampilkan proyek akhir untuk mata kuliah Desain Interior & Styling 4 (DIS 4) yang mengimplementasikan Service Learning dengan metode Human Centre Design.

Kegiatan ini melatih mahasiswa untuk meningkatkan empati terhadap kebutuhan riil komunitas dan melaksanakan kolaborasi dalam menemukan solusi pemecahan desainnya.”, jelas kepala studio DIS 4, Dr. Laksmi Kusuma Wardani, S.Sn., M.Ds. Hasil rancangannya berupa perancangan kebutuhan ruang bagi 11 komunitas berbagai bidang yang meliputi seni, pariwisata, religi, sejarah, ilmu pengetahuan dan budaya di Surabaya.

Mahasiswa yang terbagi dalam sebelas kelompok ini awalnya mencari dan mengajak kerja sama komunitas-komunitas yang berbeda di Surabaya. Kemudian  mengidentifikasi dan menganalisis kegiatan dari komunitas, mahasiswa secara individu membuat perancangan desain ruangan yang sesuai dengan kebutuhan kegiatannya. 

Selain pameran, program studi Desain Interior juga mengundang komunitas untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan dari bidangnya lewat workshop dan talkshow. Panggung tempat diadakannya menjadi ajang unjuk kreativitas mahasiswa dalam styling panggung yang sesuai dengan tema yang dibawakan. Styling panggung juga diuji oleh dosen-dosen sebagai implementasi dari mata kuliah DIS 4.

Laksmi mengharapkan pameran ini mampu meningkatkan apresiasi, eksistensi, dan percaya diri mahasiswa serta mengembangkan tanggung jawabnya dalam menyajikan hasil solusi pemecahan kepada masyarakat luas dan civitas kampus khususnya. “Saya ingin agar mahasiswa termotivasi untuk lebih lagi mengembangkan kompetensinya dalam bidang perancangan, penyajian dan presentasinya.”, tambahnya. (stf/padi)

Baca berita
Ajak Anak Sekolah Dasar Kenal Material
July 15, 2019

Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin dan Teknik Industri UK Petra menggelar acara Festival of Materials yang diselenggarakan pada 20-31 Mei 2019 yang lalu dengan bekerja sama dengan Perpustakaan dan LPPM UK Petra. “Acara yang baru pertama kali diadakan ini mengundang anak-anak Sekolah Dasar (SD) kelas 4-6 sebagai pesertanya. Mereka akan mengenal sifat-sifat material secara lengkap.”, ungkap Timotius Kevin Ronald Santoso selaku  koordinator acara. 

Berbagai kegiatan telah disiapkan mulai pukul 08.30-12.00 WIB tersebut diantaranya pameran poster, demo interaktif hingga lomba untuk mengenalkan jenis material pada mobil. “Perkenalan sejak dini tentang material ini agar anak-anak paham yang termasuk jenis material itu apa saja dan bisa diterapkan dalam produk mesin dan industri.”, urai Kevin.  

Peserta diantaranya berasal dari 29 peserta asal SD Pelangi Kristus dan 20 peserta yang berasal dari Vita School.  Kegiatan ini diadakan di dua tempat yaitu di lantai 6 perpustakaan UK Petra untuk melihat pameran. Mereka ditemani oleh tutor yang akan menjelaskan karya-karya yang sedang dipamerkan. Kemudian dilanjutkan menuju gedung Q yang dibagi menjadi dua tempat yaitu lab metalurki dan basement gedung Q. 

Saat berada di basement gedung Q,  anak-anak mengikuti lomba menebak material apa saja yang terdapat di mobil. Setiap anak diminta memberikan jawaban pada selembar sticky notes untuk kemudian ditempelkan pada benda tersebut. Sedangkan saat berada di lab metalurki anak-anak dijelaskan tentang sifat material. 

Adapun konten pamerannya meliputi perbedaan karet alam dan karet sintetis, penggunaan material dalam pesawat ulang alik, mengenal aneka rem pada setiap transportasi yang ada hingga penggunaan material dalam sepatu dan sandal jepit. Antusiasme anak-anak terlihat saat mengikuti kegiatan ini, mereka tampak aktif ikut bertanya di setiap sesi. (mgn/Aj)

Baca berita
Membangun Startup Business Yang Tangguh
July 04, 2019

Zaman yang serba canggih ini melahirkan banyak bisnis startup berbasis teknologi. Ada yang berhasil, namun ada pula yang gagal karena tidak sepenuhnya memahami teknisnya. Oleh karena itu, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) kelas Technopreneurship mengadakan seminar bertajuk ‘Step by Step on Starting a Technology Based Company’ pada hari Jumat, 14 Mei 2019. Seminar yang bertempat di Gedung Q ini mengundang CEO dan Head of Engineering Pegipegi, Kevin Sandjaja dan Petra B. Karunia, untuk berbagi pengalamannya kepada para peserta. Seminar dihadiri mahasiswa FTI dan alumni UK Petra. Seminar juga merupakan acara akhir yang dilalui mahasiswa FTI setelah memamerkan prototype yang dikerjakan selama perkuliahan Technopreneurship.

Felecia, S.T., M.Sc. selaku perwakilan dari dosen coach Technopreneurship mengungkapkan, seminar ini diadakan untuk memberikan wawasan mengenai tahapan pendirian usaha berbasis teknologi dari pengalaman nyata. “Saya berharap mahasiswa dapat termotivasi untuk menjadi technopreneur yang sukses setelah ikut seminar ini.”, ujarnya. 

Seminar dimulai dengan sesi sharing dari Kevin yang menceritakan lahirnya Pegipegi dan tahapan-tahapan yang dilakukan saat membesarkannya. Kevin meyakini membangun startup tidak hanya tentang pantang menyerah dan mengejar mimpi, namun juga memperhitungkan keadaan ekonomi pasar, ukuran permasalahan yang diselesaikan, model bisnis, serta nilai yang ditawarkan kepada user. Ia mengutarakan, startup tidak hanya tentang teknologi saja. “Technology is not everything, technology is to scale. ”, begitu bunyi semboyan yang dianutnya.

Sesi yang kedua, sharing dari Petra, menyambungkan topik yang dibawakan Kevin. Beliau menambahkan, memulai startup membutuhkan pikiran berbasis data dibandingkan intuisi, beradaptasi dibandingkan memprediksi, dan iteratif. “Saya juga menyarankan peserta bekerja dahulu dengan perusahaan yang tepat untuk mempelajari dunia pekerjaan dan seluk-beluknya.”, ujarnya. (stf/dit)

Baca berita
Berita lainnya