Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


AUPF 2018
November 06, 2018
IC-AMME 2018
September 26, 2018
IC-LBI 2018
September 26, 2018

Berita terakhir



Petra Christian University Proud to Host 2018 Asian University Presidents Forum
August 13, 2018

Petra Christian University (PCU) is proud to be the host for the Asian University Presidents Forum’s (AUPF) annual meeting this year. AUPF is a forum that brings together higher education institutions across Asia. Every year, member universities take turns to host the forum’s meeting, whose main purpose is to develop internationalization initiatives, particularly in the context of higher education. This event also becomes a hub for the exchange of ideas to increase the quality of higher education and to develop bilateral cooperation among higher education institutions in Asia.

The upcoming 17th annual meeting will be held on 6-8 November 2018 at PCU campus and Sheraton Surabaya Hotel and Towers. The forum will be attended by approximately 200 delegations consisting of university presidents and accompanying officials from more than 100 higher education institutions in Asia.

This year’s theme for the forum will be “Disruption at the Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education.” This theme was chosen because swift changes are happening in the world due to technology development, and most of these changes ultimately catch the society by surprise. The era of change is also known as the era of “disruption.” Many sectors and fields are affected, including education. The issue of change (or disruption) becomes a challenge that is fitting to be discussed and solved together, especially in Asia where development is ongoing at a rapid pace. Discussing this theme will result in strategic insights on how to deal with future challenges in the era of disruption and will also prepare the leaders of education in Asia to creatively address these challenges.

The 17th AUPF meeting features five prominent speakers who will each address different aspects of the forum’s theme. The keynote speech, which will address the main theme of the meeting, “Disruption at The Cross Roads: Innovative Engagement and Future Challenges for Higher Education,” will be delivered by Prof. Ainun Na’im, Ph.D., The Secretary General of the Ministry of Research, Technology and Higher Education of Indonesia.

Following the keynote session, four distinguished speakers will present in the Talk Show session, namely Prof. Dr. Jekuk Chang, the President of Dongseo University, South Korea, Brig. Jen. Datuk Prof. Emeritus Dr. Kamarudin bin Hussin, the Board of Directors Chairman from Universiti Sultan Zainal Abidin, Malaysia, Prof. Dr. (H.C.). Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr. Eng., the Rector of Petra Christian University in 2009–2017, Indonesia, and Prof. Dr. hab. C. Eng. Janusz Szpytko – AGH University of Science and Technology, Krakow, Poland.

The speakers will discuss three subthemes that are related to the conference main theme. The first subtheme will unpack the navigation of online courses at the age of disruption, while the second subtheme expands on shifting the way of learning through disruptive innovation. Finally, the last subtheme addresses the issue of disruption, globalization, and the changing context of education.

The discussion in the forum will be enriched by the perspectives of various higher education institutions across Asia. In addition to idea-sharing, one of the aims for this meeting is to provide an opportunity for the participants to network with each other. In fact, there will also be an opportunity for participating institutions to formalize their partnerships in the MoU Signing ceremony.

 

Moreover, Petra Christian University as the host has taken an initiative to publish a non-scientific journal where higher education leaders who are AUPF members can share their thoughts and ideas. It is hoped that the journal will be a legacy from the 17th Asian University Presidents Forum. “The journal will be a vehicle for higher education leaders to socialize their ideas to others. We hope that starting this year and in the following years, the journal will be routinely published every time an AUPF meeting is being held,” Prayonne Adi, M.MT., the Head of the AUPF 2018 Committee, mentioned.

Note: This article was originally published in Indonesian language in the March 2018 edition of Dwi Pekan, a bi-weekly publication of the Public Relations Department at Petra Christian University. The article is translated with permission from the Public Relations Department for use by the Committee of AUPF 2018. Some slight changes are made in the translated version in order to reflect the most current information.

Baca berita
Sampaikan Cita-Cita Politik Indonesia, Mahasiswi UK Petra Menangkan Lomba Vlog Kantor Staf Presiden
August 02, 2018

Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia memiliki cara lain untuk membuat anak-anak muda berkontribusi dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Lomba vlog KSP, itulah yang digagas oleh KSP RI agar para mahasiswa menyampaikan pendapatnya secara kreatif. Elisabeth Glory Victory, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra (UK Petra) berhasil menjadi pemenang dalam kategori Kontribusi Untuk Negeri.

Ada dua kategori dalam lomba vlog ini, kategori pertama yaitu Kontribusiku untuk Negeri yang berisi pendapat dan usulan atas kinerja pemerintah Indonesia. Sedangkan kategori kedua yaitu Caraku Menuju 2045 yang berisi cita-cita dan rencana 10 tahun ke depan, serta upaya apa yg dipersiapkan sejak sekarang. Peserta membuat vlog selama satu menit dan mengunggahnya di instagram pribadi masing-masing peserta, peserta juga harus mentag lima temannya. Disertai dengan menuliskan caption menarik, mention dan tag instagram Kantor Staf Presiden, serta memberi tagar #kantorstafpresiden, #KSPmendengar, #kerja3ersama, dan #KSPgoestocampus. Peserta diberi waktu untuk mengunggah video hingga 9 April 2018.

Elisabeth Glory Victory awalnya mengikuti kategori Caraku Menuju 2045, tetapi justru terpilih menjadi pemenang untuk kategori Kontribusiku untuk Negeri. Hal ini berdasarkan hasil pertimbangan juri karena substansi vlognya yang memberi pandangan tajam atas isu distrust anak muda terhadap pemerintah akibat gap komunikasi dan menunjukkan aksi konkrit dengan menjadi influencer sosial politik. Dalam vlognya, gadis yang biasa disapa Ory ini menyatakan keinginannya agar masyarakat Indonesia terutama anak-anak muda dan kaum terpelajar tidak lagi apatis dan peduli terhadap politik. Sebagai mahasiswa, Ory sering mendengar perkataan teman-temannya bahwa siapapun pemimpinnya, tidak akan ada perubahan, politik dianggap jauh dari kita. Buruknya persepsi terhadap pemerintah ini menimbulkan apatisme di kalangan mahasiswa. Publisitas akan bobroknya Indonesia juga menambah gap dan distrust politik di kalangan masyarakat. “Rasa kecewa menghambat kontribusi anak muda untuk membuat gebrakan, padahal kita anak-anak muda adalah kunci perubahan,” ungkap alumnus SMAKr Petra 2 ini.

Menyongsong 100 tahun Indonesia di tahun 2045 mendatang, mahasiswi kelahiran Ambon 20 tahun silam ini menyatakan keinginannya untuk menghentikan distrust politik yang ada. “Indonesia butuh pemimpin, tapi bukan hanya di bidang politik, tetapi juga di sosial media. Karena itulah yang menyuntik informasi bagi mahasiswa seperti kami, agar menceritakan bahwa harapan itu masih ada dan bahkan sangat terang bagi yang mau berjuang,” ujar mahasiswa semester lima ini.

Sebagai hadiah, Ory berkesempatan melakukan eduventure ke Kantor Staf Presiden di Jakarta pada 28-29 Juni 2018. Kantor Staf Presiden juga membiayai transportasi, akomodasi, dan juga memberikan uang saku sebesar Rp. 1.000.000,-. Selama di Jakarta, putri pasangan Mayri Suzana dan David Yenarto ini diajak berkeliling Kantor Staf Presiden, berdiskusi dengan para staf Kantor Staf Presiden, serta bertemu dengan Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia. (rut/Aj)

Baca berita
Perkenalkan Teknologi Building Information Modeling dan Artificial Intelligence di Bidang Konstruksi
August 01, 2018

Doddy Prayogo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) menerima hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam program World Class Professor (WCP). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi dan kerja sama antara dosen Indonesia dengan profesor kelas dunia. WCP memiliki dua kegiatan besar, yaitu mendatangkan profesor dari luar negeri ke Indonesia dan kunjungan dosen Indonesia ke kampus profesor tersebut. Kedatangan profesor ke Indonesia dilakukan untuk menjalin diskusi, riset bersama dan pertukaran ilmu. Sebagai bentuk implementasi program WCP, dilaksanakan seminar bertajuk Building Information Modeling (BIM) and Artificial Intelligence (AI) Applications in Construction Engineering. Seminar yang diikuti oleh sekitar 140 peserta ini dilaksanakan pada 5 Juli 2018 di Auditorium UK Petra.

BIM adalah teknologi di bidang konstruksi dan arsitektur yang dapat menyimulasikan model pembangunan dari suatu proyek  dengan berbagai macam informasi yang terintegrasi. BIM memerlukan aplikasi software seperti AutoCAD untuk menunjukkan tahapan pembangunan suatu proyek dilihat dari sifat fisik dan fungsional secara terperinci dari masa ke masa. Sedangkan AI atau kecerdasan buatan di manajemen konstruksi merupakan penggunaan kecerdasan buatan untuk menyelesaikan masalah dalam proyek teknik sipil salah satunya dalam penentuan tata letak fasilitas dan keamanan pekerja di proyek konstruksi. “Dengan mengimplementasikan BIM dan AI  dalam proyek konstruksi maka akan meningkatkan keuntungan dalam segi biaya, waktu, dan mutu. Selain itu, teknologi ini dapat meminimalisir terjadinya kesalahan kerja,” ujar Doddy.

Dalam seminar ini hadir Prof. Min Yuan Cheng, Ph.D, seorang profesor dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taiwan. Prof. Min Yuan Cheng berbicara tentang tiga hal yaitu Novel Intelligent Green Building-Mega House (Rumah berteknologi tinggi dengan konsep bangunan hijau), BIM Integrated Smart Monitoring Technique for Building Fire Prevention and Disaster Relief (Penggunaan Building Information Modelling dan sensor wireless untuk pencegahan kebakaran dan penanggulangan bencana), dan Particle Bee Algorithm for Construction Site Layout Optimization (Kecerdasan buatan untuk manajemen konstruksi). Penerapan BIM memerlukan biaya tambahan yang sangat mahal, kebanyakan owner di Indonesia berorientasi pada pengoptimalan biaya, hal ini menyebabkan penggunaan BIM masih jarang ditemui di Indonesia. Sedangkan di Taiwan, hampir semua kontraktor sudah sangat sering menggunakan BIM karena owner akan lebih memilih kontraktor yang menggunakan BIM karena ia yakin proyeknya akan terintegrasi dengan baik,” ujar Prof. Min Yuan Cheng.

Kedua pembicara selanjutnya adalah Andreas F.V. Roy, Ph.D dan Adrian Firdaus , S.T., M.Sc., yang berasal dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Andreas berbicara mengenai Potential Application of Evolutionary Support Vector Machine in Discharge Forecasting, prediksi volume air pada waduk selorejo. Sedangkan Adrian berbicara mengenai Preliminary Study of BIM Knowledge and Implementation in Indonesia, survey tentang BIM di Indonesia. Pembicara berikutnya adalah Tri Joko Adi, Ph.D., yang berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tri berbicara mengenai Kecerdasan Buatan untuk Keselamatan Pekerja Konstruksi. (rut/padi)

Baca berita
Harga yang Tidak Mungkin Ditolak Klien
August 01, 2018

Seringkali karya seorang desainer tidak terapresiasi dengan baik. Dalam keseharian, belakangan ini sering kita temui bahwa pekerjaan mendesain dipandang sebelah mata dan diberi harga yang murah. Apabila desainer muda tidak memiliki sikap dan bekal yang cukup untuk menghadapi pandangan ini, keahlian desainer bisa semakin tidak dihargai. Untuk memberikan sudut pandang, dan sikap yang tepat terkait menentukan harga bagi para desainer muda, Continuing Education Center (CEC) menyelenggarakan seminar bertajuk “Set Your Price” yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 30 Juni 2018 di Satu Atap Coworking Space. Sebanyak 11 orang desainer muda hadir dalam seminar ini.

Deddi Duto Hartanto, S.Sn., M.Si., dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra dan pendiri Maindesign Surabaya hadir sebagai pembicara pertama. Dedi mengangkat pentingnya merubah mindset desainer untuk bermigrasi dari menghasilkan karya ke menghasilkan ide. Menjual karya adalah memenuhi permintaan klien dengan eksekusi yang baik. Saat ini, banyak desainer yang tidak berasal dari latar belakang akademik bisa menghasilkan karya dengan eksekusi yang baik. Situasi ini menyebabkan karya desain menjadi sesuatu yang semakin umum dan akhirnya nilainya pun semakin berkurang. Di sisi yang lain, ide selalu memiliki nilai lebih dibandingkan karya. Dedi memberikan tips dalam menyampaikan ide pada klien, yaitu: 1) desainer perlu memahami problem klien; kemudian 2) memberikan solusi yang relevan; dan 3) memberikan harga yang tidak mungkin ditolak klien. Proses dalam mengkonsep suatu ide menuntut desainer berperan sebagai konsultan bagi klien. Harga yang tidak mungkin ditolak ini adalah hasil dari komunikasi dan ide sebagai solusi yang sesuai dengan kebutuhan klien. “Untuk klien bisa menerima ide, perlu ada proses edukasi”, kata Dedi menggambarkan proses konsultansi.

Sesi kedua bertajuk “How to Set the Right Price?” dengan narasumber Dr. Michael Adiwijaya., SE., MA., dosen Program Studi Magister Manajemen UK Petra dan Direktur Magna Consulting Group. Sesi ini memberikan kesempatan brainstorming dan pelatihan merancang pemasaran untuk desainer khususnya dalam hal menentukan harga. Untuk menentukan harga, pertama-tama perlu ditentukan target pasar, kemudian perlu ada pemahaman atas pasar yang ditarget, lalu perlu identifikasi nilai unik khusus yang bisa ditawarkan desainer pada klien. Michael menyampaikan pentingnya memahami bahwa persepsi klien adalah lebih penting dari realita, “Penilaian konsumen atas harga bersifat relatif, mahal atau murah suatu barang tergantung dari  persepsi konsumen yang menilainya”.

Sebagai pembicara pamungkas, James Frederick Tandi, owner Bebocto Creative Design Studio membawakan materi bertajuk “Good Process from Setting Up the Right Price”. James yang terjun ke dunia profesional sejak lulus dari SMAK St. Maria Surabaya ini menyampaikan bahwa dengan menentukan harga yang benar maka proses yang baik bisa dilaksanakan dengan nyaman. James menekankan pada pentingnya value, nilai yang diciptakan, bagi seorang desainer dalam menetapkan harga karyanya. Apabila desainer hanya melihat pada menghasilkan produk, maka harga yang bisa diminta terbatas pada produk tersebut. Menurutnya memberikan 5 star services bisa menciptakan value tambahan yang membuat seorang desainer dihargai lebih. James membagikan pengalamannya sebagai vendor produksi buku tahunan beberapa SMA di Surabaya. Pada awal karirnya, ia berhasil mengambil alih klien dari kompetitor yang adalah perusahaan besar dan menawarkan harga produk yang lebih murah. Menurutnya, klien memiliki kebutuhan dan potensi yang berbeda-beda, keunikan masing-masing klien ini perlu ditangkap. Dengan proses konsultasi dan memberikan nilai lebih, desainer akan bisa menetapkan harga yang sesuai yang memberikan manfaat bagi klien dan tetap nyaman bagi desainer. (noel/padi)

Baca berita
Dosen Teknik Sipil UK Petra, Doddy Prayogo Raih Hibah World Class Professor Kolaborasi dengan Taiwan
July 26, 2018

Salah satu dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) berhasil meraih hibah Program World Class Professor (WCP) skema B. Program WCP ini merupakan program dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) dalam upaya untuk meningkatkan peringkat Perguruan Tinggi (PT) menuju QS WUR 500 terbaik dunia. Seluruh pendanaan kegiatan ini ditanggung penuh oleh Kemenristekdikti RI.

Apa itu WCP? WCP ini sebuah program mengundang profesor kelas dunia dari berbagai PT ternama dalam negeri/luar negeri sebagai visiting professor untuk ditempatkan di berbagai PT di Indonesia selama kurun waktu maksimum sampai akhir bulan November 2018. WCP ini sendiri terbagi menjadi dua bagian, yaitu WCP skema A (level institusi) dan WCP skema B (level perorangan). Ada banyak syarat yang harus dipenuhi dalam mengikuti hibah bergengsi ini, salah satunya untuk WCP skema B, dosen yang mengajukan hibah harus minimal bergelar Doktor dan berkolaborasi dengan Profesor Luar Negeri berprestasi minimal memiliki h-index Scopus ≥ 10.

Banyak kegiatan yang dilakukan dalam kolaborasi ini, salah satunya dosen yang mendapatkan hibah harus menghasilkan publikasi bersama yang terpublikasi pada November 2018 dan saling berkunjung menularkan ilmunya di negara masing-masing. Peraih hibah ini salah satunya, yaitu Doddy Prayogo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., seorang dosen Program Studi Teknik Sipil UK Petra. Pada 14 Juli hingga 10 Agustus 2018, Doddy Prayogo, Ph.D., berangkat ke Taiwan. Dosen berusia 31 tahun tersebut berkolaborasi dengan Prof. Min-Yuan Cheng, Ph.D. dari National Taiwan University of Science and Technology (NTUST), Taiwan.

Doddy, begitu ia biasa dipanggil, akan menitikberatkan penelitian mengenai aplikasi kecerdasan buatan dalam dunia teknik sipil khususnya pemodelan perilaku material konstruksi. “Penelitian mengenai kecerdasan buatan khususnya di dunia teknik sipil ini sangat jarang dilakukan. Padahal ilmu yang lain sudah mulai menggunakannya. Saya ingin sekali penelitian di bidang dunia teknik sipil ini, khususnya di Indonesia,juga maju jika perlu go international.”, urai Doddy, pria kelahiran Banjarmasin itu. Penerapan kecerdasan buatan ini tidak bisa dihindarkan. Hal ini disebabkan kita telah memasuki industri generasi keempat atau biasa disebut industri 4.0, dimana industri mulai menyentuh dunia virtual berbentuk konektivitas manusia, mesin, dan data. Istilah ini biasa disebut dengan internet of things.

Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Program Studi Magister dan Doktor Teknik Sipil UK Petra menerangkan, jika selama ini dalam dunia konstruksi untuk menentukan fasilitas dan keamanan pekerja di proyek konstruksi berdasarkan intuisi dan pengalaman kerja. Hal ini bisa menyebabkan hasil yang didapatkan tak maksimal dan terjadi kesalahan dalam bekerja. Misalnya seorang pekerja dalam menjalankan tugasnya membutuhkan letak kantor dan gudang berdekatan akan tetapi berdasarkan intuisi, letak kedua fasilitas ini ditempatkan berjauhan. Jika menggunakan kecerdasan buatan, maka data-data kedua fasilitas tersebut bisa diatur sedemikian rupa untuk efisiensi dan efektivitas  pekerja.

Selama lebih kurang 28 hari, Doddy berbagi ilmu di hadapan para mahasiswa dan praktisi konstruksi Taiwan. “Untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia, para peneliti harus berani mengambil hibah. Hibah Kemenristekdikti menawarkan banyak kesempatan untuk para peneliti mendapatkan pengalaman dan wawasan baru.”, tutup Doddy. (Aj/dit)

Baca berita
Dosen Teknik Industri UK Petra Raih Hibah Program World Class Professor
July 26, 2018

Dalam program World Class Professor (WCP) yang diadakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengirimkan tiga perwakilan yang kesemuanya berhasil mendapatkan hibah untuk skema B. Salah satunya adalah dosen Program Studi Teknik Industri, I Gede Agus Widyadana, S.T., M.Eng., Ph.D. WCP merupakan program mengundang profesor kelas dunia dari berbagai Perguruan Tinggi (PT) ternama dari dalam negeri atau luar negeri sebagai visiting professor untuk ditempatkan di berbagai PT di Indonesia selama kurun waktu maksimum sampai akhir bulan November 2018. Program ini bertujuan supaya dosen atau peneliti dapat berinteraksi dengan profesor ternama dan unggul sehingga bisa meningkatkan kehidupan akademis, kompetensi, kualitas, dan kontribusinya bagi pengembangan ilmu pengertahuan dan teknologi di Indonesia. Terdapat dua skema yang dapat diikuti, yaitu skema A untuk level institusi dan skema B untuk perorangan.

Dalam program WCP ini, dosen yang telah mengabdi di UK Petra selama lebih dari 20 tahun ini mendapatkan hibah sebesar Rp 151.000.000,-. Topik yang diangkat adalah pengendalian persediaan untuk produk yang memiliki tingkat kerusakan tinggi. Beberapa produk seperti sayuran, susu, dan buah-buahan memiliki tingkat kerusakan tinggi. Kerusakan meliputi pembusukan, penguapan, keusangan, hingga penurunan kualitas dari suatu komoditas. Selain karena menarik, topik ini dipilih karena seringkali nilai persediaan dipandang sebelah mata.

Saat persediaan berkurang karena rusak, biaya yang dikeluarkan cukup tinggi, sehingga dapat mengurangi pendapatan yang seharusnya diperoleh. Di Indonesia banyak sekali produk-produk pertanian yang mudah rusak. “seringkali orang tidak mempertimbangkan jumlah barang yang disimpan, padahal persediaan yang tidak bergerak disebut dengan modal mati. Pada umumnya, nilai dari persediaan dalam sebuah industri itu tinggi,” ujar dosen yang menyelesaikan pendidikan magisternya di Asian Institute of Technology, Thailand ini.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui cara mengoptimalkan jumlah barang yang dipesan, jumlah yang disimpan, serta kapan harus memesan kembali, sehingga biaya pemesanan, biaya persediaannya rendah, serta biaya tingkat kerusakannya juga rendah.

Dalam pelaksanaannya, WCP memiliki dua kegiatan besar, yaitu mendatangkan profesor dari luar negeri ke Indonesia dan kunjungan dosen Indonesia ke kampus profesor tersebut. Untuk itu, Gede menggandeng Prof. Hui Ming Wee, B.Sc., M.Eng., Ph.D. dari Chung Yuan Christian University, Taiwan. Prof. Hui Ming Wee yang memiliki h-index Scopus 32 ini telah mempublikasikan sebanyak 244 jurnal, beberapa diantaranya merupakan hasil kolaborasi dengan Gede. Selain itu, Prof. Hui Ming Wee juga merupakan salah satu profesor yang terkenal di bidangnya dan telah menerbitkan sebanyak 17 buku akademis, serta telah memperoleh beberapa paten.

Nantinya Prof. Hui Ming Wee akan tinggal di Indonesia pada 20 Agustus hingga 3 September 2018 mendatang. Selama kunjungannya di UK Petra, beliau akan mengisi seminar, lokakarya, dan juga menjadi dosen tamu. Setelah itu, Gede akan  berkunjung ke Chung Yuan Christian University selama tiga minggu. Tujuan kunjungan ini adalah untuk berdiskusi dan menyempurnakan makalah yang telah dibuat. “Harapan saya dengan adanya program WCP ini adalah dapat menularkan semangat bagi rekan-rekan dosen untuk melakukan penelitian dan menulis jurnal ilmiah berkualifikasi bagus, sehingga dapat mengangkat nama Indonesia dan khususnya UK Petra di dunia internasional,” ungkap Ketua Program Studi Magister Teknik Industri UK Petra ini. (rut/dit)

Baca berita
Berita lainnya