Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


I-COME 2019
July 25, 2019

Berita terakhir



Ajak Masyarakat Lawan Kekerasan Lewat A Story of Wounds
December 12, 2018

Tidak ada seorangpun pantas untuk disakiti. Akan tetapi kenyataannya Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih terjadi di tengah masyarakat. KDRT merupakan perbuatan yang berakibat atau dapat menyebabkan penderitaan fisik, psikis, seksual, termasuk pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, serta penelantaran ekonomi yang terjadi baik dalam di dalam maupun di luar ikatan perkawinan.

Berangkat dari rasa kepeduliannya terhadap isu kekerasan, Jessie Monika, S.S. menuliskan naskah berjudul “A Story of Wounds” yang dipentaskan dalam teater musikal di Petra Little Theatre (PLT) Universitas Kristen Petra (UK Petra). Pementasan berdurasi 105 menit ini, PLT bekerja sama dengan Christian Xenophanes sebagai komposer musik untuk lagu-lagu yang digunakan dalam pementasan. Selain itu, pementasan ini juga merupakan kolaborasi antara PLT dan kelas Stage Production Program English for Creative Industry (ECI) UK Petra.

Disutradarai Stefanny Irawan, S.S., M.A., pementasan ini juga dalam rangka memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP). Pementasan digelar selama empat hari mulai tanggal 21-24 November 2018 di ruang PLT UK Petra. “Isu ini sangat penting, tetapi seringkali hal ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara luas di masyarakat, bahkan dianggap sebagai aib bagi korban dan keluarganya,” ujar Jessie.

A Story of Wounds bercerita tentang kehidupan seorang pelukis muda bernama Nina yang menikah dengan Ruben, seorang lelaki dari keluarga terpandang yang dikenal baik dan kaya. Ruben memiliki kebiasaan buruk sebagai pecandu alkohol, dan menjadi seorang yang sangat kasar saat terpengaruh minuman keras. Disaat itu, seringkali Ruben menyakiti Nina dan meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya. Ruben tahu apa yang dilakukannya terhadap istrinya itu salah, oleh sebab itu ia selalu berusaha berbuat baik pada Nina sebagai permohonan maaf.

Namun hal mengerikan tersebut terus berulang, walaupun keluarga Ruben mengetahui perbuatan tersebut, tapi memilih untuk menutup mata dan berusaha “menyembunyikan” Nina dari masyarakat. Ternyata Ruben memiliki kisahnya sendiri, anak pertama yang disiapkan menjadi pemimpin perusahaan, ia mendapat banyak tekanan, sehingga ia melampiaskannya dengan minuman keras. Nina menjadikan karya dan lukisannya sebagai alat untuk mencurahkan perasaan dan keadaannya pada masyarakat luas.

Menurut Jessie, para penyintas pada umumnya merasa dirinya layak menerima perlakuan tidak manusiawi macam ini oleh karena itu tidak berani mencari pertolongan. Ini salah satunya diakibatkan oleh adanya anggapan dari masyarakat bahwa KDRT merupakan hal yang cukup wajar dilakukan oleh seorang suami terhadap istri. Sebelumnya Jessie melakukan wawancara dengan seorang penyitas, Jessie juga berkonsultasi dengan psikolog yang menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Melalui pementasan ini, Jessie ingin menekankan bahwa kekerasan terhadap siapapun, dengan dalih apapun, tidak dapat dibenarkan. “Melalui pementasan ini saya ingin menghimbau masyarakat jika melihat atau mengalami hal seperti ini, jangan hanya diam tetapi bertindaklah karena setiap manusia tidak layak diperlakukan seperti itu,” ungkap Jessie. (rut/Aj)

Baca berita
Kenalkan Dunia Industri Lewat Industrial Competition
December 11, 2018

Saat ini kita sedang memasuki Revolusi Industri 4.0, yang memungkinkan pekerjaan-pekerjaan manusia digantikan dengan mesin dan robot. Untuk mengenalkan hal ini kepada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), Program Studi Teknik Industri Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggelar Industrial Competition (IC) 2018. Industrial Competition merupakan kegiatan rutin tahunan, tahun ini merupakan tahun ke-28 penyelenggaraan IC ini. Kali ini, tema yang dipilih yaitu Industrial Revolutionary 4.0. Lomba yang dilaksanakan pada 1-3 November 2018 di Pakuwon Trade Center ini diikuti oleh 80 kelompok siswa-siswi dari berbagai SMA di Jawa Timur. “Tema ini dipilih karena seperti yang bisa kita rasakan revolusi industri 4.0 berpengaruh di seluruh bidang kehidupan era modern ini. Generasi muda memiliki peranan penting dalam penerapan Industri 4.0 karena generasi muda yang akan melanjutkan sektor-sektor industri di masa yang akan datang,” ungkap Bertinus Enrico Rahardjo, selaku ketua panitia Industrial Competition 2018.

Kegiatan IC 2018 dibagi menjadi tiga babak, yaitu babak penyisihan, semifinal, dan final. Pada babak penyisihan, peserta berkompetisi dengan cara yang menyenangkan yaitu rally games. Terdapat 24 pos yang tersebar di penjuru Pakuwon Trade Center. Setiap permainan rally games memiliki esensi dari keilmuan Teknik Industri mulai dari tingkat dasar hingga tingkat yang lebih tinggi. Salah satu contohnya adalah Calculator, permainan ini menguji logika berpikir perserta, dan menuntut peserta untuk berpikir cepat dan tepat.

21 kelompok terbaik dari babak penyisihan, melaju ke babak semifinal pada 2 November 2018. Pada babak semifinal, peserta melakukan simulasi industri menggunakan sistem web. Setiap kelompok diibaratkan sebagai perusahaan, dari 21 kelompok dibagi menjadi tiga negara yaitu Indonesia, China, dan Singapura. Dengan menggunakan virtual money dengan tiga nilai mata uang, perusahaan dapat meminjam modal awal, menabung, dan menukarkan nilai mata uang dari bank. Selain itu perusahaan dapat membeli bahan baku dari pasar beli, bahan baku dirakit menjadi bahan jadi yang dapat dijual di pasar jual.

Perusahaan akan membuat barang sesuai permintaan dari pasar yang diwakilkan oleh panitia, setelah menjualnya perusahaan mendapatkan profit dan mengembangkan industrinya. “Melalui simulasi ini, kami ingin  mengenalkan tentang aplikasi kerja di dunia industri kepada siswa SMA, serta apa saja yang dapat dipertimbangkan dalam dunia industri seperti modal awal, produktivitas kerja, permintaan pasar, sekaligus menunjukkan bahwa realita setiap perusahaan itu berbeda-beda tergantung dari berbagai faktor tersebut,” ujar Kevin Chandra Gunawan, selaku koordinator materi Industrial Competition 2018.

Di akhir, uang yang telah dikumpulkan oleh masing-masing perusahaan akan dikonversikan ke dalam satu mata uang. Lima kelompok dengan jumlah profit terbanyak terpilih menjadi pemenang dan melaju ke babak final. Pada babak final, peserta melakukan kunjungan ke PT Integra untuk permasalahan yang dihadapi dalam dunia Industri. Permasalahan yang diangkat adalah masalah penerapan Industri 4.0. Para peserta diminta mempresentasikan ide-ide kreatif untuk memecahkan masalah tersebut dan diikuti dengan sesi tanya jawab. SMAKr Petra 1 Surabaya berhasil meraih juara I dalam Industrial Competition, juara 2 diraih oleh SMAK St. Louis 1, dan juara 3 diraih oleh Charis National Academy. (rut/padi)

Baca berita
Optimis Menyongsong Perang Dagang
December 10, 2018

Memahami gejala dalam perekonomian dan membuat prediksi adalah hal yang penting dalam dunia usaha. Program studi International Business Accounting (IBAcc) Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengadakan acara Accounting Talk pada 7 November 2018, dengan tema “Economic Outlook 2019” di AVT 503.

Hadir sebagai narasumber Dr. Ricky, S.E., M.R.E., Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomi UK Petra serta Prof. Lee Chew Ging, Dekan Faculty of Arts and Social Sciences dari University of Nottngham Malaysia.

Ricky dalam sesinya memberikan prakiraan ekonomi Indonesia di tahun 2019 dengan memaparkan beberapa hal yang akan terjadi yaitu pemilu, pengerjaan mega proyek infrastruktur di Indonesia, dan hari raya Idul Fitri. Dipaparkan pemilu tahun depan adalah pemilu yang unik karena kali pertama pemilihan legislatif dan eksekutif di Indonesia dilaksanakan secara langsung dan bersamaan. Pemilu 2019 juga berbeda dengan pemilu 2014, dimana di pemilu 2014 tidak ada inkumben yang mengikuti pemilihan. Menurut Ricky, menjelang  pemilu para investor akan lebih banyak bersikap wait and see. Pembangunan infrastruktur yang digiatkan pemerintah sejak tahun 2014 menyisakan beberapa proyek yang sangat besar untuk dikerjakan di tahun 2019. Industri pendukung pembangunan infrastruktur bisa dipastikan memiliki peluang yang sangat besar. Mengenai Idul Fitri, Ricky mengangkat analisa bahwa penyebab demand atas barang pokok pada Lebaran 2018 cenderung lebih sedikit, dikarenakan tahun ajaran baru sekolah berdekatan dengan hari Lebaran yang menyebabkan pola konsumsi masyarakat menjadi lebih terkontrol, hal yang sama bisa terjadi di tahun 2019.

Setelah memaparkan faktor besar yang akan terjadi pada 2019 di Indonesia, Ricky memaparkan kondisi global yang mempengaruhi dunia bisnis pada umumnya, yaitu  Industrial 4.0 dan disruptive innovation. Menurutnya, trend yang terjadi dalam atmosfer era disruptif ini adalah transformasi pola konsumsi dari produk yang rumit dan mahal, ke arah produk yang lebih sederhana dan murah. Hal ini dikombinasikan dengan berkembangnya kelas menengah Indonesia (rumah tangga dengan pengeluaran bulanan 2-3 juta per bulan), bisa disimpulkan pada lebih meratanya segmen konsumen Indonesia. Ricky kemudian menyimpulkan dengan paparan tentang apa yang perlu dilakukan di 2019. Menurutnya, yang terutama dalam kondisi ini adalah membangun brand dan membawa bisnis ke dunia maya. Ricky menyampaikan satu jargon, “Mayakan yang nyata, nyatakan yang maya. Disingkat MYNYM”.

Lee sebagai pembicara kedua menitikberatkan paparan pada situasi ekonomi makro ASEAN. Analisa dilakukan dengan komparasi indikator ekonomi Indonesia dengan negara-negara ASEAN. Lee melihat bahwa Indonesia beberapa tahun terakhir mendapatkan keuntungan lebih dari foreign direct investment (FDI/investasi asing langsung). Lebih lanjut, Lee membahas bahwa kekhasan perekonomian Indonesia yang cenderung tidak terlalu terpengaruh dengan sentimen ekonomi global dan lebih banyak dipengaruhi trend regional. Hal ini ditambah dengan semakin kuatnya perdagangan dalam lingkup Asia yang memberi optimis pada ketahanan ekonomi Indonesia menyongsong 2019. Di tahun 2019, faktor besar global yang terjadi adalah adanya perang dagang Amerika Serikat versus Republik Rakyat China (RRC). Dalam perang dagang ini, AS berusaha merebut kembali porsi pasar manufaktur yang direbut RRC. Lee menampilkan data yang memperlihatkan bahwa porsi AS dalam pasar barang manufaktur menurun dari 29% di tahun 1980 menjadi 18.1% di tahun 2016. RRC di sisi lain, sudah menyalip AS dengan porsi 26% sejak tahun 2014.

Bagi Indonesia, perang dagang ini perlu diantisipasi dengan pemahaman bahwa FDI dari RRC adalah cukup besar. Perang dagang perlu dipantau untuk mengantisipasi pengurangan investasi dari RRC. Lee kemudian memaparkan langkah yang bisa dilakukan di tahun 2019, yaitu menjadi penyuplai Amerika Serikat  dan RRC untuk barang yang terdampak oleh perang dagang dan membangun ekonomi yang lebih tangguh di Asia Timur yang tidak mudah dipengaruhi negara-negara dengan ekonomi raksasa. Lee mengatakan, perang dagang Amerika dan RRC berdampak minimal untuk Indonesia dikarenakan sebagian besar produk Indonesia berupa komoditas, Indonesia harus memastikan harga komoditasnya tetap stabil.  (noel/dit)

Baca berita
UK Petra Raih Akreditasi Institusi A dan Anugerah Kampus Unggulan
December 04, 2018

Universitas Kristen Petra (UK Petra) kembali menuai prestasi. Kemarin (28/11) berita bahagia datang dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang mengumumkan melalui websitenya bahwa UK Petra mendapatkan Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) A. Bersamaan dengan itu, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII (LLDIKTI Wilayah VII) juga menganugrahi UK Petra sebagai Perguruan Tinggi Unggulan untuk kategori Universitas.

Legalitas akreditasi perguruan tinggi ini tertuang dalam Surat Keputusan bernomor 323/SK/BAN-PT/Akred/PT/XI/2018, menyatakan UK Petra meraih peringkat A. Sedangkan sertifikat Perguruan Tinggi Unggulan diterima langsung oleh Rektor UK Petra bersamaan dengan PT yang lain di Batu dengan nomer 145/L7/SK/KL/AKU/2018. “Puji syukur berkat penyertaan Tuhan keluarga besar UK Petra sangat bahagia mendengar kabar ini. Prestasi ini sebagai konfirmasi atas kerja keras, dedikasi dan kualitas unggul yang sudah dijaga selama ini”, ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng, selaku rektor UK Petra.

Berdasarkan data dari Pangkalan Data Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti, saat ini di Indonesia tercatat ada 4.698 PT di Indonesia. Sedangkan sampai hari ini, yang terakreditasi baru berjumlah 1.805 dan hanya 73 Perguruan Tinggi di antaranya yang terakreditasi A. Akreditasi Perguruan Tinggi merupakan suatu proses evaluasi terhadap institusi pendidikan tinggi secara menyeluruh untuk menguji komitmen institusi tersebut terhadap penyelenggaraan akademik dan manajemennya berdasarkan standar akreditasi yang telah ditetapkan. Penilaian ini dilakukan setiap lima tahunan.

UK Petra sendiri telah melakukan persiapan cukup lama, sejak Agustus 2017. Kurang lebih selama satu tahun, tim akreditasi UK Petra telah menyiapkan borang yang dibutuhkan oleh BAN-PT. “Melaporkan apa yang sudah dikerjakan selama ini”, tambah Djwantoro.  Ada tujuh kriteria yang dinilai antara lain 1) Visi, misi, tujuan dan sasaran serta strategi pencapaian Standar, 2) Tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu, 3) Mahasiswa dan lulusan, 4) Sumber Daya Manusia, 5) Kurikulum, pembelajaran dan suasana akademik, 6) Pembiayaan, sarana dan prasarana serta sistem informasi, dan 7) Penelitian, Pengabdian Masyarakat serta kerjasama.   

Universitas yang berdiri sejak tahun 1961 ini terus berupaya mempertahankan prestasi bahkan telah mempersiapkan diri untuk akreditasi internasional. “Berita bahagia ini tidak berhenti sampai disini saja. Berikutnya menghadapi era disruptif kami sedang menyiapkan diri untuk memperoleh akreditasi internasional. Sebab zaman terus berubah dan kita perlu terus mengikuti perkembangan zaman, agar mahasiswa UK Petra siap menghadapi perubahan jaman ini”, urai Djwantoro saat ditemui di kantornya.

Lain halnya dengan anugerah kampus unggulan oleh LLDIKTI Wilayah VII, anugerah ini dilakukan setiap tahun. LLDIKTI setiap tahunnya mengevaluasi kinerja semua Perguruan Tinggi swasta di Jawa Timur. Sejak tahun 2009, UK Petra terus mendapatkan Anugerah Kampus Unggulan dari LLDIKTI Wilayah VII ini. Djwantoro menjelaskan, prestasi Akreditasi Perguruan Tinggi peringkat A dan Anugerah Kampus Unggulan ini merupakan hal yang amat penting. Selain sebagai tolak ukur kualitas PT dan tata kelola institusi tersebut. Bagi alumni, saat ini banyak perusahaan pencari kerja yang mencari lulusan yang berasal dari PT terakreditasi A. (Aj/dh)

Baca berita
Menjadi Pahlawan dengan Sadar Pajak
November 28, 2018

Peningkatan rasio pajak adalah solusi ideal untuk meningkatkan pendapatan negara. Indonesia adalah negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tergolong tinggi, akan tetapi  kurangnya kepatuhan atas pajak menyebabkan potensi pendapatan pajak kurang maksimal. Sebagai salah satu upaya meningkatkan kepatuhan pajak, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang berada di bawah Kementerian Keuangan menyelenggarakan ‘Pekan Inklusi Pajak’ pada tanggal 5-8 November 2018 di seluruh Indonesia.

Pekan Inklusi Pajak yang bertema“Generasi Sadar Pajak Pahlawan Masa Kini”, di kantor wilayah Jawa Timur 1 dilaksanakan dalam bentuk acara peningkatan literasi pajak untuk siswa tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Untuk PT, rangkaian acara berupa Seminar Inklusi Kesadaran Pajak di Universitas Negeri Surabaya, Mobile Tax Unit Goes to Campus, yaitu kunjungan mobil informasi pajak ke kampus-kampus di Surabaya serta Lomba Poster Kesadaran Pajak.

UK Petra turut serta mendukung DJP dengan menyelenggarakan puncak rangkaian acara Pekan Inklusi 2018 yaitu ‘Pajak Bertutur’ di ruang AVT 502 pada 9 November 2018.

“Pajak Bertutur” dihadiri 250 mahasiswa dari 15 perguruan tinggi. Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Administrasi UK Petra, Agus Arianto Toly, SE., Ak., MSA, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar kerjasama yang sudah dijalin para mahasiswa dari 15 perguruan tinggi ini terus berkelanjutan sesuai dengan peran masing-masing. Turut hadir dan memberikan sambutan adalah Kepala Kantor Wilayah DJP Jawa Timur I Estu Budiarto Ak, MBA, yang menyampaikan pentingnya menjalin hubungan yang baik antara DJP, wajib pajak, dan perguruan tinggi. Estu kemudian mengatakan, “Arti inklusi adalah menanamkan kesadaran sejak dini, salah satunya dengan berkomunikasi dengan para mahasiswa, dalam upaya menumbuhkan pahlawan masa kini untuk meningkatkan kepatuhan sukarela pajak”.

Usai sambutan, Heru Budi Kusumo, Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Kantor Wilayah Jatim 1 DJP menyampaikan paparan. Heru menjelaskan manfaat pajak, dimana negara memerlukan pendanaan untuk melakukan semua fungsinya. DJP bertugas melaksanakan pendanaan tersebut melalui pajak. Dijelaskan sumber pendanaan secara garis besar ada 3, yaitu: pinjaman luar negeri dan dalam negeri, menjual sumber daya alam (SDA) serta pajak. Meminjam dana dari luar negeri akan membebani negara dengan bunga. Menjual sumber daya alam dalam bentuk komoditas, seperti yang dilakukan Indonesia saat ini, kurang memaksimalkan hasil dari sumber daya tidak terbarukan tersebut. Kesimpulannya, dari ketiga sumber ini, pajak adalah sumber pendanaan negara yang paling ideal. Sebagai gambaran proporsi pendanan yang ada, pada tahun 1987 sumber pendanaan terbesar adalah penjualan SDA (minyak dan gas), sedangkan pada tahun 2018 pajak menyumbang 80% dari sumber pendanaan.

Setelah memberikan pemahaman tentang pajak, Heru menjelaskan kondisi kepatuhan pajak di Indonesia. Dengan populasi Indonesia saat ini sebesar 265 juta jiwa, wajib pajak orang pribadi (WP OP) yang terdaftar adalah 35,5 juta. Dari yang terdaftar tersebut, hanya 11,1 juta yang melapor pajak dan yang membayar pajak hanya 1,3 orang. Hal ini menunjukkan kecilnya kepatuhan pajak di bidang WP OP. Gambaran yang sama juga didapati di wajib pajak (WP) badan usaha. Ada 3,1 juta badan usaha terdaftar sebagai WP, hanya 0,7 juta yang melapor dan hanya 0,32 juta WP badan usaha yang membayar pajak.

Heru mengungkapkan pentingnya meningkatkan kesadaran pajak untuk pembangunan negara, katanya “Target pajak di APBN 2018 yang berjumlah 1.408 triliun ini ditanggung oleh 2 juta WP, jika 4 juta WP membayar maka sumber pendanaan APBN akan terpenuhi dari pajak”. Diharapkan generasi muda Indonesia akan menjadi generasi sadar pajak yang merupakan pahlawan masa kini. (noel/dit)

Baca berita
Mahasiswa Teknik Sipil UK Petra Raih Juara 1 Kompetisi Internasional
November 27, 2018

Prestasi internasional diraih oleh tim mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Kristen Petra (UK Petra) di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Mengangkat tema “Sustainable Self Compacting Concrete”, tim ini berhasil meraih juara 1 dalam kategori Concrete Competition pada 9 November 2018 yang lalu. Beranggotakan tiga mahasiswa ialah Kent Setiono, Nico Christiono dan Ricky Surya yang merupakan mahasiswa angkatan 2015. “Kami tidak menyangka bisa mendapatkan juara, ini semua berkat bimbingan dari dosen kami yaitu pak Antoni”, ungkap Nico.

Terdapat dua babak dalam International Concrete Competition (ICC) dalam Civil Week 2018, babak penyisihan dan babak final. Pada babak penyisihan, tim ini diminta untuk membuat proposal, video berbahasa inggris berdurasi 10 menit dan hasil tes beton sebelumnya yang dikirimkan pada panitia. Video dan proposal ini menceritakan bagaimana pembuatan beton kuat yang dapat diproduksi massal dengan mempertimbangkan aspek ramah lingkungan, ekonomis, bahan yang mudah didapatkan, dan tidak menyangkal nilai sosialnya. Selain bersaing dengan mahasiswa dari Indonesia, tim UK Petra ini juga bersaing mahasiswa dari Filipina, Malaysia dan India.  

Dibawah bimbingan Antoni, Ph.D., Kent bersama tim membuat inovasi mengacu penelitian sebelumnya yang disempurnakan lagi oleh tim ini. Mereka sepakat mengurangi penggunaan semen dan mencari penggantinya sebagai bahan campuran dalam beton yang dapat memadat sendiri (self compacting concrete). Mereka menambahkan gragal batu bata dan kalsium karbonat yang sudah dihancurkan dalam bentuk butiran halus dalam adonan betonnya. “Pemanfaatan gragal batu bata ini akan dapat mengurangi buangan yang tak terpakai misalnya saat merenovasi rumah ataupun memanfaatkan bagian bangunan yang runtuh pada saat terjadi bencana alam gempa bumi, sedangkan kalsium karbonat membantu menambah kekuatan beton umur awal”, urai Ricky.

Persiapan yang mereka lakukan hanya sekitar 10 hari disela-sela skripsi. Nico menambahkan, dengan beton inovasi ini dapat menghemat hingga 42%. “Akan tetapi tergantung penggunaannya, jika dipergunakan untuk hal lainnya yang besar maka diperlukan penelitian kembali khususnya untuk komposisinya”, ungkapnya. Tak sia-sia usaha mereka, dari 33 proposal yang masuk hanya enam tim saja yang masuk babak final termasuk tim UK Petra.

Dalam babak final, mereka diminta mempraktekkan secara langsung proposal mereka  berjudul “Sustainable High Early Strenght Self Compacting Concrete (SCC) Using Clay Brick Waste and Limestone Powder”. Selama tiga hari, tim UK Petra ini membuat beton secara langsung, kemudian melakukan tes beton berumur 1 hari dan melakukan presentasi di depan para juri. Panitia telah mempersiapkan bahan dasar membuat beton, peserta hanya diminta membawa bahan inovasi tambahan yang akan digunakan.

Bukan tanpa proses, tim UK Petra telah mencoba inovasi ini di kampus terlebih dahulu hingga lebih dari 10 kali percobaan. Kesulitan terberat bagi tim UK Petra adalah mempertahankan kondisi beton untuk tetap encer namun bisa memenuhi syarat beton mudah mengalir yang ditentukan. Selain membawa pulang hadiah plakat, sertifikat dan hadiah uang sebesar 1000 USD, mereka juga mendapatkan pengalaman berharga. “Kami menambah teman dan membangun relasi antar universitas baik internasional maupun nasional dan menambah pengetahuan bagaimana membuat self compacting concrete”, tutup Kent. (Aj/dit)

 

Baca berita
Berita lainnya