Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


AUPF 2018
November 06, 2018
i-Come 2018
July 13, 2018

Berita terakhir



Communiphoria 2018: SATURATION – Semakin Inovatif dari Acara hingga Peserta
April 23, 2018

Selama kurang lebih 7 bulan mempersiapkan dan melaksanakan, akhirnya rangkaian acara Communiphoria: SATURATION yang dilaksanakan oleh Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra telah usai. Acara yang merupakan agenda tahunan untuk memperkenalkan Fakultas Ilmu Komunikasi kepada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) ini telah menarik minat siswa-siswa dari berbagai kota di Indonesia. Communiphoria dikemas dalam rangkaian workshop dan lomba-lomba seperti Public Relation, Radio Announcer, TV Production, dan Journalist. Grand Final dari acara Communiphoria telah dilaksanakan dua hari, Jumat (23/03) di mall Lenmarc Surabaya untuk penjurian Public Relation dan Journalist dan Sabtu (24/03) di UK Petra untuk penjurian Radio Announcer dan TV Production.

Keseruan acara Communiphoria dari tahun ketahun selalu dinanti siswa-siswa SMA. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa SMA yang mendaftar kembali setelah mengikuti acara ini tahun lalu. “Pengalaman sangat berharga dan kami perlu terus mengasah kemampuan dalam lomba ini,” sahut Nico Kusuma, salah satu peserta dari SMAK St. Yoseph saat ditanya mengapa mengikuti acara Communiphoria tahun ini. Nico dan timnya mengaku masih belum puas dengan hasil tahun lalu. Ada juga yang pertama kali mengikuti dan mengaku tidak menduga acara ini ternyata seru dan menarik. “Acara ini ternyata sangat menarik dan kakak-kakak panitia yang ramah dan sangat menolong,” jawab Josephine Kurniawan, salah satu peserta dari SMA Kristen Petra 1 saat ditanya kesan pertama tentang acara Communiphoria.

Sebagai ketua pelaksana, Felicia Luvena mengaku tidak menyangka antusiasme peserta Communiphoria tahun ini  dan peserta semakin inovatif dari tahun-tahun sebelumnya. “Melihat hasil pekerjaan peserta tahun ini, terasa totalitasnya. Pengambilan gambar dengan pesawat radio kontrol untuk sekelas anak SMA sangat inovatif. Peserta tahun ini mampu memaksimalkan penggunaan teknologi yang ada,” sahutnya.

Rangkaian acara dari Workshop hingga lomba yang diadakan Communiphoria: SATURATION ini juga sebagai ajakan untuk menemukan dan mengembangkan bakat siswa-siswa SMA. Vinny Victoria, siswa SMA Kristen Gloria 2 yang mengikuti lomba TV Production mengaku mendapat banyak hal baru tentang bidang pekerjaan di Ilmu Komunikasi. “Setelah mengikuti acara ini, saya mendapatkan ilmu baru, seperti reporter ternyata memerlukan pengetahuan luas dan kemampuan teknis”. Tuturnya.

Kemenangan tahun ini diraih oleh SMAN 3 Denpasar untuk posisi juara umum pertama dan kedua. Untuk juara ketiga diraih oleh SMA Kr. Petra 5 Surabaya. Tidak hanya itu, Communiphoria juga memiliki kategori pemenang lainnya yaitu Best TV Feature yang diraih SMAK St. Yoseph tim 1, Best Radio Feature yang diraih oleh SMAN 3 tim 2, Best Campaign Proposal yang diraih oleh SMAK St. Yoseph tim 1, dan Best Newsletter yang diraih oleh SMAN 3 tim 1.

Dalam pesannya, Lucia Luvena berkata “saya berharap acara ini memberikan manfaat dan teman-teman SMA dapat menggali dan mengembangkan kemampuannya di bidang komunikasi”. (Fanny Lesmana/dit)

Baca berita
Salah satu Persona Kependidikan BAK UK Petra Sabet Juara 2 se-Jawa Timur
April 23, 2018

Sekali lagi Universitas Kristen Petra, Surabaya (UK Petra) berhasil mendapatkan prestasi yang gemilang. Meidiyanti Soengkono berhasil menyabet Juara 2 dalam ajang Pemilihan Tenaga Administrasi Akademik dan Pengelola Keuangan Berprestasi Tingkat Kopertis Wilayah VII tahun 2018.

Pemilihan Tenaga Administrasi Akademik dan Pengelola Keuangan Berprestasi Tingkat Kopertis Wilayah VII tahun 2018 merupakan kompetisi yang diselenggarakan oleh Kopertis wilayah VII. Kompetisi ini merupakan upaya dari pemerintah untuk mendorong dan menstimulasi tenaga kependidikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jawa Timur. Pada Tahun ini, kompetisi diadakan di  Hotel Grand Whiz Trawas, Kota Mojokerto pada tanggal 6 – 8 Maret 2018 yang lalu. Disini, 26 peserta dari berbagai universitas swasta yang ada di Jawa Timur diadu untuk menunjukan inovasi yang berkaitan dengan administrasi dan pengelolaan keuangan pada institusi pendidikan.

Meidiyanti Soengkono atau biasa dipanggil Meidi merupakan seorang staff keuangan yang bekerja pada Biro Administrasi dan Keuangan (BAK) UK Petra. Ia merupakan persona kependidikan yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kompetisi Pemilihan Pengelola Keuangan Berprestasi mewakili UK Petra di Tingkat Jawa Timur. “Saya merasa agak terkejut ketika dipilih sebagai perwakilan oleh universitas, akan tetapi karena tugas tersebut telah diberikan, maka saya menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya,” pungkas Meidi ketika ditanya mengenai perasaannya ketika terpilih untuk mengikuti kompetisi.

Pada Pemilihan Pengelola Keuangan Berprestasi ini, Meidi maju dengan mengambil tema “Sistem Akuntasi Terintegrasi pada Institusi Pendidikan Dengan Mengoptimalkan Pengunaan Software Akun”. Tema ini diambil oleh Meidi atas dasar latar belakang pendidikannya pada bidang akuntansi. Lomba ini diadakan dalam dua tahap, yakni tahap penyisihan dan presentasi. Pada tahap penyisihan, peserta diminta untuk mengirimkan  proposal mengenai inovasi yang akan dilombakan kepada Kopertis Wilayah VII. Peserta yang berhasil lolos babak penyisihan kemudian akan menghadiri tahap presentasi di Trawas, Mojokerto. “Waktu itu kami para peserta diminta untuk melakukan presentasi, akan tetapi yang unik adalah kami diminta untuk saling mengajukan pertanyaan tentang inovasi peserta,” ungkap Meidi. Pada tahap presentasi peserta kemudian akan dinilai oleh tiga juri yang diutus oleh pihak Kopertis.

Di akhir kompetisi, Meidi berhasil menyabet Juara 2 se-Jawa Timur. Hal ini merupakan prestasi yang menurut Meidi cukup membanggakan karena dapat mengharumkan nama UK Petra di Jawa Timur. Berhasil merebut peringkat juara tidak membuat Meidi puas begitu saja, ia bahkan berharap untuk dapat diutus kembali dalam kompetisi ini di tingkat Nasional. Menurutnya, kompetisi ini mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah melalui kompetisi ini, ia melihat begitu banyak karakter yang berbeda. Salah satu kutipan hidup yang dipegang oleh Meidi adalah “kesuksesan adalah proses yang berkelanjutan.” (vka/Aj)

Baca berita
Bedah Buku: Ada Aku Diantara Tionghoa dan Indonesia
April 23, 2018

Indonesia merupakan negara yang penuh dengan keanekaragaman, baik dari suku, agama, bahasa maupun kuliner dan cita rasa. Akan tetapi, dibalik keragaman tersebut terkadang terdapat warga negara yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari yang lain. Salah satu etnis yang merasakan ‘sisi gelap’ dari perlakuan ini adalah  masyarakat keturunan Tionghoa. Hal tersebut terbukti dari banyaknya peristiwa yang menyudutkan etnis Tionghoa di Indonesia seperti peristiwa Mei ’98 dan lain sebagainya. Menanggapi isu ini, maka pada 6 April 2018 Universitas Kristen (UK) Petra mengadakan bedah buku “Ada Aku Diantara Tionghoa dan Indonesia”.

Buku Ada Aku Diantara Tionghoa merupakan buku yang ditulis oleh 73 penulis dengan latar belakang yang berbeda-beda suku, ras agama maupun pekerjaan. Tulisan-tulisan tersebut berisi tentang kisah penulis yang berhubungan dengan etnis Tionghoa, baik tetangga, teman, atau kerabat. Acara bedah buku ini dipandu oleh Pietra Widiadi yang merupakan salah satu penulis dalam buku ini, serta Elisa Christiana, Kepala Program Studi Sastra Tionghoa UK Petra. “Buku ini unik dan menarik untuk dibaca, karena buku ini bukan murni tulisan ilmiah, akan tetapi berisi tentang narasi memori atau pengalaman-pengalaman pribadi penulis yang berhubungan dengan etnis Tionghoa di lingkungannya,” ungkap Pietra Widiadi.

Buku yang digagas oleh Aan Ashori dengan usulan-usulan dari jaringan Gusdurian ini terbit pada tanggal 21 Maret 2018 bertepatan dengan hari Anti Diskriminasi Nasional. Menjadikan tulisan-tulisan tersebut menjadi buku yang menarik dan enak dibaca merupakan sebuah tantangan. “Karena penulis buku ini berasal dari berbagai latar belakang, maka tidak semuanya dapat menulis dengan baik. Hal ini merupakan tantangan untuk membantu para penulis mengungkapkan cerita  mereka ke dalam buku ini,” ungkapnya.

Selain itu, dalam bedah buku ini Elisa Christiana juga turut menceritakan pengalamannya sebagai warga keturunan Tionghoa. “Sewaktu kecil, saya pernah pernah merasa takut ketika berjalan sendiri ke rumah sepulang sekolah karena dipanggil-panggil oleh orang-orang yang berada di tepi jalan,” ungkap Elisa. “Akan tetapi, pengalaman saya tidak melulu seperti itu, saat saya kuliah di Universitas Negeri Surabaya, saya satu-satunya orang keturunan Tionghoa. Awalnya saya sempat kuatir karena menjadi satu-satunya keturunan Tioanghoa. Akan tetapi, ternyata teman-teman kuliah memperlakukan saya dengan hormat seperti tidak ada perbedaan ras diantara kami,” ungkapnya.

Hal tersebut juga sesuai dengan isi Buku Aku Diantara Tionghoa dan Indonesia yang tidak hanya menceritakan kisah sedih dari masyarakat Indonesia Tionghoa, namun juga kebahagiaan dan pengalaman-pengalaman lainnya. Buku ini berisi pesan dari masyarakat Indonesia kepada masyarakat Indonesia sendiri mengenai prinsip yang terkadang sering terlupakan di negara ini, yakni Bhinneka Tunggal Ika. (vka/dit)

Baca berita
Ajak Mahasiswa Arsitektur Kelola Lahan Sisa
April 20, 2018

Himpunan Mahasiswa Arsitektur Petra (Himaartra) kembali menggelar Architecture Festival 2018 yang ke-11. Architecture Festival merupakan kompetisi internasional yang menjadi wadah bagi mahasiswa arsitektur untuk mendesain bangunan sesuai keinginan mereka berdasarkan tema yang telah ditentukan. Tema yang dipilih dalam Architecture Festival kali ini adalah ”Contextual Micro Space”. Peserta diminta merancang konsep desain bangunan dengan mengelola lahan sisa. Bangunan micro merupakan salah satu inovasi yang mulai berkembang dan dapat diaplikasikan ke realita yang ada. Seiring perkembangan zaman, ruang interaksi sosial susah ditemukan dan terkalahkan oleh fungsi komersial lainnya. Banyaknya ’ruang-ruang sisa’ seperti pojok gang, pinggir sungai, kolong jembatan, dan lain-lain yang selama ini tidak dimanfaatkan. Tetapi sebenarnya lahan sisa dapat dikembangkan menjadi bangunan micro yang bermanfaat bagi masyarakat. “Calon arsitek dilatih untuk tidak saja terampil menciptakan solusi kreatif, tetapi juga kreatif melihat sebuah kondisi sosial untuk kemudian disimpulkan menjadi masalah, potensi dan solusinya,” ujar Richman Gozali selaku ketua panitia Architecture Festival 2018.

Peserta tergabung dalam kelompok yang terdiri dari satu hingga empat orang. Architecture Festival 2018 diikuti oleh berbagai peserta internasional, diantaranya adalah Irak, Iran, Amerika, Australia, dan Hungaria. Rangkaian kegiatan Architecture Festival 2018 terdiri dari kompetisi, pameran dan seminar. Sebanyak 170 peserta mengumpulkan karya desainnya pada 26 Februari 2018 – 17 Maret 2018, kemudian pada 24 Maret 2018 dilakukan penjurian tertutup untuk memilih 25 karya terbaik. 25 karya ini dipamerkan dalam Archiexpo pada 6-8 April 2018 di Pakuwon Mall Surabaya. Dari 25 karya, dipilihlah lima terbaik yang diharuskan membuat maket dalam bentuk 3D. Lima kelompok terbaik ini mempresentasikan karyanya di hadapan para juri pada 13 April 2018. Lima kelompok terbaik berasal dari Universitas Kristen Petra sebanyak dua kelompok, Universitas Indonesia, Universitas Parahyangan, dan Moholy-Nagy University of Art and Design, Budapest, Hungaria. “Salah satu kelompok yang berada dalam posisi lima besar berasal dari Hungaria, mereka mempresentasikan karyanya dengan menggunakan video. Sedangkan untuk sesi tanya jawab, dilakukan dengan cara video call dengan peserta,” ungkap mahasiswa semester empat ini.

Rangkaian acara Architecture Festival 2018 ditutup dengan seminar bertajuk Contextual Micro Space. Pembicara dalam seminar ini adalah Hermawan Dasmanto, S.T. dari ARA Studio, Defry Agatha Ardianta, S.T., M.T. dari ORDES Arsitektur, Florian Heinzelmann dan Daliana Suryawinata dari SHAU Architecs, serta Altrerosje Asri, S.T., M.T., yang merupakan dosen Program Studi Arsitektur UK Petra. Pembicara-pembicara dalam seminar ini dipilih karena merupakan praktisi dan juga pengajar yang bergerak di bidang contextual arsitek atau permasalahan yang ada di masyarakat serta micro space atau pengelolaan lahan-lahan sempit. Para pembicara dalam seminar juga merupakan juri dalam kompetisi internasional ini. Pada akhir seminar, para juri mengumumkan pemenang dari kompetisi yaitu juara I diraih oleh Universitas Indonesia, juara II diraih oleh Moholy-Nagy University of Art and Design, sedangkan juara III diraih oleh Universitas Parahyangan. (rut/padi)

Baca berita
Pustakawan UK Petra Mewakili Indonesia Ikuti Program Pendidikan di Ohio, Amerika Serikat
April 20, 2018

Setelah tiga kali mencoba, seorang pustakawan perpustakaan Universitas Kristen Petra (UK Petra) akhirnya berhasil memperoleh kesempatan mengembangkan pendidikan dan professional pustakawan di Ohio, Amerika Serikat. Program bergengsi bertajuk Jay Jordan IFLA/OCLC Early Career Development Fellowship Program ini merupakan program dari The International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) bersama dengan Online Computer Library Center (OCLC) yang hanya memberikan kesempatan pada lima pustakawan muda dari negara berkembang di dunia. Pustakawan ini adalah Chandra Pratama Setiawan, S.IIP., M.Sc. yang menjadi perwakilan dari negara Indonesia dan berkesempatan mengikuti program mulai tanggal 17 Maret hingga 13 April 2018.

“Puji Tuhan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi seorang pustakawan. Kami mendapatkan ilmu langsung dari sang ahli serta mengupdate dengan perkembangan-perkembangan teknologi informasi serta isu kepustakaan global yang kemudian dapat diterapkan di negara kita”, ungkap Chandra yang juga pernah mendapat prestasi nasional oleh Kemenristekdikti tahun 2015 silam. Hanya lima pustakawan muda dari lima negara berbeda yang terpilih dari 90 pustakawan dan pakar sains informasi dari 40 negara yang berbeda. Sebelumnya Chandra, merinci pustakawan muda artinya masa kerja di perpustakaan minimal tiga tahun dan maksimal delapan tahun. “Program ini dikhususkan bagi para lulusan jurusan perpustakaan dalam rentang lima tahun terakhir”, urai Chandra yang baru tiba di Indonesia Minggu siang (15/4) lalu. Perjuangan yang cukup berat. Sebelumnya Chandra, yang juga seorang lulusan dari NTU Singapore dengan beasiswa ASEAN graduate Scholarship dari pemerintah Singapura, mencoba program ini selama tiga kali dan berkat kegigihannya akhirnya Chandra berhasil. Chandra terpilih bersama dengan empat pustakawan lainnya yaitu Alehegn Adane Kinde dari Universitas Gondar-Ethiopia, Arnold Mwanzu dari Pusat Internasional Fisiologi dan Ekologi Serangga (ICIPE)-Kenya, Boris Denadic dari Perpustakaan Nasional Serbia, dan Chantelle Richardson dari Perpustakaan Nasional Jamika, Jamaika.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum Chandra smengikuti program ini,  diantaranya membuat essay berbahasa Inggris yang menceritakan mengenai pengalamannya dibidang perpustakaan, permasalahan perpustakaan yang dihadapi di Indonesia, serta peluangnya. IFLA merupakan badan internasional terkemuka yang mewakili kepentingan layanan perpustakaan dan informasi penggunanya. Sedangkan OCLC merupakan perusahaan perpustakaan nirlaba global yang menyediakan layanan teknologi bersama, penelitian asli dan program komunitas sehingga perpustakaan dapat lebih memfokuskan pembelajaran, penelitian dan inovasi.

Selama empat minggu, Chandra dan keempat pustakawan lainnya terlibat banyak kegiatan diantaranya sesi kelas membahas trend pengelolaan perpustakaan saat ini serta teknologi yang mendukungnya (misalnya seperti cataloguing and metadata, reference service, user experience, community engagement), sesi leadership dengan CEO OCLC, diskusi perpustakaan dan kepustakawanan dengan pustakawan dari beberapa perpustakaan , kunjungan ke berbagai macam perpustakaan hingga diskusi dengan perwakilan IFLA. Apakah bisa diterapkan di Indonesia, khususnya perpustakaan Surabaya? “Bisa”, urai Chandra mantap. Salah satunya menyediakan layanan drive through, menggalakkan program kegiatan membaca dengan tema tertentu yang berganti-ganti dengan ditambah hadiah, menyediakan layanan bimbingan belajar gratis untuk anak sekolah hingga pelatihan menulis lamaran pekerjaan. Semuanya ini dilakukan agar semakin gemar membaca dan berkunjung ke perpustakaan.

Dirilis dari situs resmi OCLC (https://www.oclc.org/en/news/releases/2018/201801dublin.html) Skip Prichard, President dan CEO OCLC mengatakan bahwa program ini menawarkan pengalaman, gagasan, koneksi dan inspirasi pada para professional berbakat yang dipilih untuk berpartisipasi. Para pustakawan terpilih ini belajar dan kemudian menerapkan program baru yang inovatif di negara asalnya. (Aj/dit)

Baca berita
Dosen Harus Persiapkan Mahasiswa Hadapi Era Disruptive Innovation
April 19, 2018

Seturut perkembangan zaman dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini memasuki era revolusi industri 4.0 yang menekankan pada hal-hal yang bersifat digital, robotik dan komputerisasi atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation. Dunia pendidikan juga turut terdampak, kedepannya, mahasiswa akan menghadapi era revolusi industri generasi keempat yang memungkinkan pekerjaan-pekerjaan manusia digantikan dengan mesin dan robot. Melihat permasalahan tersebut, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengadakan teaching workshop bagi dosen-dosen FTI dan beberapa dosen dari fakultas lainnya. Kegiatan yang mengangkat topik “Bagaimana seharusnya pendidikan tinggi mempersiapkan siswa mereka dalam mengantisipasi revolusi industri 4.0?” ini diikuti oleh 40 orang dosen dan dilaksanakan pada 10 April 2018. “Kegiatan ini bertujuan sebagai refreshing training tentang pengajaran dalam menghadapi perubahan zaman, ditambah mahasiswa yang diajar adalah generasi milenial yang sangat berbeda dengan zaman dulu,” ungkap Dr. Juliana Anggono, S.T.,M.Sc. selaku Dekan Fakultas Teknologi Industri UK Petra.

Allan Schneitz, seorang pakar pendidikan dari Finlandia menjadi pembicara dalam workshop ini. Finlandia memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia yaitu dengan memfasilitasi siswa agar dapat menemukan bakat dan minatnya. Allan mengatakan bahwa pendidikan di negara-negara Asia sangat berbeda dengan Finlandia. Di Asia, pendidikan seseorang di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti harapan orang tua, harapan negara, dan masalah kesejahteraan. Dalam kegiatan ini, Allan menyatakan bahwa dalam revolusi industri 4.0 ini akan ada sekelompok orang yang pekerjaannya bisa dengan mudah digantikan oleh mesin, tetapi ada juga sekelompok orang yang sudah punya level kompetensi serta skill yang bagus, maka tidak akan bisa dengan mudah digantikan oleh mesin. Oleh sebab itu pendidikan tinggi, terutama dosen harus mempersiapkan mahasiswa agar mampu menghadapi era tersebut dan memiliki skill yang mampu bersaing.

Menurut Allan, salah satu solusinya adalah pengajaran harus lebih kreatif karena metode kuliah pada umumnya tidak lagi efektif seperti dulu. Jika satu jam sama dengan 100%, 15 menit sama dengan 25%, efektifitas metode kuliah hanya sebesar 5%, membaca sebesar 10%, audio-visual sebesar 20%, demonstrasi sebesar 30%, diskusi kelompok sebesar 50%, praktik sebesar 75%, dan yang paling efektif adalah segera mengaplikasikan yang dipelajari atau bisa diwujudkan dengan mengajar kepada sesama yaitu sebesar 90%. Allan juga menambahkan bahwa generasi sekarang ini tidak bisa lepas dari gawai yang seringkali, tantangan seorang dosen adalah bagaimana justru menjadikan gawai itu sebagai bagian dari pembelajaran. Selain itu, networking (jaringan) juga dapat menjadi solusi. Dalam edukasi, unsur-unsur yang terlibat biasanya berpusat pada dosen, staff, materi, peratalan, dan lain-lain. Tetapi sebenarnya edukasi juga tidak bisa lepas dari komunitas, kearifan lokal, pemerintah yang mengatur regulasi, dan industri. “Jika kreativitas dan jaringan adalah solusinya, kemudian apa masalahnya? Bagaimana peran kunci baru universitas terhadap komunitas dan masyarakat, itulah yang harus diperhatikan,” terang Allan Schneitz.

Baca berita
Berita lainnya