Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


I-COME 2019
July 25, 2019

Berita terakhir



Mahasiswi Jepang Berbagi Tips Keselamatan Gempa Pada Siswa SMK
January 16, 2019

Bencana alam dapat terjadi dimanapun, kapanpun, dan pada siapapun. Beberapa saat yang lalu, beberapa daerah di Indonesia diguncang gempa dan tsunami. Gempa Lombok yang terjadi pada akhir Juli 2018 menyebabkan sekitar 500 korban meninggal dan lebih dari 300.000 orang mengungsi. Disusul dengan gempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala yang memakan korban yang juga tidak kalah banyaknya.

Biro Administrasi Kerjasama dan Pengembangan (BAKP) Universitas Kristen Petra (UK Petra) bekerja sama dengan Perpustakaan Umum Surabaya menyelenggarakan Earthquake Safety Tips Session. Kegiatan ini dilaksanakan di Perpustakaan Umum Kota Surabaya pada 23 November 2018 lalu. “Kita dapat mengedukasi diri tentang langkah keselamatan dalam menghadapi dan mengantisipasi bencana lewat berbagai cara, membaca dan menonton video, pada hari ini kita mempunyai kesempatan untuk belajar dari salah satu mahasiswa pertukaran asal Jepang yang sedang kuliah di Universitas Kristen Petra,” ujar  Renny Novemsy Dese, S.S., selaku Head of Student Mobility Division BAKP.

Kana Takase, seorang mahasiswi pertukaran pelajar asal Jepang membagikan tips untuk menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi. “Kita harus berjaga-jaga sebelum terjadi gempa, peralatan evakuasi, makanan dan air minum. Selain itu kita juga harus berunding dengan keluarga tentang titik kumpul saat terjadi bencana sehingga kita tidak terpisah dengan keluarga,” ujar mahasiswi yang menempuh pendidikan di International Bussines Accounting UK Petra ini.

Negara Jepang sendiri merupakan negara yang rawan mengalami gempa bumi. Lokasi atau letak geografislah yang menyebabkan Jepang sering dilanda gempa. Masyarakat Jepang sendiri telah dibekali dengan pemahaman tentang gempa bumi, tsunami, serta telah mendapatkan pelatihan-pelatihan untuk menyelamatkan diri sejak usia dini. Hal inilah yang menyebabkan minimnya korban saat terjadi bencana di Jepang.

Sebanyak 60 siswa kelas 10 SMK Tanada Surabaya dibagi ke dalam enam kelompok dan di dampingi oleh para mahasiswa UK Petra yang tergabung dalam Petra Mate. Mahasiswi asal Kwansei Gakuin University ini menjelaskan tentang cara menyelamatkan diri yang benar saat terjadi gempa serta apa saja yang perlu disiapkan sebelum terjadi gempa. Misalnya, saat gempa besar, sebaiknya tidak menggunakan kendaraan untuk melarikan diri, karena gempa besar biasanya memiliki potensi terjadi tsunami. (rut/Aj)



Baca berita
Mempresentasikan Penguasaan International Business kepada Perusahaan
January 16, 2019

Universitas Kristen (UK) Petra tidak hanya membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan yang relevan, akan tetapi juga memfasilitasi mereka dengan kemampuan spesifik di bidang yang ditekuni. Salah satunya melalui seminar bertajuk “Final Frontier” yang digelar oleh Program International Business Management (IBM) UK Petra. Tema ini untuk mencerminkan situasi dunia bisnis pada era ini, di mana terdapat banyak perkembangan yang pesat dan juga persaingan yang sengit serta semakin terbukanya pembatas untuk memulai bisnis. Seminar yang merupakan kegiatan penutup mata kuliah Seminar in International Business ini digelar pada tanggal 7 Desember 2018 yang lalu di Ruang Amphiteater Gedung P1/P2.

Para mahasiswa semester 7 ini diminta untuk mempresentasikan penelitiannya dalam lingkup bisnis internasional secara berkelompok. Tiga kelompok dengan karya terbaik mempresentasikan hasil penelitian mereka dalam seminar ini di depan 85 orang hadirin yang terdiri atas perwakilan dari 28 perusahaan rekanan Program IBM dan kalangan umum. Salah seorang dari mahasiswa yang presentasi adalah Eurwin Chandra. Ia merasakan kegiatan ini memberikannya sesuatu yang lebih dari sekadar belajar. Eurwin juga menyemangati rekan-rekannya, katanya, “Kejarlah sesuatu yang lebih tinggi. Jangan hanya pendidikan. Jadi nanti ketika sudah selesai, goal-nya sudah jelas dan bisa membantu masyarakat sekitar”.

Fenomena persaingan antara Alibaba dan Tencent, inilah yang diambil oleh kelompok presentasi pertama. Fionna Mathilda, Eurwin dan Fiona Gabriela bercerita bahwa keduanya memperluas cakupan bisnis dengan sektor yang sama yaitu mobile commerce. Ada fenomena unik dalam kompetisi dalam sektor ini, yaitu mereka menetapkan batas kompetensi tersendiri. Fenomena ini diistilahkan oleh Eurwin sebagai ‘coopetition’, gabungan antara cooperation (kerjasama) dan competition (kompetisi).  Menurut kelompok ini, kesempatan bisnis di bidang m-commerce adalah besar dan sangat mungkin dimanfaatkan pengusaha Indonesia apabila mau bersekutu dan membangun infrastruktur untuk m-commerce. Fiona memberikan pertanyaan penutup bagi audiens, “Can we work together and build an m-commerce society?”.

Kelompok kedua beranggotakan Claudia Tamara, Calvin Young, dan William Alexander. Mereka menganalisa merger yang dilakukan perusahaan otomotif Fiat dan Chrysler. Setelah merger, Fiat mengakuisisi Chrysler yang bangkrut. Setelah keberhasilan mengakuisisi salah satu kompetitor tersebut, Fiat tetap harus menghadapi persaingan yang sangat berat dari kompetitor lain. Mereka menutup presentasi dengan mengingatkan untuk berhati-hati dalam merger dan akuisisi.

Stanley Aldrich Wijono, Charista Elliani, dan Gabriel Louis Lilananda adalah kelompok ketiga. Presentasi mereka mengangkat kasus IKEA di Rusia. Ketika IKEA membuka cabang di kota Khimki, Rusia; pemerintah setempat merongrong IKEA untuk terlibat dalam suap atau kolusi. Sebagai perusahaan yang menolak korupsi, IKEA mengalami dilema strategi yang perlu diimplementasikan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebagai penutup presentasi mereka memaparkan bahwa bisnis yang ideal bisa mempertahankan ethics dan juga excellence. (noe/Aj)

Baca berita
Gunakan Waktu Sebaik Mungkin Bersama Tuhan
January 14, 2019

Memasuki tahun baru 2019, kegiatan sivitas Universitas Kristen Petra (UK Petra), Surabaya dibuka dengan Kebaktian Temu Kasih Awal Tahun di Auditorium UK Petra. Kebaktian yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diawali dengan pujian-pujian yang dipandu oleh Desi Yoanita, S.Sos., M.Med.Kom. Tak ketinggalan juga, Vocal Group dari tenaga kependidikan melantunkan pujian yang indah mengiringi langkah kita semua menapaki tahun 2019 dengan menyanyikan lagu berjudul “Iman Yang Teruji” yang ditulis oleh Tri Yudo Husodo, seorang tata usaha Program Studi Teknik Informatika.

Perenungan firman Tuhan dibawakan oleh Kepala Pusat Kerohanian UK Petra, Samuel Soegiarto, S.Th., M.Th. “Time is Short”, diambil dari Efesus 5 : 15-17 itulah judul kotbah yang diberikan oleh Samuel. Berbicara mengenai waktu yang sudah Tuhan berikan, Samuel mengungkapkan ada dua hal yang bisa manusia renungkan. Yang pertama waktu itu singkat untuk merespon Kasih Anugerah Allah yang besar dan waktu itu singkat untuk membawa perbaikan ke dalam dunia ini.

“Waktu tentu saja singkat jika kita membandingkannya dengan yang sesuatu yang nyaman, tapi apakah kita telah memaknai Kasih Allah yang besar?. Tuhan Yesus itu rela merasakan sakit agar manusia merasakan kasih Allah. Hal ini dilakukannya karena IA sangat sayang pada umat manusia”, ungkap Samuel. Jadi pergunakanlah kesempatan yang Tuhan beri. Dalam surat Efesus terbagi menjadi dua bagian yaitu pasal 1-3, menceritakan kasih Allah yang sangat besar yang dinyatakan melalui karya penebusan (Predestinasi) sedangkan bagian kedua di pasal 4-6 merupakan aplikasi model kehidupan dari umat tebusan Allah yang telah merasakan kasihNya yang besar. Samuel menitipkan pesan, “kita tidak akan tahu apa yang akan kita hadapi di tahun 2019 ini tetapi kenalilah kehendak Tuhan, kerjakanlah panggilan itu dan lakukanlah seluruh kebenaran Tuhan”.

Rektor UK Petra, Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. memberikan sambutan dan pesannya untuk mengawali tahun yang baru ini. Melalui sambutannya, Rektor UK Petra membeberkan sejumlah peristiwa penting sepanjang tahun 2018 di UK Petra.

“Kita merasa perlu mengingat kembali masa lalu sebab dengan demikian kita akan melihat jejak-jejak kaki Tuhan disetiap sendi kehidupan kita. Mensyukuri nikmat yang sudah Tuhan berikan sehingga yakin dengan penyertaan Tuhan untuk menghadapi tantangan di tahun 2019”, ungkap Prof. Djwantoro. Tantangan yang dihadapi kedepan cukup banyak diantaranya kesiapan UK Petra menghadapi Akreditasi Internasional dan Internasionalisasi. Ada banyak hal yang harus disiapkan akan tetapi berserah diri pada Tuhan dan memandang masa depan dengan penuh harapan. Setelah memberikan sambutannya, Rektor memperkenalkan 11 dosen baru dan 1 orang tenaga kependidikan.

Selanjutnya Yos Handarto Poernomo, M.A., selaku Wakil Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) Petra memberikan sambutannya. Beliau mengungkapkan harapan UK Petra dapat berkembang lebih baik lagi. “Pencapaian selama ini merupakan berkat dan anugerah Tuhan, biarlah di tahun 2019 ini kita dapat terus menjaga kebersamaan demi kemajuan UK Petra,”. Acara ditutup dengan perjamuan kasih bagi segenap sivitas UK Petra. (Aj/dit)

Baca berita
Kerinduan Melayani Almamater
January 11, 2019

Keluarga Alumni Universitas Kristen Petra atau biasa disebut Kanitra, merupakan wadah bagi para alumni untuk menjalin relasi antar sesama alumni, maupun dengan universitas. Saat ini sebanyak 39.548 lulusan dari berbagai Program Studi secara otomatis menjadi anggota dari kanitra. Pada tahun 1996, menjadi awal inisiasi pembentukkan wadah bagi para alumni. Universitas melalui Ir. Frederik Jones Syaranamual, M.Eng., yang saat itu menjabat sebagai Wakil Rektor, menggandeng para alumni untuk membentuk wadah yang dapat memfasilitasi para alumni UK Petra.

Kongres pertama tahun 1997-2001 dilaksanakan pada tahun 1997, disusul  dengan reuni akbar pada yang dihadiri sekitar 1200 alumni di Shangri-la Surabaya. Dalam kongres pertama ini sekaligus pemilihan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kanitra pertama. DPP terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, lima orang Ketua, Wakil Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, dua orang Wakil Bendahara, dan 15 orang anggota bidang. Kanitra memiliki tiga bidang yaitu Bidang Komunikasi, Publikasi, dan Kerjasama, Bidang Aksi dan Partisipasi, serta Bidang Pengembangan Dunia Usaha dan Kesejahteraan Anggota.

Kongres dilaksanakan rutin setiap empat tahun. Pada 10 November 2018, Kanitra mengadakan Kongres ke-VI untuk memilih dan menetapkan DPP Kanitra yang menjabat periode 2017-2021. Melalui Kongres ke-VI ini menetapkan Ir. Hendra Prasetya sebagai Ketua Umum beserta jajarannya.

Secara garis besar, program kerja Kanitra dibagi menjadi tiga masa waktu, yaitu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk jangka pendek, beberapa agenda yang ingin dicapai misalnya mensosialisasikan Kanitra pada mahasiswa baru, wisudawan baru, dan para alumni, membuat buletin Kanitra, mengadakan seminar dan talkshow dengan mengundang alumni sebagai pembicara, serta mengembangkan usaha seperti penjualan cindera mata.

Untuk jangka menengah, Kanitra ingin meluncurkan kartu anggota, melakukan update data alumni, membuat aplikasi untuk mempermudah alumni dalam mengakses program-program Kanitra, serta mengusahakan Kanitra memiliki badan hukum. Program kerja jangka panjang Kanitra yaitu bersinergi dengan Yayasan Pendidikan Tinggi Kristen (YPTK) Petra dan juga universitas, serta mengadakan reuni akbar Kanitra. “Saya berharap kanitra dapat menjadi perhimpunan dan organisasi yang dapat bersinergi serta berdampak. Selain itu kami dapat merangkul para alumni untuk bersama-sama menjadi satu komponen dan kekuatan yang menopang bukan hanya alumni tetapi juga UK Petra,” ujar Dra. Irawati Sandjaja, M.Th. selaku Ketua I Kanitra.

Kanitra juga memiliki 15 komisariat sebagai perpanjangan tangan kanitra di tingkat program studi. 15 komisariat ini telah memiliki SK untuk melaksanakan tugas masing-masing. “Kami tergerak untuk memberikan waktu kami, menjadi DPP Kanitra, karena kami ingin melakukan sesuatu bagi almamater kami. Telah sekian lama Kanitra berdiri, biarlah Kanitra menyelesaikan apa yang telah Kanitra mulai,” ujar alumni Sastra Inggris UK Petra tahun 1972 ini. (rut/Aj)

Baca berita
Arsitek Surabaya yang Berpengaruh tetapi Kurang Dikenal
January 09, 2019

Dalam rangka menunjang pemahaman arsitektur kuno maka Program Studi (Prodi) Arsitektur dan Prodi Magister Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra bekerjasama dengan Perpustakaan UK Petra serta didukung oleh Embassy of the Kingdom of the Netherlands menyelenggarakan Bedah Buku "H.L.J.M. Estourgie and Son: Architects in Surabaya and Beyond" pada tanggal 23 November 2018 di Ruang Konferensi 4 Gedung Radius Prawiro lantai 10.

Bedah buku yang berbentuk diskusi ini menghadirkan dua narasumber yaitu Timoticin Kwanda, Ph.D., salah satu dosen pengajar di Prodi Arsitektur yang juga penulis buku tersebut; serta Ir. Handinoto, M.T., dosen di Prodi Arsitektur UK Petra, seorang anggota Tim Cagar Budaya Surabaya yang juga banyak menulis buku sejarah arsitektur. Proses pembuatan buku awalnya inisiatif dari Dr. Pauline K.M. van Roosmalen dari PKMvR Heritage Research Consultancy, Belanda yang hendak meningkatkan kesadaran tentang seorang arsitek Belanda bernama Henri Louis Joseph Marie Estourgie.

Awalnya Pauline melakukan studi literatur di Belanda yang kemudian menghasilkan daftar bangunan karya arsitek Estourgie. Kemudian pada tanggal 11-14 Oktober 2017, Timoticin beserta tim mahasiswa dan dosen dari Arsitektur UK Petra melaksanakan workshop dan juga studi lapangan untuk mengidentifikasi dan mencatat keadaan bangunan-bangunan tersebut dengan bantuan dana dari Kedubes Belanda. Hasil akhir dari rangkaian penelitian tersebut adalah buku ini.

Buku Timoticin berisi paparan kronologis perjalanan karir Estourgie dan karya-karyanya. Beberapa karya Estourgie saat berada di bawah bendera Cuypers (1906-1926) ini adalah gedung di ujung jalan Kembang Jepun, Balai Kota, dan beberapa gedung di kawasan Darmo. Karya Estourgie di saat menjadi kepala cabang (1921) adalah kantor PT. Perkebunan Nusantara XI di Surabaya; Gedung Biara Suster Ursulin yang dibuka pada tahun 1922, saat ini dikenal dengan gedung sekolah SMAK St. Maria Surabaya; serta gedung sekolah St. Louis yang dibuka tahun 1923.

Kemudian saat Estourgie mendirikan firma Rijksen & Estourgie (1926-1934) bersama rekannya sesama pekerja di Cuypers. Karyanya pada periode ini adalah gedung Gereja Pregolan; gedung Biara Ursulin di Malang yang saat ini menjadi gedung sekolah SMP & SMAK Cor Jesu, Malang. Ciri khas rancangan Estourgie nampak jelas yaitu karakteristik bangunan neo-gothik, menara dengan ujung berbentuk spire (piramid/kerucut), serta pemakaian rose window (jendela melingkar dengan ornamen menyerupai bunga mawar). Unik bagi Estourgie, di periode ini ia juga mengerjakan bangunan Istana Kerajaan Kutai Kartanegara di Tenggarong.

Handinoto sendiri mengapresiasi pengerjaan buku ini, katanya “Sudah jarang orang menulis tentang bangunan kolonial, padahal saat ini masih banyak bangunan kolonial. Masih ada ratusan di Surabaya. Saya senang masih ada orang yang peduli dengan karya arsitektur kolonial Belanda”. Sesi ditutup dengan tampilan data bahwa 17 bangunan publik di Surabaya dan sekitarnya yang didesain oleh Estourgie, yaitu: 10 sekolah, 3 gereja, 2 rumah sakit, 1 istana, dan 1 panti asuhan. Timoticin menarik kesimpulan, “Estourgie adalah salah satu arsitek terkemuka abad 20 di Indonesia. Akan tetapi ia kurang dikenal dibandingkan arsitek lain. Karyanya ada di Surabaya, Jakarta, Semarang, Madiun, dan Bondowoso. Maka dari itu saya sebut sebagai arsitek Surabaya and beyond”.(noel/Aj)

 

Baca berita
Design “Loco” Hantarkan Raih Karya Terbaik Bidang Packaging
January 09, 2019

“Love Coffee, Love Eco”. Itulah nama design kemasan yang kemudian menghantarkan dua mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) menyabet juara best of kategori packaging. Mereka adalah Annetta Dewi Wijaya dan Yesica Suyanti, mahasiswa angkatan 2016. “Kami sangat gugup saat menghadiri awarding night  dan sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan juara”, ungkap Yesica saat dihubungi melalui telepon.

Ultigraph 2018 merupakan event terbesar Desain Grafis mencakup wilayah se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jakarta. Ada tiga tahapan yang dilewati. Tahap pertama, peserta diminta mengirimkan slide presentasi mengenai karya desain. Panitia tidak memberikan tema tertentu dalam kompetisi ini. “Karena tema bebas, kami ingin memberikan packaging produk yang memiliki kandungan inovasi dan bermanfaat bagi masyarakat”, tambah Anneta.

Kemudian tahapan kedua, mereka diminta untuk mengirimkan prototype produk yang diajukan pada tahap sebelumnya. Hebatnya, karya mereka ini terus melaju hingga tahap ketiga. Hanya karya tiga besar saja yang bisa memasuki tahap ketiga ini dan hanya untuk menentukan karya terbaik kategori packaging. Pada tahap ketiga inilah, tepatnya tanggal 16 November 2018 mereka mempresentasikan hasil karyanya.

Annetta dan Yesica membuat kemasan kopi yang Reusable, Practical dan Eco Friendly. Awalnya mahasiswi yang pernah sekelas saat SMA ini, sangat terganggu mengenai permasalahan sampah didunia. Target marketnya adalah “Pencinta Camping”, Anneta dan tim melihat masalah limbah sampah para pencinta camping ini perlu ditangani. Para pencinta camping ternyata membutuhkan gelas tetapi seringkali tidak dibawa saat camping karena menyita tempat. Kemudian mereka terpikir membuat kopi drip instan.

Uniknya, kemasan ini dapat digembungkan saat digunakan untuk minum dan dikempeskan jika tidak dipakai. Jadi setelah isi kemasan diminum maka dapat digunakan untuk hal lainnya misalnya untuk gelas gosok gigi dan lain-lain. Bahannya menggunakan kertas khusus dan dilapisi dengan bahan tertentu agar tidak mudah robek saat terkena air. “Persiapan yang kami lakukan cukup lama sekitar satu bulanan, sebab kami mengerjakannya disela-sela kami UTS. Kami bersyukur bisa menang meskipun tak mendapatkan hadiah uang tunai. Sebab selain dapat menambah portfolio kami, kami juga belajar banyak saat mengikuti lomba ini”, urai keduanya mantap. (Aj/padi)  



Baca berita
Berita lainnya