Connect with us
  • b
  • a
  • x
A CARING AND GLOBAL UNIVERSITY
WITH COMMITMENT TO CHRISTIAN VALUES

Acara akan datang


AUPF 2018
November 06, 2018
i-Come 2018
July 13, 2018

Berita terakhir



Literasi Digital untuk Melawan Hoaks
May 23, 2018

Kegiatan profesional komunikasi erat hubungannya dengan perkembangan media informasi. Dalam era media sosial dan jurnalisme warga ini, arus informasi menjadi sangat cepat dan masif. Keadaan ini memunculkan problematika dimana media sosial memungkinkan siapa pun menyebarkan informasi yang berdampak luas tetapi keakuratan dan kebenarannya belum bisa dipertanggungjawabkan. Di dalam iklim ini hoaks dan berita palsu kerap muncul sebagai tantangan bagi profesional komunikasi. Dalam rangka mempersiapkan mahasiswa yang kelak menjadi pemain di dunia komunikasi, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan seminar PR’s Challenge: Handling Hoax and Fake News on Social Media di Gedung P ruang P.707 UK Petra pada tanggal 27 April 2018 yang lalu. Seminar ini dihadiri 100 mahasiswa UK Petra peminatan Public Relations dan menghadirkan dua orang narasumber, yaitu Eko Setiawan, M.Si, Kepala Seksi Sumber Daya Komunikasi Publik Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Rico Raspati Head of Communication Pertamina Surabaya.

Sesi pertama diisi oleh Rico yang memaparkan mengenai praktek kehumasan di Pertamina. Menurut Rico, saat ini media yang tersedia sangat banyak dalam bentuk online sehingga lambat laun media surat kabar cetak niscaya tergantikan. Menggambarkan potensi dan tantangan media-media baru ini, Riko mengatakan “dari sekian banyak varian media online, ada satu yang paling simpel tapi juga paling berbahaya, yaitu media sosial”. Demikian besarnya potensi baik dan berbahaya media sosial, Pertamina membentuk satu divisi khusus dengan jumlah petugas yang cukup banyak untuk menangani media sosial. Pertamina adalah perusahaan yang cukup sering terkena dampak berita palsu atau hoaks. Contoh yang cukup aktual adalah hoaks tentang harga BBM di Papua yang 10 kali lebih mahal dibandingkan dengan di Jawa. Dalam hoaks ini, motivasi yang terlihat adalah keinginan memberitakan pelaksanaan kebijakan harga BBM pemerintah dalam bingkai yang buruk.

Eko memberikan perspektif yang berbeda, yaitu dari sudut pandang Depkominfo yang merupakan regulator dan pelayan masyarakat terkait dengan komunikasi. Eko memaparkan perbedaan antara hoaks dan fake news. Menurutnya, hoaks adalah segala bentuk informasi yang tidak mempunyai rujukan yang benar, sedangkan fake news adalah berita yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Eko mengatakan, “Kita harus skeptis menanggapi berita”. Menurutnya salah satu faktor penyebab mudahnya hoaks merajalela di Indonesia adalah karena minimnya literasi digital, yaitu etika dan budaya berkomunikasi di internet. Menurut Eko, perlu adanya gerakan untuk melawan hoaks yang bisa dilakukan dalam bentuk membangun budaya malu ketika membagikan hoaks.

Dalam sesi interaktif, kedua narasumber menanggapi pertanyaan mahasiswa mengenai metode untuk menanggulangi hoaks yang ada kalanya sangat viral sehingga lebih viral dibandingkan berita klarifikasi yang menyanggahnya. Rico menjawab dengan menyatakan akan melakukan upaya semaksimal mungkin upaya yang diperlukan dan di media mana pun hoax itu berkembang, “At whatever cost, on every media. Kita akan eksekusi lebih besar dari hoax itu”. Eko menjawab dengan tekad yang serupa dan memaparkan bahwa pimpinan di bidang yang terkena hoax tersebut bisa turun tangan dan memberikan konferensi pers resmi. (noel/Aj)

Baca berita
Inovasi untuk Memasuki Industry 4.0
May 23, 2018

Saat ini, teknologi berada pada era Industry 4.0 atau masa setelah revolusi industri keempat yang ditandai dengan pemakaian jejaring, Internet of Things (IoT), serta munculnya sistem fisik siber. Wawasan yang cukup dalam bidang ini memungkinkan kita memanfaatkan berbagai keuntungan yang dibawanya, tetapi di sisi yang lain banyak tantangan dan problematika yang muncul terutama bagi yang tidak beradaptasi pada kemajuan ini. Untuk membantu mahasiswa dan kalangan umum yang terkait agar bisa lebih mengikuti perkembangan teknologi Internet of Things di era globalisasi sebagai salah satu wawasan global serta menangkap peluang melalui IoT dalam dunia kerja di era globalisasi, Program Studi Teknik Industri UK Petra menyelenggarakan seminar Innovation Talk bertajuk “Become a Key Driver to Face Globalization Era”. Seminar ini diadakan pada tanggal 4 Mei 2018 di Ruang Konferensi IV Gedung Radius Prawiro. Seminar ini mengusung dua narasumber yaitu Dr. Markus Wachter dari Technische Universität München (TUM), dan Drs. Kresnayana Yahya, M.Sc.

Di hadapan audiens sebanyak sekitar 150 orang dari lingkungan UK Petra dan kalangan umum, Markus membuka sesi dengan paparan tentang Industry 4.0 di lingkup internasional. Menurutnya, Industry 4.0 membawa perubahan paradigma dari kegiatan manufaktur yang tersentralisasi dan besar menuju ke kegiatan manufaktur yang desentralisasi dan smart. Contohnya adalah rencana pabrik sepatu Adidas yang mulanya berlokasi di Cina untuk dipindahkan kembali ke Jerman. Ini dimungkinkan melalui terbukanya sumber data besar yang didapatkan melalui IoT. Dengan data dari IoT ini, Adidas mengidentifikasi permintaan sepatu dengan lebih akurat dan spesifik, sehingga produksi sepatu skala besar untuk meminimalisir biaya produksi tidak lagi diperlukan. Markus kemudian mengemukakan konsep smart city yang mulai dijajaki di beberapa kota besar di Uni Eropa. Contohnya adalah IoT dalam bentuk e-mobility memungkinkan tiap orang untuk bisa memakai transportasi publik sesuai dengan preferensi pribadinya, yang kemudian juga meringankan beban transportasi dan mengurangi kemacetan. Menurut Markus, ojek online di Indonesia sudah memulai merintis sistem yang searah, katanya “Gojek merupakan solusi untuk transportasi yang smart. Akan tetapi, Gojek belum bisa menjadi solusi untuk kemacetan”.

Bahasan terakhir dari Markus adalah situasi perburuhan di era yang dimana robot bisa menggantikan manusia ini. Menurutnya terjadinya penurunan kebutuhan atas buruh di level operator adalah benar terjadi, tetapi hal ini bukan sesuatu yang perlu ditakuti karena adanya peningkatan kebutuhan pekerja di bidang Teknologi Informasi (IT). Mengantisipasi kebutuhan ini, Markus memberikan beberapa saran bagi institusi pendidikan, yaitu: menyediakan perangkat keahlian yang lebih luas; mengejar ketinggalan dalam keahlian IT; dan menawarkan format pendidikan berkelanjutan baru yang membekali para profesional dengan keahlian yang dibutuhkan di era ini.

Narasumber kedua, Kresnayana, memaparkan situasi inovasi, perindustrian dan perekonomian Indonesia dan persiapan yang perlu dilakukan dalam menghadapi Industry 4.0. Menurutnya di Indonesia ada kecenderungan untuk menghambat inovasi, sebagai contoh adalah sistem pengajaran Lower Order Thinking Skills yang diterapkan di sekolah yang kemudian bermasalah ketika soal Ujian Nasional memakai Higher Order Thinking Skills (HOTS). Menurut Kresnayana, HOTS lebih memungkinkan siswa untuk berinovasi. Dalam berinovasi, Kresnayana memberikan tips untuk menjadi kreatif, katanya “Don’t think outside the box. There are no box”. Maknanya adalah ungkapan berpikir di luar batas mengimplikasikan bahwa ada batasan, sedangkan seorang inovator harus melihat bahwa segala sesuatu tidak ada batasannya. (noel/Aj)

Baca berita
Gelar Rangkaian Acara yang Dipersembahkan untuk Perempuan
May 22, 2018

Dalam rangka memperingati hari kartini pada 21 April 2018, perpustakaan Universitas Kristen Petra (UK Petra) menggandeng seorang dosen Desain Komunikasi Visual (DKV), Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum. untuk mengadakan serangkaian acara bertajuk “/empuan /empatan” (Perempuan Perempatan). Rangkaian acara ini terdiri dari berbagai kegiatan diantaranya workshop art therapy, pameran karya, teatrikal dan musikalisasi puisi, serta diskusi dan pemutaran film Marlina, Pembunuh dalam empat babak. “Tidak dapat disangkal perempuan masa kini menghadapi tantangan yang lebih besar dibanding satu dekade lalu. Oleh karena itu dirasa perlu melakukan kegiatan dimana perempuan bisa mendapatkan wawasan baru yang dapat memantapkan peran dan peluangnya sebagai bagian dari masyarakat dengan tidak kehilangan jati dirinya sebagai perempuan merdeka,” ungkap dosen  DKV ini.

Workshop art therapy dilaksanakan pada 18 April 2018 dan diikuti oleh ibu-ibu dari pengajian ex-dolly, ibu-ibu dari wilayah siwalankerto, mahasiswa, dan juga ibu-ibu dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Surabaya. Drs. Heru Dwi Waluyanto, M.Pd. memimpin jalannya workshop art therapy. Art therapy merupakan kegiatan terapi yang menggunakan proses kreatif yaitu seni untuk membantu pemulihan fisik, mental, dan emosi seseorang.  “Kali ini sejenak ibu-ibu meluangkan waktu untuk fokus pada diri sendiri, melalui kegiatan ini diharapkan dapat membantu ibu dan perempuan untuk lebih berani bereskpresi menyalurkan ide dan pikirannya secara estetis,” ujar Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum. dalam sambutannya.

Art therapy juga bagian dari pendidikan seni dan dapat mendiagnosis, memenyembuhkan, dan memulihkan berbagai macam penyakit fisik maupun psikis. Workshop art therapy ini bertujuan agar peserta dapat meluapkan perasaannya melalui seni. Selain itu dapat menjadi sarana bagi para peserta menikmati “me time” melalui karya seni. Bekerja sama dengan Rumah Belajar UK Petra, dalam workshop ini, peserta dapat dengan bebas mengekspresikan diri melalui karya, boleh dengan kolase, menggambar, mewarnai, menempel, dan lain-lain. Selain itu, peserta juga bebas memilih bahan-bahan yang akan digunakan.

Hasil karya peserta workshop art therapy ini dipamerkan dalam pameran karya di perpustakaan UK Petra pada 20-30 April 2018. Selain karya peserta art therapy, karya-karya ilustrasi buatan Maria Nala Damayanti, S.Sn., M.Hum. dan sebuah ruang instalasi yang disebut dengan diary visual. Diary visual ini berisikan barang-barang yang ditemukan di tempat penelitiannya, yaitu ex lokalisasi dolly yang menekankan pada gejolak rasa dan pikir pengunjung setelah melihat, mengalami serta menjalani peran sebagai perempuan dan ibu dengan segala dinamikanya.Pada 20 April 2018, bertepatan dengan pembukaan pameran dan rangkaian kegiatan perempuan perempatan, dilaksanakan monolog berjudul perempuan perempatan. Setelah itu disusul dengan musikalisasi puisi dari tim rumpun padi dari unit kemahasiswaan teater UK Petra.

Pada 27 April 2018, diadakan diskusi dan pemutaran film Marlina, Pembunuh dalam empat babak. Secara keseluruhan, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak mengisahkan tentang keberanian dan peran wanita dalam kehidupan, ditambah dengan masih banyaknya laki-laki yang mengobjektifikasi perempuan dan merasa lebih superior. (rut/padi)

Baca berita
Pemanfaatan Barang Lama untuk Desain Baru
May 22, 2018

Pemakaian barang bekas menjadi barang yang berguna sebagai hiasan atau upcycling dapat menjadi solusi dan mengembangkan kreativitas. Untuk memberikan pemahaman dan pengalaman mendesain dengan metode upcycling untuk mahasiswa dan calon desainer, program studi Desain Interior Universitas Kristen (UK) Petra menyelenggarakan talkshow interaktif “Style It Yourself” dan lomba desain “Intuition” di dalam ajang Surabaya Young Designer Spectacles (SYDS) yang digelar di atrium mall Ciputra World Surabaya pada tanggal 25-28 April 2018.

Talkshow “Style It Yourself” menghadirkan narasumber Luthfi Hasan, desainer dan pendiri Jakarta Vintage. Luthfi memberikan pemahaman tentang desain dan konsep upcycling dalam karyanya, menurutnya, “Desain adalah menyelesaikan permasalahan dengan style”. Dipaparkan bahwa desain karyanya tentang membangkitkan dan menggunakan kembali material, objek, serta karakter lama dan membuat suatu cerita baru. Luthfi menawarkan ide dan memberi inspirasi bahwa upcycling dapat memakai bukan hanya barang lama, tetapi juga ide, pola, serta teknik lama sebagai desain baru. Contoh desain upcycling yang memasukkan karakter lukisan jaman kolonial untuk memberikan kesan vintage (antik) pada produk baru seperti ornamen dinding, baju atau kursi. Dalam sesi ini, disampaikan tips dan trik styling dengan biaya murah tapi tetap berkelas. Luthfi juga memberikan beberapa contoh barang yang dapat dijadikan menjadi barang styling dari bahan-bahan yang ada di sekitar atau dari barang-barang yg sehari-hari digunakan.

Lomba Intuition adalah lomba mendesain Pop Up Store (gerai kecil) untuk merk kopi Caturra Espresso memakai metode upcycling dengan mengangkat tema “Techno Progression”. 10 Tim yang terdiri dari 3 orang dari berbagai perguruan tinggi mengikuti kompetisi ini dan hasilnya adalah 5 peserta dari UK Petra keluar sebagai finalis. Pada tanggal 28 April 2018 kelima tim finalis ini mengikuti penilaian dengan dewan juri terdiri dari Mariana Wibowo, S.Sn., M.MT., dosen program studi Desain Interior UK Petra, Linggajaya Suryana, Drs., HDII, desainer interior, serta Kenny Soewondo  dan Kevin Soewondo, pemilik dan pemimpin dari Caturra Espresso.

Desain berbentuk seperti alat penyaring kopi bertajuk “The Finest Drip” karya Jessica Tjiptawan dan Annelis Iwasil keluar menjadi juara 1. Judul desain mereka didasari dari metode menyeduh kopi yang populer saat ini yaitu metode manual drip. Aspek upcycling desain ini terlihat dari pemakaian pipa PVC untuk membuat atap kedai yang menyerupai alat filter kopi, serta pemakaian palet kayu sebagai dinding kedai yang menyerupai gelas kopi, mereka juga memakai warna coklat, krem dan putih yang berasosiasi dengan kopi. Juri Kenny dan Kevin dari Caturra Espresso mengapresiasi desain ini, “Kami senang dengan desain yang memanfaatkan barang-barang yang mudah didapatkan, detail dan memperhatikan aspek keindahan”.  (noel/dit)

Baca berita
Bekali Para Pemimpin UK Petra Berfokus pada Injil Allah
May 21, 2018

Sebagai institusi pendidikan yang terus berkembang, Universitas Kristen Petra (UK Petra) memiliki banyak Sumber Daya Manusia (SDM) baik dosen maupun pegawai di unit-unit pendukung. Dengan berbagai karakter dan kepribadian masing-masing orang yang berbeda-beda, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk memimpin dengan adil dan bijaksana, tetapi tetap sejalan dengan kebenaran Firman Tuhan. UK Petra mengadakan lokakarya bagi para pejabat struktural UK Petra, baik di program studi maupun di unit-unit pendukung. Lokakarya bertajuk “Kepemimpinan yang Berpusat pada Injil” ini diadakan pada 26-27 April 2018 di Ruang Konferensi 4.

Lokakarya ini bertujuan untuk membekali para pemimpin di UK Petra dengan pemahaman yang benar dan dorongan untuk mengembangkan leadership style yang ingin diterapkan di UK Petra, sesuai dengan karakteristik UK Petra sebagai institusi Kristen. Sen Sendjaya, Ph.D., dipilih menjadi pembicara dalam lokakarya ini. Sen Sendjaya, Ph.D. merupakan seorang hamba Tuhan yang saat ini juga menduduki jabatan sebagai seorang Associate Professor di Monash University, Australia, khususnya dalam bidang kajian Servant Leadership. Bahkan mulai Juni 2018, beliau akan memangku jabatan baru sebagai Professor di bidang Servant Leadership di Swinburne University, Australia. “Pak Sen Sendjaya adalah narasumber yang amat istimewa di bidang ini, beliau dapat mengintegrasikan iman Kristen dengan kepakaran ilmiahnya di bidang servant leadership,” ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng.

Menurut Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng., secara umum kepemimpinan di UK Petra baik, ditandai dengan cukup banyaknya pemimpin yang rela bekerja keras dan memiliki hati yang rela melayani. “Bukan berarti sudah sempurna, ada banyak sisi yang masih harus dibenahi dan ditingkatkan, dan karenanya lokakarya ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk terus meningkatkan kualitas kepemimpinan di UK Petra,” sambung Rektor UK Petra ini.

Menurut Sen Sendjaya, Ph.D., terkadang seseorang, terutama seorang pemimpin memiliki motif yang salah saat melakukan sesuatu. Seringkali manusia memiliki sesuatu yang dianggap lebih penting dibanding Tuhan bagi hidupnya, inilah yang sekarang menjadi berhala modern bagi manusia. Berhala bagi setiap orang dapat berbeda dan dalam wujud apapun, misalnya uang, popularitas, pujian, dan lainnya. Motif dan berhala yang umumnya dimiliki setiap orang adalah kekuasaan, penerimaan, kenyamanan, dan kontrol. Dari empat berhala ini, umumnya manusia memiliki dua hal yang dominan dalam dirinya. Injil adalah berita sukacita tentang Kristus, dimana kita harus selalu tumbuh didalamnya. “Kita harus saling berkolaborasi meneladani Yesus, UK Petra ada untuk Kristus, sehingga apapun yang dilakukan nantinya adalah untuk Kristus,” ujar Sen Sendjaya, Ph.D.

Seorang pemimpin seharusnya mampu mendengarkan hal-hal yang tidak terucapkan diantara para pengikutnya. Pemimpin juga harus mengakui kelemahan diri sendiri, menjadi pendengar yang baik, dan tidak menghakimi orang lain dengan standar dirinya sendiri. Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng. berharap workshop ini dapat menjadi bekal bagi para pemimpin di UK Petra, untuk terus mengembangkan kepemimpinannya berdasarkan Injil Kristus. (rut/padi)

Baca berita
Aliansi Jurnalis Indonesia Gandeng UK Petra Perangi Hoax
May 16, 2018

Saat ini kita hidup di era ‘banjir informasi’, dimana informasi dapat dengan mudah kita peroleh dari manapun dan kapanpun. Selain itu internet membantu mempercepat informasi tersebar luas. Di era ini, seringkali kita mencerna informasi tanpa tahu itu fakta atau hanya hoax. Kebanyakan masyarakat hanya membagikan informasi tanpa tahu resikonya, bahkan seringkali masyarakat tahu bahwa informasi tersebut adalah hoax, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyikapinya. Selain makin maraknya berita bohong atau hoax, kejahatan cyber seperti pembajakan akun pribadi dan pencurian data digital juga tidak jarang ditemui.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Google News Initiative dan Internews mengadakan kegiatan Halfday Basic Workshop. Surabaya menjadi kota ke-9 diselenggarakannya kegiatan ini dari 30 kota di Indonesia. Bekerja sama dengan Komunitas Discerning, Universitas Kristen Petra (UK Petra) dipilih menjadi lokasi penyelenggaraan workshop bertajuk “Hoax Busting and Digital Hygiene” ini. Komunitas Discerning merupakan komunitas mahasiswa UK Petra yang bernaung dibawah Departemen Mata Kuliah Umum (DMU) bertujuan mengembangkan ketajaman mahasiswa dalam melihat realitas masyarakat, bangsa dan dunia serta mengasah kecermatan dalam mengaitkan bidang minat dan keilmuan yang ditekuni dengan pergumulan nyata di masyarakat. “Kami memilih UK Petra karena kami ingin sebaran informasi bisa merata dan kampus adalah ruang yang sangat strategis untuk menjadi agen-agen kritis dan menyebarkan di lingkungannya,” ungkap Miftah Faridl, selaku Ketua AJI Surabaya.

“Ada banyak sekali celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab terhadap aktivitas kita di dunia digital. Tapi yang paling urgent dari acara ini adalah kita sedang membenihkan agen-agen yang bisa menjadi penyambung, karena kami sebagai jurnalis tidak bisa bekerja sendiri. Paling penting adalah mendidik pembaca agar kritis terhadap sesuatu informasi,” sambung pria yang biasa disapa Farid ini.

Workshop ini dilaksanakan pada 27 April 2018 di ruang Audio Visual 503, Gedung T UK Petra dan diikuti oleh sekitar 55 peserta yang terbuka untuk umum. Inggrid Dwi Wedhaswary dan Ika Ningtyas dari AJI memberikan materi-materi terkait ragam dis-misinformasi di sekitar kita, tips melawan hoax, tools melawan hoax, dan digital hygiene. Dalam menghadapi berita hoax, dalam materinya Inggrid dan Ika menjelaskan bahwa tips melawan hoax yaitu dengan cara tidak mudah percaya serta melakukan cek dan ricek.

Penyebaran berita hoax bisa melalui gambar, artikel maupun video, tetapi ada beberapa tools yang bisa dimanfaatkan untuk menyelidiki kebenarannya. Salah satunya adalah dengan menggunakan google reverse image research untuk melacak unggahan foto pertama pada sebuah website. Hal ini juga berlaku untuk menyelidiki sebuah video yaitu dengan mengcapture video dan melacaknya dengan menggunakan google reverse image research. Memperhatikan detail pada video dan foto, seperti nama gedung, toko, bangunan, plat nomor kendaraan, nama jalan, monumen, dan lainnya, setelah itu melacaknya dengan google maps atau aplikasi lainnya. Untuk keamanan digital, kita harus memperhatikan kekuatan kata sandi dari setiap akun yang kita miliki. Selain itu, kita juga harus rutin memperbaharui kata sandi.

“Pada jaman digital ini, opini seseorang sepertinya sudah dibentuk oleh sosial media. Saya berharap semakin banyak edukasi untuk literasi digital, dengan adanya kegiatan ini diharapkan kita dapat lebih selektif terhadap informasi-informasi yang kita terima,” ungkap Ivana Kurniawati, selaku Ketua Komunitas Discerning. (rut/padi)

Baca berita
Berita lainnya